ontology epistimologi dan aksiologi


BAB I

PENDAHULUAN

  1. A.    Latar Belakang

Filsafat adalah induk dari segala ilmu pengetahuan yang telah ada. Fisafat ilmu melahirkan pengetahuan-pengetahuan yang sekanga kita pelajari.

Filsafata dan ilmu adalah dua kata yang saling terkait, baik secara substansi maupun histori karena kelahiran ilmu tidak lepas dari peranan filsafat, sebaiknya perkembangan ilmu memperkuat kebenaran filsafat. Filsafat telah berhasil mengubah pola pemikiran bangsa yunani dan umat manuisa dai pandangan mitosentris menjadi logosentris.

Apa sebabnya manusia dan bangsa yunani bias berupa derastis pemikirannya itu. Penulis akan coba untuk memparkan akan kajian yang dibahas dalam filsafat ilmu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

  1. A.    Ontology

Ontology merupakan salah satu diantara lapangan penyelidikan kefilsafatan yang paling tua. Awal mula alam fikiran yunani telah menunjukan munculnya perenungan dibidang ontology. Yang tertua dinatara segenap filsafat yunani yang kita telah kenal adalah Thales. Atas perenungannya terhadap air merupakan substansi terdalam yang merupakan asal mula dari segala sesuatu.

Pertama kali orang dihadapkan pada adanya dua macam kenyataan. Yang pertama, kenyataan yang berupa materi (kebenaran) dan kedua, kenyataan yang berupa rohani (kejiwaan).

Haikat adalah realitas, relita adalah ke-real-an, reall artinya kenyataan yan gsebernarnya. Jika hakikat adalah kenyataan sebenarnya sesuatu.

Kata ontology berasal dari perkataan yunani : On=being, dan logos=logic. Jadi ontology adalah the theory of being qua being (teori tentang kebenaran sebagai keberadaan)[1]. Lois O. khatsoff dalam elemens of filosofy mengatakan, ontology itu mencari ultimate reality dan menceritakan bahwa diantara contoh pemikiran olntologi adalah pemikiran Thales, yang berpendapat bahwa air lah yang menjadi ultimate substance yang mengeluarkan semua benda. Jadi semua benda hanya satu saja yaitu air.

Noeng Muhadjir ontology berusaha mencari inti yang termuat dalam setiap kenyataan, atau dalam rumusan lorens bagus, menjelaskan yang ada meliputi semua realitas dalam semua bentuknya. Menurut jujun s. suriasumantri dalam pengantar ilmu dalam perspektif mengatakan, ontology membahas apa yang ingin kita ketahui, seberapa jauh kita ingin tau, atau dengan perkataan lain, suatu pengkajian mengenai teori tentang ada.

Amsal Bakhtiar dalam bukunya filsafat agama 1 mengatakan, ontology berasal dari kata ontos= sesuatu yang berwujud. Ontology adalah teori/ ilmu tentang wujud, tentang hakekat yang ada. Ontology tidak banyak berdasar pada alam nyata, tetapi berdasar pada logika semata-mata.

Dari beberapa pengetahuan diatas dapat disimpulkan bahwa:

  1. Menurut bahasa, ontology ialah berasal dari bahsa yunani yaitu, on/ontos=ada, dan logos=ilmu. Jadi, ontology adalah ilmu tentang yang ada.
  2. Menurut istilah, ontology ialah ilmu yang membahas tentang hakekat yang ada, yang merupakan ultimate reality baik yang berbentuk jasmani/konkret maupun rohani/abstrak.

Di dalam pembahasan ontology dapat ditemukan pandangan-pandangan pokok pemikiran sebagai berikut:

  1. Monoisme

Paha mini menganggap bahwa hakikat yang asal dari seluruh kenyataan itu hanyalah satu saja, tidak mugkin dua. Haruslah satu hakikat saja sebagai sumber yang asal,baik yang asal berupa materi ataupun berupa rohani. Tidak mungkin ada hakikat masing-masing bebas dan berdiri sendiri. Haruslah salah satunya merupakan sumber yang pokok dan dominan menentukan perkembangan yang lain. Paham ini kemudian terbagi kedalam dua aliran:

  1. Materialism

Aliran ini menganggap bahwa suber yang asal itu adalah materi, buak n rohani. Menurutnya bahwa zat mati merupakan kenyataan dan satu-satunya fakta.

  1. Idealism

Idealism berarti serba cita, sedang spiritualisme berarti serbu ruh. Idealism diambil dari kata “idea”, yaitu sesuatu yang hadir dalam jiwa. Aliran ini beranggapan bahwa hakikat kenyatan yang beraneka ragam itu semua berasal dari ruh (sukma) atau sejenis dengannya, yaitu suatu yang tidak berbentuk dan menepati ruang.

Alas an aliran ini yang menyatakan bahwa hakikat benda adalah ruhania, spirit atau sebangsanya adalah:

  1. Nilai ruh lebih tinggi dari pada badan, lebih tinggi nilainya dari materi bagi kehidupan manisua. Ruh iitu diangagap sebagai hakikat yang sebenarnya. Sehingga materi hanyalah badannya, bayangan atau penjelmaan saja.
  2. Manusia lebih dapat memehami dririnya daripada dunia luar dirinya.
  3. Materi aialah kumpulab energy yang menempati ruang. Benda tidak ada, yang ada energy itu saja.

Materi bagi penganut idelisme sebenarnya idak ada. Segala kenyataan itu termasuk kenyataan manusia adalah sebaian ruh. Ruh itu tidak ahanya menguasa manusia perorangan, tetapi juga kebudayaan. Jadi kebudayaan adalah perwujudan dari alam cita-cita itu adalah ruhani. Karenanya aliran iini dapat disebut idealism dan dapat disebut spiritualisme.

Dalam perkembangannya, aliran ini ditemui pada aliran Plat(428-348 SM) dengan teori idenya. Menurutnya, tiap-tiap yang ada di alam mesti ada idenya, yaitu konsep universal dari sesuatu.

  1. Dualisme

Setelah kita memehami bahwa hakikat itu satu (monisme) baik materi ataupun ruhani, ada juga pandangan yang mengatakan bahwa hakikat itu ada dua. Aliran ini disebut dualism. Aliran ini berpendapat bahwa benda terdiri dari dua macam hakiakt sebagai asal sumbernya, yaitu hakikat materi dan ahakiakt ruhani, benda dan ruh, jasad dan spirit. Materi bukan muncul dari ruh, dan ruh bukan muncul dari benda. Sama-sama hakikat. Kedua macam hakiakt itu masing-masing bebas dan berdiri sendiri, sama-sama lazim dan abadi. Hubungan keduanya menciptkan kehidupan dalam alam ini.

Tokoh paham ini adalah Descartes (1596-1650 M) yang dianggap sebagai bapak filsafat . tmodern. Ia menanamkan kedua ruang (kebenaran). Ini tercantum dalam bukunya discours de la method (1637) dan meditations de prima philosophia (1641).

 

  1. Pluralism

Paham ini berpandangan bahwa segenap macam bentuk merupakan kenyataan. Pluralism bertolak dari keseluruhan dan mengakui bahwa segenap acam bentuk itu semuanya nyata. Plluralisme dalam dictionary of philosophy and religion dikatakan sebagai paham yang mennyatakan bahwa kenyataan alai mini tesusun dari banyak unsur, labih dari satu atau dua entita. Tokoh aliran ini pada masa yinani kuno adalah Anaxagoras dan Empedocles yang mengatakan bahwa substansi yang ada itu terbentuk dan terdiri dari 4 unsur, yaitu tanah, air, api dan udara. Tokoh modern aliran ini adalah William jamaes (1842-1910 M)

  1. Nihilsme

Nihilism berasal dari bahsa altin yang berarti noting atau tidak ada. Sebuah doktrin yang tidak mengakui validitas alternative yang positif. Istilah ini nihilism diperkenalkan oleh ivan turgeniev.

Doktrin tentang nihilism sebenarnya sudah ada semenjak zaman yunanai kuno, yaitu pada padang gorgais (483-360 SM) yang memberikan tiga proposisi tentang realitas. Pertama, tidak ada sesuatu pun yang eksis. Realitas itu sebenarnya tidak ada.kita harus menyatakan bahwa realitas itu tunggal dan banyak, terbatas dan tak terbatas, diciptakan dan tak dicipta. Kedua, bila suatu itu ada, ia tidak dapat diketahui, ini disebabkan oleh penginderaan itu tidak dapat dipercaya, penginderaan itu sumber ilusi.

  1. Agnostisisme

Paham ini mengingkari kesanggupan manusia untuk mengetahui hakiakt benda. Anaik hakiakt maupun hakaiakat ruhani. Kata agnosticisme berasal dari bahasa grik agnostos yang berarti unknown. A artinya not, gno artinya know.

Martin Heidegger (1889-1976 M) seorang filosof jerman mengatakan, satu-satunya yang ada itu ialah manusia, karena hanya manusialah yang dapat memahami dirinya sendiri. Jadi dunia ini adalah bagi amanusia, tidak ada persoalan bagi alam metafika.

 

  1. B.     Epistemology

Epistemologi atau teori pengetahuan ialah cabang filsafat yang berurusan dengan hakikat dan lingkup pengehuan, pengadaian-pengadaian dan dasar-dasarnya serta pertanggung jawaban atas pertanyaan mengenai pengatahuan yang dimiliki.

Filsafat Bacon mempunyai peran dalam metode induksi dan sisitematis prosedur ilmiah menurut Russel. Dasar filsafatnya sepenuhnya bersifat praktis, yaitu untuk memberi kekuasaan pada manusia atas alam melalui penyelidikan ilmiah

Usaha yang dilakukan pertama kali adalah menegaskan tujuan pengetahuan, menurutnya, pengetahuan tidak akan mengalami perkambangan dan tidak akan bermakna kecuali ia mempunyai kekuasaan yang dapat membantu manusia meraih kehidupan yang lebih baik.

Sikap khas Bacon mengenai ciri dan tugas filsafat tampak paling mencolok dalam novum organum. Pengethhuan dan kuas manusia didekatkannya satu sma alain, menurutnya, alam tidak dapat dikuasai kecuali denga jalan menaatinya, agar dapat taat pada alam, manusia perlu mengenalnya terlebih dahulu dan untuk mengetahui alam diperlukan observasi, pengukuran, penjelasan dan pembuktian.

Pengetahuan yang diperoleh oleh manusia melalui akal, indera dan lain-lain mempunyai metode tersendiri dalam teori pengethuan, diantaranya adalah:

  1. Metode Induktif

Induksi yaitu suatu metode yang menyimpulkan pernyataan-pernyataan hasil observasi disimpulkan dalam suatu pernyataan yang lebih umum. Dan menurut suatu pandangan yang luas diterima, ilmu-ilmu empiris ditandai oleh metode induktif, suatu inferensi bias disebut induktif bila bertolakan bertolakan dari pernyataan-pernyataan tunggal.

Dalam indusi, setelah diperoleh pengetahaun, makan akan dipergunakan hal-hal lain, seperti ilmu mengajarakan kita bahwa kalau logam dipanasi, ia mengembang, bertolak dari teori ini kita akan tahu bahwa logam lain yang kalau dipansi juga akan mengembang. Dari contoh diatas bias diketahui bahwa induksi tersebut memberikan suatu pengetahuan yang disebut juga dengan pengetahuan sintetik.

  1. Metode Deduktif

Deduksi adalah suatu metode yang menyimpulkan bahwa data-data empirik diolah oleh lanjut dalam suatu system pernyataan yang turut. Hal-hal yang harus ada dalam metode deduktif ialah adanya perbandingan logis antara kesimpulan-kesimpulan itu sendiri.

  1. Metode Positivisme

Metode ini dikeluarkan oleh Augus Comte (1798-1857). Metode ini berpaqngakl dari apa yang telah diketahui, yang factual, yang positif. Ia menyampingkan segala uraian/ persoalan diuar yang ada sebagai fakta. Apa yang diketahui secara positif, adalah segala yang tampak dan segala gejala. Dengan demikian metode ini dalam bidang filsafat dan ilmu pengetahuan dibatasi kepada bidang gejala-gejala saja.

  1. Motede Kontemplatif

Metode ini mengatakan adanya keterbatasan indera dan akal manusia untuk memperoleh pengethuan, sehingnga objek yang dihsilkan pun akan berbeda-beda harusnya dikembangakan suatu kemampuan akal ayang disebut dengan intuisi. Pengetahuan yang diperoleh lewat intuisi ini bias diperoleh dengan cara beeko[etensi seperti yang dilakuakan oleh al-Gazali.

  1. Metode Dealistis

Dalam filsafat, dielitika mula-mula berarti motede Tanya jawab untuk mencapai kejernihan filsafat. Metode ini diajarkan oleh Socrates. Namun Plato mengartikannya diskusi logika. Kini dielitika berarti tahap logika, yang mengarjakan kaidah-kaidahdan metode-metode penurunan, juga analisis sistematik tentang ide-ide untuk mancapai apa ayang terkandung dalam pandangan.

 

  1. C.    Aksiologi

Aksologi berasalkan dari perkataan axios (yunani) yang berarti nilai dan logos yang berarti teori. Jadi aksiologi adalah teori tentang nilai. Sedangakan arti aksilogi yang terdapat didalam bukunya jujun s. suarisumantri filsafat ilmu sebuah pengantar popular bahwa aksiologi diartikan sebagai teori nilai yang berkaitan dengan kegunaan dari pengetahuan yang diperoleh. Menurut Bramel, aksiologi terbagi dalam tiga bagian:

  1. Moral conduct, tindakkan moral, bidang ini melahirkan disiplin khusu, yakni etika
  2. Esthetic expression, yaitu ekpresi keindahan. Bidang ini melahirkan keindahan.
  3. Sosio-polotical life, yaitu kehidupan sisoal politik, yang akan melahirkan filsafat social-politik.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUPAN

  1. A.    Kesimpulan

Ontology merupakan salah satu diantara lapangan penyelidikan kefilsafatan yang paling tua. Awal mula alam fikiran yunani telah menunjukan munculnya perenungan dibidang ontology. Yang tertua dinatara segenap filsafat yunani yang kita telah kenal adalah Thales. Atas perenungannya terhadap air merupakan substansi terdalam yang merupakan asal mula dari segala sesuatu.

Epistemologi atau teori pengetahuan ialah cabang filsafat yang berurusan dngan hakiakt dan lingkup pengehuan, pengadaian-pengadaian dan dasar-dasarnya serta pertanggung jwaban atas pertanyaan mengenai pengatahuan yang dimiliki.

Filsafat Bacon emepunyai peran dalam metode induksi dan sisitematis prosedur ilmiah menurut Russel. Dasar filsafatnya sepenuhnya bersifat praktis, yaiu untuk member kekuasaan pada manusia atas alam melalui penyelidikan ilmiah

Aksologi berasalkan dari perkataan axios (yunani) yang berarti nilai dan logos yang berarti teori. Jadi aksiologi adalah teori tentang nilai. Sedangakan arti aksilogi yang terdapat didalam bukunya jujun s. suarisumantri filsafat ilmu sebuah pengantar popular bahwa aksiologi diartikan sebagai teori nilai yang berkaitan dengan kegunaan dari pengetahuan yang diperoleh.

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Bakhtiar, Amsal.2008. Filsafat Ilmu. Jakarta : Raja Grafindo Persada.

Suriasumantri, Jujun. 2009. FILSAFAT ILMU Sebuah Pengantar Popular. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

Tim Dosen Filsafat Ilmu Fakultas Filsafat UGM. 2010. FILSAFAT ILMU. Yogyakarta: Liberty Yogyakarta.

 

 


[1] Bakhtiar, Amsal. Filsafat Ilmu. Jakarta : Raja Grafindo Persada. 2010. Hal. 132

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s