KEMUNDURAN DAN KEHANCURAN KERAJAAN MUGHAL


BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. A.    Latar Belakang

Faktor utama yang menjadi penyebab kemunduran serta kehancuran suatu bangsa adalah karena lemahnya kesatuan dan persatuan. Suatu bangsa yang besar agar tetap dapat mempertahankan kebesaran bangsanya mutlak harus memegang teguh modal ini, memperkokoh serta memperkuat persatuannya. Namun sejarah selalu terulang, sejarah kehancuran suatu bangsa di masa lalu selalu luput dijadikan ibrah bagi bangsa sesudahnya. Maka tidak salah kalau ada ungkapan, bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu belajar dari sejarah silamnya.

Kita tahu, walaupun faktor yang menjadi penyebab runtuh atau hancurnya suatu bangsa itu beragam, spesifik dan memiliki karakter sendiri-sendiri. Namun sesungguhnya muaranya sama, bersumber dari satu kesalahan yang serupa, berpecah belah. Sehingga dengan pecah belahnya kesatuan, dengan sendirinya akan melemahkan kekuatannya. Dengan demikian karena kelemahan itu, maka akan lebih mudah disusupi lawan, hingga diserang pihak luar yang memusuhinya. Karena disadari atau tidak suatu bangsa yang besar niscaya akan selalu ada pihak yang memusuhinya.

Mughal merupakan kerajaan Islam di anak benua India, dengan Delhi sebagai ibukotanya, berdiri antara tahun 1526-1858 M. Dinasti Mughal di India didirikan oleh seorang penziarah dari Asia tengah bernama Zahiruddin Muhammad Babur (1482-1530 M), salah satu cucu dari Timur Lenk dari etnis Mongol, keturunan Jengis Khan yang telah masuk Islam dan pernah berkuasa di Asia Tengah pada abad ke 15. Kerajaan ini berdiri pada saat di Asia kecil berdiri tegak sebuah kesultanan Turki Utsmani dan di Persia kerajaan Safawi. Ketiganya pada saat yang sama menjadi sebuah negara-negara adikuasa di Dunia. Mereka juga menguasai perekonomian, politik serta militer dan mengembangkan kebudayaan.

Kehancuran Mughal berawal dari sepeninggalan Aurangzeb pada 1707 M, pada saat Kesultanan Mughal mulai menunjukkan tanda-tanda kemunduran karena generasi pemimpin selanjutanya sangat lemah. Sampai tahun 1858 M, sultan-sultan Mughal tidak mampu lagi mengembalikan wilayah yang cukup luas dan kekuatan lokal Hindu yang cukup dinamis, disamping karena konflik diantara mereka sendiri yang berebut kekuasaan.[1]Di bawah ini tercatat beberapa  sultan-sultan pasca Aurangzeb adalah sebagai berikut:

  • Bahadur Syah I (1707-1712 M)
  • Azimusyah (1712-1713 M)
  • Farukh siyar (1713-1719 M)
  • Muhammad syah (1719-1748 M)
  •  Ahmad Syah (1748-1754 M)
  • Alamghir II (1754-1759 M)
  • Syah Alam (1761-1806 M)
  • Akbar (1806-1837 M).
  • Bahadur Syah II (1837-1858 M)

Seperti yang kita ketahui hampir semua dinasti maupun kerajaan-kerajaan yang berjaya pada saat mereka menggalami kemunduran itu di sebabkan atau ditandai karena adanya konflik dikalangan keluarga kerajaan, yang intinya adalah saling berebut kekuasaan. Selain karena faktor tersebut, faktor yang paling mendukung kehancuran Mughal juga karena adanya serangan dari bangsa lain.

 

BAB II

PEMBAHASAN

KEMUNDURAN DAN KEHANCURAN

KERAJAANMUGHAL

 

  1. A.    Awal Kemunduran Kerajaan Mughal

Setelah satu setengah abad dinasti Mughal berada di puncak kejayaannya, para pelanjut Aurangzeb tidak sanggup mempertahankan kebesaran yang telah di bina oleh sultan-sultan sebelumnya. Pada abad ke-18 M kerajaan ini memasuki masa-masa kemunduran. Kekuasaan politiknya mulai merosot, suksesi kepemimpinan di tingkat pusat menjadi ajang perebutan, gerakan separatis Hindu di India tengah, Sikh di belahan utara dan Islam di bagian timur semakin lama semakin mengancam. Sementara itu, para pedagang Inggris untuk pertama kalinya diizinkan oleh Jehangir menanamkan modal di India, dengan dukungan oleh kekuatan bersenjata semakin kuat menguasai wilayah pantai.[2]Sehingga yang diwarisi hanyalah kemewahan dan kebesaran dalam istana yang disertai dengan dayang-dayang yang hanya akan melemahkan sendi-sendi kepemimpinan pada kerajaan Mughal tersebut.

Ada dua hal yang mengancam kebesaran Mughal di India ittu selain kerajaan-kerajaan Brahmana yang dibangun hendak melepaskan diri dari kungkungan Mughal, demikian juga beberapa kerajaan Islam yang lain. Adapun dual hal yang mengancam itu ialah

Pertama kerajaan Iran di bawah pimpinan Nadir Syah. Sebagaimana diketahui dalam sejarah Umat Islam Iran yang telah terdahulu, Nadir Syah setelah dapat merampas kekuasaan dari pada keturunan Shafawiy dengan akal yang asangat cerdik, dan setelah berhasil mengalahkan musuh-musuhnya, akhirnya timbulnya keinginannya yang sangat besar untuk menaklukan kerajaan Mughal di Delhi Agra itu. Dengan berbagai macam alasan terutama dengan tuduhan bahwa kerajaan  Delhi banyak sekali memberikan erbantuan kepada kaum pemberontak Afganistan dan memberikan perlindungan kepada pelarian-pelarian politik, maka diserangnyalah negeri itu (1739), yaitu dua tahun saja setelah kekuasaan Iran bulat di tangannya.[3]

Setelah ada beberapa persetuan antara Sultan Muhammad Syah dan Nadir Syah, yang akhirnya membuat Sultan Muhammad Syah mengakui atas kekuatan yang dimilki oleh Nadir Syah. Hal ini ditandai dengan  penyerahan berbagai upeti yang sangat banyak kepada Nadir Syah sebagai syarat penyerahan diri serta memberikan pengampunan dan perlindungan kepada Sultan Muhammad Syah dan rakyat Delhi. Diantara benda-benda yang diserahkan kepada Nadir adalah singgasana buruk merak yang sampai sekarang masih dapat dilihat di dalam istana Iran. Demikian juga intan-berlian Koh-i-Nor yang terkenal itu.

Setelah masa-masa pemerintahan Muhammad Syah berakhir maka digantikanlah oleh Sultan Alam Syah. Pada masa ini Sultan Alam Syah berusaha merebut kembali wilayah Benggala dan berhasil, tiba-tiba terjadilah peperangan dengan kompeni Inggris. Tidaklah henti-hentinya peperangan itu. Kerajaan Mughal bertambah lama bertambah lemah, kompeni Inggris bertambah lama bertambah kuat, Inggris mulai mempelajari segi-segi kelemahan India dengan perbedaan agama antara Islam dan Hindu, dan juga keinginannya raja-raja Islam yang masing-masing hendak berdiri sendiri. Kesesudahannya lemahlah Sultan Alam Syah dan patah semangat perlawanannya, sehingga diterimanya perdamaian dengan Inggris, bahwa dia menyerahkan pemungutan bea-cukai benggala, Bihar, dan Orisa, dengan menerima ganti kerugian 2.600.000 rupiah. Bertambah celaka dan malanglah nasib Sultan Alam Syah seketika seorang panglima perangnya menagkapnya dan menghukumnya dengan mengorek kedua matanya hingga buta (1788), maka bertambah kacau balaulah pertahanan Delhi yang penghabiskan itu. Dari sehari-kesehari pindahlah kewibawaan kekuasaan pemerintahan kepada Inggris. Akhirnya kompeni Inggris memberinya saja “ganti rugi ” sebanyak 90.000 rupiah sebuhal, cukup untuk belanjanya dalam istananya saja, dan diberi hak terus memakai gelar “Sultan”, dalam keadaan buta dan seluruh kekuasaan terserahlah mulai waktu itu kepada Inggris. Sultan Alam Syah, cahaya yang akhir dari kerajaan Mughal India itu wafat pada tahun 1806.[4] Lalu Alam Syah diganti oleh Muhammad Akbar (1806-1837), lalu dilanjutkan oleh Bahadur Syah.

Pada masa pemerintahan Bahadur Syah ini, mulai terjadilah pemberontakan pada tahun 1857 yang diusahakan untuk melawan pemerintahan Inggris dengan kongsi dagangnya yaitu EIC. Perlawanan mereka dapat dipatahkan dengan mudah, karena Inggris mendapat dukungan dari beberapa penguasa lokal Hindu dan Muslim. Inggris kemudian menjatuhkan hukuman yang kejam terhadap para pemberontak. Mereka di usir dari kota Delhi, rumah-rumah ibadah banyak yang dihancurkan, dan Bahadur Syah, raja Mughal terakhir, diusir dari istana (1858 M). Dengan demikian, berakhirlah sejarah kekuasaan dinasti Mughal di daratan india dan tinggalah di sana umat Islam yang harus berjuang mempertahankan eksistensi mereka.[5]

Adapun maharaja-maharaja India brahmana dan sultan-sultan islam yang tinggal, yang telah banyak berjasa kepada inggris dalma menguatkan imperialismenya di sana, diberi kemegahan dan kekuasaan, memakai gelar pusaka dan diberi bintang-bintang. Seketika Ratu Victoria dialntik menjadi kaisar India, maharaja-maharaja itupun datanglah berduyun-duyun ke London, menjadi pengawal dari Kaisar Ratu Inggris itu, selama peralatan besar diadakan. Sampai akhirnya Indiapun merdeka dan kembali kepada rakyatnya sendiri dan terbelah dengan Pakistan sebab yang beragama Islam ingin hendak mendirikan negara dengan cita-citanya sendiri.[6]

Sebelum Bahadur Syah di usir ke wilayah Rangon atau Birma saat ini, terdapat suatu kejadian yang sangat membuatnya sedih sekali yaitu ketika dia ditangkap dan dipenjarakan, lalu dia pun merasakan lapar dan dia meminta makanan kepada serdadu Inggris. Maka ketika membawa makanan yang berada di dalam talam emas dan dulang emas yang merupakan bekas perhiasan dari istana Inggris. Hal yang tidak disangka-sangka pun terjadi, yaitu ketika tutup dari nampan tersbut dibuka, sekujur tubuhnya gemetar dan pingsan sebab diatas nampan tersebut terdapat dua buah kepala puteranya yang sangat dicintainya. Setelah kejadian tersebut, maka berakhirnya keturunan dari Bahadur Syah.

Namun ada sedikit tambahan bahwasannya pemberontakan yang dilakukan oleh Bahadur Syah dan kawan-kawannya tersebut sering kali disebut dengan “Pemberontakan Sipahi.

 

  1. B.     Faktor Penyebab Kehancuran Kerajaan Mughal

Ada beberapa faktor yang menyebabkan kekuasaan Dinasti Mughal ini mundur pada satu setengah abad terakhir, dan membawa kehancuran pada tahun 1858 M adalah:

  1. a.      Faktor Internal
  2. b.      Faktor Eksternal
  1. Terjadi stagnasi dalam pembinaan kekuatan militer sehingga operasi militer Inggris di wilayah-wilayah pantai tidak dapat segera di pantau oleh kekuatan maritim Mughal. Begitu juga kekuatan pasukan darat. Bahkan mereka kurang terampil dalam mengoperasikan persejataan buatan Mughal itu sendiri.
  2. Pendekatan Aurangzeb yang terlampau kasar dalam melaksanakan ide-ide puritan dan kecenderungan asketisnya, sehingga konflik antar agama sangat sukar diatasi oleh sultan-sultan sesudahnya.
  3. Dekadensi moral dan gaya hidup mewah di kalangan elite politik, yang mengakibatkan pemborosan dalam penggunaan uang negara.
  4. Semua pewaris kerajaan pada masa terakhir adalah orang-orang lemah dalam bidang kepemimpinan, sehingga tidak mampu menangani kemerosotan politik dalam negeri.

Faktor ini ditandai dengan banyaknya gerakan pemberontakan sebagai akibat dari lemahnya para pemimpin kerajaan Mughal setelah kepemimpinan Aurangzeb, sehingga banyak wilayah-wilayah kerajaan Mughal yang terlepas dari kekuasaan Mughal. Adapun pemberontakan-pemberontakan tersebut antara lain:

  1. Kaum Hindu yang dipimpin oleh Banda berhasil merebut Sadhura, letaknya di sebelah utara Delhi dan juga kota Sirhind.
  2. Golongan Marata yang dipimpin oleh Baji Rao dan berhasil merebut wilayah Gujarat.
  3. Pada masa pemerintahan Syah Alam terjadi beberapa serangan dari pasukan Afghanistan yang dipimpin oleh Ahmad Khan Durrani. Syah Alam mengalami kekalahan dan Mughal jatuh pada kekuasaan Afghanistan.
  1. Adanya perdagangan dan kekuasaan Inggris di India. Pada abad ke-18, terjadi pertempuran antara Prancis dan Inggris yang disebabkan karena perebutan daerah kekuasaan di Asia, pertempuran tersebut dimenangkan oleh Inggris yang nantinya membuat orang-orang Inggris melakukan penaklukan daerah-daerah India satu – persatu. Awalnya Inggris melakukan perdagangan di India melalui EIC (British East India Company, yang memproduksi kain sutra dan tenun dengan mendirikan pabrik-pabrik di Bombay, Madras, dan Kalkuta,[7]

Dari beberapa kejadian yang telah terjadi pada masa-masa kerajaan Mughal tersebut maka dapatlah kita ketahui beberapa hal yang menyebabkan kehancuran kerajaan tersebut terjadi, diantaranya:

  1. Bidang Militer

Terjadi stagnasi dalam pembinaan kekuatan militer sehingga operasi militer Inggris, Portugal dan Perancis di wilayah-wilayah pantai tidak dapat segera dipantau oleh kekuatan maritim Mughal.begitu juga kekuatan pasukan darat. Bahkan, mereka kurang terampil dalam mengoperasikan persenjataan buatan Mughal sendiri.

  1. Bidang Sosial
  • Kemerosotan moral dan hidup mewah di kalangan elite politik, yang mengakibatkan pemborosan dalam penggunaan uang negara.
  • Pendekatan Awrangzeb yang terlampau “kasar” dalam melaksanakan ide-ide puritan dan kecenderungan asketisnya, sehingga konflik antar agama sangat sukar diatasi oleh sultan-sultan sesudahnya.
  1. Bidang Politik

Kekuasaan politiknya menjadi merosot akibat tahta kepemimpinannya dijadikan rebutan, sehinnga terjadi separatis Hindu, konflik-konflik yang berkepanjangan ini mengakibatkan pengawasan daerah-daerah menjadi lemah dan satu persatu melepaskan loyalitasnya dari pemerintah pusat. Pada pemerintahan Syah Alam (1760-1806 M) kerajaan Mughal diserang oleh pasukan Afganistan yang dipimpin oleh Ahmad Khan Turanni. Kekalahan Mughal dari serangan ini berakibat jatuhnya Mughal pada kedalam kekuasaan Afgan. Ketika kerajaan Mughal dalam keadaan lemah, Inggris semakin kuat posisinya, tidak saja dalam perdagangan, tapi juga dalam bentuk politik dengan dibentuknya EIC (The East India Timur Company ). Militer Inggris berhasil menekan Syah Alam sehingga melepaskan wilayah Kuth & Bengal kepada Inggris.

 

  1. Bidang Pemerintahan

Semua pewaris tahta kerajaan pada paro terakhir adalah orang-orang lemah dalam bidang kepemimpinan.[8]

  1. Bidang Ilmu Pengetahuan

Lemahnya sentuhan intelektual (pemikiran) dan estetika (satra dan sains) yang ditandai dengan memudarnya karya-karya kreatif disbanding dengan era kejayaan dinasti Abbasiyah.

  1. Bidang Ekonomi

Lemahnya manajemen ekonomi yang tidak dikelola secara sistematis dan paradigmatik. Hal ini menyebabkan krisis ekonomi yang tidak mampu menghadapi perubahan global pada zamannya.[9]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

KESIMPULAN

 

Dari paparan sebelumnya dapat diambil kesimpulan bahwa hadirnya kerajaan Mughal di India menandakan bahwa peradaban Islam masih dapat dikembang dan disebarluaskan ke seluruh penjuru, terutama India, sebagai pusat dari kerajaan tersebut pasca tumbangnya dinasti besar dalam Islam yakni Dinasti Abbasiyah oleh Mongol pada tahun 1258. Menariknya lagi, bahwa pembesar atau pendiri kerajaan tersebut ialah memiliki garis keturunan dengan orang yang meluluh lantahkan Dinasti Abbasiyah, Hulagu Khan.

 

Perjalanan pemerintahan Kerajaan Mughal cukup lama, sehingga dapat melahirkan peradaban Islam di India yang sebelumnya penduduknya notabene beragama Hindu. Peradaban Islam yang disumbangkan oleh Mughal diantaranya di bidang ekonomi, politik, militer, agama dan ilmu pengetahuan. Puncak kejayaan kerajaan ini ialah ketika dipegang oleh Akbar dan tiga pemimpin setelahnya. Namun, setelah itu kerajaan Mughal mulai melemah dan pada akhirnya berbuntut pada keruntuhan. Faktor mundur dan runtuhnya kerajaan ini ialah disebabkan oleh faktor internal dan eksternal.

 

Perjalanan Kerajaan Mughal dan pemerintahan Islam sebelumnya bisa dijadikan cermin dan pelajaran, supaya kejadian tersebut dapat kita ambil hikmahnya  dan untuk memperkaya pengetahuan tentang Islam.

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Badri, Yatim. 2006. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta : PT. RajaGrafindo Persada

Hamka. 1981. Sejarah Umat Islam. Jakarta : Bulan Bintang

Ajid Thohir. PERKEMBANGAN PERADABAN DI KAWAAN DUNIA ISLAM Melacak Akar-Akar Sejarah, Sosial, Politik, dan Budaya Umat Islam. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada. 2004

Syamsul bakri, Peta Sejarah Peradaban Islam, . . . . . . .,

Jaih Mubarok, Sejarah Peradaban Islam,Bandung : Pustaka Bani Quraisy, 2004

http://yacobsemesta.wordpress.com/2009/04/25/kerajaan-mughal/

 

 


[1]Ajid Thohir. PERKEMBANGAN PERADABAN DI KAWAAN DUNIA ISLAM Melacak Akar-Akar Sejarah, Sosial, Politik, dan Budaya Umat Islam. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada. 2004., hal. 212

 

[2] Badri, Yatim. 2006. Sejarah Peradaban Islam. Jakarta : PT. RajaGrafindo Persada. Hal. 159

[3] Hamka. 1981. Sejarah Umat Islam. Jakarta : Bulan Bintang.  Hal. 161-162

[4] Ibid. Hal 163

[5] Op.cit. Hal 162

[6] Loc.cit. Hal. 164

[7].Jaih Mubarok, Sejarah Peradaban Islam,Bandung : Pustaka Bani Quraisy, 2004. Hal. 213

[9]Syamsul bakri, Peta Sejarah Peradaban Islam, . . . . . . ., 158-159

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s