masa pertumbuham nabi muhammad saw


BAB 1

Pendahuluan

 

1.1           latar belakang

 

Nabi Muhammad adalah Nabi  dan Rasul Terakhir, sesudah beliau tidak ada Nabi dan Rasul lagi. Dan Nabi Muhammad diutus oleh Allah untuk memimpin seluruh umatnya di dunia. Beliau juga diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. Nabi telah menghimpun sekian banyak kelebihan dari berbagai lapisan manusia selama pertumbuhan beliau.

Beliau menjadi sosok yang unggul dalam pemikiran yang jitu, pandangan yang lurus, mendapat sanjungan karena kecerdikan , kelurusan pemikiran , pencarian sarana dan tujuan. Beliau lebih suka diam berlama-lama untuk mengamati, memusatkan pikiran dan menggali kebenaran.

Dengan akalnya beliau mengamati keadaan negerinya. Dengan fitrahnya yang suci beliau mengamati lembaran-lembaran kehidupan, keadaan manusia dan berbagai golongan. Beliau merasa risih terhadap khurafat dan menghindarinya. Beliau berhubungan dengan manusia, dengan mempertimbangkan keadaan dirinya dan keadaan mereka.

Selagi mendapatkan yang baik, maka beliau mau bersekutu di dalamnya. Jika tidak, maka beliau lebih suka dengan kesendiriannya. Tidak dapat diragukan lagi bahwa takdir telah mengelilingi agar beliau senantiasa terpelihara. Jika ada kecenderungan jiwa yang tiba-tiba menggelitik untuk mencicipi sebagian kesenangan dunia atau ingin mengikuti sebagian tradisi yang tidak terpuji, maka pertolongan Allah masuk sebagai pembatas antara diri beliau dan kesenangan atau kecenderungan itu.

Jadi, itu salah satu mengapa nabi muhammmad begitu sangat di cintai oleh sang maha pencipta. Karena kepribadiannya yang menawan, sehingga takdir pun memilih beliau menjadi Nabi terakhir.

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1 KELAHIRAN NABI

Tepat pada hari senin tanggal 12 rabiul awal bertepatan 20 april 571 M alam semesta bergembira dengan kelahiran seorang bayi suci yang akan menjadi nabi akhir zaman. Sedangkan menurut ilmu falaq mesir, mahmud basya, kelahiran nabi adalah tanggal 9 rabiul awal tahun gajah, bertepatan dengan 20 april tahun 571 M. Bayi suci itu tidak lain adalah nabi kita muhammad. Muhamad bin abdullah bin abdul muthalib bin hasyim bin abdi manaf bin quraisy bin kilaab bin kinanah bin khuzaimah bin mudrika bin fihr biin malik bin nadher bin maad bin adnan. Nasab adnan berakhir dengan nasab ismail bin ibrahim a.s.

Ketika bayi suci itu lahir ibunya segera menyiramkan pada kakeknya abdul muthalib. Dengan wajah yang berseri-seri bayi suci itu diterima dan segera ditimang-timangnya dalam ka’bah. Beliau berdoa dalam ka’bah sambil bersyukur kepada allah atas kurnia-Nya yang maha besar itu, kemudian beliau memberi nama bayi suci tersebut dengan nama Muhammad walaupun nama muhammad merupakan sesuatu yang asing sekali bagi bangsa arab. Namun beliau mengharapkan agar bayi itu kelak akan terpuji baik dilangit baik didunia (muhammad artinya terpuji).

Setelah nabi telah lahir beliau kemudian disusui oleh suhaibah budak wanita abu lahab selama beberapa hari, kemidian abdul muthalib memberikan cucunya yang paling disayangi itu kepada seorang ibu susu dari dusun seperti kebiasan arab. Bangsa arab lebih senang untuk menyusukan anaknya kepada seorang itu susu dari dusun karena keadan didusun udaranya lebih bersih untuk pertumbuhan anak kecil. Disamping pengaruh dusun sangat baik sekali bagi pertumbuhan akhlak si bayi dan bahasa di dusun masih lebih fasih daripada bahasa di kota.

Waktu itu ada beberapa wanita datang dari dusun bani saad untuk mencari pekerjaan menyusukan anak bayi. Wanita bani saad sangat terkenal dengan pekerjaan mereka yang satu ini dan terkenal dengan kefasihan bahasanya. Diantara mereka yang datang itu adalah siti halimah sa’diyah.

Nabi berada di dusun bani saad selama dua tahun. Selama itu keluarga siti halimah hidupnya sangat berbahagian sekali. Karena rezekinya makin lama makin bertambah kaya. Dan keluarga itu sangat bersyukur kepada allah Yang melimpahkan rahmat-Nya kepada sang bayi dan keluarga siti halimah. Sedangkan muhammad makin tumbuh baik dan sangat dikagumi sekali oleh teman sebayanya.

Pada suatu hari ketika nabi masih diasuh di dusun banu saad didatangi oleh dua malaikat yang ditugaskan oleh allah untuk membelah dada nabi dan membersihkannya dari segala tabiat yang buruk sebagai persipan unuk menerima tugas risalah di kemudian hari.

Selama di Dusun Banu saad nabi muhammad mengembala kambing Siti Halimah bersama saudar-saudara sekanndungnya. Sejak kecil beliau hidup sederhana seperti yang terbiasa di dusun. Selama di dusun beliau juga terbiasa dengan bercakap dalam bahasa arab yang fasih. Bahasa arab banu saad sangat terkenal dengan kefasihannya. Karena itu tidaklah heran bila kelak nabi berbangga di depan para sahabat beliau dengan sabdanya:

انا اعربكم  و انا قرشي  و استرضعت  في  بني  سعد  بن  بكر

Artinya: “aku orang yang terfasih daripada kamu dan aku seorang Quraisy yang dibesarkan di dusun keluarga banu saad bin bakar”

Ketika nabi telah berumur enam tahun belia dibawa oleh bundanya untuk berkunjung di keluarga ayahnya di madinah dan untuk berziarah kekuburan ayahnya. Kunjungan beliau ke keluarga ayahnya dan ke kuburannya itu sangat membekas sekali di hati nabi yang masih kecil. Beliau ingin bertemu ayahnya yang dikatakan telah wafat. Namun sayang beliau tidak dapat menemukan ayahnya. Ketika beliau sedang ditengah perjalanan pulang ke mekkah, bunda beliau wafat di suatu desa yang bernama ABWA. Kepergian bundanya itu membawa pengaruh besar sekali bagi kejiwaan baliau. Namun  kejadian itu tak lain adalah suatu cobaan yang telah diderita oleh nabi sejak hari kelahiran baliau.

2.2  MASA REMAJA

Awal-awal masa remaja beliau lewati dengan menggembalakan kambing-kambing milik beberapa ahli Mekkah. Dan tak ada seorangpun Nabi,kecuali mereka sebelumnya pernah menggembalakan kambing. Beliau lakukan itu dengan menerima upah beberapa keping uang dari para pemilik domba-domba itu. Bagi beliau,dengan menggembala adalah kesempatan untuk menyendiri dan menghindar dari hiruk pikuk kota mekkah, sekaligus merenung. Beliau membenci tatacara ibadah orang Quraisy yang menyembah berhala. Beliaupun tidak suka melihat masyarakatnya tenggelam dalam minuman keras,dan keterpurukan moral.

Dan  ketika mendekati usia 20-an tahun,beliau berpindah jalur dan terjun ke dunia perniagaan dan perdagangan. Teman karib beliau sesama pedagang adalah Sa-ib bin Abi Sa-ib      al-makhzumi. Dan beliau S.a.w terkenal di kalangan masyarakat dengan kejujuran kata-katanya, amanahnya, juga ketinggian budi pekertinya. Semenjak usia remaja,beliau telah menyandang gelar (al-amien),yang bisa dipercaya. Dan gelar itu juga panggilan keseharian beliau,shollallahu Alaihi wa sallam.

2.3     MASA DEWASA

 

  1. a.      Dibawah Asuhan Paman

Setelah ibunda dan kakek tercintanya meninggal dunia beliau tinggal bersama abu thalib yaitu pamannya. Abu Thalib melaksanakan hak anak saudaranya dengan sepenuhnya dan menganggap seperti anaknya sendiri. Bahkan Abu Thalib lebih mendahulukan kepentingan beliau daripada anak-anaknya sendiri, mengkhususkan perhatian dan penghormatan. Hingga ketika berumur lebih dari empat puluh tahun beliau mendapatkan kehormatan di sisi Abu Thalib, hidup dibawah penjagaannya, rela menjalin persahabatan dan bermusuhan dengan orang lain demi membela diri beliau. Pembahasan mengenai masalah ini akan disampaikan di tempatnya tersendiri.

b. Meminta Hujan Dengan Wajah Beliau

Ibnu Asakir mentakhrij dari Julhumah bin Afathah, dia berkata, “ Tatkala aku tiba di Makkah, orang-orang sedang dilanda musim paceklik. Orang-orang Quraisy berkata, “Wahai Abu Thalib, lembah sedang kekeringan dan kemiskinan melanda. Marilah kita berdoa meminta hujan”.

Maka Abu Thalib keluar bersama seorang anak kecil, yang seolah-olah wajahnya adalah matahari yang membawa mendung, yang menampakkan awam sedang berjalan pelan-pelan. Di sekitar Abu Thalib juga ada beberapa anak kecil lainnya. Dia memegang anak kecil itu dan menempelkan punggungnya ke dinding Ka’bah. Jari-jemarinya memegangi anak itu. Langit yang tadinya bersih dari mendung, tiba-tiba saja mendung itu datang dari segala penjuru, kemudian menurunkan hujan yang sangat deras. Sehingga lembah-lembah terairi dan lading-ladang menjadi subur. Abu Thalib mengisyaratkan hal ini dalam syair yang dibacakannya,

“ Putih berseri meminta hujan dengan wajahnya, penolong anak yatim dan pelindung wanita janda”.[1])

  1. c.       Bahira Sang Rahib

Selagi usia Rasulullah SAW mencapai dua belas tahun dan ada yang berpendapat, lebih dua bulan sepuluh hari, Abu Thalib mengajak beliau pergi berdagang dengan tujuan Syam, hingga tiba di Bushra, suatu daerah yang termasuk Syam dan merupakan ibu kota Hauran, yang juga merupakan ibukotanya orang-orang Arab, sekalipun di bawah kekuasaan Bangsa Romawi.

Di negeri ini ada seorang rahib yang dikenal dengan sebutan Bahira, yang nama aslinya adalah Jurjis. Tatkala rombongan singgah di daerah ini, maka sang rahib menghampiri mereka dan mempersilahkan mereka mampir ke tempat tinggalnya sebagai tamu kehormatan. Padahal sebelum itu rahib tersebut tidak pernah keluar, namun begitu dia bisa mengetahui Rasulullah SAW dari sifat-sifat beliau. Sambil memegang tangan beliau, sang rahib berkata, “Orang ini adalah pemimpin semesta alam. Anak ini akan diutus Allah SWT sebagai rahmat bagi seluruh alam”.

Abu Thalib bertanya, “Dari mana engkau tahu hal itu?”

Rahib Bahira menjawab, “Sebenarnya sejak kalian tiba di Aqabah, tidak ada bebatuan dan pepohonan pun, melainkan mereka tunduk bersujud. Mereka tidak sujud, melainkan kepada seorang nabi. Aku bisa mengetahuinya dari cincin “nubuwah” yang berada dibagian bawah tulang rawan bahunya, yang menyerupai buah apel. Kami juga bisa mendapatkan tanda itu didalam kitab kami”.

Kemudian Rahib Bahira meminta agar Abu Thalib kembali lagi bersama beliau tanpa melanjutkan perjalanannya ke Syam, karena dia takut gangguan dari pihak orang-orang Yahudi. Maka Abu Thalib mengirim beliau bersama beberapa pemuda agar kembali lagi ke Makkah.[2])

  1. d.      Perang Pajar

Pada usia lima belas tahun, meletus Perang Fijar antara pihak Quraisy bersama Kinanah, berhadapan dengan pihak Qais Ailan. Komandan pasukan Quraisy dan Kinanah dipegang oleh Harb bin Umayyah, karena pertimbangan usia dan kedudukannya yang terpandang. Pada awal mulanya pihak Qaislah yang mendapatkan kemenangan. Namun, kemudian beralih ke pihak Quraisy dan Kinanah. Dinamakan Perang Fijar, karena terjadi pelanggaran terhadap kesucian tanah haram dan bulan-bulan suci. Rasulullah SAW ikut bergabung dalam peperangan ini dengan cara mengumpulkan anak-anak panah bagi paman beliau untuk dilemparkan kembali ke pihak musuh.[3])

  1. e.       Hilful-Fudhul (sumpah setia yang luhur)

Pengaruh dari peperangan ini, diadakannya Hilful-Fudhul pada bulan Dzul-Qa’idah pada bulan suci yang melibatkan beberapa kabilah Quraisy, yaitu Bani Hasyim, Bani Al-Muththalib, Asad bin Abdul-Uzza, Zuhrah bin Kilab dan Taim bin Murrah. Mereka berkumpul di rumah Abdullah bin Jud’an At-Taimy karena pertimbangan umur dan kedudukannya yang terhormat.

Mereka mengukuhkan perjanjian dan kesepakatan, bahwa tak seorang pun dari penduduk Makkah dan juga lainnya yang dibiarkan teraniaya. Siapa yang teraniaya, maka mereka sepakat untuk berdiri disampingnya. Sedangkan terhadap siapa yang berbuat zhalim, maka kezhalimannya harus dibalaskan terhadap dirinya. Perjanjian ini juga dihadiri Rasulullah SAW.

Setelah Allah memuliakan dengan risalah, beliau bersabda, “Aku pernah mengikuti perjanjian yang dikukuhkan di rumah Abdullah bin Jud’an, suatu perjanjian yang lebih kusukai daripada keledai yang terbagus. Andaikata aku diundang untuk perjanjian itu semasa Islam tentu aku akan memenuhinya”.

Ruh dari ini ialah mengenyahkan keberanian model Jahiliah yang lebih banyak dibangkitkan rasa fanatisme. Ada yang berpendapat, sebab dari perjanjian ini karena ada seseorang dari Zubaid yang tiba di Makkah sambil membawa barang dagangan, lalu barang-barang dagangannya itu dibeli Al-Ash bin Wa’il As-Sahmy. Namun Al-Ash tidak memenuhi hak-haknya dan juga mengkhianati sekutu-sekutunya yang lain dari Abdud-Dar, Makhzum, Jumah, Sahm, Ady.

Oleh karena itu, pun tidak lagi memperdulikannya. Lalu orang dari Zubaid itu naik ke atas bukit Abu Qubais dan memperdengarkan syair-syair yang menggambarkan kezhaliman Al-Ash dengan suara yang keras. Saat itu Az-Zubair bin Abdul-Muththalib lewat di dekatnya, kemudian bertanya, “Mengapa ada orang yang tertinggal?”. Lalu mereka berkumpul di Hilful-Fudhul, kemudian menghampiri Al-Ash bin Wa’il untuk memprotes pelanggarannya terhadap hak-hak orang Zubaidy itu. Padahal sebelum itu mereka sudah mengikat persekutuan dengannya.[4])

  1. f.       Menggembala kambing

Pada awal masa remajanya Rasulullah SAW tidak mempunyai pekerjaan tetap. Hanya saja beberapa riwayat menyebutkan bahwa beliau biasa menggembala kambing dikalangan Bani Sa’d dan juga di Makkah dengan imbalan uang beberapa dinar.[5])

Pada usia dua puluh tahun, beliau pergi berdagang ke Syam, menjalankan barang dagangan milik Khadijah. Ibnu Ishaq menuturkan, Khadijah binti Khuwailid adalah seorang wanita pedagang, terpandang dan kaya raya. Dia biasa menyuruh orang-orang untuk menjalankan barang dagangannya dengan membagi sebagian hasilnya kepada mereka.

Sementara orang-orang Quraisy memiliki hobi berdagang. Tatkala Khadijah mendengar kabar tentang kejujuran perkataan beliau, kredibilitas dan kemuliaan akhlak beliau, maka dia pun mengirim utusan dan menawarkan kepada beliau agar berangkat ke Syam untuk menjalankan barang dagangannya. Dia siap memberikan imbalan jauh lebih banyak dari imbalan yang pernah dia berikan kepada pedagang yang lain. Beliau harus pergi bersama seorang pembantu yang bernama Maisarah. Beliau menerima tawaran ini. Maka beliau berangkat ke Syam untuk berdagang dengan disertai Maisarah.[6])

 

2.4 PERNIKAHAN NABI MUHAMMAD SAW

Pernikahan Rasulullah saw merupakan salah satu catatan sejarah yang menakjubkan. Pernikahan beliau dengan Siti Khadijah radiyallahu anha menjadi bahan pembicaraan Kaum Quraisy di Kota Makkah. Hal ini disebabkan karena Siti Khadijah yang merupakan wanita yang paling terpandang, cantik, pandai dan sekaligus kaya. Sementara Rasulullah saw sendiri pada saat itu masih berusia 25 tahun menikahi seorang khadijah binti khuwailid yang berusia 40 tahun.

Khadijah binti khuwailid adalah seorang wanita bangsawan suku quraisy yang memiliki kedudukan terhormat, cerdas, berakhlak mulia, memiliki kekayaan, dan seorang janda. Ia ditinggal mati oleh Abu Halah, suaminya.


a. Pertemuan antara Muhammad saw dan Khadijah ra.

Pernikahan indah antara rasulullah saw dan khadijah ra berawal dari kisah dagang beliau. Muhammad saw mudah diberi kepercayaan oleh seorang saudagar ternama Kaum Quraisy, Khadijah binti Khuwailid. Ibnu Ishaq menuturkan, Khadijah biasa menyuruh orang-orang untuk menjalankan barang dagangannya dengan membagi sebagian hasil kepada mereka. Sementara orang-orang quraisy memiliki hobi berdagang. Tatkala Khadijah mendengar kabar tentang kejujuran perkataan seorang pemuda bernama Muhammad, kredibilitas dan kemuliaan akhlak beliau, maka dia pun mengirim utusan dan menawarkan kepada beliau agar berangkat ke syam untuk menjalankan barang dagangannya. Dia siap memberikan imbalan yang jauh lebih banyak dari imbalan yang pernah diberikan kepada pedagang lain. Beliau harus pergi bersama seorang pembantu yang bernama Maisarah. Beliau menerima tawaran ini. Maka beliau berangkat ke Syam untuk berdagang dengan disertai Maisarah.

b. Pernikahan dengan Khadijah

Khadijah tertarik hatinya mendengarkan kisah Muhammad dari pembantunya, Maisarah. Maisarah menceritakan pengalamannya berdagang bersama Muhammad. Dia menceritakan bagaimana sifat-sifat beliau (Muhammad) yang mulia, kecerdikan dan kejujuran beliau. Khadijah dikisahkan dalam sirah nabawiyah seakan-akan mendapatkan barangnya yang pernah hilang dan sangat diharapkannya. Maka ia pun menawarkan diri kepada beliau. Padahal sebelumnya ia telah menolak beberapa pembesar suku quraisy yang melamarnya.

Dia (khadijah) meminta rekannya, Nafisah binti Munyah untuk menemui beliau dan membuka jalan agar mau menikah dengan Khadijah. Dan ternyata beliau (Muhammad) menerima tawaran itu, lalu beliau menemui paman-paman beliau. Dikisahkan dalam sirah Ibnu Hasyim bahwa beliau dilamarkan oleh paman beliau yang bernama Hamzah bin Abdul Muthalib dan Abu Thalib menyampaikan khutbah pernikahan tersebut. Yang ikut hadir dalam pelaksanaan akad nikah adalah Bani Hasyim dan para pemuka Bani Mudhar. Hal ini terjadi dua bulan setelah kepulangan beliau berdagang di Syam. Maskawin beliau berupa dua puluh ekor unta muda. Usia Khadijah sendiri empat puluh tahun. Dia adalah wanita pertama yang dinikahi rasulullah saw. Beliau tidak pernah menikahi wanita lain hingga dia meninggal dunia.’

Semua putra-putri beliau, selain Ibrahim yang dilahirkan Maria Al Qibthiyah, dilahirkan dari Khadijah. Yang pertama adalah Al Qasim, kemudian Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum, Fathimah dan Abdullah. Semua putra beliau meninggal dunia selagi masih kecil. Sedangkan semua putri beliau sempat menjumpai islam dan mereka masuk islam serta ikut hijrah. Hanya saja mereka semua meninggal dunia selagi beliau masih hidup, kecuali Fathimah. Dia meninggal dunia selang enam bulan sepeninggal beliau, untuk bersua dengan beliau.


c. Kisah-Kisah Penting Sebelum Pernikahan

Pernikahan beliau dengan Siti Khadijah ra. Merupakan salah satu episode kehidupan sebelum kenabian. Abul Hasan An Nadwi dalam sirahnya mengatakan : pernikahan beliau dengan Khadijah adalah salah satu kisah menuju kebangkitan agung, yakni diutusnya Rasulullah saw. Kisah pernikahan beliau ini adalah salah satu episode yang meningkatkan kapasitas beliau sebagai rasul nantinya. Episode-episode penyempurnaan pribadi rasul dalam diri seorang Muhammad saw terjadi pula di masa sebelum pernikahan beliau.

Abul Hasan An Nadwi dalam sirahnya menyebutkan bahwa sebelum pernikahan beliau, rasulullah saw mendapatkan tarbiyah ilahiyah atau pendidikan yang bersifat ketuhanan. Rasul saw memiliki sifat paling baik akhlaknya, sangat pemalu, sangat jujur, sangat amanah serta terhindar dari perbuatan keji dan jahat. Sedemikian rupa sehingga beliau mendapatkan gelar al amin (orang yang dipercaya). Beliau selalu menyambung tali silaturahim, suka meringankan beban kesulitan manusia, menghormati tamu dan suka memberi pertolongan atas dasar kebaikan dan ketaqwaan. Beliau makan dari hasil kerjanya sendiri dan bersikap sederhana dalam menikmati makanan.
Ketika Rasul saw berusia 14 atau 15 tahun, terjadi perang fijar antara suku Quraisy dan Qais ‘ailan. Beliau mengalami saat terjadinya perang tersebut dan berperan dalam mempersiapkan anak panah dan tombak untuk paman-pamannya dalam membalas serangan musuh. Melalui perang tersebut beliau memiliki ketangkasan berkuda dan keberanian berperang.

Setelah perang fijar beliau menyaksikan terjadinya Peristiwa Hilful Fudhul yang artinya sumpah setia yang luhur. Sumpah setia yang amat mulia yang pernah beliau dengar dan beliau saksikan pada bangsa arab. Rasulullah sangat menyukai sumpah setia tesebut dan ikut mematuhinya. Sumpah setia untuk mengembalikan hak kepada pemiliknya dan menjaga agar tidak terjadi kesewenang-wenangan dari seseorang kepada orang lain. Ketika beliau telah diangkat menjadi nabi, beliau menyatakaan berkenaan dengan sumpah itu, “sungguh aku telah menyaksikan di rumah Abdullah bin Jad’an sebuah sumpah setia yang lebih aku sukai daripada unta merah.

Seandainya pada masa islam aku diminta melakukannya maka akan aku penuhi”
Kisah penting sebelum pernikahan agung diakhiri dengan masa perdagangan beliau ke negeri Syam (Iraq masa lalu). Dikisahkan dalam sirah Shafiyyurahman Al Mubarakfury, pada awal masa remajanya rasul saw tidak mempunyai pekerjaan tetap. Hanya saja beberapa riwayat menyebutkan bahwa beliau biasa menggembala kambing di kalangan bani sa’d dan juga di makkah dengan imbalan uang beberapa dinar. Kisah beliau sebagai gembala kambing ini dikatakan oleh para ulama sebagai pendidikan kepemimpinan beliau di masa remaja. Bukan hal yang mudah urusan menggembala kambing itu, diperlukan perhatian yang tinggi, kemampuan lapangan, tanggung jawab yang besar, keberanian dan sikap kepemimpinan lainnya.

Baru pada usia 25 tahun beliau diberikan amanah membawa barang dagangan milik bangsawan bernama Khadijah binti Khuwailid yang pada akhirnya melahirkan cinta dan berbuah pernikahan indah.

d. Dakwah Pasca Pernikahan

Bisa dikatakan, pernikahan beliau dengan Khadijah berefek multi (multi effect). Status beliau berubah setelah menikah menjadi seorang suami dan ayah. Peran beliau semakin menambah kapabilitas beliau sebagai rasul nantinya. Selain itu di sisi lain ada efek baik dari pernikahan ini. Karena khadijah seorang yang terpandang di kalangan bangsawan quraisy ditambah rasul saw yang dikenal sebagai seorang al amin, keluarga rasul saw menjadi keluarga yang terpandang di kalangan masyarakat quraisy. Strata sosial seorang Muhammad yang nantinya menjadi rasulullah, semakin naik. Ditambah lagi jaringan beliau yang semakin luas karena pengaruh istrinya yang luar biasa.

Pasca pernikahan beliau, terdapat suatu peristiwa yang menggemparkan Kaum Quraisy. Peristiwa tersebut hamper memicu terjadinya pertumpahan darah diantara mereka. Peristiwa tersebut adalah kisah renovasi ka’bah. Pada saat itu rasul saw berusia 35 tahun, beliau menjadi pahlawan dari kisah fenomenal ini. Rasul saw berhasil menjadi penengah dan pemberi solusi atas masalah yang muncul pada saat renovasi ka’bah tersebut. Cara yang beliau lakukan untuk menengahi sangatlah luar biasa, di luar pemikiran kaum quraisy saat itu. Dengan cerdasnya, rasul saw meminta sehelai kain kemudian beliau meletakkan hajar aswad di atas kain dengan tangannya sendiri. Setelah itu, beliau berkata : “setiap pemimpin (suku) hendaknya memegang sudut kain ini, kemudian angkatlah bersama-sama.” Mereka melakukan apa yang diminta rasul saw. Ketika sampai pada tempat hajar aswad di dinding Ka’bah, beliau mengambil batu tersebut dan meletakkannya di tempatnya. Kemudian pembangunan diteruskan hingga selesai. Beliau mencegah kemungkinan perang saudara antara kaum quraisy dengan kebijaksanaan, kecerdasan, rasa simpati, kelembutan dalam berbagai persoalan dan perdamaian antara sesama manusia.

Akhirnya Nabi saw telah menghimpun sekian banyak kelebihan dari berbagai lapisan manusia selama pertumbuhan beliau. Beliau menjadi sosok yang unggul dalam pemikiran jitu, pandangan yang lurus, mendapat sanjungan karena kecerdikan, kelurusan pemikiran, pencarian sarana dan tujuan. Keadaan beliau digambarkan oleh istrinya, Khadijah ra : “beliau membawa bebannya sendiri, memberi orang miskin, menjamu tamu dan menolong siapapun yang hendak menegakkan kebenaran”

Pernikahan beliau dengan Khadijah adalah bagian penting dari kehidupan dakwah beliau. Ketika menerima wahyu untuk pertama kalinya, khadijah lah yang menenangkan beliau dan memberi dukungan kepada beliau. Saya bisa merasakan getaran kasih sayang seorang istri pada saat ketakutan yang amat sangat dari seorang suami, dalam hal ini rasul saw. Apa yang khadijah katakan kepada suaminya di saat ketakutan karena baru pertama kali menerima wahyu? Dia berkata : “tidak akan terjadi apa-apa! Demi Allah, Dia tidak akan pernah mempermalukan engkau selamanya.

Sungguh engkau benar-benar menyambung hubungan kasih sayang, meringankan beban orang-orang yang menderita, memberi orang yang kehilangan, menghormati tamu dan selalu menolong atas dasar kebenaran.” Dukungan Khadijah terhadap beliau tidak sekedar kata-kata. Dia kemudian mencari dukungan dengan cara mencari info dari orang yang alim yaitu Waraqah bin Naufal. Dan benarlah, Waraqah mendukung Rasul saw. Setelah mendengar kisah yang dialami rasul saw saat menerima wahyu pertama di gua hira, dia berkata : ”demi dzat yang diriku berada dalam kekuasaan Nya. Sesungguhnya engkaulah nabi umat ini. Sesungguhnya engkau telah didatangi An Namus Al-Akbar, yang pernah datang menemui Musa. Dan sesungguhnya kaummu akan mendustakanmu, menyakitimu, mengusirmu bahkan akan memerangimu.” Khadijah kemudian beriman kepada Muhammad saw. Ia adalah orang pertama yang beriman kepada Allah dan Rasul Nya. Ia selalu membantu di samping suaminya, meringankan kesedihannya, dan menganggap ringan terhadap orang-orang yang akan menghalangi suaminya.

e. Isteri-Isteri Nabi Muhammad SAW

Isteri-isteri Nabi Muhammad SAW adalah sebagai berikut :

Khadijah binti Khuwailid ra. Beliau telah hidup bersama Nabi Muhammad SAW sejak 15 tahun sebelum turun wahyu hingga tiga tahun sebelum Nabi sholallah alaihi wa aalihi wa shohbihi was salam hijrah ke Madinah dan beliau wafat di sisinya.

Saudah binti Zam’ah ra. Beliau hidup bersama Nabi Muhammad SAW hingga lanjut usia. Suatu saat Nabi Muhammad SAW hendak menceraikannya, namun akhirnya dia rela untuk memberikan giliran harinya untuk ‘Aisyah ra dan dia berkata, “Wahai Rasulullah sholallah alaihi wa aalihi wa shohbihi was salam, aku sudah tidak lagi memiliki ghirah terhadap laki-laki, namun aku ingin agar kelak di akhirat dikumpulkan bersama isteri-isteri engkau.” Di antara salah satu keistimewaannya adalah dia pernah menjadi isteri tunggal Nabi Muhammad sholallah alaihi wa aalihi wa shohbihi was salam selama tiga tahun setelah meninggalnya Khadijah dan dia meninggal dunia pada tahun lima puluh lima Hijriyah.

‘Aisyah binti Abi Bakar ra. Beliau menikah dengan Nabi Muhammad SAW di Mekkah 2 tahun sebelum hijrah. Menurut sebagian riwayat 3 tahun sebelum hijrah. Pada saat itu ‘Aisyah berusia 6 atau 7 tahun dan beliau tinggal bersama Nabi di Madinah dalam usia 9 sembilan tahun. Nabi Muhammad sholallah alaihi wa aalihi wa shohbihi was salam meninggal dunia dalam pangkuannya dan pada saat itu ‘Aisyah berusia 18 tahun. ‘Aisyah ra meninggal dunia pada tahun 58 Hijriyah, namun menurut sebagian riwayat bukan pada tahun itu dan Nabi Muhammad  tidak pernah menikah dengan seorang gadis kecuali dengannya dan dia dijuluki dengan Ummu Abdillah (karena dia telah memelihara Abdullah bin Zubair, putera Asma’ saudara perempuan ‘Aisyah, isteri Zubair bin Awwam).

Hafshah binti Umar bin Khathab ra. Diriwayatkan bahwa pada suatu saat Nabi Muhammad SAW hendak menceraikannya, lalu Jibril datang kepadanya dan berkata, “Sesungguhnya Allah Ta’ala memerintahkanmu untuk kembali kepada Hafshah karena dia adalah wanita ahli ibadah dan berpuasa.” Dalam hadits yang lain dijelaskan bahwa kembalinya Nabi sholallah alaihi wa aalihi wa shohbihi was salam kepada Hafshah adalah sebagai tanda kasih sayang Nabi Muhammad sholallah alaihi wa aalihi wa shohbihi was salam kepada Umar bin Khathab ra. Hafshah binti Umar bin Khathab meninggal dunia pada tahun 45 Hijriyah, namun menurut riwayat yang lain bukan pada tahun itu.

Ummu Habibah binti Abi Sufyan ra. Beliau menikah dengan Nabi Muhammad sholallah alaihi wa aalihi wa shohbihi was salam ketika berada di Habasyah dan mas kawinnya adalah uang sebanyak empat ratus dinar, hadiah dari raja Najasi kepada Nabi Muhammad sholallah alaihi wa aalihi wa shohbihi was salam dan yang menjadi wali dalam pernikahan tersebut adalah Utsman bin Affan ra. Ummu Habibah meninggal dunia pada tahun 4 Hijriyah.

Ummu Salamah Hindun binti Umayyah ra. Beliau meninggal dunia pada tahun 62 Hijriyah. Dia adalah isteri Nabi Muhammad sholallah alaihi wa aalihi wa shohbihi was salam yang paling terakhir meninggal dunia, akan tetapi menurut riwayat yang lain bahwa isteri Nabi Muhammad sholallah alaihi wa aalihi wa shohbihi was salam yang paling terakhir meninggal dunia adalah Maimunah ra.

 

Zainab binti Jahasy ra. Beliau meninggal dunia di Madinah pada tahun 20 Hijriyah. Dia adalah isteri Nabi Muhammad sholallah alaihi wa aalihi wa shohbihi was salam yang pertama kali meninggal dunia setelah beliau sholallah alaihi wa aalihi wa shohbihi was salam dan orang pertama yang mayatnya dibawa dengan keranda.

Juwairiyah binti al-Harits ra. Beliau adalah salah seorang tawanan perang dalam ghazwah Bani Mushthaliq, lalu Nabi Muhammad sholallah alaihi wa aalihi wa shohbihi was salam membebaskan dan menikahinya. Dia meninggal dunia pada tahun 56 enam Hijriyah.

Maimunah binti al-Harits ra. Beliau adalah bibi Khalid bin Walid dan Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Dia adalah wanita terakhir yang dinikahi oleh Rasulullah sholallah alaihi wa aalihi wa shohbihi was salam dan dia wafat pada tahun lima puluh satu Hijriyah, akan tetapi dalam riwayat yang lain dikatakan bahwa beliau meninggal dunia pada tahun 66 Hijriyah.

Shafiyyah binti Huyai bin Akhthab ra, seorang wanita Yahudi dari keturunan Nabi Harun as. Beliau adalah salah seorang tawanan dalam perang Khaibar, lalu Nabi Muhammad sholallah alaihi was salam memerdekakan dan menikahinya. Rasulullah sholallah alaihi wa aalihi wa shohbihi was salam telah menjadikan kemerdekaannya itu sabagai mahar dalam pernikahan tersebut dan beliau wafat pada tahun lima puluh Hijriyah.

Zainab binti Khuzaimah ra, seorang wanita yang dikenal dengan nama Ummul Masakin (ibunya orang-orang miskin). Rasulullah sholallah alaihi wa aalihi wa shohbihi was salam telah menikah dengannya pada tahun 3 Hijriyah, namun usia pernikahan tersebut berjalan tidak lama, karena hanya dalam waktu dua atau tiga bulan dia meninggal dunia.

 

  1. f.    Anak-Anak Nabi Muhammad SAW

Anak-anak Nabi Muhammad sholallah alaihi wa aalihi wa shohbihi was salam adalah sebagai berikut :

Qasim, dengannya Nabi Muhammad sholallah alaihi wa aalihi wa shohbihi was salam memperoleh julukan abul Qasim. Dia dilahirkan sebelum Rasulullah sholallah alaihi wa aalihi wa shohbihi was salam diangkat menjadi nabi begitu pula meninggalnya, dia meninggal dunia dalam usia 2 tahun.

Abdullah, dia juga dinamai dengan ath-Thayyib dan ath-Thahir. Dia dilahirkan setelah Rasulullah sholallah alaihi wa aalihi wa shohbihi was salam diangkat menjadi nabi, namun ada juga pendapat lain yang mengatakan bahwa dia dilahirkan sebelum Rasulullah sholallah alaihi wa aalihi wa shohbihi was salam diangkat menjadi nabi. Ada juga pendapat lain yang mengatakan bahwa ath-Thayyib bukanlah ath-Thahir. Zainab. Ruqayyah. Ummu Kultsum Fathimah az-Zahra ra.

Anak-anak perempuan Nabi sholallah alaihi wa aalihi wa shohbihi was salam seluruhnya mengalami zaman Islam dan turut berhijrah bersama Rasululah sholallah alaihi wa aalihi wa shohbihi was salam. Perlu kami sampaikan di sini bahwa mereka semua adalah anak-anak dari Khadijah ra.

Disamping itu, Nabi Muhammad sholallah alaihi wa aalihi wa shohbihi was salam juga memiliki anak lain yang dilahirkan di Madinah yaitu Ibrahim, dia dari Mariyah al-Qibthiyyah. Ibrahim meninggal dunia ketika berusia 70 hari. Menurut sebagaian riwayat adalah 7 bulan dan riwayat yang lain lagi 8 bulan.

Seluruh anak Nabi Muhammad sholallah alaihi wa aalihi wa shohbihi was salam meninggal dunia pada saat beliau sholallah alaihi wa aalihi wa shohbihi was salam masih hidup kecuali Fathimah az-zahra, dia meninggal 7 bulan setelah nabi wafat.

Zainab adalah anak perempuan Nabi Muhammad sholallah alaihi wa aalihi wa shohbihi was salam yang paling besar, dia menikah dengan Abul Ash bin Rabi’ dan dia telah masuk Islam. Dengan pernikahan tersebut dia dikaruniai seorang anak laki-laki yang bernama Ali, namun ia meninggal dunia pada saat usianya masih dini. Disamping itu dia juga memiliki anak yang lain yaitu Umamah, seorang anak yang pernah digendong oleh Nabi Muhammad sholallah alaihi was salam pada saat beliau melakukan shalat.

Setelah dewasa Umamah menikah dengan Ali bin Abi Thalib yakni setelah meninggalnya Fathimah az-Zahra bibinya serta atas wasiat darinya. Sepeninggal Ali bin Abi Thalib Umamah menikah kembali dengan Mughirah bin Naufal bin Harits bin Abdul Muthalib dan dengan pernikahan tersebut dia dikaruniai seorang anak laki-laki bernama Yahya al-Mughirah. Umamah meninggal dunia ketika menjadi isteri Mughirah.

Fathimah az-Zahra ra menikah dengan Ali bin Abi Thalib ra, beliau memiliki beberapa orang anak yaitu, Hasan, Husein, Muhsin, Ruqayyah, Zainab, dan Ummu Kultsum radhyallahu ‘anhum. Muhsin meninggal dunia pada saat masih bayi sedangkan Ruqayyah meninggal dunia sebelum dewasa.

Zainab menikah dengan Abdullah bin Ja’far dan dengan pernikahan tersebut dia dikaruniai seorang anak laki-laki yang bernama Ali, namun ia meninggal dunia pada saat masih kecil. Sedangkan Ummu Kultsum menikah dengan Umar bin Khathab ra dan dengan pernikahan tersebut dia dikaruniai seorang anak laki-laki yaitu Zaid. Setelah itu, dia menikah kembali dengan ‘Auf bin Ja’far, setelah itu diperisteri oleh saudaranya yaitu Abdullah bin Ja’far.

Adapun Ruqayyah (puteri Nabi sholallah alaihi wa aalihi wa shohbihi was salam) dia menikah dengan Utsman bin Affan dan dengan pernikahan tersebut dia dikaruniai seorang anak laki-laki yang bernama Abdullah. Ruqayah meninggal dunia pada hari dimana Zaid bin Haritsah datang membawa kabar gembira tentang kemenangan kaum muslimin di perang Badar. Setelah Ruqayyah meninggal dunia, Utsman bin Affan ra menikah kembali dengan saudaranya yakni puteri Nabi sholallah alaihi was salam yang satunya yaitu Ummu Kultsum, dan dia meninggal dunia di sisinya pada bulan Sya’ban tahun sembilan kenabian.

 

2.5     AKTIVITAS SOSIAL NABI MUHAMMAD

Ketika usia Rasulullah mendekati 40 tahun beliau sering beruzlah (mengasingkan diri untuk memohon petunjuk kepada Allah SWT) di Gua Hira yang terletak di Jabal Nur. Tatkala usia beliau genap 40 tahun diangkat menjadi rasul dengan turunnya wahyu pertama surat Al-Alaq ayat 1-5 yang disampaikan oleh malaikat Jibril. Rasulullah gemetar dan pulang menemui istrinya Khadijah dan berkata “Selimuti aku, selimuti aku”.  Kemudian Khadijah membawa Rasulullah kepada pamannya yang bernama Waraqah bin Naufal dan Waraqah menyatakan yang datang kepada Rasulullah adalah malaikat Jibril.

 

a. Dakwah secara sembunyi-sembunyi (da’wah sirriyyah)

Dakwah secara sembunyi-sembunyi berlangsung selama 3 tahun. Pada dakwah permulaan itu empat orang yang dekat dengan Rasulullah menyatakan keislamanya, mereka disebut sebagai as-saabiquun al- awwalluun (orang yang pertama masuk Islam). Mereka terdiri dari : Khadijah (istri beliau), Abu Bakar Shiddiq (sahabat beliau), Ali bin Abi Thalib (keponakan beliau), dan Zaid bin Haritsah ( mantan budak beliau).

 

b. Dakwah secara terang-terangan (da’wah jahriyyah)

Dakwah secara terbuka dilakukan Rasulullah setelah mendapat perintah Allah SWT (Q.S Al Hijr ayat 94). Dakwah pertama secara terang-terangan dilakukan di bukit Shafa dekat Ka’bah dan mendapat cemoohan dari sebagian besar kaum Quraisy terutama pamannya sendiri Abu Lahab (Q.S Al-Lahab).

 

c. Reaksi kaum Quraisy atas dakwah Rasulullah

Beragam penindasan dilakukan kepada kaum muslimin ,antara lain :

– Ustman bin Affan digulung oleh pamannya dalam tikar kurma dan diasapi dari bawah.

– Bilal, budak milik Umayyah bin Khalaf al-Jumahiy, lehernya dililit tali dan diseret, ditindih dengan batu besar dan diletakkan di terik matahari lalu dibebaskan oleh Abu Bakar.

 

Pada Tahun kelima kenabian, Rasulullah memerintahkan kaum muslimin hijrah ke Habasyah (Ethiopia) untuk menghindari penyiksaan kaum musyrikin. Raja Habasyah pada waktu itu adalah Ashhimah an-Najasyiy.

 

Kekejaman kafir Quraisy semakin menjadi-jadi. Pada tahun ke tujuh kenabian, kaum muslimin dan seluruh Bani Hasyim serta bani Muthalib di asingkan di lembah Syi’ib. Kaum kafir Quraisy memboikot segala hubungan antara umat Islam dengan pihak lain, sehingga kaum muslimin menderita kelaparan. Pada tahun itu juga Rasulullah memerintahkan untuk hijrah ke Habasyah yang kedua kalinya.

 

d. Masuk Islamnya Hamzah dan Umar bin Khattab

Hamzah bin Abdul Muthalib masuk Islam pada prnghujung tahun keenam kenabian, pada bulan Zulhijjah. Sebab keislamannya, dikarenakan penyiksaan  Abu Jahal kepada Rasulullah di bukit Shafa dan disampaikan kepada Hamzah oleh budak perempuan Abdullah bin Jad’an. Keislaman Hamzah pada mulanya sebagai pelampiasan harga diri seseorang yang tidak sudi keluarganya di hina, namun Allah membuatnya cinta terhadap Islam dan menjadikan kebanggaan kaum muslimin.

Tiga hari setelah Hamzah masuk Islam, Umar bin Khatab pun menyatakan keislamannya.

Tahun kesepuluh kenabian istri Rasulullah Khadijah dan pamanya yang selalu melindungi Rasulullah dari kaum musyrikin yaitu Abu Thalib wafat. Tahun ini disebut tahun Amul Huzni (tahun kesedihan).

 

  1. REMAJA TELADAN

Kala itu belum ada sistem kepolisian maupun peradilan. Masing-masing suku menyelesaikan persoalan diantara mereka menurut cara mereka sendiri. Jika suku yang lemah diperlakukan sewenang-wenang oleh seorang dari suku yang berkuasa, suku yang lemah hanya bisa terdiam seribu-basa. Sebagai contoh, seorang lelaki kaya mengambil paksa anak perempuan pengunjung Makkah yang miskin, maka sang ayah tidak mempunyai jalan keluar untuk mendapatkan kembali anak gadisnya.

Remaja Muhammad (SAW) tidak senang dengan kekacauan tatanan demikian. Dikumpulkannya beberapa pemuda dan dibentuknya satuan sukarelawan untuk melawan kejahatan. Mereka memberi dukungan kepada suku-suku yang miskin dan lemah. Kelompok ini sangat berhasil dalam mencapai berbagai tujuan/sasarannya. Hal ini bukanlah sebuah langkah biasa. Langkah ini dengan cepat membawa perubahan total pada tatanan peradilan di Makkah, dan penghargaan masyarakat pun tertuju kepada remaja Muhammad (SAW).

  1. PEDAGANG YANG JUJUR

Kejujuran, perilaku sopan-santun, kerja keras, dan kecerdasan pemuda Muhammad (SAW) merebut hati setiap orang. Hampir seluruh orang Quraisy adalah pedagang. Khadijah (RA) adalah seorang janda kaya. Ia meminta Muhammad (SAW) untuk memasarkan barang-barang dagangannya ke Syria.

Seorang pendeta yang lain berkata kepada Muhammad (SAW) bahwa, kelak ia akan menghapuskan penyembahan berhala dan menyerukan agama yang benar. Muhammad (SAW) kembali ke Makkah dengan membawa laba penjualan yang melimpah. Khadijah (RA) pun mengutus lagi misi perdagangan untuk kedua kalinya, dan sekali lagi misi ini menghasilkan laba yang menggembirakan. Maisarah, pelayan Khadijah (RA), menyertai Muhammad (SAW) dalam dua perjalan dagang itu. Ia menuturkan secara rinci berbagai kualitas yang dimiliki oleh Muhammad (SAW) kepada Khadijah (RA). Muhammad (SAW) adalah juga seorang pemuda yang menarik. Ketika itu Khadijah (RA) telah berusia 40 tahun, ia sangat tertarik dengan pribadi Muhammad (SAW) yang baru berusia 25 tahun, dan berkeinginan menikah dengannya. Maka, ia pun menitip pesan kepada Maisarah untuk Muhammad (SAW). Namun setelah pesan disampaikan, Maisarah kembali kepadanya tanpa membawa jawaban.

Maka ia meminta bantuan teman dekatnya, Nafisah untuk menyampaikan pesan yang sama kepada Muhammad (SAW). Nafisah pun menyampaikan maksud hati Khadijah dan memberikan motivasi kepada Muhammad (SAW) agar bersedia menikahi Khadijah (RA). Akhirnya gayung bersambut, Muhammad menerima lamaran Khadijah dan merekapun menikah. Setelah menikah, Muhammad (SAW) mengambil dua hal penting.

Pertama, Muhammad (SAW) hendak menolong pamannya, Abu Thalib, yang miskin. Maka diambilnya anak sang paman, yakni Ali bin Abi Thalib (RA), untuk diasuh dan dibesarkannya.

Kedua, Khadijah (RA) menghadiahinya seorang budak yang ketika itu masih beragama nasrani dan berasal dari Syria, yaitu Zaid bin Harits (RA). Muhammad (SAW) memerdekakannya. Zaid (RA) pun sangat mengagumi kepribadian Muhammad (SAW), maka ia menolak kembali kepada orangtuanya dan memilih menghabiskan sisa umurnya menemani Muhammad (SAW).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

Penutup

3.1 kesimpulan

Rasulullah lahir di tengah keluarga Bani Hasyim di Makkah pada hari senin pagi, tanggal 9 Rabi’ul Awwal, permulaan tahun dari peristiwa gajah dan empat puluh tahun setelah kekuasaan Kisra Anusyirwan atau bertepatan dengan tanggal 20 atau 22 bulan April tahun 571 M, berdasarkan penelitian ulama terkenal, Muhammad Sulaiman Al-Manshurfury dan peneliti astronomi, Mahmud Basya.

Awal-awal masa remaja beliau lewati dengan menggembalakan kambing-kambing milik beberapa ahli Mekkah. Dan  ketika mendekati usia 20-an tahun,beliau berpindah jalur dan terjun ke dunia perniagaan dan perdagangan.

Masa dewasa Rosulullah beliau banyak mengalami berbagai peristiwa, seperti:

Mulai dibawa Asuhan Pamannya;

Dapat meminta Hujan dengan Wajahnya;

Bahira sang Rahib;

Perang Pajar;

Hilful-Fudhul;

Menggembala Kambing.

Dan begitu banyak yang Rosulullah alami dalam menjalankan kehidupannya dari mulai suka sampai duka. Tetapi, walau bagaimana pun kita tetap harus meneladani  sikap Rasulullah yang baik itu. Sebagaimana mestinya kita sebagai umat yang mencintainya. Dan kita patut untuk menjalankan sunnahnya.

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 
Abdul Karim, Muhammad, Sejarah Pemikiran dan Peradaban Islam, Yogyakarta : Pustaka Book Publisher, 2007. An-Nadwi, Ali , Hasan, Abdul, Riwayat Hidup Rasulullah, Surabaya:PT Bina Ilmu Ofset, 2007

Al-Mubarokkfury, Shafiyyurahman, Sirah Nabawiyah, Jakarta:IKAPI  DKI,2003

Hasjmy, Ahmad, Sejarah Kebudayaan Islam, Jakarta : Bulan Bintang 1995.
Al-Mubarakfury, Syaikh Shafiyyur Rahman, Sirah Nabawiyah, alih bahasa Kathur Suhardi, Jakarta : Pustaka al-Kautsar 2007.

K. Hitti, Philip, History of The Arabs, Jakarta : Serambi, cet.II, 2006.

Sa’id Ramadhan al-Buthy, Muhammad, Sirah Nabawiyah Analisis Ilmiah Manhajiah Sejarah Pergerakan Islam di Masa Rsulullah SAW , Alih bahasa Aunur Rofiq, Shaleh Tamdidi Jakarta : Robbani Press 1999. Pulungan, J. Suyuthi, Prinsip-prinsip Pemerintahan dalam Piagam Madinah Ditinjau dari Pandangan Al-Qur’an, Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 1996.

 


[1]. Mukhtashar Siratir-Rasul, Syaikh Abdullah An-Najdy, hal. 15-16.

[2]. Mukhtashar Siratir-Rasul, Syaikh Abdullh An-Najdy, hal. 16; Sirah An-Nabawiyah, Ibnu HIsyam, 1/180-183.

[3]. Sirah An-Nabawiyah,Ibnu Hisyam, I/184-187; Qalbu Jaziratil-Arab, hal. 260; Muhadharat Tarikhil-Umam Al-Islamiyyah, Al-Khadhry, I/63.

[4]. Mukhtashar Siratir-Rasul, Syaikh Abdullah An-Najdy, hal. 30-31

[5]. Fiqhus-Sirah, Muhammad Al-Ghazaly, hal. 52.

[6]. Sirah An-Nabawiyah, Ibnu Hisyam, I/187-188.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s