filsafat ibnu bajjah


 

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar belakang

Filsafat Yunani merupakan salah satu bagian dari khazanah keilmuan yang telah dipelajari oleh banyak orang diseluruh dunia, bahkan dalam dunia Islam  pun telah banyak yang mempelajarinya, sehingga dikenal dengan sebutan Filsafat Islam, hal ini terjadi dikarenakan yang mempelajarinya itu berasal dari orang-orang yang beragama islam, serta berasal dari dunia islam, salah satunya adalah Ibnu Bajjah. Dia merupakan salah seorang Filosof Muslim dari dunia barat yang sangat menyenangi pada dunia Filsafat Yunani sehingga tidak salah dia dikenal sebagai avempace oleh orang-orang barat.

Namun yang akan menjadikan sebuah topik diskusi pada pembuatan makalah ini adalah siapakah Ibnu Bajjah tersebut? Dari manakah asalnya? Serta apa sajakah konsep-konsep pemikiran yang menjadi ciri khasnya? Semuanya itu akan kita ungkap sedikitnya pada makalah ini.

Akhirnya hanya kepada Allah lah kami meminta dan hanya kepada Allah lah kami memohon pertolongan, semoga makalah ini bisa bermanfaat bagi kita semua.

 

 

Bandung, 9 Maret 2011

 

 

 

    Tim Penyusun

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. Riwayat Hidup dan Karyanya

Abu Bakar Muhammad Ibn Yahya Al-Sha’igh, yang dikenal sebagai Ibn Bajjah atau Avempace (meninggal tahun 533 H/ 1138 M, berasal dari keluarga al-Tujib, karenanya ia juga dikenal sebagai al-Tujibi. Ibnu Bajah lahir di Saragossa menjelang akhir abad ke-5 H/11 M, dan besar di sana. Ibnu Bajjah adalah filosof muslim yang pertama dan utama dalam sejarah kefilsafatan di Andalusia.[1]

Para ahli sejarah sama memandangnya sebagai orang yang berpengetahuan luas dan mahir dalam berbagai ilmu. Fath Ibn Khaqan, yang telah menuduh Ibn Bajjah sebagai ahli bid’ah dan mengencamnya dengan pedas dalam karyanya  Qala’id al ‘Iqyan, pun mengakui keluasan pengetahuannya dan tidak meragukan kepandaiannya. Karena menguasai sastra, tatabahasa dan filsafat kuno, oleh tokoh-tokoh sezamannya dia telah disejajarkan dengan al-Syaikh al-Rais ibn Sina.

Karena terkenalnya dia dalam penguasaan berbagai ilmu pengetahuan, Abu Bakar Sahrawi, Gubernur Saragossa, mengangkatnya sebagai pejabat tinggi dalam pemerintahannya. Tapi ketika Saragossa jatuh ke tangan Alfonso I, Raja Aragon, pada tahun 512 H/1118 M, Ibn Bajjah sudah meninggalkan kota itu dan tiba di Seville lewat Valencia, tinggal disana dan menjadi Tabib.

Setibanya di Syatibah, Ibn Bajjah dipenjarakan oleh Amir Abu Ishaq Ibrahim Ibn Yusuf Ibn Tasyifin, sangat boleh jadi karena dituduh sebagai ahli bid’ah. Tapi menurut Renan, dia dibebaskan, barangkali atas anjuran muridnya sendiri, Bapa Filosof Spanyol termasyhur Ibn Rusyd.

Kemudian, setibanya di Fez, Ibn Bajjah memasuki Istana Gubernur abu Bakr Yahya Ibn Yusuf Ibn Tasyifin, dan menjadi pejabat tinggi berkat kemampuan dan pengetahuannya yang langka. Dia memegang jabatan tinggi itu selama dua puluh tahun.

 

  1. Tokoh-tokoh Sezamannya

Untuk mengemukakan para ahli pikir yang sezaman dengan Ibnu Bajjah, kami hanya mendapatkan sumber keterangan yang kuat dari muridnya sendiri, Ibn Imam, dan lewat dia di peroleh bahan-bahan mengenai tulisan-tulisannya. Al-Wazir Abu al-Hasan Ali Ibn Abd al-Aziz Ibn al-Imam, seorang murid setia Ibnu Bajjah, melestarikan tulisan-tulisan tokoh itu dalam suatu antologi (bunga rampai), yang di situ dia memberikan kata pendahuluannya.

  1. Karya Tulisnya

Menurut Ibnu Thufail, Ibnu Bajjah adalah seorang filosof Muslim yang paling cemerlang otaknya, paling tepat analisisnya, dan paling benar pemikirannya. Namum, amat disayangkan pembahasan filsafatnya dalam beberapa bukunya tidaklah matang dan sempurna. Ini disebabkan ambisi keduniaanya yang begitu besar dan kematiannya yang begitu cepat.[2]

Karya tulis Ibnu Bajjah yang terpenting dalam filsafat :

  1. a.      Kitab Tadbir al-Mutawahhid, ini adalah kitab yang paling popular dan penting dari seluruh karya tulisnya.
  2. b.       Risalat al-WadaI, risalah ini membahas Penggerak pertama (Tuhan), manusia, alam, dan kedokteran.
  3. c.       Risalat al-IttishalI, risalah ini menguraikan tentang hubungan manusia dengan Akal Fa’al.
  4. d.      Kitab al-Nafs, kitab ini menjelaskan tentang jiwa.
  5. e.       Tardiyyah, berisi tentang syair pujian.

Adapun karya-karya Ibnu Bajjah yang lainnya, di bawah ini kami berikan daftar karya-karya Ibnu Bajjah :

  1. The Bodleian MS., Arabic Pococke, No. 206, berisi 222 folio.[3] Ditulis pada bulan Rabi’ul Tsani 547 H/1152 M di Qus.
  2. The Berlin MS. No. 5060 (lihat Ahlwardt: Catalogue), hilang pada masa Perang Dunia II.
  3. The Escurial MS. No. 612. Hanya berisi risalah-risalah yang ditulis oleh ibn Bajjah sebgai penjelasan atas risalah-risalah al-Farabi dalam masalah logika. Karya itu ditulis pada tahun 667 H/1307 M di Seville
  4. The Khediviah MS. Akhlaq No. 290. Telah dierbitkan oleh Dr. Omar Farrukh dalam bukunya ibn Bajjah wal-Falsafah al-Maghribiyyah. Sebagai perbandingan, dapat dikatakan bahwa buku itu merupakan ringkasan dari Tadbir al-Mutawahhid.
  5. Brockelmann menyatakan bahwa The Berlin Library memiliki sebuah syair pujian karya ibn Bajjah berjudul Tardiyyah.

 

  1. Filsafat Ibnu Bajjah

Filsafat Ibnu Bajjah banyak terpengaruh oleh pemikiran Islam dari kawasan Timur, saperti Al-Farabi dan Ibnu Sina. Hal ini disebabkan kawasan Islam di Timur lebih dahulu melakukan penelitian ilmiah dan kajian filsafat dari kawasan Islam bagian Barat (Andalus), di bawah ini beberapa pemikiran filsafatnya :

  1. Materi dan Bentuk

Dalam sebuah buku yang ditulis oleh DR.H.A.Mustafa sebagaimana mengutip pendapat De Boer bahwa : “Ibnu Bajjah memulai deasumsi bahwa materi itu tidak bisa berinteraksi tanpa adanya bentuk sedangkan bentuk tidak dapat berinteraksi dengan sendirinya, tanpa harus adanya materi”. Tetapi pernyataan ini salah. Menurut Ibnu Bajjah materi apat berinteraksi harus ada bentuk. Dia beragumen jika materi berbentuk, maka ia akan berbagi menjadi materi dan bentuk dan begitu seterusnya, ad infinitium. Ibnu Bajjah mengatakan bahwa bentuk pertama merupakan suatu abstrak yang bereksistensi dalam materi yang dikatakan sebagai tidak mempunyai bentuk[4].Dalam setiap karya tulis Ibnu Bajjah, kata bentuk digunakan untuk berbagai pengertian diantaranya adalah kata jiwa, sosok, kekuatan, makna, serta konsep. Menurut pendapatnya bahwa bentuk suatu tubuh memiliki tiga tingkatan :

  1. Bentuk jiwa umum atau bentuk intelektual
  2. Bentuk kejiwaan khusus
  3. Bentuk fisik

 

  1. Mutawahid

Dalam Tadbir Al-mutawahid mula-mulannya Ibnu Bajjah menjelaskan bahwa makna tadbir adalah suatu keinginan untuk menata serta mengatur segala aktifitas dalam segala kehidupannya agar tercapai suatu tujuan dan harapan yang mulia. Seseorang hendaknya berusaha unuk bisa hidup dalam suatu pemerintahan yang sempurna yaitu suatu tatanan masyarakat yang berusaha untuk mau menjalani kehidupannya dalam sebuah tujuan yang mulia. Sehingga ketika dalam suatu pemerintahan telah mencapai suatu tatanan masyarakat yang sempurna maka masyarakatpun tidak memerlukan lagi dokter jiwa maupun dokter badan serta bisa menghindarkan diri dan masyarakat dari dekadensi moral.

Akan tetapi jika bentuk pemerintahannya tidak sesuai dengan yang kita harapkan atau tidak berada dalam suatu tatanan yang mulia, maka hendaknya ada sekelompok orang yang berusaha untuk mencapai hal tersebut.

 

  1.  Etika

Menurut Ibnu Bajjah, perbuatan manusia itu dapat dikelompokan menjad dua bagian, yang pertama yaitu perbuatan manusia artinya suatu keinginan yang didorong oleh kemauan atau dorongan yang berasal dari akal itu sendiri. Kedua, perbuatan hewani yaitu suatu perbuatan yang muncul karena berasal dari dorongan insting. Sebagai contoh, yaitu ketika seseorang ingin  makan dan minum maka hal itu termasuk pada perbuatan hewani, akan tetapi jika tujuan dari melakukan aktifitas tersebut untuk melakukan suatu kegiatan berdasarkan pertimbangan akal maka hal itu dikelompokan pada perbuatan manusiawi.

Menurut Ibnu Bajjah, seseorang hendaknya selalu berusaha agar bisa menundukan segala potensi hewaninya, akan tetapi jika dia tidak bisa menundukan potensinya maka dia tidak ubahnya seperti hewan. Bahkan hewan pun lebih baik derajatnya karena dia dari awal hingga akhir selalu tunduk pada potensi hewaninya.

Dalam upaya untuk mencari sebuah klasifikasi apakan sesuatu itu dapat digolongkan terhadap perbuatan hewani atau manusiawi, maka diperlukanlah pengertian spekulasi disamping kemauan. Dari sifat spekulasi dan kemauan ini kemudian Ibnu Bajjah membagi kebajikan menjadi dua jenis yaitu kebajikan Formal dan kebajikan Spekulatif. Kebajikan Formal diartikan sebagai suatu keadaan yang dibawa sejak lahir tanpa adanya pengaruh yang bersifat spekulatif. Sedangkan kebajikan Spekulatif adalah keadaan yang mendorong seseorang atas dasar kemauannya sendiri dan spekulatif.

  1. Filsuf dan Nabi

Menurut Ibnu Bajjah, seorang filosof termasuk pada manusia yang mulia karena selalu condong kepada kebaikan dan berusaha untuk mencapai suatu kebajikan yang sempurna.

Dalam sebuah buku yang ditulis oleh Amroeni Drajat mengatakan bahwa: Ibnu Bajjah juga mengulas perihal aksiden-aksiden ruhiyah yang bisa menyembul dalam diri manusia, yaitu

  1. Aksiden bentuk pertama yang muncul karena adanya daya indera
  2. Aksiden bentuk kedua yang muncul karena adanya tabiat, seperti rasa haus yang merangsang seseorang untuk segera mencari air
  3. Aksiden bentuk ketiga yang muncul karena aktifitas pemikiran
  4. Aksiden bentuk keempat(aksiden ruhani) yang muncul akibat pengaruh akal aktif[5].

Dua aksiden pertama dimiliki oleh hewan dan manusia, dan selanjutnya hanya dimiliki oleh manusia. Filsuf dan nabi termasuk pada golongan aksiden jenis keempat ini.

  1. Akal dan Pengetahuan

Menurut Ibnu Bajjah, pengetahuan yang benar dapat diperoleh melalui akal dan pada akal inilah terdapat berbagai saran yang dapat digunakan untuk mencapai suatu kemakmuran dan membangun kepribadiannya, oleh karena itulah akal merupakan bagian dari manusia yang sangat penting.

Wawasan yang paling tinggi adalah akal yang berwawasan ruh, dimana ia merupakan rahmat dari tuhan. Wawasan yang sempurna ia dimiliki oleh para nabi. Dan pengetahuan yang paling tinggi adalah mengenai tuhan sendiri dan para malaikat-Nya, baru kemudian pengetahuan tentang kejadian yang akan terjadi di alam ini. Selain para nabi yang memperoleh pengetahuan semacam itu, juga orang shaleh yang meliputi para wali tuhan dan para sahabat nabi. Kemudian sejumlah orang yang dikaruniai wawasan oleh tuhan[6].

 

 

  1. Jiwa

Ketika Ibnu Bajjah mulai membahas tentang apa itu jiwa, maka ia mulai menggunakan sebuah teori fisika untuk menjelaskan mengenai itu semua. Lalu dia mulai dengan definisi jiwa dan mengatakan bahwa tubuh, baik yang alamiah maupun yang tidak alamiah tersusun atas materi dan bentuk, untuk tubuh alamiah bergerak tanpa harus digerakan, aktif tanpa harus diaktifkan yang intinya adalah bergerak sesuai dengan apa adanya. Sedangkan tubuh yang tidak alamiah ini memiliki suatu penggerak luar yaitu jiwa.

Setiap jiwa, baik yang alamiah maupun yang tidak alamiah memiliki suatu keinginan atau biasa disebut hasrat agar eksistensi dari jiwa itu tetap optimal, oleh karena itulah Ibnu Bajjah membagi jiwa sendiri atas tiga unsur yaitu :

  1. Hasrat Imajinatif, yaitu suatu keinginan untuk memperoleh anak keturunan yang secara naluri ingin dibesarkan, diberi rasa cinta, asih saying, dan sebagainya
  2. Hasrat Menengah, yaitu timbulnya keinginan untuk memenuhi kebutihan makanan, rumah, seni,dan ilmu
  3. Hasrat Berbicara, yang melaluinya timbul suatu pengajaran, hal ini merupakan hasrat khusus yang hanya dimiliki oleh manusia.

Salah satu sifat khas dari jiwa adalah berkeinginan untuk mendapatkan objek yang bersifat kekal. Keinginan ini disebut kesenangan dan tiadanya kehendak menemukan kejemuan dan kesakitan. Meskipun manusia tidak akan memperoleh yang namanya kekekalan tersebut namun ia masih tetap ingin mendapatkannya.

  1. Filsafat Politik

Dalam tadbir al-Mutuwaahid (rezim satu orang), Ibnu Bajjah sangat setuju dengan pendapat al-Farabi yang mengatakan bahwa negara itu terdiri atas negara yang sempurna dan tidak sempurna, individu dari suatu negara akan berbeda pula dengan negara yang lain seperti ada yang  ingin diperintah dan ada yang ingin memerintah. Namun Ibnu Bajjah memberikan sedikit tambahan pada konsep al-Farabi ini yaitu manusia yang memerintah secara sendirian itu (mutawaahid atau filosof yang berfikiran tajam) harus berada lebih tinggi dari orang lain pada kesempatan-kesempatan tertentu.

Bahkan dalan salah satu hasil karyanya yang lain Ibnu Bajjah memberikan dua fungsi alternatif negara :

  1. Untuk menilai perbuatan rakyat guna membimbing mereka mencapai tujuan yang mereka inginkan. Fungsi ini paling baik dilakasanakan pada negara ideal oleh seorang penguasa yang berdaulat
  2. Fungsi alternatif ini yaitu merancang cara-cara mencapai tujuan tertentu, sama seperti seorang penunggang kuda yang mahir. Ini merupakan fungsi pelaksana-pelaksana negara-negara yang ideal. Dalam hal ini seorang pemimpin menerapakan system tradisional untuk menentukan seluruh tindakan rakya tersebut

 

  1. Tasawuf

Menurtut Ibnu Bajjah setiap manusia dikuasai oleh keinginan yang bersifat jasmaniah saja maka dia berada pada tingkat yang paling bawah, sedangkan yang lebih condong pada sesuat yang bersifat spiritualitas maka dia berada pada tinggak sangan langka.

Dia mengatakan bawa setiap manusia sudah sangat semestinya tunduk dan patuh pada ketentuan yang telah allah berikan karena tuhan sangat tahu akan apa yang sebenarnya kita butuhkan. Untuk menunjang bahwa tuhan adalah pencipta utama segala tindakan, Ibnu Bajjah mengacu pada pandangan al-Ghazali yaitu prinsip pertama itu menciptakan agen-agen dan objek-objek tindakan dan sebagaimana al-Farabi mengatakan semuanya berkaitan dengan prinsip sebab pertama itu merupakan pencipta mereka.

BAB III

KESIMPULAN

 

  1. Kesimpulan

Ibnu Bajjah merupakan salah seorang dari filofof dunia barat yang berasal dari islam, bahkan dia disebut sebagai avempace. Pada zamannya dia terkenal karena bisa menguasai dua belas macam ilmu pengetahuan, meskipun telah banyak yang mengecapnya sebagai orang yang selalu berbuat kebid’ahan namun namanya masih tetap terkenang oleh umat muslim. Sehingga suatu hari dia diberi kepercayaan untuk menduduki suatu jabatan tertentu pada saat itu hingga mencapai dua puluh tahun.

Diantara berbagai karya yang telah dihasilkannya adalah Kitab Tadbir al-Mutawahhid, Risalat al-WadaI, Risalat al-IttishalI, Kitab al-Nafs, Tardiyyah, dan sebagainya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Drajat,Amroeni. Filsafat islam buat yang pengen tau.Erlangga.2008.jakarta

Syarif,M,M.Filosof Muslim.Mizan.1985.bandung

Sirajudin,Zar.Filsafat islam.rajawali pers.2004.jakarta

Mustofa,A.filsafat islam.cv pustaka setia.2009.bandung

T. J. De Boer, Tarikh al-falsafat fi al-islam.KAiro.1962

 


[1] T. J. De Boer, Tarikh al-falsafat fi al-islam, Terj. Muhammad Abd Al-HAdi Abu ZAidah, (KAiro: Mathba,at al-Taklif, 1962), hlm. 280.

[2] Majid Fakhry, op.cit., hlm. 360.

[3] Untuk detilnya lihat Ma’arif, Azamgarh, 1954, LXXIII 73, No. 2.

[4] Ibid hal.259

[5] Drajat,amroeni. Filsafat islam buat yang pengen tau.erlangga.2008.jakarta hal.66-67

[6] Ibid hal.263

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s