Perbedaan Antara Masyarakat Desa Payungsari Kecamatan Pedes dan Masyarakat Kota Karawang dan Adanya Proses Urbanisasi


 

BAB 1

PENDAHULUAN

 

  1. A.      Latar Belakang Masalah

Pada tahun 1990, Penduduk Desa Payungsari, Kecamatan Pedes, Kabupaten Karawang. Sebagian besar pekerjaan masyarakatnya yaitu seorang petani. Para petani pada jaman dahulu cara bertaninya itu masih sangat tradisional dan tidak efisien karena belum dikenalnya mekanisasi dalam pertanian. Biasanya mereka itu bertani semata – mata untuk mencukupi kehidupannya sendiri dan hasil padinya tidak untuk dijual, mereka itu merasa puas apabila kebutuhan keluarga telah tercukupi.

Walaupun penduduk masyarakat pedes pada umumnya hidup dari pertanian, tetapi ada juga yang bekerja sebagai tukang kayu, tukang beca, tukang baso, dll. Intinya pekerjaan penduduk desa payungsari kec pedes ini adalah petani, tetapi pekerjaan tersebut hanya pekerjaan sambilan saja, karena bila tiba masa panen atau menanam padi, pekerjaan – pekerjaan sambilan tadi segera ditinggalkan.

Golongan orang tua pada masyarakat pedes/pedesaan pada umumnya memegang peranan penting, orang akan selalu meminta nasihat kepada mereka apabila ada kesulitan – kesulitan yang dihadapi. Golongan orang tua itu mempunyai pandangan yang didasarkan pada tradisi yang kuat sehingga sukar untuk mengadakan perubahan – perubahan yang nyata.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. 1.      Perbedaan Antara Masyarakat Desa Payungsari Kecamatan Pedes Dan Masyarakat Kota Karawang dan Adanya Proses Urbanisasi.

Masyarakat desa Payungsari Kecamatan Pedes, Kabupaten Karawang itu sosialisasinya masih sangat erat kekeluargaannya dan kehidupannya tersebut masih berkelompok. Berbeda dengan masyarakat yang ada di daerah kota karawangnya, yaitu masyarakat orang kota pada umumnya kehidupannya sangat individu atau perseorangan. Dikota Karawang kehidupan kekeluargaannya sering sukar untuk disatukan karena adanya perbedaan kepentingan, agama, dsb.

Di masyarakat kota kehidupan keagamaannya kurang bila dibandingkan dengan kehidupan agama di masyarakat pedes/desa. Memang, di kota karawang orang juga beragama, tetapi pada pusat kegiatan hanya tampak di tempat – tempat ibadah seperti masjid, gereja, dsb. Dan kehidupan masyarakatnya berada dalam lingkungan ekonomi, perdagangan, kawasan industri dsb. Cara kehidupan yang demikian mempunyai kecenderungan ke arah keduniawian dibanding dengan kehidupan warga di masyarakat pedes dan sekitarnya yang cenderung lebih kearah agamanya. Di kota, para individu kurang berani untuk seorang diri dalam menghadapi oranglain dengan latar belakang pendidikan dan kepentingan yang berbeda serta perbedaan lainnya.

Sehubungan dengan perbedaan antara masyarakat pedesaan/di pedes atau dengan masyarakat perkotaan/di karawang, kiranya perlu juga dibahas tentang perihal urbanisasi. Urbanisai adalah suatu proses perpindahannya penduduk dari desa ke kota atau dapat dikatakan pula bahwa urbanisasi merupakan proses terjadinya masyarakat perkotaan.

  • Adanya proses urbanisasi, menyangkut dengan dua aspek yaitu:

a)      Perubahan masyarakat desa menjadi masyarakat kota.

b)      Bertambahnya penduduk kota yang disebabkan oleh mengalirnya penduduk yang berasal dari desa (pada umumnya disebabkan karena penduduk desa merasa tertarik oleh keadaan dikota).

  • Sehubungan dengan proses tersebut, ada beberapa sebab yang mengakibatkan suatu daerah tempat tinggal mempunyai penduduk yang banyak. Artinya adalah suatu daerah bisa saja mempunyai daya tarik sedemikian rupa sehingga orang – orang pendatang semakin banyak. Secara umum dapat dikatakan sebab – sebabya adalah :

a)      Daerah yang termasuk menjadi pusat pemerintahan atau menjadi ibu kota seperti jakarta.

b)      Letak tempat tersebut yang sangat strategis untuk usaha- usaha perdagangan.

c)      Tibulnya kawasan industri yang memproduksikan barang dan jasa.

  • Sebab – sebab pendorong orang desa meninggalkan tempat tinggalnya secara umum adalah sbb:

a)      Didesa lapangan kerja pada umumnya sangat kurang. Pekerjaan yang dapat dikerjakan adalah pekerjaan yang semuanya menghadapi berbagai kendala seperti menggarap atau menyangkul disawah, serta bercocok tanah dikebun.

b)      Penduduk desa di sekitar pedes, terutama kaum muda – mudi banyak yang menjadi penganguran, karena terbatasnya lapangan pekerjaan, bila adapun pekerjaannya juga pasti monoton, seperti halnya sebagai petani.

c)      Didesa tidak banyak kesempatan untuk menambahkan pengetahuan. Oleh sebab itu banyak orang yang ingin meninggalkan desa.

d)     Bagi penduduk desa yang mempunyai keahlian lain selain bertani, seperti misalnya kerajinan tangan, tentu mengingini pasaran yang lebih luas bagi hasil produksinya , dan ini tidak mungkin didapatkan di masyarakat desa.

  • Sebaliknya akan dijumpai pula beberapa faktor penarik dari kota, antara lain sebagai berikut:

a)      Penduduk desa kebanyakan mempunyai anggapan bahwa dikota banyak pekerjaan serta banyak penghasilan (uang). Karena sirkulasi uang dikota jauh lebih cepat , lebih besar dan lebih banyak, maka secara relatif lebih mudah mendapatkan uang daripada didesa.

b)      Dikota lebih banyak kesempatan mendirikan perusahan industri dll.

c)      Dikota lebih banyak modal dibandingkan di kota.

d)     Pendidikan, terutama pendidikan lanjutan lebih banyak di kota karena dikota itu fasilitasnya lebih memadai dibandingkan didesa.

e)      Kota merupakan suatu tempat yang lebih menguntungkan untuk mengembangkan jiwa dengan sebaik – baiknya dan seluas – luasnya.

f)       Kota dianggap mempunyai tingkat kebudayaan yang lebih tinggi dan merupakan tempat pergaulan dengan segala macam orang dan dari segala lapisan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

KESIMPULAN

 

Jadi, perbedaan Masyarakat Desa dan kota yaitu:

Masyarakat Pedesaan:

1)    Warga memiliki hubungan kekeluargaan yang sangat erat.

2)    Sistem kehidupan biasanya berkelompok atas dasar kekeluargaan.

3)    Umumnya hidup dari kalangan masyarakat pertanian.

4)    Golongan orang tua memiliki peranan yang penting.

5)   Dari sudut pemerintahan, hubungan antara penguasa dan rakyat bersifat informal.

6)    Perhatian masyarakat lebih pada kepeluan utama kehidupan.

7)    Kehidupan keagamaan lebih atau masih kental.

8)    Banyak berurbbanisasi ke kota karena ada faktor yang menarik dari kota.

Masyarakat Kota:

1)      Jumlah Penduduknya tidak tentu.

2)      Bersifat individualistis.

3)      Lapangan Pekerjaan lebih banyak.

4)      Perubahan sosial terjadi secara cepat, menimbulkan konflik antara golongan mudan dengan golongan orangtua.

5)      Interaksi lebih disebabkan faktor kepentingan daripada faktor pribadi.

6)      Perhatian lebih pada penggunaan kkebutuhan hidup yang dikaitkan dengan masalah prestise.

7)      Kehidupan keagamaan lebih longgar.

8)      Banyak migran yang berasal dari daerah dan berakibat neggatif dikota yaitu penganguran , naiknya kriminalitas, persoalan rumah dll.

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Soekanto Soerjono, Sosiologi Suatu Pengantar. PT RajaGrafindo Persada. Jakarta. 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s