teori-teori kebenaran


Bab II

PEMBAHASAN

  1. Definisi Kebenaran

Secara bahasa kata kebenaran itu bisa dikategorikan sebagai suatu kata benda yang konkret maupun abstrak (abbas hamami, 1983). Secara bahasa arti dari kata kebenaran adalah proposisi yang benar . proposisi sendiri berarti makna yang dikandung dalam suatu pernyataan (statement). Apabila subjek menyatakan kebenaran bahwa proposisi yang diuji itu pasti memiliki kualitas sifat atau karakteristik hubungan dan nilai. Hal yang demikian itu karena kebenaran tidak dapat begitu saja terlepas dari kualitas, sifat, hubungan dan nila itu sendiri .

  1. Teori kebanaran

Sebelum muncul teori kebenaran yang terlembaga, para filosof sebelumnya telah mengemukakan bebrapa teori yang hakiktnya mencari sebuah kebenaran diantaranya adalah

  1. Teori idealisme Plato yang berpusat pada idealism
  2. Teori rasionalisme R.Descartes yang berpusat pada rasio dan kesadaran
  3. Teori imanuel kant yang berpusat pada akanl dan rasio murni
  4. Teori relefansi kalangan teolog yang berpusat pada tuhan
  5. Teori koheren yang menyatakan kebaran itu suatu nilai, intersubjektif, ada nilai yang disepakati bersama antara subjek dengan subjek yang dinilai
  6. Teori korespodense, kebenaran itu merupakan sesuatu yang sesuai dengan hukum alam
  7. Teori pragmatism menyatakan kebenaran adalah sesuatu yang berguna bagi manusia didunia
  8. Teori utilitiarisme, yang menyatakan bahwa kebenaran itu memberikan faedah atau keuntungan bagi manusia
  9. Teori esensialisme menyatatakan bahwa kebenaran itu adalah sesuatu yang abstrak dan yang bermakna sebagai hal yang terdalam dari fikiran manusia
  10. Teori eksistensialisme menyatakan bahwa kebenaran itu sangat konstekstual yakni yang sesuai dengan waktu
  11. Teori metafisisontology menyatakanbahwa kebenaran itu adalah sesuatu yang ontologism, diketahui atau tidak kebenaran itu ada dalam ruang yang ada
  12. Teori ilmu pengetahuan menyatakan bahwa kebenaran itu sesuatu yang sesuai dengan asas-asas yang ada dalam ilmu pengetahuan
  13. Teori petenialisme menyatakan bahwa kebenaran sesuatu yang muncul dari hati nurani manusia yang sifatnya abstrak
  14. Teori penomenologi menyatkan bahwa kebenaran itu adalah sesuatu yang tetap dan abstrak yang bernama neumenon, jauh dibalik gejala
  15. Teori kontruktivisme yang menyatakan bahwa kenbenaran adalah suatu hasil konstruksi fikiran manusia yang bebas dan selalu berubah
  16. Teori postmodernisme menyatakan bahwa kebenaran itu adalah sesuatu yang berubah dan akal manusi yang menciptakan secara bebas dan tidak pernah sama dengan yang lalu, terdapa tkecenderungan bahwa kebenaran tidak dapt diungkapkan dalma bahasa
  17. Teori progrevisisme menyatakan bahwa kebenaran itu tidak pernah static, melainkan selalu berubah kedepan sesuai perkembangan zaman
  18. Teori kritik menyatakan bahwa kebenaran itu adalha suatu hasi pemikiran manusia yang terbuka dan kritik sepanjang jaman dimana kebenaran ini lahir dari sebuah diskusi, dialog, dan diskursus yang kontinu
  19. Teori nihilism menyatakan bahwa kebenaran itu tidak ada, yang ada hanyalah kekuatan.

Sebagaimana dikekukakan seorang filosof abad XX jusfers yang dikutip oleh haneisme 1985 mengemukakan bahwa sebenarnya para pemikir sekarang ini hanya melengkapi dan menyempurkan teori sebelum-sebelumnya karena teori kebnaran itu selalu parallel dengan teori pengetahuan yang dibangun sebelum-sebelumnya. Teori kebenaran selalu pararel dengan teori pengetahuan yang dibangunnya. Berikut ini adalah teoriteori kebenaran yang telah terlembaga itu antara lain :

  1. Teori kebenaran korespondensi

Teori ini dikenal dengan teori kebenaran tradisional (white, 1978) atau teori yang paling tua yang berangkat dari pengetahuan Aristoteles yang menyatakan bahwa segala sesuatu yang kita ketahui adalah sesuatu yang dapat dikembalikan pada kenyataan yang dikenal oleh sabjek (Ackerman, 1965). Dengan kata lain teori ini adalah suatu pengetahuan mempunyai nilai benar apabila pengetahuan itu mempunyai saling kesesuain dengan kenyataan yang diketahuinya atau sebagaimana dikemukakan oleh Randal dan Buchler dalam bukunya philosophy an Introdaction yang menyatakan bahwa “ A belief is called “true” if it “agrees” with a fact”.[1]

Menurut persepsi lain, teori korespondensi dapat diartikan sebagi sebuah teori kebenaran yang mengatakan bahwa suatu kebenaran itu banar proporsi bersesuaian dengan realitas menjadi objek pengetahuan itu. Teori ini juga mendasarkan diri kepada krireria tentang kesesuian antara mareri yang dikandung oleh suatu pernyataan dengan objek yang dikenai pernyataan tersebut. Sesuatu dianggap benar apabila apa yang diungkapkan sesuai dengan pakta yang ada dilapangan.

 

  1. Teori kebenaran Koherensi

Teori kebenaran ini sama dengan teori kebenaran korespondensi yakni dikenal sebagai teori kebenaran tradisional. Teori ini diartikan sebagai teori kebanaran saling berhubungan yaitu suatu proposisi itu atau makna pernyataan dari suatu pengetahuan bernilai benar, bila proposisi itu mempunyai hubungan dengan ide-ide dari proposisi yang terdahulu yang bernilai benar.

Koherensi juga diartikan sebagai teori kebenaran yang menjelaskan suatu proposisi akan diakui atau dianggap benar apabila memiliki hubungan dari gagasan-gagasan dengan proporsi sebelumnya yang juga benar dan dapat dibuktikan secara logis sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan logika. Teori ini menjelaskan bahwa semakin konsisten ide-ide yang ditangkap beberapa sabjek tentang suatu objek yang sama, maka makin semakin benar ide-ide tersebut.[2]

 

  1. Teori Pragmatisme

Teori ini juga tergolong sebagai teori kebanaran tradisional, sebab teori ini bersumber pada paham pragmatic yang merupakan pandangan filsafat kontemporer karena paham ini baru berkembang pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Tokoh-tokohnya yaitu C.S. Pierce, William James, dan Jaohn Dewey. Menurut Kattsoff 1986 menguraikan bahwa penganut pragmatism meletakan ukuran kebenaran dalan salah satu macan konsekuensi. Jadi menurut teori ini suatu proposisi berniali benar bila proposisi itu mempunyai konsekuensi-konsekuensi praktis. Karena setiap pernyataan selalu terikat pada hal-hal yang bersipat praktis, maka tiada kebenaran yang bersifat mutlak, berlaku umum, tetap, berdiri sendiri, sebab pengalaman itu berjalan terus dan segala yang dianggap benar dalam perkembangannya pengalaman itu senantiasa berubah. Dari pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa suatu pengertian itu tidak pernah benar melainkan dapat menjadi benar appabila dapat dimanfaatkan secara praktis. Menurut Muhammad Abid mendefinisikan teori ini ebagai teori kebenaran yang mendasarkan diri kepada kriteria tentang fungsi atau tidaknya suatu pernyataan dalan lingkup ruang dan waktu tertentu. Menurutnya ide-ide itu belum dikatakn benar atau salah sebelum diuji.

 

  1. Teori kebenaran sintaksis

Para penganut teori ini berpegang kepada gramatika yang melekat atau dipakai oleh suatu pernyataan. Dengan demikian suatu pernyataan yang memiliki nilai benar bila pernyataan itu mengikutu sintaksis yang baku dengan kata lain apabila proposisi tidak mengikuti syarat atau keluar dari hal yang disyaratkan maka proposisi itu tidak mempunyai arti.

 

  1. Teori kebenaran semantik

Menurut teori ini suati proposisi memiliki nilai benar ditinjau dari segi arti atau makna. Di dalam teori kebanaran semantik ada beberapa sikap yang dapat mengakibatkan pakah proposisi itu mempunyai arti osetrik, arbitrer, atau hanya mempunyai arti sejauh dihubungkan dengan niali praktis dari sunjek uang menggunakannya. Sikap-sikap yang terdapat dalan teori ini antara lain adalah pertama, siakp epistemologis skeptik, maksudnya adalah suatu sikap kebimbangan taktis atau sikap keragu-raguan untuk menghilangkan ragu-rahu dalam memperoleh pengetahuan. Kedua, sikap epistemologik yakin dan ideologik, yakni sebuh proposisi itu memiliki arti, namun artinya itu bersifat arbiter dan tidak memiliki sipat pasti. Ketiga, sikap epistemilogik pragmatik, yakni makna dari proposisi tergantung pada nilai guna dan nilai prktis dari pemakaian proposisi.

 

  1. Teori kebenaran Non-Deskripsi

Teori ini mendasarkan pada penganut filsafat pungionalisme sebab pada dasarnya suatu pernyataan dikatakan benar tergantung dari peran dan fungsi pernyataan itu. Pernyataan itu juga merupakan kesepakatan bersama untuk menggunakan secara praktis dalam kehidupan sehari-hari,

 

  1. Teori kebenaran logik yang berlebihan

Pada dasarnya menurut teori kebanaran ini adalah bahwa problema kebenaran hanya merupakan kekacauan bahasa saja, karena pada dasarnya sebuah pernyataan yang akan dibuktikan kebenaranya memiliki derajat logika yang sama yang masing-masing saling melingkupinya. Sesungguhnya hal yang demikian terjadi karena suatu pernyataan yang hendak dibuktikan nilai kebenarannya, sebenarnya telah merupakan suatu objek pengetahun itu sendiri artinya pernyataan itu telah menunjukan kejelasan dalam dirinya sendiri (Gallagher, 1984).

 

  1. Teori Esensialisme

Esensialime adalah pendidikan yang didasarkan kepada nilai-nilai kebudayaan yang ada sejak awal peradaban manusia. Esensialisme memandang bahwa pendidikan harus berpijak pada nilai-nilai yang memikili kejelasan dan tahan lama yang memberikan kesetabilan dan niali-nilai terpilih yang mempunyai tata yang jelas   

 

 

 

 


[1]). Tim dosen filsafat ilmu fakultas filsafat UGM, Filsafat Ilmu, Liberty  Yogyakarta 2007. Hal 139

[2]). Adib, Muhamad, Fisafat Ilmu, Pustaka Pelajar : Yogyakarta, 2010. Hal 121

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s