ibnu tufail 2


BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Begitu banyak para filosof bermunculan didunia islam baik dari negara islam timur maupun negara islam barat. Dan slah satu dari para filosif Barat itu adalah Ibnu Tufail.

Ibnu Tufail adalah seorang dokter, filosof, ahli matematika, dan penyair yang sangat terkenal dari Muwahhid Spanyol, tetapi sayangnya hanya sedikit sekali karya-karyanya yang dikenal orang. Ibnu Abi Usaibi’ah menganggap fi al-Buqa’ al-Maskunah wal Ghair al-Maskunah adalah sebagai karyanya. Kemudian Miguel Casiri menyebutkan dua karyanya yang masih ada, yaitu : Risalah Hayy Ibnu Yaqzan dan Asrar al-Hikmah al-Mashriqiyyah (yang ini disebut naskah).

Sebelum mengkaji lebih dalam lagi maka penulis akan mengemukakan semua tentang baik kehidupan, karya dan pemikiran Ibnu Tufail.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBHASAN

2.1  Biografi Ibnu Thufail

Nama lengkapnya adalah Abu Bakr Muhammad ibnu Abd Al-Malik ibn Muhammad Ibnu Thufail (Latin, Abubacer), pemuka besar pertama pemukiran filsuf Muwahhid dari Sepamyol, lahir pada dekade pertama abad ke-6 H/ke-12 M di Ouadix, diprovinsi Granada.

Ibnu Thufail memulai karirinya sebagai dokter praktik di Granada dan lewat ketenarannya dalam jabatannya itu, dia diangkat sebagai skretaris gubernur diprovinsi itu. Kemudian, pada tahun 549 H/1154 M, dia menjadi sekretaris gubernur ceuta dan Tangier, putra abd Al-Mu’min, penguasa Muwahhid Spanyol pertama yag merebut Maroko pada tahun 542 H/1147 M. Akhirnya, Thufail menduduki jabatan dokter tinggi dan menjadi qadhi dipengadilan serta wazir khalifah Muwahhid Abd Ya’qub Yusuf (558 H/1163 M-580 H/1184 M).

Ibnu Tufail adalah seorang dokter, filosof, ahli matematika, dan penyair yang sangat terkenal dari Muwahhid Spanyol, tetapi sayangnya hanya sedikit sekali karya-karyanya yang dikenal orang. Ibnu Abi Usaibi’ah menganggap fi al-Buqa’ al-Maskunah wal Ghair al-Maskunah adalah sebagai karyanya. Kemudian Miguel Casiri menyebutkan dua karyanya yang masih ada, yaitu : Risalah Hayy Ibnu Yaqzan dan Asrar al-Hikmah al-Mashriqiyyah[1].                        

2.2  Karya-Karya Ibnu Thufail

Karya ibnu Thufail tidak begitu banyak, bahkan hanya satu yang tersisa sampai hari ini, Risalah Hayy Ibn Yaqzan.

Hayy Ibn Yaqzan bermakna yang hidup putra yang bangun. Hayy inbu yaqzan adalah tokoh utama dalam dalam karya tulis Ibnu Thufail, tetapi sebelumnya juga sudah dipakay oleh Ibnu Sina,sebagai tokoh utama dalam risalah pendeknya. Dalam risalah yang ditulis oleh ibnu sina, hayy ibn yaqzan diliukiskan sebagai seorang syekh tua yang ditangannya tertenggam kunci-kunci segenap pengetahuan, yang ia terima dari bapanya[2].

Namun dalam risalah hayy inbu yaqzan ibnu Tufail menceritakan. Dimulai dengan kelahiran mendadak Hay disebuah pulau kosong. Kemudian dia dibuang ditempat terpencil oleh saudara perempuan seorang raja. Dengan maksud agar perkawinannya dengan yaqza tetap terahasiakan. Dimana tempat membuangan tersebut tidak diketahui oleh kehidupan masyarkat. Ditempat itu ia diberi makan oleh seekor rusa kecil. Disamping itu ia diajarai oleh pokiran alamiayah atau akal sehat, walaupu tak masuk akal, agar dia bisa menyelidiki rahasia segala benda. Ripana binatang tersebut mempunyai kesadaran akan ketelanjangannya dan ketiadaan perlinduangan atas dirinya. Anak tersebut dunamakan oleh iinbu Tufail adalah Hay ibnu Yaqzan.

Penghidupan Hay kemudian berkembang mengikuti masyarakat yang amat primitif itu muali dari langkahnya yang pertama. Dilihatnya semua hewan tertutup auratnya dengan kulit dan bulu. Lalu ditirinya. Diambillah bulu-bulu brung dan daun-daun kayu guna menutup auat.

Pada suau hari terlihat oleh Hay terjadi kebakaran dipulau itu. Api itu diambilnya, lalu dinyalakannya kayu-kayu terus menerus. Dengan kayu itu dicobanya membakar burung, lalu terasa baginya makannya yang lebih lezat setelah dimasak itu. Dia muali berburu hewan guna dimasak dan dimakan. Guna teman berburu itu lalu dipeliharanya seekor anjing. Makanan yang berlebih disimpan untuk hari berikitnya. Dengan ini timbullah peradabannya yang pertama.

Pada suau hari kijang yang megurusnya sejak kecil sakit dan makin hari maikn lemah, akhirnya tidak bergerak lagi, yaitu mati. Seekor hewan mati dengan sendrirnya tanpa pembunuhan. Akhirnya Hay mulai memikirkan sunguh-sungguh mengapa ada peristiwa kematian itu. Kemudian badan kijang itu dioprasinya, diperiksanya kalau-kalau ada anggotanya yang rusak. Ternyata semuanya masih lengkap, dan akhirnya Hay mengerti bahwa sebab kematian itu berada diluar badannya. Dia bertanya, siapakah yang berkuasa diluar pengakuan ketuhanan. Dia percaya kepada tuahan, dan ida juga tidak lagi mementingkan benar soal makan sebab akhirnya dia juga akan mati.

Selian itu tersebut pula sebuah pulau lain yang lebih besar dan penduduknya banyak. Disana manusia hidup hanya mementingkan keduniaan dan berfoya-foya saja. Karena penghidupan maksiat itu, seorang penduduknya yang ailm mengasingkan dir dari pulau maksiat itu, lalu melarikan diri kepulau tempat Hay tinggal.

Disana ia berjumpa dengan Hay. Setelah ia mengajari Hay tutur bahasa manusia, maka mereka berduapun mengadakan tukar fikiran. Disinalah ibnu Tufail menggambarkan bagaimana alam pkiran Hay yang berkembag sendiri itu dapat saja sesuai pendapatnya dengan alam pikiran sialaim yang terpelajar dari masyarakat ramai itu.

Suatu waktu keduanya meninggalkan pulau terasing itu denganmengembara kesebuah kota yang ramai. Disana keduanya mengajariorang banyak agar mereka menjauhi dunia. Ditengah masyarakat ramai ini Hay melihat bagaimana manusia hidup berfoya-foya dan mengejar kekayaan semata-mata. Mula-mula Hay mengkritik siitem zakat ang dianggapnya menyebabkan orang berlomba-lomba mengejar kekayaan. Akan tetapi, kritik Hay itu dibantah oleh temannya bahwa zakat itu malahan yang menutun orang banyak itu. Kekayaan mereaka diatur eloh agama untuk kebahagian orang-orang miskin.

Hay kemudian mengerti maksud agama yang menuntun langsuang secara praktis fitrah dan keselamatan orang banyak itu. Akirnya dalam buku ini dikatakan bagaimana Hay dan temannya pulang kembali kepulau tempat mereka mengasingkan diri hingga meninggal[3].

 

2.3  Pemikiran Ibnu Tufail

pola Filsafat Ibnu Tufail

secara filosofis, karya Ibnu Tufail Hay Ibn Yaqan merupakan suatu pemaparan yang hebat tentang teori Ibnu Tufail mengenai pengetahuan, yang berupa menyelaraskan Aristoteles dengan Neo-Platonis disatu pihak, dan Al-Ghazali dengan Ibnu Bajjah dipihak lain. Al-Ghazali sangat kritis dan dogmatis terhadap rasionalismenya Aristoteles, tetapi Ibnu Bajjah adalah pengikut sejati Aristoteles. Ibnu Tufial, mengikuti jalan tengah, menjembati jurang pemisah antara dua pihak itu. Sebagai seorang rasionalis, dia memihak Ibnu Bajjah dalam melawan Al-Ghazali dan mengubag tasawauf menjadi rasionalisme. Adapau sebagai ahli tasawuf, dia memihak Al-Ghazali dalam melawan Ibnu Bajjah dan mengubah rasionalisme menjadi tasawuf.

Selain itu, pola filsafat yang ditawarkan oleh Ibnu Tufail adalah proses untuk mencapai tujuan. Apakah proses itu benar dan baik atau tidak. Hal itu akan terlihat dari tujuan yang hedak dicapai. Pada tulisan Nadhim Al-Jisr dlam buku Qissat Al-Iman yang dikutip Ahmad Hanafi, diebutkan bahwa Ibnu Tufail hendak mengemukakan kebenaran-kebenaran dengan berbagai tujuan yang menyelaraskan filsafat dengan syara. Tujuan itu sebagai berikut:

  1. Urut-urutan tangga makrifat (pengetahuan) yang ditempuh oleh akal, dimulai dari objek-objek indrawi yang khusus sampai pada pikiran-pikiran universal.
  2. Tanpa pengajaran dan petunjuk, akal manusia bisa mengetahui wujud tuhan, yaitu dengan melalui tanda-tandanya pada makhluk-Nya, dan menegakan dalil-dalil atas wujud-Nya itu.
  3. Akal manusia ini kadang-kadang mengalami ketumpulan dan ketidak mampuan dalam mengemukakan dalil-dalil pikiran, yaitu ketika hendak menggambarkan keazalian mutlak, ketidak akhiran, zaman, qadim, huduts (baru), dan hal-hal lain yang sejenis dengan itu.
  4. Baik akal menguatkan qadim-Nya alam atau kebaharuannya, namuan kelanjutan dari kepercayaan tersebut adalah satu juga, yaitu adanya Tuhan.
  5. Manusia dengan akalnya sanggup mengetahui dasar-dasar keutaman dan dasar-dasar akhlak yang bersifat alami dan kemasyarakatan, serta berhiaskan diri dengan keutaman dsar akhlak tersebut, disamping menundukan keinginan-keinginan badan pada hukum pikiran, tanpa melalaikan hak badan atau meningglkannya sama sekali.
  6. Apa yang dipertahankan oleh syariat islam, dan apayan diketahui akal yang sehat dengan sendirinya, berupa kebenaran, kebaikkan dan keindahan dapat bertemu kedua-duanya dalam satu titik tanpa diperselisihkan lagi.
  7. Pokok dari semua hikmah ialah apa yang telah  ditetapkan oleh syarat, yaitu mengarahkan pembicara kepada orang lain menurut kesanggupan akalnya, tanpa membuka kebenaran dan rahasis-rahasi filsafat kepada mereka. Juga pokok pangkal segala kebaikan ialah menepati batas-batas syara dan meningglkan pendalaman sesuatu.

 

 

Dunia

Apakah dunia itu kekal, atau diciptakan dari ketiadaan atas kehandak-Nya?. Inilah salah satu masalah penting yang paling menantang dalam filosofis muslim. Ibnu Tufail sejalan dengan kemahiran dialektisnya menghadapi masalah itu dengan tepat. Dia tidak menganut slah satu doktrin saingannya, dan dia juga tidak berusaha mendamaikan mereka. Dilain pihak dia mengecam dengan pedas pengikut Aristoteles dan sikap-sikap teologis.

Kekekalan dunia melibatkan konsp eksistensi tak terbatas. Eksistensi semacam itu tidak dapat lepas dari kejadian-kejadian yang diciptakan dan tidak mungkin ada sebelum kejadian-kejadian yang tercipta itu pasti tercipta secara lambat laun.

Menurut Al-Ghazali, ia mengemukakan bahwa gagasan mengenai kemaujudan sebelum ketidak maujudan tidak dapat difahami tanpa anggapan bahwa waktu itu telah ada sebelum dunia ada, akan tetapi waktu itu sendiri merupakan suatu kejadian tak terpisahkan dari dunia, dan karena itu kemaujudannya mendahului kemaujudan dunia.

Segala yang tercipta pasti membutuhkan pencipta. Tidak ada sesuatupun ada sebelum Dia, dan segala sesuatu pasti ada dan akan terjadi atas kehendak-Nya.

Antinomi (kontradiksi antar prinsip) ini dengan jelas menerangkan bahwa kemampuan nalar (Kant) ada batasnya dan argumentasinya akan mendatangkan kontradiksi yang membingungkan.

Tuhan

Penciptaan dunia yang lambat laun itu mensyaratkan adanya satu pencipta yang mesti bersifat immaterial, sebab materi yang merupakan suatu kejadian dunia diciptakan oleh satu pencipta. Dunia tak bisa maujud dengan sendirinya, pasti dan harus ada penciptanya.

Jika Tuhan bersifat material, maka akan membawa suatu kemunduran yang tiada akhir. Oleh karena itu, dunia ini pasti mempunyai pencipta yang tidak berwujud benda, dan karena Dia bersifat immaterial, maka kita tidak bisa mengenali-Nya lewat indera kita atau lewat imajinasi. Sebab imajinasi hanya menggambarkan hal-hal yang dapat ditangkap oleh indera.

Kosmologi Cahaya

Manifestasi kemajemukan kemaujudan dari yang satu dijelaskan dalam gaya Neo-Platonik yang monoton, sebagai tahap berurutan pemancaran yang berasal dari cahaya Tuhan.

Proses tersebut pada prinsipnya sama dengan refleksi terus menerus cahaya matahari pada cermin. Cahaya matahari yang jatuh pada cermin menunjukkan kemajemukan. Semua itu merupakan pantulan cahaya matahari, bukan matahari itu sendiri, juga bukan cermin itu sendiri. Hal yang sama berlaku juga pada cahaya pertama (Tuhan) beserta perwujudannya di dalam kosmos.

Epistimologi

Jiwa dalam tahap awalnya bukanlah suatu tabula rasa atau papan tulis kosong. Melainkan Imaji Tuhan telah tersirat didalamnya sejak awal, tetapi untu menjadikannya tampak nyata, kita perlu memulai denga pikiran yang jernih tanpa prasangka.

Pengalaman merupakan suatu proses mengenal lingkungan lewat indera. Organ-ogan indra ini berfungsi berkat jiwa yang ada dalam hati. Pengamatan memberi kita pengetahuan mengenai benda-benda yang induktif, dengan alat pembanding dan pembedanya dikelompokkan menjadi mineral, tanaman, dan hewan. Setiap kelompok benda ini memperlihatkan fungsi-fungsi tertentu yang membuat kita menerima bentuk-bentuk atau jiwa-jiwa sebagai penyebab fungsi-fungsi tertentu berbagai benda.

Ibnu Tufail akhirnya berpaling kepada disiplin jiwa yang membawa kepada ekstase, sumber tertinggi pengetahuan. Dalam taraf ini, kebenaran tidak lagi dicapai lewat proses deduksi atau induksi, melainkan secara langsung dan intuitif lewat cahaya yang ada didalamnya. Jiwa menjadi sadar diri dan mengalami apa yang tak pernah dilihat mata, didengar telinga, atau dirasa oleh hati.

Etika

Bukan kebahagiaan duniawi, melainkan penyatuan sepenuhnya dengan Tuhanlah yang merupakan “summum bukmun” (kebaikan tertinggi) etika. Perwujudannya setelah pengembangan akal induktif dan deduktif.

Menurut de Boer manusia merupakan perpaduan suatu tubuh jiwa hewani dan esensi non-bendawi, dengan demikian menggambarkan binatang, angkasa, dan Tuhan. Karena itulah pendakian jiwanya terletak pada pemuasan ketiga aspek tersebut. Pertama, ia terikat untuk memenuhi kebutuhan tubuhnya serta menjaganya dari cuaca buruk dan binatang buas. Kedua, menuntut darinya kebersihan pakaian dan tubuh, kebaikan terhadap objek-objek hidup dan tak hidup. Ketiga, yaitu pengetahuan, kekuasaan, kebijaksanaan, kebebasan dari keinginan jasmaniah, dll.

Filsafat dan Agama

Filsafat merupakan suatu pemahaman akal secara murni atas kebenaran dalam kosep-konsep dan imajinasi yang sesungguhnya, serta tak dapat dijangkau oleh cara-cara pengungkapan konvensional. Dunia angkasa yang abstrak dan non-bendawi tidak dapat dijangkau, bila ia dilukiskan dengan lambang-lambang bendawi maka ia akan kehilangan esensinya, dan bisa jadi orang-orang menganggapnya tidak sebagaimana seharusnya.

Agama diperuntukkan bagi semua orang; tetapi filsafat hanya bagi orang-orang berbakat yang sedikit jumlahnya. Filsafat harus difahami secara bersamaan dengan agama. Keduanya membawa kepada kebenaran yang sama, tetapi dengan cara yang berbeda. Mereka berbeda bukan hanya dalam metode dan lingkup, tapi juga dalam taraf rahmat yang mereka anugerahkan kepada para pengikut setia mereka.

Agama melukiskan dunia atas dengan lambang-labang eksoteris. Dia penuh dengan perbandingan, persamaan, dan gagasan-gagasan antropomorfis, sehingga akan lebih mudah difahami oleh orang lain, mengisi jiwa dengan hasrat dan menarik mereka kepada kebajikan dan moralitas.

Filsafat dilain pihak merupkan bagian dari kebenaran esoteris. Ia berupaya menafsirkan lambang-lambang agama tentang konsep-konsep imaji murni yang berpuncak pada suatu keadaan yang didalamnya terdapat esensi ketuhanan dan pengetahuannya menjadi satu. Persepsi rasa, nalar, dan intuisi merupakan dasar-dasar pengetahuan filsafat. Para nabi pun memiliki intuisi, sumber utama pengetahuan mereka adalah wahyu Tuhan. Pengetahuan nabi didapat secara langsung dan pribadi, sedangkan pengetahuan para pengikutnya didapat dari wasiat.

Pengaruh

Diantara karya Ibnu Tufail, hanya Risalah Hayy ibn Yaqzan sajalah yang masih ada sampai sekarang. Karya tersebut merupakan suatu roman filsafat pendek, tetapi pengaruhnya sangat besar terhadap generasi berikutnya sehingga karya tersebut dianggap sebagai salah satu buku paling mengagumkan dari zaman pertengahan.

Mengenai metodenya, ia bersifat filosofis sekaligus mistis. Ia menyatukan kesenangan dan kebenaran dengan jalan menggunakan imajinasi dan intuisi untuk membantu akal, dan daya tarik khusus inilah yang menjadikannya termasyhur dan mendorong orang untuk menerjemahkannya kedalam bahasa-bahasa lainnya. Bahkan sampai sekarang minat dunia terhadap karyanya belum hilang. Edisi bahasa Arab baru-baru ini dari Ahmad Amin, yang diikuti terjemahan bahasa Parsi dan Urdu pada dasawarsa yang sama, cukup menjadi bukti bahwa karya Ibnu Tufail tak kalah memikat bagi dunia modern, sebagaimana ia memikat dunia pada zaman pertengahan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUPAN

3.1 kesimpulan

Nama lengkapnya adalah Abu Bakr Muhammad ibnu Abd Al-Malik ibn Muhammad Ibnu Thufail (Latin, Abubacer), pemuka besar pertama pemukiran filsuf Muwahhid dari Sepamyol, lahir pada dekade pertama abad ke-6 H/ke-12 M di Ouadix, diprovinsi Granada.

Karya ibnu Thufail tidak begitu banyak, bahkan hanya satu yang tersisa sampai hari ini, Risalah Hayy Ibn Yaqzan.

Hayy Ibn Yaqzan bermakna yang hidup putra yang bangun. Hayy inbu yaqzan adalah tokoh utama dalam dalam karya tulis Ibnu Thufail, tetapi sebelumnya juga sudah dipakay oleh Ibnu Sina,sebagai tokoh utama dalam risalah pendeknya. Dalam risalah yang ditulis oleh ibnu sina, hayy ibn yaqzan diliukiskan sebagai seorang syekh tua yang ditangannya tertenggam kunci-kunci segenap pengetahuan, yang ia terima dari bapanya.

filsafat yang ditawarkan oleh Ibnu Tufail adalah proses untuk mencapai tujuan. Apakah proses itu benar dan baik atau tidak. Hal itu akan terlihat dari tujuan yang hedak dicapai. Pada tulisan Nadhim Al-Jisr dlam buku Qissat Al-Iman yang dikutip Ahmad Hanafi, diebutkan bahwa Ibnu Tufail hendak mengemukakan kebenaran-kebenaran dengan berbagai tujuan yang menyelaraskan filsafat dengan syara. Tujuan itu sebagai berikut:

  1. Urut-urutan tangga makrifat (pengetahuan) yang ditempuh oleh akal, dimulai dari objek-objek indrawi yang khusus sampai pada pikiran-pikiran universal.
  2. Tanpa pengajaran dan petunjuk, akal manusia bisa mengetahui wujud tuhan, yaitu dengan melalui tanda-tandanya pada makhluk-Nya, dan menegakan dalil-dalil atas wujud-Nya itu.
  3. Akal manusia ini kadang-kadang mengalami ketumpulan dan ketidak mampuan dalam mengemukakan dalil-dalil pikiran, yaitu ketika hendak menggambarkan keazalian mutlak, ketidak akhiran, zaman, qadim, huduts (baru), dan hal-hal lain yang sejenis dengan itu.
  4. Baik akal menguatkan qadim-Nya alam atau kebaharuannya, namuan kelanjutan dari kepercayaan tersebut adalah satu juga, yaitu adanya Tuhan.
  5. Manusia dengan akalnya sanggup mengetahui dasar-dasar keutaman dan dasar-dasar akhlak yang bersifat alami dan kemasyarakatan, serta berhiaskan diri dengan keutaman dsar akhlak tersebut, disamping menundukan keinginan-keinginan badan pada hukum pikiran, tanpa melalaikan hak badan atau meningglkannya sama sekali.
  6. Apa yang dipertahankan oleh syariat islam, dan apayan diketahui akal yang sehat dengan sendirinya, berupa kebenaran, kebaikkan dan keindahan dapat bertemu kedua-duanya dalam satu titik tanpa diperselisihkan lagi.
  7. Pokok dari semua hikmah ialah apa yang telah  ditetapkan oleh syarat, yaitu mengarahkan pembicara kepada orang lain menurut kesanggupan akalnya, tanpa membuka kebenaran dan rahasis-rahasi filsafat kepada mereka. Juga pokok pangkal segala kebaikan ialah menepati batas-batas syara dan meningglkan pendalaman sesuatu.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

http://id.wikipedia.org/wiki/Ibnu_Tufail

http://tokoh.blogspot.com/2005/11/ibnu-tufail-pakar-ilmu-hukum-perubatan.html

http://id.shvoong.com/humanities/philosophy/2095575-pengertian-ibnu-tufail/

Mustofa. 2009. Fisafat Islam. Bandung : Pustaka Setia.

Supriadi, Dedi. 2009. Pengantar Fisafat Islam Konsep, Filsuf Dan Ajarannya. Bandung :Pustaka Setia.

 

 

 

 

 

 


[2] Supriadi, Dedi. Pengantar Fisafat Islam Konsep, Filsuf Dan Ajarannya. Bandung :Pustaka Setia. 2009. Hlm 213.

[3] Mustofa. Fisafat Islam. Bandung : Pustaka Setia. 2009. Hlm 274. 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s