teori sosiologi


 

TEORI KONFLIK

 

Teori konflik adalah teori yang dibangun untuk menentang secara langsung teori Fungsional Struktural, karena itu tidak mengherankan apabila proposisi yang dikeluarkan oleh penganutnya bertantangan dengan proposisi yang terdapat dalam teori Fungsional Struktural. Tokoh utama Teori Konflik adalah Ralp Dehrendorf.

Bukan hanya Coser saja yang tidak puas dengan pengabaian konflik dalam pembentukan teori sosiologi.segera setelah penampilan karya Coser , seorang ahli sosiologi Jerman bernama Ralf Dahrendorf mengemukakan Teori Konflik, ke dalam bahasa inggris yang sebelumnya berbahasa Jerman agar lebih mudah difahami oleh sosiolog Amerika yang tidak faham bahasa Jerman saat kunjungan singkatnya ke Amerika Serikat (1957-1958). Dahrendorf tidak menggunakan teori

Simmel melainkan membangun teorinya dengan separuh penerimaan, separuh penolakan, serta memodifikasi teori sosiologi

Karl Marx, seperti halnya Coser, Ralf Dahrendorf mula-mula melihat teori konflik sebagai teori parsial, mengenggap teori tersebut merupakan perspektif yang dapat dipakai untuk menganalisa fenomena social.

Teori konflik yang di keluarkan oleh Ralf Dahrendorf menciptakan sebuah kontropersi dari berbagai kalangan ada yang menerima teori tersebut, ada pula yang menolak teori tersebut. Teori ini merupakan modifikasi dari Teiri Sosiologi Karl Mark.

Karl Marx berpendapat bahwa pemilikan dan Kontrol sarana-sarana berada dalam satu individu-individu yang sama. Sedangkan Dahrendorf tidak sependapat dengannya.

Bentuk penolakan tersebut ia tunjukkan dengan memaparkan perubahan yang terjadi di masyarakat industri semenjak abad kesembilan belas. Antara lain adalah sebagai berikut :

  • Dekomposisi modal

Menurut Dahrendorf timbulnya korporasi-korporasi dengan saham yang dimiliki oleh orang banyak, dimana tak seorangpun memiliki kontrol penuh merupakan contoh dari dekomposisi modal.

  • Dekomposisi Tenaga Kerja

Di abad spesialisasi sekarang ini mungkin sekali seorang atau beberapa orang mengendalikan perusahaan yang bukan miliknya, seperti halnya seseorang atau beberapa orang yang mempunyai perusahaan tapi tidak mengendalikanya. Karena zaman ini adalah zaman keahlian dan spesialisasi, manajemen perusahaan dapat menyewa pegawai-pegawai untuk

memimpin perusahaanya agar berkembang dengan baik.

  • Timbulnya kelas menengah baru

Pada akhir abad kesembilan belas, lahir kelas pekerja dengan susunan yang jelas, di mana para buruh terampil berada di jenjang atas sedang buruh biasa berada di bawah.

Penerimaan Dahrendorf pada teori konflik Karl Marx adalah ide mengenai pertentangan kelas sebagai satu bentuk konflik dan sebagai sumber perubahan sosial. Kemudian dimodifikasi oleh berdasarkan perkembangan yang terjadi akhir-akhir ini.

Dahrendorf mengatakan bahwa ada dasar baru bagi pembentukan kelas, sebagai pengganti konsepsi pemilikan sarana produksi sebagai dasar perbedaan kelas itu. Menurut Dahrendorf hubungan-hubungan kekuasaan yang menyangkut bawahan dan atasan menyediakan unsur bagi kelahiran kelas-kelas yang terjadi dalam masyarakat.

Dahrendorf, membedakan golongan yang terlibat konflik itu atas menjadi dua tife. Kelompok Semu dan kelompok kepentingan, kelompok semu merupakan kumpulan dari para pemegang kekuasaan atau jabatan dengan kepentingan yang sama yang muncul karena munculnya kelompok kepentingan. Sedangkan kelompok kepentingan terbentuk dari kelompok yang lebih luas yang memiliki Struktur, organisasi, program, tujuan serta anggota yng jelas.

Dahrendorf mengakui terdapat perbedaan di antara mereka yang memiliki sedikit dan banyak kekuasaan. Perbedaan yang mendominasi itu dapat terjadi secara drastis. Tetapi pada dasarnya tetap terdapat dua kelas sosial yaitu, mereka yang berkuasa dan yang dikuasai.

Dalam analisanya Dahrendorf menganggap bahwa secara empiris, pertentangan kelompok mungkin paling mudah di analisa bila dilihat sebagai pertentangan mengenai legitimasi hubungan-hubungan kekuasaan. Dalam setiap asosiasi, kepentingan kelompok penguasa merupakan nilai-nilai yang merupakan ideologi keabsahan kekuasannya, sementara kepentingan-kepentingan kelompok bawah melahirkan ancaman bagi ideologi ini serta hubungan-hubungan social yang terkandung di dalamnya.

 

TeoriTeori Konflik Masa Kini

Para penulis pendekatan konflik masa kini melihat perilaku kriminal sebagai suatu refleksi dari kekuasaan yang memiliki perbedaan dalam mendefinisikan kejahatan penyimpangan. Ada sebagian pemikir konflik kontemporer yang mendefinisikan kriminalitas sebagai suatu fungsi dari posisi kelas sosial. Karena kelompok elit dan kelompok yang tidak memiliki kekuasaan memiliki kepentingan yang berbeda, apapun keuntungan dari kelompok elit akan bekerja melawan kepentingan kelompok yang tidak memiliki kekuasaan. Oleh karena itu, tidak mengejutkan apabila data dan catatan resmi tentang angka kejahatan di kantor polisi secara mendasar lebih tinggi pada kelas bawah dibandingkan kelas-kelas yang memiliki hak-hak khusus.

Teoriteori konflik kontemporer sering kali juga menganggap kejahatan sebagai suatu tindak rasional. Kejahatan yang terorganisir adalah suatu cara rasional untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan ilegal dalam masyarakat kapitalis. Teoriteori konflik menganggap kejahatan sebagai suatu ciri yang tidak dapat diubah dari masyarakat kapitalis. Sebagai contohnya adalah Amerika Serikat merupakan salah satu dari masyarakat kapitalis tingkat tinggi, angka kejahatan tertinggi di dunia saat ini.

 

Proposisi dalam Teori Konflik

Untuk lebih memahami adanya konflik sosial, ada beberapa proposisi yang perlu dipahami, yaitu:

  1. Semakin tidak merata distribusi sumber-sumber di dalam suatu sistem, akan semakin besar konflik kepentingan antara segmen dominan atau lemah.
  2.  Segmen-segmen yang lebih lemah (subordinate) semakin menyadari akan kepentingan-kepentingan kolektif mereka maka akan semakin besar kemungkinannya mereka itu akan mempertanyakan keabsahan distribusi sumber-sumber yang tidak merata.
  3. Segmen-segmen yang lemah dalam suatu sistem semakin sadar akan kepentingan-kepentinagn kelompok mereka maka semakin besar kemungkinan mereka mempersalahkan keabsahan distribusi sumber-sumber dan semakin besar pula kemungkinannya mereka mengorganisir untuk memulai konflik secara terang-terangan terhadap segmen-segmen dominan suatu sistem.
  4. Apabila segmen-segmen subordinate semakin sipersatukan oleh keyakinan umum dan semakin berkembang struktur kepemimpinan politik mereka, maka segmen-segmen dominan dan segmen-segmen yang dikuasai yang lebih lemah akan terpolarisasi.

 

 

Tahapan-Tahapan Konflik

Perkembangan konflik biasanya melewati tiga tahapan, yaitu:

  • Latent Tension (unreal conflict), konflik masih dalam bentuk kesalahpahaman antara satu dengan lainnya, tetapi anatara pihak yang bertentangan belum terlibat dalam konflik.
  • Nescent Confilct, konflik mulai tampak dalam bentuk pertentangan meskipun belum menyertakan ungkapan-ungkapan ideologis dan pemetaan terhadap pihak lawan secara terorganisir.
  • Intensified Conflict, konflik berkembang dalam bentuk yang terbuka disertai dengan radikalisasi gerakan di antara pihak yang saling bertentangan dan masuknya pihak ketiga ke dalam arena konflik.

Kesimpulan yang dapat kita ambil adalah bahwa Teori Konflik ini ternyata terlalu mengabaikan keteraturan dan stabilitas yang memang ada dalam masyarakat di samping itu sendiri. Masyarakat selalu dipandang dalam kondisi Konfloik. Mengabaikan norma-norma dan nilai-nilai yang berlaku umum yang menjanin terciptanya keseimbangan dalam masyarakat. Masyarakat seperti tidak pernah aman dari pertikaian dan pertentangan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA.

 

Arifin, Syamsul. 2009. Studi Agama: Perspektif Sosiologis dan Isu-isu Kontemporer. Malang: UMM Press

Ritzer, George. 2007. Sosiologi Ilmu Pengetahuan Berparadigma Ganda. Jakarta: PT Rajagrapindo Persada.

http://scribed.com

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s