islam dari masa ke masa


BAB I

ZAMAN KELAHIRAN ISLAM

Perjalanan zaman selama kurun waktu 750 tahun sejak kelahiran Al-Masih cukup membuat rusaknya kepercayaan Nasrani sebagaimana yang dialami Islam di kemudian hari. Kepercayaan ketuhanan yang samasekali  tidak terikat dengan materi memang sukar dimengerti dan sulit dicerna, kecuali oleh orang-orang tertentu. Karena itulah orang Arab merusak agama tauhid yang diajarkan oleh sesepuh mereka, Nabi Ibrahim a.s, kemudian Ka’bah mereka penuhi dengan berbagai macam patung dan berhala, begitu pula yang dilakukan oleh oyang Yahudi, mereka merusak agama yang diajarkan oleh Nabi Musa a.s, kemudian menjadikan patung lembu sebagai “tuhan”.

Jadi kepercayaan kepada tuhan semata-mata memang berat dan tidak mudah diyakini kebenarannya secara terus-menerus. Ada sebagain orang yang mengatakan, bahwa manusia selalu kerkecenderungan kepada tajsid (kepercayaan yang menganggap tuhan itu berjasad).

Seperti yang terjadi di Mesir, agama Nasrani telah menjadi busuk selama negri itu berada di bawah kekuasaan imperium Romawi. Persia yang dikuasai olek kepercayaan Zaradustra dan Budhisme keadaannya tidak lebih baik. Raja-raja mengawini anak perempuan dan saudara perempuannya sendiri, sehingga Yazdajird pun berbuat mesum dengan anak-anak perempuannya yang kemudian dibunuhnya. Demikian pula keadaan India yang penduduknya mempercayai perbedaan kasta, keluarga bangsawan oleh penduduk dipandang mempunyai martabat di atas mereka dan di atas keluarga-keluarga yang lain. Begitu juga keadaan orang-orang Hindu dan Cina, mereka di kuasai olek tiga hal, yaitu panagisme ekstrim, nafsu, seksual yang liar dan system kasta. Karena itu rusaklah agama yang ada pada setiap umat, lalu mereka mengharapkan adanya nabi baru.

Di masa jahiliyah orang-orang arab tenggelam di dalam penyembahan berhala. Ketika itu agama sebagaimana yang ditunjukan oleh sya’ir-sya’ir mereka menganggapnya soal yang dangkal, tidak mereasuk sampai ke hati, bahkan mereka memuja-muja batu dan parit. Diantara sisa-sisa peninggalan jaman jahiliyah ialah sumur zamzan dan Hajar Aswad.

Ketika itu orang-orang Arab mempunyai kepercayaan bahwa di dalam segala sesuatu yang berupa benda, seperti gunung, angin, dan lain-lain terdapat roh-roh yang harus disembah seperti berhala, karena itulah mereka menyembah binatang-binatang, matahari dan bulan. Tetapi demikian mereka percaya bahwa batu-batu itu bukan Tuhan, mereka menyembah hanya untuk mendekatkan diri kepada Tuhan. Hingga saat lahirnya Islam Ka’bah penuh dengan berhala-berhala, kemudian Rosululloh memerintahkan semuanya untuk di hancurkan.

Agama Islam datang dengan dua hal sebagai dasar utama, yaitu Al-Qur’an dan Sunah, Al-Qur’an ini membawakan ajaran-ajaran yang sangat berbeda dengan ajaran-ajaran Jahiliah. Namun yang pertama kali harus diperhatikan dalam agama Islam adalah :

  1. 1.      Rukun Iman

Doctor Max Muller, ilmuan yang menemukan bahasa sansakerta, memastikan bahwa manusia pada zaman purbakala mempunyai keesaan Tuhan semurni-murninya. Paganism (keberhalaan) adalah suatu kepercayaan yang disondorkan kepada manusia oleh para pemimpin agama, akibat kedengkian yang terjadi di kalangan mereka sendiri. Apa yang dikatakan oleh Max Muller itu berlawanan dengan teoti evolusi yang beranggapan bahwa manusia pada mulanya menyembanh berhala, kemudian telah memperbanyak lagi jumlah berhala dan baru mengenak tauhid pada zaman kebelakang.

Kepercayaan tauhid dalam Islam bukan semata-mata teori filsafat metafisik seperti yang banyak dianut oleh orang-orang Barat, yang percaya bahwa setelah Tuhan selesai menciptakan alam kemudian naik ke atas dan tidak mencampuri urusan apa pun juga. Namun kaum muslimin menyakini bahwa Tuhan senantiasa menentukan segala sesuatu di alam semesta, semua yang terjadi dan semua perubahan baru adalah kehendak dan takdir ilahi.

  1. 2.      Tentang Malaikat

Islam juga mewajibkan pemeluknya mempercayai mahluk Alloh yang bernama malaikat. Namun sayangnya kepercayaan dalam Islam tentang adanya malaikat dan setan menimbulkan akibat besar dan berbahaya, khususnya kepercayaan tentang adanya setan, karenabanyak sekali orang yang menambah berbagai khayalan ke dalam kepercayaan tersebut.

  1. 3.      Tentang Takdir

Sehubungan dengan kepercayaan tersebut Islam juga mewajibkan pemeluknya mempercayai adanya qadha dan qadarserta kaharusan bertawakal kepada alloh.

  1. 4.      Tentang Perbudakan

Islam tidak membolehkan adanya perbudakan selain terhadap tawanan perang yang dibenarkan oleh Syai’at. Islam menetapkan hak-hak bagi budak sama dengan hak-hak yang ada pada orang-orang merdeka. Bahkan dalam Islam budak-budak di beri keistimewaan-keistimewaan tertentu yang tidak diperoleh orang-orang merdeka, antara lain dengan menetapkan hukuman yang dijatuhkan terhadap seorang budak adalah separoh dari hukuman yang dijatuhkan terhadap orang merdeka. Maka dari itu Islam mewajibkan kepada kaum muslimin supaya memperlakukan budak dengan baik.

  1. 5.      Tentang Jihad

Di dalam Islam jihad diwajibkan atas kaum muslimin dalam menghadapi tiga keadaan :

  • Pada saat kaum muslimin berhadap-hadapan dengan pasukan musuh di medan perang
  • Jika kaum Kafir menduduki negri Islam, penduduknya wajib berperang melawan mereka.
  • Jika imam telah mengumumkan mobilisasi maka kaum muslimin wajib berperang bersama-sama Imam melawan musuh.

 

 

 

 

  1. 6.      Tentang masalah-masalah social

Islam meletakan dasar-dasar tertentu bagi system social dan dilandasi kepercayaan, bahwa segala sesuatu yang ada di langit dan di bumi di ciptakan alloh bagi manusia.

Adaupn hal-hal yang harus diperhatikan dalam masalah social adalah :

  • Islam menekankan pemeluknya supaya benar-benar menaruh perhatian kepada anak-anak yatim.
  • Islam  mewajibkan pemeluknya agar bersikap baik kapada kaum kerabatnya
  • Alloh memberikan hak dan kewajiban social kepada kaum wanita sebagimana yang diberikan kapada kaum pria.
  • Islam menghapuskan Tabanni
  • Islam mewajibkan pemeluknya supaya bermurah hati kepada budak dan hamba sahaya.
  1. 7.       Tentang Ekonomi

Islam mengharamkan riba, mewajibkan zakat dan menghalalkan dagang, karena Islam memandang riba hanya menguntungkan kaum pemilik modal dan sama sekali tidak menguntungkan bagi kaum miskin. Demikian juga dalam hal waris, alloh SWT menetapkan system pembagian waris agar sebagian besar dari harta tersebut didistribusikan kepada anak-anak, saudara-saudara, kaum kerabat dan lain–lain. Dengan system warisan yang ditetapkannya itu Islam menjamin pemerataan distribusi harta warisan.

  1. 8.      Syi’ar Islam

Setiap agama pasti mempunyai Syi’ar (simbol atau lambang). Islam menekankan soal amal perbuatan mengenai akidah dan kepercayaan yang harus di ikuti dengan amal perbuatan. Betapapun baiiknnya suatu kepercayaan, kalau tidak diterapkan dengan amal perbuatan maka kepercayaan itu tidak ada harganya. Adapun lambang-lambang yang menandakan akidah Islam adalah shalat, zakat, puasa, dan ibadah haji.

Islampun mempunyai prinsip bahwa amal kebajikan yang tidak di landasi keimanan kepada Alloh dan Rosul-Nya tidak ada nilainya, olek karena itu Islam memandang kaitan antara niat dan amal perbuatan.

  1. 9.      Sistem Kekuasaan Islam

Islam meletakan system kekuasaan bukan system aristrokrasi dan demokrasi,bukan pula system komunis dan teokrasi. Dalam Islam kekuasaan tertinggi berada di tangan seorang yang di sebut tokoh ulama, ia menjalankan kekuasaan berdasarkan ajaran agama dan dia bertanggung jawab hanya kepada Tuhan. Islam merupakan agama bagi seluruh umat manusia dan berseru supaya Firman Alloh berada di tempat yang paling tinggi. Islam memandang seluruh permukaan bumi di tanah air ini hak setiap muslim, dan mewajibka bagi setiap muslim untuk bela-membela dalam keadaan bagaimanapun juga.

  1. 10.  Tentang Wahyu

Islam menegaskan bahwa ajaran-ajaran yang di bawa oleh Nabi Muhammad bukanlah ajaran yang berasal dari pribadi Rosululloh melainkan sebagai wahyu yang di turunkan oleh Alloh. Setiap getaran hati yang mendorong manusia untuk berbuat kebajiakn adalah sebuah inspirasi dari allon, namun inspirasi yang diperoleh Nabi dan Rosul jauh lebih tinggi, yaitu wahyu yang di sampaikan kepada mereka melalui malaikat Jibril.

BAB II

ZAMAN PARA KHALIFAH RASYIDIN

  1. 1.      Masa Abubakar

Setelah wafatnya Rosulullah, kepemimpinan dalam Islam digantiakan oleh Abu Bakar, ia seorang yang jujur, ikhlas dan tegas. Dalam pemerintahannya Abu Bakar melanjutkan kepemimpinan yang sebelumnya, baik dalam kebijaksanaan kenegaraan maupun pengurusan terhadap agama. Masa kekhalifahan Abu Bakar diawali dengan terjadinya pembangkangan kabilah-kabilah badui yang tidak mau menunaikan zakat, karena menurut mereka zakat dianggap sebagai pajak dan dirasakan sebagai kewajiban yang merendahkan hati mereka.

 

  1. 2.      Masa Umar

Sepeninggal Abu Bakar, kekhalifahan digantiakn oleh Umar bin Khaththab, ia seorang yang mempunyai corak keberanian. Ia seorang yang kuat, adil, berwibawa, dan berani menghukum siapa saja yang berbuat salah termasuk dirinya dan anak-anaknya. Diantara jasa-jasanya yang terbesar ialah ia berhasil meruntuhkan Persia dan menghancurkan imperiumnya.

 

  1. 3.      Pembunuhan terhadap Khalifah Ustman

Selama eman tahun pertama kekhalifahan Ustman berkalan bengan baik dengan menempuk kebijaksanaan yang adil dan lunak, maun setelah eman tahun berikutnya, dalam usianya yang semakin tua, ia tunduk kepada kerabatnya yaitu orang-orang Bani Umayyah, sehingga para pejabat Negara saat itu dikuasai oleh Bani Umayyah. Hal ini menimbulkan banyak protes dikalangan para sahabat nabi, khususnya Ali bin Abi Thalib. Pasa saat itu mereka menasehati Ustman supaya meletakan jabatannya, namun semua itu di tolak, sejak saat itulah Ustman menerima berbagai macam pemberontakan dari masyarakat Madinah bahkan orang-orang Masir juga ikut memberontak, bersamaan dengan itu orang-orang mesir menerima sepucuk surat atas nama Khlifah Ustman yang berisi perintah supaya membunh tokoh-tokoh Mesir, setelah mendengar semua itu salah satu tokoh Mesir akhirnya berhasil membung khalifah Ustman dan setelah Ustman wafat kekhalifahan digantikan oleh Ali bin Abi Thalib.

BAB III

MASA PEMERINTAHAN BANI UMAYYAH

Terjadinya pertikaian hebat diantara kaum muslimin, namun tidak menghalangi Mu’awiyah untuk terus berjuang. Bani Umayyah mendirikan imperium yang sangat luas penuh dengan menara-menara mesjid. Mereka juga berhasil menguasai hampir seluruh wilayah Andalusia dan menaklukan berbagai di daerah Prancis bagian Selatan. Selain itu mereka juga berhasil merombak dua masalah yaitu mengubah system administrasi pemerintahan menjadi bercorak Arab dan tidak membutuhkan pegawai asing lagi, dan yang kedua adalah mencetak mata uang sendiri.

Mu’awiyyah mewariskan kerrajaannya kepada Yazid, ketika masa kekuasaan Yazid terjadi pertikaian hebat antara Yazid dan Husein yang mengakibatkan terbunuhnya Husein, dari terbunuhnya Husein tersebut merupakan awal bencana besar yang menimpa Islam, karena kaum muslimin pada saat itu terpecah menjadi dua golongan yaitu golongan Syi’ah dan Sunni.

Tak lama setelah kejadian itu, kemudian terjadi lagi tragedy dengan adanya pembunuhan terhadap ‘Abdullah bin Zubair yang saat itu Dinasti Umayyah berada di kekuasaan ‘Abdul Malik bin Marwan. Abdul Malik mengangkat Hijaj asebagai komandan pasukan untuk memerangi ‘Abdulah bin Zubair. Ia mengijinkan pasukannya menyerang ka’bah, peristiwa ini sangat memalukan karena seorang bernama Hijaj berani menyerang ka’bah yang merupakan tempat yang sangat di sucikan oleh umat Islam, dan disanalah Abdullah bin Zubair harus terbunuh akibat dari penyerangan ka’bah.

Tokoh Bani Umayyah yang terakhir adalah Marwan bin Muhammad, ia terkenal dengan julukannya sebagai Al-Himar karena kesabarannya. Ia merupakan seorang penguasa yang besar, namun sayang ia muncul ketika Bani Umayyah sedang mengalami kemorosotan. Adapun yang menjadi sebab runtuhnya Bani Umayyah yaitu dikarnakan para penguasa Bani Umayyah pada saat itu tidk menghargai jasa-jasa para pahlawan, lenyapnyah semangat mereka dalam memperjuangkan Islam, terlalu lausnya daerah kekuasaan sehingga sekar sekali mengurus administrasi, pengusa Bani Umayyah cenderung hidup bermewah-mewahan sehingga ada diantara mereka yang membolehkan untuk minum arak, tetapi pada akhirnya merekapun ikut meneguknya.

 

 

 

BAB IV

MASA PEMERINTAHAN ABBASIYYAH

Salah satu penguasa Abbasiyyah yang terkemuka adalah Abu Ja’far Al-Mansur, ia seorang yang kuat dan tegas di tanggan dialah daulat Abbasiyyah berdiri. Kemudian dignatikan oleh Harun Ar-Rasyid. Kemudian setelah Harun Ar-Rasyid wafat,kekuasaan daulat abbasiyyah di gantikan oleh Al-Ma’mun, ie seorang yang berfikir luas dan berpandangan jauh. Selama 20 tahun berkuasa, ia banyak mencurahkan perhatiannya kepada dunia pendidikan melalui kegemarannya mempelajari filsafat Yunani. Ia berusaha memperkaya perpustakaan istananya dengan koleksi buku-buku tentang filsafat Yunani, Persia, dan Hindu. Pada zamannya banyak diterjemahkan buku-buku karangan Euclidus dan buku-buku karangan Ptolomeus (tentang ilmu falak), Al-Ma’mun jga gemar berdiskusi tentang ilmu Kalam.

Pada masa pemerintahan Abbasiyyah wilayah kekuasaan Islam telah demikaian luas sehingga memudahkan terjadinya gerakan-gerakan separatism. Banyak daerah-daerah yang melepaskan diri dari pemerintahan pusat sehingga daulat Abbasiyyah tidak dapat dipegang sebagai kesatuan pemerintahan Islam. Pemberontakan terjadi susul-menyusul melawan kebijakan khalifah. Melemahnya daulat Abbasiyyah di tangan orang-orang Turki diikuti oleh munculnya berbagai kerajaan kecil, sehingga factor-faktor yang menyebabkan keruntuhan Daulat Abbasiyyah berlansung secara terus-menerus.

  1. 1.      Munculnya Berbagai Golongan di Kalangan Kaum Muslimin

Keistimewaan daulat Abbasiyyah bukan tetletak pada perluasan wilayah saja, melainkan terletak pada cirri khususnya yang mengagung-agungkan khalifah, karena setiap khalifah banni Abbas selalu memakai burdah (kain penutup kepala dan punggung), seperti yang biasa dipakai Rasulullah.

Pada massa daulat Abbasiyyah tasauf  muncul tidak berdasarkan landasan Islam, tetapi muncul dengan corak lain. Ada yang cenderung kepada ajaran-ajaran Yunani, agama Nasrani, dan ada juga yang mengambil ajaran Hindunisme. Pada zaman Abbasiyyah kedzuhudan mulai menempuh jalan tarekatdan para penganutnya menghayati kehidupan seperti yang ada di kalangan kaum pendeta Nasrani, mereka mengambil sisten rahiban. Selain itu juga mereka meniru kaum Nasrani menggunakan butiran-butiran tasbih dengan cara-caranya.

Pada masa itu pula muncul golongan Mu’tazilah di bawak pimpinan Washil bin ‘Atha dan Amr bin ‘Ubaid, yang diantara kegiatannya menelorkan filsafat dalam Islam. Kaum Mu’tazilah merasa harus menghadapi filsafat yang sepadan, lalu mereka menghadapkan  prinsip-prinsip Islam kepada filsafat. Dengan banyaknya pemikiran-pemikiran Mu;tazilah kemudian datanglah zaman khalifah Al-Mutawakil ia membasmi kaum Mu’tazilah dan membela fikiran para ahli hadis. Selain itu juga kaum muslimin terpecah-pecah menjadi berbagai golongan yang jumlahnya lebih dari tujuh puluh golongan. Satu golongan menyatakan diri sebagai pengikut Ali dan yang lain sebagai pengikit Abbas, kemudian masing-masing golongan terpecah-pecah lagi menjadi berbagai macam kelompok, seperti : kaum Kinasiyyah dan Sa’baiyyah (golongan Syi’ah), kaum Nidzamiyyah dan kaum Jahidziyyah (Mu’tazilah).

Demikianlah beberapa contoh mengenai golongan-golongan yang telah mencerai-beraikan ummat Islam dan menjauhkan dari kesederhanaan ajaran Islam sebagai mana asalnya.

  1. 2.      Peranan Destruktif Orang-orang Turki

Selain itu muslimin juga pernah mengalami cobaan berat di bawah kekuasaan orang-orang Turki yang dipekerjakan sebagai pasukan pengawal khalifah dan istana oleh khlifah Al-Mu’tashim pada tahun 218 H, mereka yang pada mulanya merupakan kekuatan andalan bagu daulat Abbasiyyah akhirnya menjadi musibah. Kekuasaan Negara yang pada awalnya berada di tangan orang-orang Arab, akhirnya jatuh ke tangan orang-orang Turki. Dengan kekuasaan berada di tangan Turki, meraka banyak mempermainkan para khalifah, mereka juga memperlakukan kaum muslimin dengan perlakuan kasar, kejam, lalim, dan sewenang-wenang.

  1. 3.      Serangan Mongol

Pukulan yang lebih hebat diderita agama Islam ialah serangan orang-orang Mongol. Pada tahun 656 H Bagdad menghadapi serbuan pasukan Mongol di bawah pimpinan Hulago Khan. Perlawanan kuam muslimin dapat mereka patahkan, pasukan tatar di bawah komandan Yagunus memasuki kota Bagdad dari jalur Barat, sedang pasukan lainnya di bawah pimpinan Hulago memasuki jalur Timur. Ketika khalifah Al-Mu’tashim bersama beberapa orang pembesar Negara dan tokoh-tokoh masyarakat keluar untuk menjumpai mereka, tak lama kemudian setelah itu, semua lehernya di pacung termasuk khalifah Al-Mu’tashim.  Kemudian pasukan Mongol memasuki Bagdad lewat semua jurusan, selama 34 hari lamanya pedang mereka merajalela, banyak kaum muslimin yang gugur akibat keganasan pasukan Mongol yang jumlahnya lebih dari satu juta delapan ratus ribu jiwa.

  1. 4.      Munculnya Kaum Sufi

Sebenarnya kecenderungan Sufisme sudah muncul pada akhir zaman daulat Bani Umayyah di bawah asuhan Hasan Al-Bashriy di kota Basrah, kenudian pada zaman Daulat Bani Abbasiyyah sifisme ini muncul di bawah asuhan Jabir bin Al-hayyan Al-Kimya’yi, yang merupakan penganut fahan syi’ah.

Sebenarnya pada awalnya para sahabat nabi dan kaum Tabi’in tidak pernah mengenal adanya perbedaan besar antara segi lahir dan segi batin agama Islam, mereka menyatukan keduanya dan menegakan syi’ar Islam. Akan tetapi ulama Fiqh pada saat itu terlalu melebih-lebihkan amal lahiriyah dan memeras otak untuk menghindari pokok-pokok ajaran agama. Melihat kenyataan itu, munculah kaum sufi yang yang melebih-lebihkan segi kejiwaan ibadah sebagiamana para ahli Fiqh melebih-lebihkan lahiriyah.

Factor lain yang menjadi sebab kemajuan sufisme adalah kesewenang-wenangan para penguasa sehingga banyak kaum sufi lari mencari perlindungan untuk menyelamatka diri. Mereka berpikir jika kehidupan di dunia tidak baik, maka tidak ada harapan kecuali kehidupan baik di akhirat.

  1. 5.      Beberapa Pemberontakan

Setelah Negara Islam terkeping-keping menjadi bebepara Negara yang dikarnakan adanya pemberontakan-pemberontakan dalam negri akibat kedzaliman para penguasa. Diantara pemberontakan-pemberontakan itu ialah pemberontakan orang-orang Negro di Irak, kemudian pemberontakan yang dicetuskan oleh kaum Qaramithah yang merupakan pemberontakan terbesar yang terjadi pada zaman kekuasaan khalifah Al-Mu’tadhid sehingga menimbulkan kekacuan baru dalam dunia Islam.

Kemudian menyusul gerakan Hasysyasyin (gerombolan yang menggunakan candu sebagai alat politik). Gerombolan ini merupakan musuh terbesar dalam negri bagi daulat Bani Abbasiyyah, dalam gerakannya menentang Islam mereka menggunakan faham syi’ah yang di jadikan sebagai kedok. Golongan ini terbukti mampu mrnggoyahkan sendi-sendi daulat Abbasiyyah, mereka memperluas pengaruhnya sampai ke Persia dan Suriah. Daulat abbasiyyah yang ketika itu di kuasai oleh orang-orang Turki Saljuk tidak sanggup mrnghancurkan kaum Hasysyasyin, malah  kaum Hasysyasyin yang berhasil membunuh Nidzamulmulk, merupakan menrti besar yang amat terkenal.

  1. 6.      Kerusakan ‘Aqidah

Keadaan masyarakat pada saat itu sangatlah buruk, yang di sebabkan karena perekomoniannyapun buruk. Banyak para ulama yang menggantungkan kehidupannya pada raja-raja dan para penguasa dengan jalan mencari muka. Karena itu banyak para raja dan penguasa, pada umumnya mereka memelihara alim ulama untuk melindungi kepentingan mereka dan menina-bodohkan rakyat dengan mengjarkan bahwa Alloh telah memberikan rizki, orang menjadi kayak arena tkdir, dan orang miskinpun karena tikdir.

Setelah kaum muslimin mengalami kerusakan, perhatian mereka pada amal soleh menjadi hilang, kemudian munculah aliran sufisme yang memandang amal soleh tidak ada artinya bila seseorang telah mencapai kesempurnaan iman. Di dalam aliran sufisme terdapat aliran yang bernama Al-Matiyyah, yang berpendapat para pelaku berbuat dosa tidak boleh disesali, karena mungkin ada hubungan mereka dengan alloh. Tak lain halnya dengan para folosof yang mengatakan bahwa, bagi orang yang berfilsafat cukuplah iman baginya, karena amalan yang ditetapkan oleh syari’at hanya berlaku bagi kaum awam jadi tidak berlaku bagi kaum filosof dan kaum ihawas.

  1. 7.      Serangan Pasukan Salib

Perang salib yang berlangsung dalam beberapa gelombang telah banyak menelan korban dan beberapa wilayah Islam. Pengaruh salib juga terlihat dalam penerbuan tentara Mongol Hulagu Khan, panglima tentara Mongol sangat membenci Islam karena banyak dipengruhi oleh orang-orang Buda dan Kristen. Greja Kristen beraspsialisasi dengan orang-orang Mongol yang anti Islam dan diperkeras di kantung-kantung ahlul-kitab. Tentara Mongol setelah menghancurkan pusat-pusat islam ikut memperbaiki Yerusalam.

 

 

BAB V

KEBANGKITAN NASIONAL DI DUNIA ISLAM

Setelah keadaan menjadi sedemikian buruk mulailah timbul kesadaran nasional di semua negri Islam dan menyadari betapa besarnya bahaya yang sedang dihadapi ummat saat itu, hingga hampir di setiap Negara Islam muncul pemimpin-pemimpin yang berjuang untuk memperbaiki keadaan. Misalnya Muhammad bin ‘Abdulwahhab, ia mempunyai prinsip yang terpenting ialah kembali kepada Al-Qur’an dan sunnah Rosulullah SAW. Muhammad bin Abdulwahhab mengenbalikan berlakunya hukuman bagi lelaki atau perempuan yang berbuat zina, selain itu ia juga melarang adanya pemujaan di tiap-tiap kuburan, adanya hiasan di mesjid-mesjid, dan ia juga melarang dengan keras mengkonsumsi segala macam minuman yang memabukan dan mengharamkan orang mengisap rokok.

Kemudian di Persia dan Mesir muncul Jamaluddin Al-Afghani yang menentang kesewenang-wenangan para penguasa. Ia member pengertian kepada rakyat apa yang menjadi hak dan kewajibannya, ia juga berpendapat supaya kolonialisme pergi dari negrinya. Di Turki muncul Madhat Pasha, ia berseru agar dunia Timur mengambil segi-segi bermanfaat dan terbaik dari peradaban Barat, seperti dari segi sistem pemerintahan. Kemudia berikutnya muncul Mustafa Kemal yang menyerukan adanya perbaikan negri melalui jalan lain, yaitu melepaskan keterkaitan dengan Arab dalam berbahasa dan agama. Pokok perbaikan yang ditetapkan Mustafa Kemal ialah menghapuskan kementrian wakaf dan menyerahkan urusan wakaf kepada direktorat urusan agama dengan didampingi oleh badan penasehat urusan ilmu pengtahuan. Jadi prinsip-prinsip yang di tetapakan oleh Mustafa Kemal bersifat madaniyah bukan bersifat keagamaan. Sebaliknya Muhammad bin Abdulwahhab menetapkan prinsip-prinsip perbaikannya bersifat keagamaan , bukan bersifat keduniaan.

  1. 1.      Toleransi Islam

Sebagaimana diketahui, Rosulullah tidak pernah memaksa kaum Nasrani untuk memeluk agama Islam, mereka dibiyarkan bertahan pada agamanya sendiri. Mereka diajak berdamai atas dasar perjanjian membayar sejumlah uang tiap tahun sebagai imbalan atas perlindungan dan jaminan keselamatan jiwa dan harta, dengan syarat mereka tidak boleh makan harta riba.

Setelah Rosulullah wafat para khalifah yang memerintah kaum muslimin juga tidak pernah memaksa seorangpun untuk memeluk agama Islam. Mereka membiyarkan setiap orang berpegang pada ajaran agamanya masing-masing. Kaum Nasrani hanya diminta supaya setia kepada perjanjian yang telah dibuatnya.

 

  1. 2.      Kemunduran Kaum Muslimin

Kaum muslimin pertama angkatan pertama dahulu mempunyai semangant keberanian yang tidak ada bandingannya, hingga pada saat itu Islam diakui oleh semua orang sebagai agama yang mempunyai keistimewaan melebihi agama-agama lain. Akan tetapi pada zaman-zaman berikutnya orang lebih mengutamakan lahiriah, sehingga berbagai ibadah seperti shalat, puasa, dan haji menjadi kehilangan jiwa dan tinggal amalan belaka.

Kebodohan yang melanda Dunia Islam dan kekosongan dari kaum ilmuan, juga merupakan salah satu factor yang menyebabkan terjadinya kerusakan dan keterbelakangan. Factor lain yang menyebabkan kemorosotan kaum muslimin karena banyak diantara mereka yang bergemilang di dalam kesenangan hidup dan berbagai macam selera syahwat seperti minum arak dan main perempuan, khususnya di kalangan penguasa. Selain itu juga keengganan mereka dalam berkorban merupakan salah satu penyeban lemahnya kaum muslimin, keinginan mereka dalam memperoleh kesenangan secara gratis, dan merasa berat untuk menginfakan harta meraka.

Namun harus kita pahami , bahwa amal kebajikan tidak terbatas pada shalat, puasa dan idabah haji saja, tetapi juga kesediaan mereka dalam mengorbankan harta dan jiwa dalam perjuangan melawan kekuatan dengan kekuatan.

 

  1. 3.      Munculnya Gerakan-gerakan Perbaikan

Sehubungan dengan merosotnya kaum muslimin, muncuklah gerakan perbaiakan. Saat iti Muhammad ‘Ali Pasha mendirikan fakultas kedokteran untuk memelihara kesehatan prajurit, selain itu juga ia mendirikan banyak sekolah untuk melayani kepentingan meliter dan mengembangkan pertanian, khususnya penanaman kapas untuk menambah kekayaan nasional. Kemudian berikutnya ia membangun percetakan sebagai sarana untuk menerbitkan kembali buku-buku klasik dan terjemahan buku-buku zaman mutakhir.

Perbaikan selanjutnya diteruskan oleh Jamaludin Al-Afghani dan Syekh Muhammad ‘Abduh yang lebih focus pada segi peradabannya, kemudain diteruskan oleh Madhat Pasha dan Khairuddin At-Tunisi, mereka melakuan perbaiakan dengan meniru orang-orang Barat, baik mengenai system kekuasaan maupun system pemerintahan, karena mereka terpengaruh oleh pendidikan Eropa. Begitu pula perbaikan yang dilakukan oleh Al-Fahat dan Mustafa Kemal, mereka juga meniru sepenuhnya orang-orang Eropa, baik yang berkaitan dengan perundangan-undangan, system social dan dasar-dasar ilmu pengetahuan.

 

  1. 4.      Gagasan Pan Islamisme

Selain adanya gerakan perbaikan, dunia Islam pada saat itu tidak akan mempunyai landasan yang kokoh selain kesatuan, seperti kesatuan dalam hal akidah dan kesatuan tindakan. Karena itu dari gerakan perbaikan munculah Jami’ah Islamuyyah (Pan Islamisme), dengan tujuan adanya suatu ikiatan yang mempersatukan segenap kaum muslimin, yang ada di Persia, Turki, Arab dan negri-negri Islam lainnya.

Jika semua orang Eropa bersatu-padu dalam kebatilan untuk melenyapkan kaum muslimin, maka kaum muslimin juga harus bersatu pada untuk mengalahkan kolonialisme. Di zaman yang modern ini, orang pertama yang menyerukan persatuan itu adalah Jamuludin Al-Afghani, kemudian disusul oleh Syeikh Muhammad Abduh dan Sayyid ‘Abdurrahman Al-Kawakibiy. Namun cara yang ditempuh oleh Jamaludin lebih tegas dan keras, ia menghendaki pemberontakan dalam negri melawan raja-raja dan para penguasa, dan kemudian mengobarkan semangat rakyat intuk melawan musuh dari luar. Lain halnya Syeikh Muhammad Abduh, dalam hal itu ia menghendaki Pan Islamisme menempuh jalan lemah lembut yaitu melalui jalan pendidikan dan pengajaran.

Sayang sekali, kebutuhan kaum muslimin terhadap Pan Islamisme masih tetap seperti dulu, yaitu belum mencapai banyak kemajuan dan belum cukup kuat untuk menghadapi Eropa. Seperti contoh yang terjadi belakangan ini, yaitu Perang Pelestina. Dunia Arab belum juga dapat bersatu untuk melawan Israel.

 

  1. 5.      Gerakan Ikhwanul Muslimin

Ikhwanul Muslimin dalam Anggaran Dasarnya menetapkan tujuan perjuangan, antara lain membentuk generasi baru yang memahami agama Islam secara benar, mengamalkan ajaran-ajarannya dan mengarahkan kebangunan rakyat Mesir kapada tujuan tersebut hinggan terwujud kehidupan bangsa yang bersumber pada semangat Islam dan berdiri di atas pokok-pokok ajarannya, yaitu dengan jalan :

  • Memperkuat budi pekerti luhur
  • Memperingatkan bahayanya sikap yang lebih cenderung pada cara hidup yang bergemilang di dalam kesenangan dan kemewahan
  • Menyebarluaskan pendidikan dan perjuangan serta menjaga baik Al-Qur’anul-Karim
  • Mendirikan yayasan yang menguntungkan dari segi ekonomi dan spiritual ummat, seperti poliklinik-poliklinik dan pemeriksaan kesehatan, menyelenggarakan pertemuan-pertemuan yang bertujuan kebajikan, membangun masjid-masjid dan mengusahakan dana pembayaran.
  • Memberantas penyakit masyarakat, seperti narkotika, minuman keras, perjudian, dan pelacuran
  • Mendorong dan mengatur amal kebajikan
  • Memperkokoh ikatan persaudaraan
  • Menumbuhkan semangat saling bantu
  • Membela agama Islam dan melawan agresi serangan yang mengarah kepadanya
  • Memperkuat jiwa yang seportif dan sehat di kalangan pemuda.

 

  1. 6.      Pengaruh Peradaban Barat

Serbuan perang Salib ke negri-negri Timur dan negri-negri Islam tidak hanya menggunakan pedang, besi dan pai, tetapi juga melalui peradaban mereka yang dicekcokan kepada semua negri, orang-orang Qibth di Mesir dan orang-orang Nasrani di Libia lebih banyak menganbil peradaban-peradaban tersebut daripada saudara-saudaranya yang beragama Islam, semua pihak telah mengmbil bagian dari peradaban tersebut, sehingga setiap rumah dari keluarga muslimin telah menggunakan penerangan listrik, menggunakan sejadah buatan Eropa, dan mendengarkan siaran radio Eropa. Negri-negri Timur juga telah menerima system pemdidikan dan pengajaran dari pemikir-pemikir Eropa mengenai ilmu Jiwa, ilmu social, dan moral.

Dengan adanya peradaban modern, maka peradaban lama yang telah mereka hanyati selama berabad-abad mengalami keguncangan hebat dalam pikiran mereka. Tetapi dengan adanya peradaban Barat banyak memainkan peranan besar dalam memajukan Dunia Islam. Tanpa peradaban Barat, Dunia Islam tentu masih tetap terbelenggu seperti keadaannya semula, tetapi tidak berarti pula bahwa peradaban Barat tidak mempunyai kekurangan dan kecacadan.

 

BAB VI

MASALAH IJTIHAD

Kaum orientalis Inggris di India mengatakan bahwa Islam adalah agama yang beku. Agama tidak akan menjadi baik, kecuali jika di dalamnya terdapat unsur yang tetap dan unsur yang dapat berubah sesuai dengan kondisi dan sutuasi. Kekurangan itu bukan terdapat pada agama Islamnya, tetapi pada kaum musliminnya, karena Islam sejak dulu membuka pintu ijtihad dan pintu ijma’ agar dapat bersikap luwes. Akan tetapi pada masa-masa berikutnya kaum muslimin sendirilah yang menutup pintu ijtihad bahkan mengharamkannya.

Islam yang dulunya toleran dan longgar, kemudian diterapkan oleh pemeluknya secara berlebih-lebihan dan kaku. Hal ini disebabkan oleh adanya pengaruh filsafat Yunani di kalangan muslumin, mereka mengarang berbagai macam kitab megnenai kilah hukum syar’iyyah yang akhirnya pemikiran filsafat itu menjadi salah satu sebab yang menimbulkan perpecahan antar kaum muslimin dan menjadikan berbagai macam golongan.

Adapun soal perbaikan kaum muslimin ini dapat ditempuh dengan dua jalan. Pertama, memisahkan ilmu penetahuan dari agama serta memperluas ilmu pengetahuan semaksimal mungkin, karena ilmu pengetahuan bukan milik suatu madzhab dan Islam bukan agama yang bertentangan dengan ilmu pengetahuan. Kedua adalah ijtihad, kaum muslimin menderita kemunduran akibat sikapnya yang meremehkan atas kesanggupannya, dan akibat sikapnya itu mereka menutup pintu ijtihad yang beranggapan bahwa dikalangan kaum muslimin tidak ada lagi orang yang memenuhi syarat untuk menjadi mujtahid.

Ijtihad dalan zaman kita dewasa ini sebenarnya lebih mudah dari pada ijtihad pada zaman dulu, di mana sekarang berpuluh-puluh Tafsia Al-qur’an sudah tercetak dan disebarluaskan, orang dapat menelaah sebuah kitab tanpa harus bepergian jauh ke berbagai negri. Dunia Islam dalam kurun waktu 20 tahunbelakangan ini mencapai tingkat yang tidak dapat dicapai dalam kurun waktu 200 tahun yang lalu. Masalah-masalah seperti ini menunjukan banyaknya problem yang menuntut perhatian para ulama di setiap negri untuk menetapkan mana yang dihalalkan oleh agama dan mana yang diharamkan.

 

BAB VII

ISLAM DAN PERADABAN BARAT

Selain lemahnya dalam hal ijtihad, Islam juga lemah dalam membangun kehidupan berdasarkan ilmu pengetahuan. Upaya penyesuaian antara Islam dan peradaban modern hingga saat ini mengalami kegagalan, tapi kegagalan itu bukan disebabkan oleh ajaran-ajaran Islam, melainkan disebabkan karena peradaban modern memperkenalkan dirinya pada kaum muslimin melalui pedang dan senapan, bukan melalui jalan meyakinkan atau member pengertian akan menfaatnya, peradaban modern datang kepada kaum muslimin melalui tangan kaum Nasrani yang fanatic, dan karena kaum muslimin kejangkitan penyakit yang dalam ilmu di kenal dengan kerendahan hati.

Kalau kekurangan dunia Islam terletak di bidang ijtuhad dan ilmu pengetahuan, maka kekurangan Dunia Barat adalah terletak di bidang kerohanian. Didalam peradaban modern tidak terdapat keseimbangan antara kekuatan ilmu pengetahuan dengan moral. Moral sangat jauh ketinggalan di banding dengan ilmu pengetahuan, sejak jaman renaissance ilmu pengetahuan selalu meningkat terus, sedang moral terus merosot hingga jarak yang memisahkan keduanya bertambah jauh.

Orang-orang Barat yang telah kehilangan hati nurani dan perasaan merasa benci dan mutlak melihat peradabannya sendiri karena semua seginya selalu menimbulkan kedengkian manusia. Tiap dahan yang mereka potong ternyata mempersubur tumbuhnya banyak dahan baru yang berduri. Baik paradaban Islam maupum peradaban Eropa, kedua-duanya tidak mendatangkan kebahagiaan bagi dunia. Dunia dapat di anggap dewasa jika masing-masing bangsa telah jauh membuang cacad kekurangannya masing-masing, sehingga orang Batar hidup dengan hati dan perasaan orang Timur. Dan orang Timur meminjam ilmu pengetahuan dari Barat. Dengan demikian akan terwujud keseimbangan antara akal, pikiran dan perasaan.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Amin, Ahamd. 1987. “ Islam dari Masa ke Masa” , Bandung : PT Remaja Rosdakarya

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s