imperialisme klasik


BAB I

PENDAHULUAN

 

1.1  Latar Belakang

Imperialisme berasal dari kata imperare artinya memerintah/menguasai. Daerah kekuasan disebut imperium. Imperialisme adalah paham yang bertujuan menguasai daerah lain untuk dijadikan wilayah kekuasaannya. Semakin luas daerah yang dikuasai semakin kuat dan masyurlah negara dan rajanya. Imperialisme dibedakan menjadi imperialisme kuno dan modern. Imperialisme kuno berlangsung sejak penjelajahan samudra oleh Spanyol dan Purtugis akhir abad15 dan 16 semboyan imperialisme kuno adalah “3G” gold (mencari kekayaan yang berupa emas), gospel (menyebarkan agama Nasrani), glory (kejayaan negara dan raja)

Kata  Imperialisme muncul pertama kali Inggris pada akhir abad XIX. Disraeli, perdana menteri Inggris, ketika itu menjelmakan politik yang ditujukan pada perluasan kerajaan Inggris hingga suatu “impire” yang meliputi seluruh dunia. Politik Disraeli ini mendapat opisisi yang kuat. Golongan oposisi takut kalau-kalau politik Disraeli itu akan menimbulkan krisis-krisis internasional.

Karena itu mereka menghendaki pemusatan perhatian pemerintah pada pembangunan dalam negeri dari pada berkecipuhan dalam sola-soal luar negeri. Golongan oposisi ini disebut golongan ” !” dan golongan Disraeli (Joseph Chamberlain, Cecil Rhodes) disebut golongan “Empire” atau golongan “Imperialisme”. Timbulnya perkataan imperialis atau imperialisme, mula-mula hanya untuk membeda-bedakan golangan Disraeli dari golongan oposisinya, kemudian mendapat isi lain hingga mengandung arti seperti yang kita kenal sekarang.

Imperialisme Kuno (Ancient Imperialism). Inti dari imperialisme kuno adalah semboyan gold, gospel, and glory (kekayaan, penyebaran agama dan kejayaan). Suatu negara merebut negara lain untuk menyebarkan agama, mendapatkan kekayaan dan menambah kejayaannya. Imperialisme ini berlangsung sebelum revolusi industri dan dipelopori oleh Spanyol dan Portugal.

Imperialisme kuno adalah negara-negara yangberhasil menaklukan atau menguasai negara-negara lain, atau yang mempunyai suatuimperium seperti imperium Romawi, Turki Usmani, dan China, termasuk spanyol,Portugis, Belanda, Inggris dan Perancis yang memperoleh jajahan di Asia, Amerikadan Afrika sebelum 1870, tujuan imperialisme kuno adalah selain faktor ekonomi(menguasai daerah yang kaya dengan sumber daya alam) juga termasuk didalamnya tercakup faktor agama dan kajayaan.

 

1.2 . Rumusan Masalah:

1. Apa pengertian Imperialisme ?

2. Bagaimana sejarah Imperialisme Klasik ?

3. Apa sebab-sebab Imperialisme  ?

4. Bagaimana perkembangan Imperialisme Klasik?

5. Apa dampak Imperialisme ?

1.3 . Tujuan

1. Mengetahui apa yang dimaksud Imperialisme

2. Mengetahui perkembangan Imperialisme klasik

3. Mengetahui sebab-sebab Imperialisme klasik

4. Mengetahui dampak Imperialisme

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. A.   Sejarah Imperialisme Klasik

Kata  Imperialisme muncul pertama kali Inggris pada akhir abad XIX. Disraeli, perdana menteri Inggris, ketika itu menjelmakan politik yang ditujukan pada perluasan kerajaan Inggris hingga suatu “impire” yang meliputi seluruh dunia. Politik Disraeli ini mendapat opisisi yang kuat. Golongan oposisi takut kalau-kalau politik Disraeli itu akan menimbulkan krisis-krisis internasional. Karena itu mereka menghendaki pemusatan perhatian pemerintah pada pembangunan dalam negeri dari pada berkecipuhan dalam sola-soal luar negeri. Golongan oposisi ini disebut golongan ” !” dan golongan Disraeli (Joseph Chamberlain, Cecil Rhodes) disebut golongan “Empire” atau golongan “Imperialisme”. Timbulnya perkataan imperialis atau imperialisme, mula-mula hanya untuk membeda-bedakan golangan Disraeli dari golongan oposisinya, kemudian mendapat isi lain hingga mengandung arti seperti yang kita kenal sekarang.

Imperialisme barat terlahir dari perjanjian Tordesilas spanyol, 7 Juni 1494 M. suatu perjanjian yang di buat oleh kerajaan katolik portugis dan kerajaan katolik spanyol. Di pimpimpin oleh Paus Alexander IV, 1492-1503 M. Dalam perjanjian ini, paus Alexander memberikan kewenangan kepada kerajaan katolik poertugis untuk menguasai dunia belahan timur. Sebaliknya, kepada kerajaan katolik spanyol di berikan kewenangan untuk menguasai dunia belahan barat.

Perkataan imperialisme berasal dari kata Latin “imperare” yang artinya “memerintah”. Hak untuk memerintah (imperare) disebut “imperium”. Orang yang diberi hak itu (diberi imperium) disebut “imperator”. Yang lazimnya diberi imperium itu ialah raja, dan karena itu lambat-laun raja disebut imperator dan kerajaannya (ialah daerah dimana imperiumnya berlaku) disebut imperium. Pada zaman dahulu kebesaran seorang raja diukur menurut luas daerahnya, maka raja suatu negara ingin selalu memperluas kerajaannya dengan merebut negara-negara lain. Tindakan raja inilah yang disebut imperialisme oleh orang-orang sekarang, dan kemudian ditambah dengan pengertian-pengertian lain hingga perkataan imperialisme mendapat arti-kata yang kita kenal sekarang ini.

Imperialisme berasal dari kata imperare artinya memerintah/menguasai. Daerah kekuasan disebut imperium. Imperialisme adalah paham yang bertujuan menguasai daerah lain untuk dijadikan wilayah kekuasaannya. Semakin luas daerah yang dikuasai semakin kuat dan masyurlah negara dan rajanya.

Imperialisme dibedakan menjadi imperialisme kuno dan modern. Imperialisme kuno berlangsung sejak penjelajahan samudra oleh Spanyol dan Purtugis akhir abad15 dan 16 semboyan imperialisme kuno adalah “3G” gold (mencari kekayaan yang berupa emas), gospel (menyebarkan agama Nasrani), glory (kejayaan negara dan raja)
Imperialisme modern berkembang sejak revolusi industri abad 18. Motivasi imperialisme modern bertumpu pada industrialisasi.

Imperialisme berasal dari bahasa latin yaitu “imperare” (memerintah), berarti politik mengejar kekuasaan dan perluasan daerah, menuju penguasaan dunia seluruhnya. Nafsu untuk menakhlukan dunia itu dibangkitkan oleh faham kemodalan, yakni fikiran yang selalu menjadikan modal paling besar pengaruhnya untuk mengejar ketinggian dan kekuasaan dengan tidak mengindahkan hukum keadilan.

Kemodalan senantiasa mencari jalan untuk pertambahan dan kebesarannya dengan tidak mengenal batas. Dengan kemodalan itu maka dibangunlah berbagai perusahaan dan kerajaan. Barang yang dihasilkannya selalu bertambah banyak, sehingga sangat banyak lebihnya dari kebutuhan masyarakat dalam daerah barang itu leluasa tersiar. Memasukan barang dagangan kedaerah lain yang bukan kepunyaan pemerintahan sendiri idak dapat dilakukan dengan merdeka.[1]

Imperialisme adalah aliran angkara murka, keangkaraan atau haluan dari Negara-negara barat dizaman ke-17-20 untuk merebut jajahan di benua lain, jajahan yang berfaedah baginya sebagai pasaran, sebagai penanaman modal. Dalam pengertian ini Imperialisme adalah lanjutan dari kapitalisme. Faham lain yaitu aliran satu Negara yang menghendaki kekuasaan dunia dengan menyebarkan cita-citanya dinamakan Imperialisme.

Dasar Imperialisme adalah keinginan untuk mengadakan jajahan di benua lain  atau diluar Negara. Politik Imperialisme melenyapkan kemerdekaan bangsa lain, karena ditakhlukannya dan dipaksanya secara haluls atau kasar menurut kemauannya dan untuk kepentingannya sendiri.[2]

 

  1. B.   Perang Agama Antara Penjajah Barat

 

Pada abad ke 17 M datanglah gelombang ke 2 imperialis barat, yakni protestan Belanda dan Inggris. Pada saat itu, protestan Belanda sedang terjajah dan berupaya melepaskan diri dari pejajahan kerajaan katolik spanyol pada 1560-1648 M. perang ini di kenal dengan perang 80 tahun.

 

Perang ini terjadi karena pengaruh perbedaan ajaran katolik dan protestan. Kerajaan katpolik Spanyol berusaha keras menghapuskan segenap pengaruh ajaran protestan atau Calvinis dari wilayah Belanda. Sebaliknya, Belanda dengan keyakinan protestannya berupaya membebaskan Negara dan bangsanya dari penjajahan kerajaan katolik Spanyol.

 

Dibawah situasi persilangan perang agama katolik lawan protestan di Eropa itu, sejarah memperhatikan adanya perbedaan kepentingan politik dan ekonomi, menjadikan kesamaan agama antara katolik portugis dengan katolik Spanyol, tidak dijadikan landasan persamaan tindakannya dalam menghadapi protestan Belanda.

 

Secara sepihak kerajaan katolik portugis memberikan kesempatan protestan Belanda menjadi perantara niaga rempah-rempah yang bersal dari nusantara Indonesia, dari Lisbon Portugal untuk di pasarkan ke Eropa Utara.

 

Sebaliknya, kerajaan katolik Spanyol justru memeranginya dan mempertahankan protestan Belanda sebagai jajahannya. Wilayahnya di sebut sebagai Spanish Nederlands atau Belanda Spanyol. Sama halnya dengan Switzerland sebagai wilayah jajahan kerajaan katolik Spanyol.

 

Posisi wilayah Belanda dan swis, secara geografis jika di lihat dari Spanyol tersekat oleh Prancis. Semestinya kedua Negara itu menjadi jajahan katolik Prancis. Logika ini, ternyata tidak benar. Sekali lagi walaupun sama-sama sebagai kerajaan katolik antara Prancis, Jerman, spanyol dan Portugis, jika beda kepentingan politiknya, tidak mungkin dapat sejalan kemauan politiknya

 

Bertolak dari posisi dan kondisi itu, kerajaan katolik Prancis merasa posisi wilayahnya terjepit oleh wilayah Dinasti Habsburg. Dalam upayanya melemahkan kekuatan kerajaan katolik Spanyol, sekaligus juga kerajaan katolik Jerman, dalam perjanjian wespalia, 1648 M, kedua Negara protestan Belanda dan Switzerland di untungkan untuk menjadi Negara merdeka.  Dengan demikian, kerajaan katolik Prancis bertolak dari tinjauan poltik terlepaslah kerajaannya dari kepungan kekuasaan dinasti Habsburg.

 

 

  1. C.   Sebab-sebab Imperialisme

Mula-mula yang mempelopori adannya imperialisme adalah bangsa barat dimana pada saat itu kekuatan Eropa dipandang sebagai kekuatan yang paling kuat dan berpengaruh bagi dunia. Pendorong terjadinya kolonialisme yang khususnya diperankan oleh bangsa Eropa banyak sekali yang sebelumnya dilakukan dengan tidak sengaja, yaitu diantaranya adalah:

 

1. Desakan ekonomi dari Negara yang melakukan koloni berupa tidak dapat memenuhi kehidupannya.

2. Keinginan untuk mengetahui daerah baru.

3. Mencari daerah pasar.

4. Mencari daerah sumber daya alam diluar daerahnya. Sebenarnya tidak jauh beda dengan penyebabnya imperialisme.

 

Yang menjadi penyebab dari imperialisme adalah sebagai berikut:

  1. Keinginan menjadi jaya/menjadi paling kuasa (ambition, eerzucht): Setiap bangsa pastinya sangat menginginkan untuk menjadi bangsa yang merdeka dan dalam kehidupan kenegaraannya tidak ingin dicampuri Negara lainD. Namun, apabila Negara tersebut tidak bisa mengendalikan keinginannya tidak bisa dihindari akan muncul suatu benih-benih imperalis.
  1. Perasaan :Bangsa yang istemewa pasti mempunyai harga diri yang tebal (racial superiority), dengan harga diri yang tebal itulah timbul kecongkakan yang ujung-ujungnya ingin menguasai dan memimpin Negara-negara lain.
  1. Hasrat untuk menyebarkan idiologi: Tujuanya paling utama yaitu menyebarkan ideology dan agamanya, tetapi apabila misi itu didukung oleh pemerintah biasanya tujuan paling utamanya menyebarkan agama menjadi terlupakan, bukan tidak mungkin juga menimbulkan imperialisme.
  1. Letak yang strategis: Yaitu posisi tempat dapat mempunyai fungsi sangat penting bagi suatu Negara untuk melakukan/menjalankan politiknya.

Sebab ekonomi: Factor ekonomi inilah yang menjadi paling penting dalam imperialisme karena ingin mendapatkan kekayaan lebih dari suatu negara, ikut dalam perdagangan dunia, keinginan dalam menguasai perdagangan, dan dapat menjamin suburnya industry.

 

  1. D.   Perkembangan Imperialisme Barat

Dengan runtuhnya Granada, 1494 M dari tangan umat islam ke tangan Kristen, menurut Jane I. Smith dalam Islam and christendom,hilanglah toleransi dalam beragama dan kedamaian dalam berniaga. Timbullah penindasan diluar kemanusiaan.

Umat islam dipaksa melakukan konversi atau alih agama ke Kristen. Jika tidak mau konversi maka harus meninggalkan spanyol dan tidak diperbolehkan untuk membawa putra-putrinya. Umumnya, mereka tidak sanggup menin ggalkan putra-putrinya, dan memilih untuk masuk agama Kristen. Apanila jika mereka masih kukuh tetap tidak mau untuk melakukan konversi maka mereka di bakar hidup-hidup.[3]

Di saat dibuatnya perjanjian Tordesilas tersebut, kerajaan katolik portugis baru berlayar sampai ke Tajung pengharapan Afrika Selatan, 1488 M. Namun, belum mengetahui jalan ke india ataupun Nusantara Indonesia. Kerajaan katolik spanyol atau yang sering disebut pula sebagai Hispania, pelayarannya baru sampai ke kepulauan Karibia, 1492 M. Akibat tidak mengetahui tentang India sebenarnya maka penduduk asli kepulauan Karibia dan benua Amerika disebutnya sebagai Indian.

Paus Alexabder IV memebenarkan imperialism, dengan tujuan: Gold – Emas, dengan menjajah akan memperoleh kekayaan yang dirampas dari tanah jajahan. Gospel – pengembangan agama, di tanah jajahan akan dikembangkan agama katolik.

Glory – kejayaan, dengan memperoleh Gold – Emas. Dan Gospel – pengenbangan agama, otomatis negara penjajah akan memperoleh kejayaan. Paus juga mengajarkan bahwa bangsa-bangsa diluar negara Gereja Vatikan, yang tidak beragama katolik, dinilai sebagai bangsa biadab. Negara atau wilayahnya dinilai sebagai terra nullius (wilayah kosong tanpa pemilik).

Kerajaan katolik portugis, untuk samapai ke India, mereka diantar oleh seorang mu’alim, yaitu Ahmad bi Majid,[4]  ia sebagai seorang navigator muslim. Tentu, Ahmad bin Majid tidak memahi tujuan imperialis portugis. Pada saat itu, tidak seorangpun dari barat yang sudah pernah menyeberangi samudera Persia atau dengan nama barunya yang dikenal denganIndia yang digantikan oleh barat.

Di wilayah yang dilalui pelayaran kerajaan katolik portugis terjadi bencana kemanusiaan karena motivasi pelayarannya bukan berniaga melainkan tujuan utamanya adalah penaklukkan terhadap islam (reqoncuita).

Dari tanjung pengharapan Afrika selatan, 1488 M, semvilan tahun kemudian sampailah ke Goa India, 1497 M. sebagai pusat niaga laut oleh portugis maka runtuhlah kekuasaan politik Hindu dan Budha di India Selatan. Setelah portugis sampai di India, mereka baru menyadari bahwa sumber rempah-rempah yang di cari oleh mereka itu berada di Nusanatara Indonesia bukan di India.

 

  1. E.    Perlawanan Terhadap Imperialis Katolik Portugis

Setelah kemudian penguasaan yang di lakukan di Goa oleh imperialis barat tepatnya empat belas tahun ke belakang, 1497 M. Albuquerque berhasil merebut Malaka, 1511 M. Sebagai pusat niaga islam dari tangan kekuasaan Soeltan Mahmoed. Pada awalnya, Malaka dibangun oleh Parameswara. Seltelah memeluk islam, namanya menjadi soeltan Megat Iskandar Sjah.

Imperialis katolik portugis dengan keberhasilannya menguasai Malaka, mengharapkan hubungan niaga rempah-rempah antara Nusantara dengan kesultanan Turki terputus. Dampaknya diharapkan keruntuhan Turki.

Di bawah kondisi inilah, Kesoeltanan Demak meluncurkan perlawanan bersenjata demi merebut kembali Malaka, 1512 M. Demikian pula kesoeltanan Acjeh. Namun, upaya membebaska kembali Malaka ini tida berhasil.

Ketika umat islam belum berhasil melawan imperialis portugis, datinglah imperialis katolik spanyol dibawah pimpinan Magelhaens pelayarannya sampai di Fhilipina selatan atau kesoeltanan soeloe, 1521 M> Mereka saling bersaing dan melakukan pendekatanterhadap kesoeltanan Tidore dan Ternate yang berada di belahan wilayah utara Indonesia.

Disamping itu, kerajaan katolik portugis juga hendak mengimbangi dengan mendirikan bentengnya di Soenda Kelapa, 1522 M. DI sisni, portugis tidak dapat bertahan dengan lama yaitu hanya samapai dengan tahun 1527 M. Kemudian pada 22 Juni 1527 atau 22 Ramadhan 933 H, Kelapa berhasil direbut kembali oleh Syarif Hidayatullah atau sunan gunung djati bersama menantunya, Fatahillah atau Faletehan.

Kembali ke permasalahan imperialis katolik portugis,. Selain mendirikan benteng pertahanan di Sunda kalapa, Portugis juga mencoba menjalin hubungan Diplomatik dengan kesultanan ternate dan tidore.  Sekitar lima puluh tahun kemudian, dibawAah sultan Baad Oellah ( 1570-1583 M), portugis diusir dari kesultanan ternate, 1575 M. Hal ini di karenakan sebagai akibat dari tinglah laku imperialis yang di lakukan oleh katolik portugis, yang dirasa semakin menindas.

Sebagai imperialis mereka tidak mampu bekerjadama dengan islam. Terutama praktik kristenisasi yang mengundang kemarahan masyarakat Ternate. Akibatnya, pecahlah gerakan perlawanan bersenjata terhadap imperialisme barat. Dalam penulisan sejarah disebutnya sebagai gerakan Nasionalisme.

Apakah dengan terusirnya imperialis kerajaan katolik portugis dari kalapadan kesultanan ternate berarti berakhir pula perlawanan bersenjata yang dilakukan oleh umat islam terhadap imperialis barat. Ternyata tidak, gelombang baru imperialis barat protestan dating. Memasuki abab ke-17 M umat islam Indonesia menghadapi dobel tantangan berat dari imperialis katolik yang diprakarsai oleh portugis dan spanyol. Kemudian dilanjutka menghadapi tantangan imperialis protestan belanda dan inggris.

 

  1. F.    Ordonasi Agama 1651

Kedatangan imperialis katolik portugis merupakan dampak awal dirusakkannya system perekonomian umat islam Indonesia. Dengan cara menduduki pusat niaga atau pasar Malaka dan jalan laut niaga umat islam oleh penjajah katolik inggris, 1511 M. Motivasi yang sama dikuasainya pasar atau pusat niaga, yani Jayakarta dan jalan laut niaga oleh penjajah protestan belanda, 1691 M.

Dengan adanya tantangan penjajah ini, Umat islam Indonesia bersama penga nut hindu dan budha serta kong fu tsu dihadapkan pda system pengembangan agama protestan dari kerajaan protestan belanda yang tidak lagi mengengal toleransi.

Gubernur jenderal Reyniers mengeluarkan ordonasi 7 Maret dan 28 November 1651 M. Melarang aktivis ajaran agama dari pribmi islam dan china engan kong fu tsu atau lao tse di Nusantara Indonesia. OLeh karena itu jenderal Reyniers mencoba melakukan system kehidupan agama dan politk di eropa bahwa dalam satu negara hanya ada satu agama, dengan ara mengeluarkan ordonasi agama 1651 yang isinya melarang aktivitas seluruh agama non protestan.[5]

Tantangan imperialis protestan belanda atau VOC ini menjadikan paa sultan tidak dapat melepaskan hubungannya dalam perjuangan perlawanan terhadap penjajah barat yang selalu bersama dengan ulamda santri. Demiian pula kalangan cina dapat bersatu dengan pribumi islam karena memiliki kesamaan sejarah dan kesamaan musuh, yakni imperialis protestan belanda.

 

  1. G.   Jawaban Islam Terhadap Imperialisme Barat

sebagai kancah penjenah calon pemimpin yang berkemampuan sebagai pembangkit kesadaran cinta pada tanah air, bangsa, dan agama serta kemerdekaan. Kesadaran ini dalam sejarah Indonesia disebut dengan kesadaran nasional.

Oleh karena itu, tidak heran jika kehadiran pesantren berfungsi sebagai tempat pengkaderan pemimpin bangsa. Sejarah menuliskan setiap gerakan perlawanan terhadap imperialisme dituliskan sebagai gerakan nasionalisme. Penamaan nasionalisme itu di deskripsikan sebagai jawaban bangsa yang terjajah terhadap penjajah barat yang berupaya menguasai tanah air, menindas dan merendahkan martabat bangsa yang terjajah serta melaksanakan agamanya agar bangsa yang terjajah melakukan konversi agama secara paksa.

Maka demi untuk kepentingan ini, penjajah kerajaan protestan belanda dan pemerintah colonial belanda melakukan upaya nista, yakni mematahkan gerakan pendidikan yang sedang berupaya mencerdaskan anak bangsa atau umat islam yang diusahakan oleh ulama. Dari berbagai kebijakan politik penjajah, dapat dibaca melallui upaya mengkondisikan pribumi sebagai bangsa terjajah tetap bodoh.

Dengan target hilangnya kesadaran sebagai bangsa yang miskin dan bodoh serta terjajah menjadi merasa tidak perlu untuk melakukan perlawanan terhadap penajajah dikarenakan kebodohannya dijadikan sebagai penderitaannya, dan mereka juga tidak menyadari bahwa kemiskinan dan kebodaohannya sebagai produk strategi penjajah.

Pemerintah belanda pada saat itu hanya memberikan fasilitas pendidikan untuk kalangan bangsawan dan anak raja serta anak eropa. Pesantren dijadikan target serangannya, dengan operasinya yang tidak kenal dengan nama belas kasihan. Kiai serta ulamanya pada saat itu digantung. Bangunan dan sarana pendidikan lainnya di bakar dan dirusakkan. Santri-santrinya di tangkap dan di buang jauh dari wilayah asalnya.

Maka dalam sejarah ini latar belakang pesantrenpun berfungsi sebagai pusat pembelajaran islam. Menjadi sentra pembangkit kesadaran nasional dan ulam sebagai pemimpinnya, mengajarkan kepada santri dan masyarakat pendukungnya tenyang bagaimana pentingnya mempertahankan tanah air, menyelamatkan bangsa dan merebut kembali kemerdekaan. Terutama berjuang di dalam memperjuangkan agam dan hokum islam diseluruh usantara Indonesia agar terbebas dari penindasan kristenisasi dari imperialism katolik atau imperialism prostetan yang akan menggantikan hokum islam dengan hukum barat.

Tantangan penjajahan barat diatas, yakni imperialis kerajaan katolik portugis dan spanyol pada abad ke-16 M, dijawab oleh ulama dan santri dengan masyarakat pesantrennya, bersama para sultan dengan kekuasaan politik islam. Kerjasama melakukan perlawanan bersenjata di darat dan di laut. Kedatangan penjajah barat, baik dari kerajaan katolik portugis dan spanyol ataupun kerajaan protestan belanda dan inggris, menumbuhkan iklim kehidupan beragana berubah menjadi tidak dapat toleransi dalam menghadapi ketidaksamaan keyakinan atau agama dan bersifat anti asing.[6]

 

  1. H.   Macam-macam Imprelialisme

 

  1. Imperialisme dibagi menjadi dua:
  1. Imperialisme Kuno (Ancient Imperialism). Inti dari imperialisme kuno adalah semboyan gold, gospel, and glory (kekayaan, penyebaran agama dan kejayaan). Suatu negara merebut negara lain untuk menyebarkan agama, mendapatkan kekayaan dan menambah kejayaannya. Imperialisme ini berlangsung sebelum revolusi industri dan dipelopori oleh Spanyol dan Portugal.

Imperialisme kuno adalah negara-negara yangberhasil menaklukan atau menguasai negara-negara lain, atau yang mempunyai suatuimperium seperti imperium Romawi, Turki Usmani, dan China, termasuk spanyol,Portugis, Belanda, Inggris dan Perancis yang memperoleh jajahan di Asia, Amerikadan Afrika sebelum 1870, tujuan imperialisme kuno adalah selain faktor ekonomi(menguasai daerah yang kaya dengan sumber daya alam) juga termasuk didalamnya tercakup faktor agama dan kajayaan.

  1. Imperialisme Modern (Modern Imperialism). Inti dari imperialisme modern ialah kemajuan ekonomi. Imperialisme modern timbul sesudah revolusi industri. Industri besar-besaran (akibat revolusi industri) membutuhkan bahan mentah yang banyak dan pasar yang luas. Mereka mencari jajahan untuk dijadikan sumber bahan mentah dan pasar bagi hasil-hasil industri, kemudian juga sebgai tempat penanaman modal bagi kapital surplus.

Pembagian imperialisme dalam imperialisme kuno dan imperialisme modern ini didasakan pada soal untuk apa si imperialis merebut orang lain. Jika mendasarkan pendangan kita pada sektor apa yang ingin direbut si imperialis, maka kita akan mendapatkan pembagian macam imperialisme yang lain, yaitu:

  1. Imperialisme politik.

Si imperialis hendak mengusai segala-galnya dari suatu negara lain. Negara yang direbutnya itu merupakan jajahan dalam arti yang sesungguhnya. Bentuk imperialisme politik ini tidak umum ditemui di zaman modern karena pada zaman modern paham nasionalisme sudah berkembang. Imperialisme politik ini biasanya bersembunyi dalam bentuk protectorate dan mandate.

  1. Imperialisme Ekonomi.

Si imperialis hendak menguasai hanya ekonominya saja dari suatu negara lain. Jika sesuatu negara tidak mungkin dapat dikuasai dengan jalan imperialisme politik, maka negara itu masih dapat dikuasai juga jika ekonomi negara itu dapat dikuasai si imperialis. Imperialisme ekonomi inilah yang sekarang sangat disukai oleh negara-negara imperialis untuk menggantikan imperialisme politik.

  1. Imperialisme Kebudayaan.

Si imperialis hendak menguasai jiwa (de geest, the mind) dari suatu negara lain. Dalam kebudayaan terletak jiwa dari suatu bangsa. Jika kebudayaannya dapat diubah, berubahlah jiwa dari bangsa itu. Si imperialis hendak melenyapkan kebudayaan dari suatu bangsa dan menggantikannya dengan kebudayaan si imperialis, hingga jiwa bangsa jajahan itu menjadi sama atau menjadi satu dengan jiwa si penjajah. Menguasai jiwa suatu bangsa berarti mengusai segala-galnya dari bangsa itu. Imperialisme kebudayaan ini adalah imperialisme yang sangat berbahaya, karena masuknya gampang, tidak terasa oleh yang akan dijajah dan jika berhasil sukar sekali bangsa yang dijajah dapat membebaskan diri kembali, bahkan mungkin tidak sanggup lagi membebaskan diri.

  1. Imperialisme Militer (Military Imperialism).

Si imperialis hendak menguasai kedudukan militer dari suatu negara. Ini dijalankan untuk menjamin keselamatan si imperialis untuk kepentingan agresif atau ekonomi. Tidak perlu seluruh negara diduduki sebagai jajahan, cukup jika tempat-tempat yang strategis dari suatu negara berarti menguasai pula seluruh negara dengan ancaman militer.

 

  1. I.      Negara-negara dan Tokoh-tokoh  yang berkaitan dengan Imperialisme

Pada dasarnya Imperialisme kalsik terjadi dar tahun 1494-1890, dimana  negar-negara mengalami sebuah Imperialisme,yaitu seperti:

 

  1. Negara Algeria

Pada tahun 1830 tentara Perancis menyerbu Algeria sebagai sebab kerena pada waktu itu konsul Portugis di pokul oleh Dey, Sultan argentina yang menduduki Algeria. Dey dari Mascatra yang berada di Derah Algeria menghatam portugis pada tahun 1830, dan pada tahun 187 Abd elKalder dan Marokkok yang berhasil mengalahkan tentara Gabungan dalam petempuran Di Isliy, kemudian Sulatan Marokkok berdamaian dengan Perancis  dalam perjan Tager pada tahun 1844.

Perancis meninggalkan Daerah Marokkok akan tetapi ada seorang tokoh yaitu Abbd Al-kader dia tidak mau menyerah begitu saja, kemudian dia meneruskan bemberontakanya pada tahun 1849 yang kemudian berhasil akhirnya berhasil dan daerah Argelria pun jatuh dalam kalangan Tangan Perancis, akan tetapi Nasionalismenya Argelria tidak dapat di padamkan. Dan pemberontakanpun tersus terjad.

  1. Negara senegambia

Pada  waktu Nepolleon III pada tahun 1860 mendapatkan Senegabia dimuara sungai Senagel di Afrika- Barat dan daerah maura sungai Kongo di Afrika selatan kedua-duanya merupakan suatu lonjatan Kolonialisme.

  1. Indo-Cina

Pada tahun 1858 Perancis menyerbu di Indo-Cina pada tahun 1893 dan berhasil memnduduki seluruh Indo- Cina. Di dalam masa pemerintahanya Republik Preancis III ini merupakan politik kolonial Prancis berkembang, dimana Pendekar imperialisme klasik berubah menjadi imperialisme moderen pada tahun 1880-1885 yaitu didirikan oleh Gallieni pada tahun 1890: Madagasca dan Maarschalk Lyautey 1911 Markkok .

 

 

  1. Sahara dan Kongo

Dari ketiga pengakalan pertama Algeiers, Senegabia dan muara Kongo, maka Sahara dan seluruh Afrika-Barat dapa diduduki Prancis. Pada tahun 1871 Henry Stanley salah Satu orang darai Amerika, masuk Kanggo untuk mencari David Livigtone, yaitu seorang penyebar Agama yag telah lama di tahun 1849-1871 yang menjelajah Afrika. Prancis ingin menduduki Kanggo seluruhnya, akan tetapi Balgialah yang mendahului kependudukan itu.

  1. Tunisia

Tunisia merupakan negara daerah Turki, Tunusia pada tahun 1869 mempunyai banyak pinjaman di eropa yang tidak dapat dibayar. Keadaan keuangan kerena itu Inggris, Prancis, Italia memengang ke uangan Tunisia sehinnga Tunusia pada hakikatnya mulai kehilangan kemerdekaan, dan pada tahun 1881Tunusia selalu menyerbuArgentina yaitu negara Jajahan Prancis penyebanya yaitu:

  1. Perancis telah lama ingin menguasao Tunusia
  2. Parancis berani, kerena dalam perang Rusia –Turki 1877-1878 turki lemah
  3. Sebagai ciri dari Cyprus yang menduduki Inggris di tahun 1878

 

Maka akan menghasilkan suatu akibata  pertama penjajahan antara Pancis dan Italai yang sudah lama ingin menduduki Tunusia  pada tahun 1882 Italia bergabung pada negara Australia dan Jerman dalam pelaksanaan Tripe Alliantie.

 

  1. Marokko

Marokko merupakan daerah terpenting bagi siasat kerena letaknya di tepi Selat Giblaliter. Negri-negri besar yaitu Prancis, Inggris, jerman, Italia, Spanyol dan bagi Spanyol sangat lah penting kerena marokkok merupakan jalan lintas orang Sepanyol yang kemudia Marokkok di kuasai oleh negara Spanyol.

 

Setelah terjadi koncatan di berbagai negara akibat Imperialisme itu maka terjadi suatu perkembangan politik dimana setelah terjadinya perang Jerman –Prancis di tahun 1870-1871 yaitu Prancis diliputi revance- idee  rasa pembalasan dendam, tentang hal ini Jerman mencoba mengisori peracis akan tetapi sebabnya tak kunjung menagan dalam arti gagal.

 

Prancis medekati Rusia dan berhasil mumbentuk suatu Persekutuan dengan Rusia pada tahun 1892 ini merupakan peralihan dari Imperialisme klasik kepada modern.

 

Pada tahun 1904 Prancis mengadakan Etente cordialeyaitu persahbatan  dengan Inggris, dan di tahun 1907 maka terbentuklah Prancis, Inggris, Rusia ialah Triple Etente yang mengimbangi Triple Allianti tahun 1882 antara Jerman, Ausntralia dan Italia. Dengan perjajnjian-perjanjian ini Portugis msuk dalam Perang Dunia I 1914-1918.

 

 

  1. J.    Akibat Imperialisme
  1. Akibat politik
    1. Terciptanya tanah-tanah jajahan
    2. Politik pemerasan
    3. Berkorbarnya perang kolonial
    4. Timbulnya politik dunia (wereldpolitiek)
    5. Timbulnya nasionalisme

 

  1. Akibat Ekonomis
    1. Negara imperislis merupakan pusat kekayaan, negara jajahan lembah kemiskinan
    2. Industri si imperialis menjadi besar, perniagaan bangsa jajahan lenyap
    3. Perdagangan dunia meluas
    4. Adanya lalu-lintas dunia (wereldverkeer)
    5. Kapital surplus dan penanamna modal di tanah jajahan
    6. Kekuatan ekonomi penduduk asli tanah jajahan lenyap

 

  1. Akibat sosial
    1. Si imperialis hidup mewah sementara yang dijajah serba kekurangan
    2. Si imperialis maju, yang dijajah mundur
    3. Rasa harga diri lebih pada bangsa penjajah, rasa harga diri kurang pada bangsa yang dijajah
    4. Segala hak ada pada si imperialis, orang yang dijajah tidak memiliki hak apa-apa
    5. Munculnya gerakan Eropa-isasi.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

PENUTUP

 

Kesimpulan

Perkataan imperialisme berasal dari kata Latin “imperare” yang artinya “memerintah”. Hak untuk memerintah (imperare) disebut “imperium”. Orang yang diberi hak itu (diberi imperium) disebut “imperator”. Yang lazimnya diberi imperium itu ialah raja, dan karena itu lambat-laun raja disebut imperator dan kerajaannya (ialah daerah dimana imperiumnya berlaku) disebut imperium. Pada zaman dahulu kebesaran seorang raja diukur menurut luas daerahnya, maka raja suatu negara ingin selalu memperluas kerajaannya dengan merebut negara-negara lain. Tindakan raja inilah yang disebut imperialisme oleh orang-orang sekarang, dan kemudian ditambah dengan pengertian-pengertian lain hingga perkataan imperialisme mendapat arti-kata yang kita kenal sekarang ini.

Imperialisme Kuno (Ancient Imperialism). Inti dari imperialisme kuno adalah semboyan gold, gospel, and glory (kekayaan, penyebaran agama dan kejayaan). Suatu negara merebut negara lain untuk menyebarkan agama, mendapatkan kekayaan dan menambah kejayaannya. Imperialisme ini berlangsung sebelum revolusi industri dan dipelopori oleh Spanyol dan Portugal.

Imperialisme kuno adalah negara-negara yangberhasil menaklukan atau menguasai negara-negara lain, atau yang mempunyai suatuimperium seperti imperium Romawi, Turki Usmani, dan China, termasuk spanyol,Portugis, Belanda, Inggris dan Perancis yang memperoleh jajahan di Asia, Amerikadan Afrika sebelum 1870, tujuan imperialisme kuno adalah selain faktor ekonomi(menguasai daerah yang kaya dengan sumber daya alam) juga termasuk didalamnya tercakup faktor agama dan kajayaan.

Mula-mula yang mempelopori adannya imperialisme adalah bangsa barat dimana pada saat itu kekuatan Eropa dipandang sebagai kekuatan yang paling kuat dan berpengaruh bagi dunia. Pendorong terjadinya kolonialisme yang khususnya diperankan oleh bangsa Eropa banyak sekali yang sebelumnya dilakukan dengan tidak sengaja, yaitu diantaranya adalah:

1. Desakan ekonomi dari Negara yang melakukan koloni berupa tidak dapat memenuhi kehidupannya.

2. Keinginan untuk mengetahui daerah baru.

3. Mencari daerah pasar .

4. Mencari daerah sumber daya alam diluar daerahnya. Sebenarnya tidak jauh beda dengan penyebabnya imperialisme.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

 

Suryanegara, . Mansur API SEJARAH  Mahakarya Perujangan Ulama dan Santri dalam Menegakkan Negara Kesatuan Republik Indinesia. 2009 Hlm, 138

 

Munaf, Husain. EnsiklopediIndonesia. Hlm.120

 

Negoro, Adi. Ensiklopedi Umum dalam Bahasa Indonesia. Djakarta: C.V. Bulan-Bintang. 1954.

Ranuwiharjjo, Dahlan. Revolusi, anti Imprealisme dan Pancasiala ,Institute for Transformation. Jakarta 2001

A.N. Wilson. The Rise and Fall Of The British Empire. Abacus. 1994

Victor Purcell, 1952. The Chinese In Southeast Asia. Oxford University Press. London, hlm. 459.

Jane I. Smith, “Islam and Christendom. Historycal, cultural, and Religious Interaction from the Seventh to the Fifteenth Centuries”, dalam John L. Esposito (Ed). 1999. The Oxford History of Islam. Oxford University Press. New York, hlm. 344.

 

Sir Thomas Arnold (Ed), 1965. Tehe Legacy of Islam. Oxford University Press. London hlm. 96Ahmad

 

Hurgronje, Snouck. 1989. Islam di Hindia Belanda. Jakarta: Bhatara

 

 


[1] Munaf, Husain. EnsiklopediIndonesia. Hlm.120

[2] Negoro, Adi. Ensiklopedi Umum dalam Bahasa Indonesia. Djakarta: C.V. Bulan-Bintang. 1954. Hlm.171-172

[3] Jane I. Smith, “Islam and Christendom. Historycal, cultural, and Religious Interaction from the Seventh to the Fifteenth Centuries”, dalam John L. Esposito (Ed). 1999. The Oxford History of Islam. Oxford University Press. New York, hlm. 344.

[4] Sir Thomas Arnold (Ed), 1965. Tehe Legacy of Islam. Oxford University Press. London hlm. 96

[5] Victor Purcell, 1952. The Chinese In Southeast Asia. Oxford University Press. London, hlm. 459.

[6] Ahmad Mansur Suryanegara, 2009. API SEJARAH Mahakarya Perujangan Ulama dan Santri dalam Menegakkan Negara Kesatuan Republik Indinesia. Hlm, 138

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s