revolusi prancis


BAB 1

PENDAHULUAN

1.1      Latar Belakang

Segelintir kepastian dan catatan kegiatan revolsi perancis dan master yang satu ini yang bernama navoleon Bonaparte. Revolsi perancis bermula dari perindahan pemerintahan secara absolute, perbaikan system peodal, promosi nasionalisme dan demokrasi dan melihat peta Eropa dan memilikinya setelah berlangsungnya revolusi maka dari itu ini adalah satu-satunya peristiwa terbesar dalam sejarah[1]).

Yang mana kejadian revolusi perancis terjadi pada tahun 1789 yang merupakan babak pertama dalam revolusi itu. Pada tahun 1791 disetujuinya undang-undang dasar baru, yang didahului oleh sebuah mukaddimah yang memuat pernyataan bahwa Hak-hak Manusia dan Paura (Les Droits De I’homme et du Citoyen), yang banyak persamaannya dengan undang-undang dasar Amerika Serikat tahun 1776 dan dasar – dasar ideologi P.B.B, yang mula-mula dirumuskan dalam  “Atlantic Charter” tahun 1941. Tetapi ada pula beberapa hal yang berbeda dengan undang-undang P.B.B yaitu orang Perancis pada tahun 1791 disebut manusia dan paura pada hakekatnya sedangkan PBB dengan tegas mengemukakan persamaan bangsa-bangsa[2]).

Hingga 1791 revolusi mengikuti jalan hukum, sebab Raja Perancis menyetujui kekuasaannya dikurangi. Hal ini menyebabkan timbulnya kerajaan yang berkonstitusi. Kaum bangsawan dan kaum agama sendiri menyetujui penghapusan hak-hak istimewa golongan mereka. Tetapi tentu tidak dengan ikhlas, sebab hak-hak istimewa tidak akan dilepaskan orang dengan suka rela. Istana mengadakan infilterasi, mencari bantan didalam dan diluar negeri dan memang akhirnya memperoleh apa yang dicari di Australia, Prusia dan Austria dengan perantaraan kaum bangsawan yang mengungsi itu. Dan pandangan itu pun tak luput dari pandangan rakyat Paris sebab untuk pertama kalinya alam sejarah pers member penerangan “massaal” kepada rakyat. Maka dengan dibentuknya orang-orang Club, inti permulaan partai politik. Dan menurut mereka tempat duduk sekali pun dibedakan dalam Constituante antara, golongan kiri (radikal) dan golongan (Konservatif).

Perbedaan itu hingga kini masih terjadi dalam dunia politik. Golongan yang kiri ialah golongan Jacobin mula-mula dipimpin oleh Marat, kemudian oleh Robespierre. Raja masih mengadakan usaha mengembalikan keadaan lama di Perancis. Ia mencoba ntk berhijrah ke luar negeri dengan maksud akan kembali kelak mengepalai tentara kontra-revolusi, tetapi ketika ditengah perjalanan ia ditawan. Peristiwa itu menjadi dalih bagi luar negeri mengadakan intervensi. Ancaman itu pula yang menyebabkan golongan-golongan radikal yang memegang pimpinan di Paris[3]).

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

2.1  Revolusi Perancis Dari Tahun 1787-1789

Revolusi Prancis merupakan perubahan bentuk pemerintahan dari bentuk kerajaan menjadi bentuk republik. Revolusi Prancis meletus pada tanggal 14 Juli 1789, pada masa pemerintahan Raja Louis XVI. Revolusi Prancis di tandai dengan penyerbuan “Penjara Bastille” yang merupakan lambang absolutisme raja.

 

2.2   Proses-Proses

Revolusi Perancis (1789-1815) di Perancis menjatuhkan pemerintahan tradisional dibawah pimpinan raja dan kaum bangsawan yang didukung oleh pimpinan gereja diusahakan mengatur Negara menurut gagasan-gagasan yang bersifat Demokrasi dan memutuskan ikatan-ikatan tradisional antara Negara dan gereja. Revolusi mempengaruhi juga Negara-negara lain yaitu Italia dan Perancis serta negeri Belanda. Khususnya di Perancis di iringi dengan banyak kekerasan, maka timbullah reaksi terhadap Revolusi Perancis dan cita-citanya[4]).

reaksi ini disebut restorasi, restorasi adalah usaha untuk memulihkan kembali keaaan politik dan social, sebelum repolsi perancis dan bercorak konserpatif. Cita-cita yang bersifat demokratis sama sekali ditolak dan yang ditekankan adalah otoritas penguasa-penguasa lama seperti raja-raja yang diberi kuasa yang mutlak.

 

 

 

 

 

 

 

 

Restorasi juga mempengaruhi gereja-geraja, terutama gereja Katolik-Roma. Sebagai reaksi terhadap pencerahan dan Revolusi Perancis (yang meniadakan  banyak hak istimewa yang dinikmati gereja Katolik-Roma di Perancis) kekuasaan Paus pada bidang iman dan etika makin lama makin lebih diutamakan. Puncak perkembangan ini adalah Konsili Vatikan I (1869-1870). Konsili ini memutuskan bahwa paus tidak dapat keliru kalau ia sebagai kepala gereja (excathedera= dari mimbar sebagai lambing kepausan) mengumumkan sesuatu tentang iman atau etika. Secara resmi diungkapkan bahwa kekuasaan paus tidak tergantung pada persetujuan gereja tetapi hanya dari jabatan paus sendiri[5])

Jadi, pada abad ke-19 usaha mereka untuk keluar ke seluruh dunia yaitu untuk memperluas pengaruh dan kuasa mereka pada bidang politik untuk mengabarkan imam Kristen di seluruh dunia dan untuk menyebarkan kebudayaan barat.

 

2.3 Ciri-Ciri Khas Dari Revolusi Prancis

Ada pun ciri-cirinya yaitu kaum bangsawan cenderung memonopoli semua jabatan[6]). Karena pada abad 18 merasa semakin sulit hidup dari pendapatannya, sebagai akibat dari kenaikan harga yang tak terkendali sejak tahun 1730. Dengan tujuan meningkatkan penghasilannya,  kaum bangsawan sering juga memberlakukan kembali daftar perpajakan yang menguntungkannya, serta menuntut secara lebih keras rente feodalyang menjadi haknya. Reaksi kaum bangsawan yang menyeluruh di dunia Barat, di Negara perancis di tandai oleh reaksi “feudal” yang sangat terasa. Para petani yang di bebani oleh system feudal tersebut, sangat tertekan[7]).

Lagi pula meningkatnya penduduk dengan cepat telah membangkitkan mereka “rasa haus akan lahan” yang sulit dipenuhi, karena ketika tanah milik desa dibagi-bagikan, para seigneur berhail memperoleh sepertiganya. Untuk menambah penghasilan pertanian, mereka cenderung menggabungkan lahan-lahan milik mereka agar mendapatkan penghasilkan lebih besar. Kaum petani Belgia, Jerman, Swis dan Napoli dikenakan system yang serupa. Sebaliknya kaum tani dari Amerika Serikat, Inggris, Nederland dan Italia Utara praktis telah diemansipasi dari system feudal. Maka kaum borjuis dan petani perancis yang sakit hati dengan alasan yang berbeda-beda, menyatakan rasa benci terhadap kaum bangsawan, dan pada umumnya, bersatu melawannya. Persatuan inilah yang merupakan ciri khas Revolusi Perancis dan mencetuskan keberhasilan pertama, penyebaran, makna dan kekukuhannya.

 

2.4 Sebab-sebab Umum Yang Terjadi Di Prancis

Masalah keuangan negara, karena kas negara kosong, para bangsawan yang semula bebas pajak akan dikenai pajak, para bangsawan menolak rencana ini sehingga timbul krisis antara raja dan bangsawan.Jadi, kesimpulan sabab musabab yang telah ditulis di atas adalah kesimpulan dari yang saya akan tulis[8]). Perang kemerdekaan Amerika Serikat tidak hanya memungkinkan warga perancis menjadi akrab dengan revolusi Amerika, tetapi juga memperparah krisis keuangan yang bertahun-tahun di derita Perancis secara kronis : dampak burk tersebut merupakan salah satu yang segera akan mencetuskan revolusi[9]).

Jadi, perancis mencampuri urusan perang Amerika dengan keuangan yang bejat. Necker yang pada zaman itu menguasai bidang tersebut, berpaling kejalan pintas engan menerapkan system pinjaman. Utang semakin membesar, dikarenakan pinjaman-pinjaman yang dikenai bunga tinggi (8 dan 10%) yang membangkrutkan Negara. Keadaan ke uangan terus-menerus memburuk karena tiada “obat berkhasiat” yang tersedia. Di samping itu, krisis ekonomi yang melanda seluruh Eropa Barat, khususnya terasa di Perancis. Selain itu, ada sebab-sebab umum yaitu[10]):

  1. a.    Adanya paham rationalisme dan aufklarung.   

Rationalisme adalah pahan yang menyatakan bahwa ratio (akal) adalah sumber kebenaran, mereka menentang kekuasaan monarki absolut. Aufklarung adalah paham yang ingin menggunakan rasionalisme untuk kebahagiaan manusia.

 

 

 

 

  1. b.    Adanya paham romantik. 

Paham romantik adalah paham yang beranggapan bahwa perasaan dan kepribadian lebih tinggi dari rasio (akal). Tokohnya adalah Jean Jacques Rousseau dengan bukunya yang terkenal “Du Contact Social” isinya bahwa manusia dilahirkan bebas dengan hak yang sama.  

  1. c.    Pengaruh perang kemerdekaan Amerika          

Pemerintah Prancis mengirimkan tentaranya ke Amerika Utara untuk membantu rakyat Amerika Serikat dalam mempertahankan Declaration of Independence menghadapi Inggris, tentara Prancis di bawah Lafayette kembali ke Perancis dengan membawa paham-paham baru tentang hak asasi manusia dan demokrasi.            

  1. d.    Feodalisme

Paham yang menerapkan pengertian bahwa raja adalah pemilik tanah, yang berhak meminjamkan tanahnya kepada mereka yang dianggap berjasa kepadanya.

e. Monarki Absolut yang sangat buruk. Raja berkuasa secara mutlak.

f. Kekosongan kekuasaan (vacum of power)          

 

Sedangkan dalam buku “Negara Dan Revolusi Sosial” mengatakan bahwa sebab khusus dari Revolusi Prancis adalah sebagai berikut:

 

  1. 1.    Kontradiksi Absolutisme Bourbon

Rezim pemerintahan pada masa revolusi Prancis ini secara historis konsoliasi pemerintahan Negara nya kekaisaran yang bersatu. Monarki Absolut, yang dibina menurut kenyataan dan kehendak kerajaan, menjadi kenyataan dominan bagi Prancis hanya selama pemerintahan Louis XIV (1643-1715). Fronde 1648-1653 menandai masa berakhirnya perlawanan para bangsawan daerah terhadap kerajaan yang terpusat : Keadaan ini juga merpakan paya terakhir sebelm Revolusi sebelm mengumumkan piagam yang membatasi absolutism raja dan merupakan  kegagalanya untuk menjamin kejayaan doktrin. Prancis untuk selanjutnya diperintah di bawah administrasi kerajaan.

 

 

Absolutism mengalami masa keemasanya di bawah pertengahan yang terdesentralisasi seouismbaga abad ke XIV, tetapi stuktur Negara rezim lama Prancis  tetap sangat rumitan berlapis-lapis. Walaupun kekuasaan administrasi abdolutis unggul, namun stuktur-stukturnya dewan-dewan kerajaan dan intendancies tidak sepenuhnya menggantikan fungsi lembaga-lembaga abad pertengahan yang terdesentralisasi seperti daerah kekuasaan seigneur dan istana.

Sejalan dengan upaya memelihara kesatuan dan keteraturan dalam negeri, absolutism Bourbon juga melakukan perluasan militer. Setelah satu abad mengalami perang sipil dan menangkis masuknya imperialisme, selama pemerintahan Louis XIV, keberhasilan awal militer Prancis misalnya,, dalam Perang Peralihan (1667-1668) dan Perang Belanda (1672-1678) telah merangsang terbentuknya aliansi kekuatan yang berjanji untuk menghentikan aksansinya di Eropa.atnya, Prancis mengalami kemunduran-kemunduran serius dalam perang Liga Augsbur (1688-1697) dan perang suksesi Spanyol (1701-1714). Selanjutnya antara 1715 dan 1789 Prancis terbukti tidak hanya  menunjukan ketidakmampuannya untuk menguasai Eropa, melainkan pula tidak mampu mempertahankan keberadaanya sebagai Negara adidaya yang tak di ragukan. Memang koalisi Negara-egara musuh masih tetap bergabung menentang Prrancis. Namun kesulitan yang sama-sama seriusnya timbul dari adanya keterbatasan kapasitas kerajaan ( walaupun tanpa di kehendaki) yang di sebabkan oleh ketidaksempurnaan system absolutis di bawah Louis XIV dan oleh keadaan ekonomi dan stuktur kelas di Prancis. Perbandingan keadaan tersebut dengan Inggris sangat relevan, karena pada masa ini Inggrislah yang bergerak membawahi Perancis dalm perlombaan hegemoni Eropa dalam kerangka kapitalisme yang mendunia[11]).

 

 

 

 

 

 

  • Ø  Raja-raja bourbon

Louis XVII ( 1814-1824) menganut  faham baru di dalam pemerintahan, tetapi ridak berani nmenentang kaum reaksioner (bangsawan dan gereja) yang dipinpin oleh Comte d’Artois. Louis XVII menjalankan politik “ jalan tengah” antara kaum reaksioner dan kaum liberal.

Pada tahun 1820 Comte de Berry, putra Comte di bunuh oleh rakyat. Reaksi meluap dan kaum reaksioner menang. Pemerintahan mulai condong kapada reaksioner. 1824 Louis XVIII wafat di ganti oleh Comte d’Artois sebagai Charles X.

Charles X (1821-1830) pada masa pemerintahanya sangat reaksioner. Rakyat yang dudlu  di dalam revolusi Perancis ikut dalam pembunuha Louis XVI, di tangkap dan di buang ke Cayenne. Emigres (bangsawan yang dulu mengungsi keluar negeri) di beri kerugian. (Undang-Undang satu milliard). Rakyat di pnpin oleh kaum liberal menentang raja. Revolusi Bulan Juli (1830) sebabnya karena pada waktu itu Charles X bersipat revolusioner, dan Charles X menetapkan, parlemen yang baru harus di pilih, di bubarkan lagi sebelum dapat bersidang, hak pilih hanya di berikan kepada mereka yang pro-raja saja, dan sensur yang keras di adakan. Pada waktu itu  rja berontak dan Charles X lari keluar negeri. Pemberontakan ini di sebut revolusi Bulan Juli.

Akibat dari revolusi ini menjatuhkan Charles X dan memilih Louis Philippe sebagai raja Perancis. Sebenarnya yang memilihnya itu kaum Bourjois (orang-orang yang kaya raya, seperti pengusaha  pabrik, bank, dsb.) dan karena itu Louis Philippe lambat laun jatuh di bawah pengaruh kaum borjuis hingga lupa akan rakyatnya. Rakyat yang dulu pada 1830 menjalankan revolusi dan merasa dirinya pemenang, menjelaskan Louis Philippe dan makin lama makin membentinya. Oposisi terhadap Louis Philippe terdiri atas kaum kaum legitimasi, kaum bonarpatis, kaum republikeun dan kaum sosialis, lalu dalam menghadapi oposisi ini Louis Philippe makin lama makin menjadi konserfatif dan reaksioner. Artinya rakyat memberontaknya dan terjadilah revolusi Bulan Pebruari 1848. Louis Philippe jatuh.

Revolusi Bulan Perbruari 1848 menjatuhkan raja Louis Philippe dan menghapuskan kerajaan. Perancis di jadikan republik ( Republik Perancis yang ke-11. Sebagai presiden dipilihnya : Louis Napoleon raja negeri Belanda, empat tahun lamanya Louis Napoleon menjabar presiden. Selama menjabat menjadi presiden itu Louis Napoleon tidak lain dari pada membuat propaganda bagi dirinya sendiri agar ia dapat di terima oleh rakyat sebagai kaisar. Pada tanggal 2 Desember 1852 ( tanggal peringatan kemenangan gilang-gemilang Napoleon) Louis Napoleon mengadakan coup d;etat dan mengangkat dirinya sebagai kaisar Perancis Napoleon III[12]).

  1. 2.  Situasi Ekonomi

Pada abad ke-17 dan selama abad ke-18 Prancis tetap merupakan masyarakat yang bertumpu pada sektor pertanian sedangkan sektor ekonominya terhambat oleh jaringan kepentingan hak milik yang kompleks, yang menghambat di lakukanya terobosan-terobosan menuju pertanian yang kapitalis atau industrialisme. Menjelang revolusi, ssudah lima puluh tahun masa pertumbuhan ekonomi, para petani tetap merupakan 85 % dari sekitar 26 juta penduduk Perancis, dan sektor pertanian paling sedikit menghasilkan 60% dari produkdi kotor nasional. Perdagangan dab beberapa industri (yang belum mengenal mekanisme) Perancis memang sudah mengalami skpansi pada abad ke-18 (walaupun pertumbuhan tersebut banyak dipusatkan di daerah perdalaman dari pelabuhan Atlantik yang harus mengalami kondisi brurk selama Revolusi). Namun, walaupun banyak di antara bidang perdagangan dan industri sedang berkembang , ia tidak terepas dari ketergantungan dan keterikatan kepada dan di batasi oleh stuktur sosial dan politik dari kekaisaran Perancis yang berciri agraris itu.

Pertanian Perancis pada giliranya, menghambat perkembangan industri Perancis. Baik stukturmaupun distribusi keuntunganya telah menghambat munculnya suatu pasar komoditas yang meluas dan mantap. Keadaan ini berlaku bagi komoditas berkualitas se.dang, satu-satunya yang paling mudah menerima produksi mesin. Pada akhir abad ke-16 industri Perancis mungkin lebih maju dari Inggris. Namun, kemudian sejak sekitar 1630 sampai 1730 pertanian, perdagangan dan indstri Perancis menderita kemunduran yang berulang karena perang, wabah, dan kelaparan. Sementara itu ekonomi Inggris tumbuh makin mantap, dan tahap awal dari revolusi hbungan produksi dan tekniknya berjalan lancar[13]).

  1.  Stuktur Masyarakat Agraris Dan Pemberontakan Petani

            Krisis sosial politik saja, betapapun besarnya, belumlah cukup untuk menciptakan situasi sosial –revolusioner  di Perancis , ke sosial revolusioner ketimbang munculnya pemerintahan peralihan   akibat pertentangan antarelit yang mengarah pada kehancuran pemerintahan yang ada ataupun pada pembentukan kembali perundang-undangan dari rezim serupa yang berlandaskan kurang lebih liberal. Hal ini di sebabkan oleh kenyataan bawah meluasnya pemberontakan petani terjadi bbersamaan dengan, bahkan sebenarnya memanfaatkan , kekosongan pengawasan dan sangsi-sangsi pemerintahan dalam ungkapan Barrington Moore : para petani akan menyediakan dinamit untuk menghancurkan bangunan lama.” Pemberontakan mereka telah menghancurkan hubungan-hubungan kelas agraris yang lama dan merusakkan dukungan politik dan militer bagi liberalism ataupun gerakan kontra revolusi. Mereka telah membuka jalan bagi para elit politik marginal, yang mungkin didukung oleh gerakan-gerakan popular masyarakat perkotaan, untuk mengkonsolidasikan revolusi di atas landasan organisasi-organisasi Negara yang terpusat dan berupa kesatuan massa.

            Pemberontakan petani sebenarnya kurang mendapatkan perhatian dari para sejarawan dan para pakar teori sosial ketimbang aksi-aksi kelas bawah perkotaan dalam revolusi bahkan untuk masyarakat agraris. Para pekerja perkotaan baik pada era praindustri maupun era industri , kerap kali memainkan peranan yang jelas dalam  revolusi (baik yang gagal maupun yang berhasil). Tujuan-tujuan dan prestasi  mereka pun selalu di kaitkan  dengan kepeminpinan revolusioner. Dalam hal ini para pekerja perkotaan yang memberontak itu lebih tampak sebagai kaum revolusioner sejati ketimbang para petani yang hanya memberontak di pedalaman saja, jauh dari pusat-pusat kesadaran dan kepuasan politik nasional.

            Hal ini pemberontakan para pekerja perkotaan tidak  berpengaruh dalam revolusi Prancis tetapi aksi-aksi Perancis dan para pekerja industry turut berperan dalam membentuk konflik-konflik dan hasil-hasil revolusioner yang khas di Perancis.yang pada titik berat kan pada pemberontakan dan pendekanan terhadap kondisi-kondisi ter hadap pemberontakan petani.

 

 

2.5    Perlawanan Kaum Bangsawan

Setelah beberapa menteri yang hanya menjabat sebentar saja, Calonne menjadi Controler General keuangan pada than 1783. Separti Necker, selama tiga tahun Calonne berusaha menghadapi kesulitan keuangan dengan menjalankan politik pinjaman. Tetapi pada akhir tahun 1786 kredit pemerintah telah habis. Hanya tinggal satu alternative: menyatakan  Negara bangkrut atau menggarap kembali rencana pembaharuanTurgot dan Necker, yang tentu akan menimbulkan pertentangan para pemilik hak istimewa. Menurut Calonne, taktik yang paling tepat aalah mendesak para pemilik hak agar menyetujui rencana pembaharuan tersebut. Supaya tujuannya tercapai, Calonne membentuk suatu “Dewan orang-orang terkemuka” (Assemble des notables). Dalam rencana keuangan yang dimatangkan oleh Calenne, unsure utama adalah persamaan hak semua warga terhadap pajak baru yaitu subvention territorial, yang telah disarankan oleh Turgot dan necker sebagai pengganti pajak vingtieme.

“40”Louis XVI masih menolak perspektif ini. Pada tnggal 25 mei 1787, dia membubarkan  Dewan orang-orang terkemuka.oleh karena Dewan orang-orang terkemuka ibbarkan, maka jika rencana pembangkrutan ditinggalkan, rencana pembaharuan harus diajukan pada parlement-parlement. Itulah yang diperbuat Brienne. Tetapi meskipun parlement Paris menyetujui beberapa pembaharuan ringan dan antara lain pembentukan ewan propinsi disemua propinsi Perancis yang belum memilikinya, pembaharuan yang paling penting yaitu subvention territorial ditampik dan persidangan Etats generas dituntut pula pada tanggal 24 juli.

 

2.6  Tahun 1789 Di Prancis

Di Prancis, mulas tahun 1789 revolusi akan melangkah lebih jauh. Tatkala perlawanan kaum bangsawan terhadap pemerintah melemah dan retak, digantikan oleh perlawanan kaum boruis yang segera diperkuat oleh pemberontakan dahsyat kaum tani.

Tahun 1789 berawal dengan pemilihan Etats Generaux yang pelaksanaannya ditetapkan oleh peraturan tanggal 29 januari : hak memilih bersifat sangat luas dengan hanya dua syarat, yaitu berusaha diatas 25 tahun dan terdftar sebagai wajib pajak. Kekayaan tidak menjadi syarat untuk dipilih. Namun, system pemilihan para wakil golongan ketiga melalui beberapa tingkat. Para pemilih diharapkan menitipkan cahier de doleances (“buku-buku pengaduan”) mereka kepada warga yang diberi mandate.

Rupanya kekalutan ini tidak mempengaruhi pemilihan, para wakil rakyat hanya berasal dari golongan agamawan, bangsawan dan borjuis.

 

2.7      Deklarasi Hak-Hak Manusia Dan Warga Negara

Deklarasi Prancis merupakan kompromi antara rencana-rencana yang diajukan oleh barbagai wakil rakyat, terutama Sieyes dan La Fayette, kebebasan dititikberatkan. Semua orang terlahir bebas dan tetap tinggal bebas. Konsep persamaan tidak begitu ditekankan dan dimuat di antara hak-hak yang mutlak. Namun pasal satu menegaskan bahwa “sema orang terlahir sama” pasal enam menyatakan bahwa hokum adalah sama untuk siapa pun : maka terwujudlah persamaan hak dihadapan kekuasaan kehakiman dan kebebasan memilih pekerjaan tanpa adanya diskriminasi. Persamaan dalam hal perpajakan dicantmkan dalam pasal tiga belas.         

Menurut pasal tiga, kedaulatan berada pada Bangsa, sehingga raja (yang tidak disinggung-singgung) hanya melaksanakan mandat yang diterima dari bangsa. Perundang-undangan mencerminkan kehendak rakyat, maka pelanggaran apapun yang menyangkut ketertiban umum akan ditindas.    
Disamping asas-asas yang mendasar ini, pada pasal-pasal lain deklarasi membahas pula kekuatan-kekuatan bersenjata, keuangan yang dijamin oleh ”kontribusi umum yang tidak bersifat memaksa” dan pertanggungjawaban para pegawai. Deklarasi ini yang tentunya dihasilkan oleh satu golongan social yaitu kaum borjuis, banyak dipengarhi oleh situasi dan kondisi.               

Terbukti bahwa Deklarasi Prancis bukanlah tiruan model Amerika dan bukan pula penyalinan terburu-buru dari gagasan para filsup. Sebaliknya merupakan karya kemanusiaan yang benar-benar memperhitungkan keadaan bersejarah pada masa penciptaannya.

 

2.8 Situasi Sebelum Revolusi Prancis Masyarakat Terbagi Menjadi Empat Golongan:

  1. 1.  Golongan 1 yaitu raja dan para bangsawan, memiliki hak istimewa dan   bebas pajak
  2. Golongan II yaitu para pendeta, biarawan/biarawati
  3. Golongan III yaitu kaum borjuis (pengusaha dan golongan terpelajar), masyarakat yang dibebani bermacam-macam pajak
  4. Golongan IV yaitu rakyat jelata yang dianggap tidak memiliki hak-hak pribadi sebagai manusia.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

2.8  Kesimpulan

Dari pernyataan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa Revolusi Perancis Itu terjadi pada tahun 1789 di Negara Itali, Eropa. Yang mana Revolusi Prancis ditandai dengan penyerbuan “Penjara Bastille” yang merupakan lambang absolutisme raja. Yang mana dengan adanya revolusi ini banyak memberikan dampak, seperti:

  1. Bidang politik: 
    Menyadarkan rakyat menuntut kebebasan, menentang kekuasaan asing, memunculkan semangat  nasionalisme, dan keinginan membentuk Negara berkedaulatan rakyat.    

     

  1. Bidang Ekonomi:       

Penghapusan hak istimewa bangsawan dan pendeta. Rakyat berhak memiliki tanah dan hanya membayar pajak pada Negara          
           
3. Bidang sosial:   
Muncul golongan buruh, petani, kaum kapitalis.

 

Ada pun pernyataan seorang tokoh , yaitu Hegel yang merumuskan buah revolusi Perancis itu sebagai berikut: “ the orientals only knew that one person (the king) was free, whereas the greek and roman old knew that a certain number were free; we, however, know that all men and women are free perse, i.e., they are free because they are human beings[14]). Revolusi ini member api dan inspirasi untuk mengubah struktur social yang tidak adil. Demokratisasi politik (distribusi kesejahteraan).

Kebudayaan modern mencerminkan usaha manusia untuk membebaskan diri dari dominasi alam dan domonasi sesamanya. Kebudayaan ini melahirkan sebuah visi tentang dunia yang sejahtera, sejajar dan merdeka.

DAFTAR PUSTAKA

Christiaan De Jonge. Pembimbing Kedalam Sejarah Gereja. Jakarta: BPK  Gunung Mulia

Dikutip dari Nobert Greimacher. “ Human Right and Christian Right”, Concilius 155 (May 1992

Francois Furet- Denis Richet. 1989. Revolusi Prancis. Yogyakarta: Gajah Mada University Prees.

Gerben Heitnik dan Ferd Heselaans Hartono, Sj. Teologi Praktis. Pastoral dalam Era Modernitas. Yogyakarta: Pos, Kanisius

Jacques Godechot. 1964. Revolusi di Dunia Barat (1770-1799), Surabaya: Gadjah Maa University Press.

J.A. Ricuard. 1873. Medievel and Modern History. New York: Barnes and Noble, ICVC.

J.M. Romein. 1956. Aera Eropa Peradaban Eropa Sebagai Penyimpangan Dari Pola Umum. Bandung; Jakarta; Amsterdam: Ganaco N.V.

R.R. Palmer Joel Colton Lloyd Kramer. 2007. A History Of The Modern World, The Companies: MCGraw-Hill,

Soebantardjo. 1960. Sari Sejarah Jilid II Eropa-Amerika. Jogyakarta: Bopkri

Theda Skocpol. 1991. Negara dan Revolusi Sosial. Jakarta: Erlangga.

 


[1] J.A. Ricuard, Medievel and Modern History, (New York: Barnes and Noble, ICVC, 1873), hal. 185-186.

[2] Prof. Dr. J.M. Romein, Aero Eropa (Perkembangan Eropa Sebagai Penyimpangan Dari Pola Umum), Bandung; Jakarta; Amsterdam: Ganaco .N. V.,1956, hal. 134.

[3] Ibid, hal. 135.

[4] Christiaan De Jonge, Pembimbing Kedalam Sejarah Gereja, (Jakarta: BPK  Gunung Mulia), hal. 83-84.

[5] Ibid.

[6] Jacques Godechot, Revolusi di Dunia Barat (1770-1799), Surabaya: Gadjah Maa University Press,1964

[7]  Francois Furet- Denis Richet, Revolusi Prancis, (Yogyakarta: Gajah Mada University Prees,1989), hal. 96.

[8] Loc. Cit. hal 36

[9] Ibid. Hal 37

[10] Prof. Dr. Gerben Heitnik dan Ferd Heselaans Hartono, Sj., Teologi Praktis, Pastoral dalam Era Modernitas, (Yogyakarta: Pos, Kanisius), hal. 285.

[11] Theda Skocpol, Negara dan Revolusi Sosial, Erlangga, Jakarta 1991

[12] Soebantardjo, Sari Sejarah Jilid II Eropa-Amerika, 1960, Jogyakarta: Bopkri.

[13] Ibid. hlm 58

[14]  Dikutip dari Nobert Greimacher. “ Human Right and Christian Right”, Concilius 155 (May 1992): 44

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s