etika protestan dan proses sekularisasi


ETIKA PROTESTAN DAN PROSES SEKULARISASI

Terlepas dari kepercayaan yang di anut, Protestantisme merupakan satu dobrakan utama terhadap tradisi. Sama halnya, munculnya Kapitalisme membutuhkan suatu keadaan dimana sejumlah tekanan tradisional terhadap kegiatan ekonomi itu hilang. Namun yang ditekankan Weber adalah bahwa ide-ide tertentu dalam Protestantisme memperlihatkan suatu perubahan dari Tradisionalisme ke suatu orientasi yang lebih rasional.

Pengaruh-pengaruh ini tidaklah terbatas pada dunia Ekonomi saja. Merton, misalnya sudah menunjukan ada sejumlah orang Protestan di kalangan para ahli pada waktu itu yang berpendapat bahwa usaha mereka dalam bidang penelitian dilihat sebagai alatb untuk menemukan kebijaksanaan dan kekuasaan allah yang tidak terbatas[1]. Kepercayaan Protestan bagi semua orang didepan Allah dinyatakan dalam pertumbuhan institusi demokratis, khususnya di Amerika. Di Amerika juga, rangsangan awal untuk pendidikan umum yang universal merupakan keinginan protestan agar anak-anak sendiri mampu membaca Kitab Suci.

Orang-orang Protestan pada masa-masa awalnya tidak membayangkan akibat dari Etika asketik yang bersifat dalam dunia itu, yang dalam jangka panjang menghasilkan sekularisasi. Etika Protestan membawa sukses dalam bidang materi; godaan untuk menikmati hasil materi itu membantu hilangnya motivasi agama untuk mengikuti gaya hidup asketis yang di tuntut oleh Protetaniame. Sama halnya pengaruh agama protestan yang positif terhadap ilmu pengetahuan di ikuti oleh situasi dimana kepercayaan agama tradisional dari penganut protestan di rusak oleh pendekatan ilmiah dalam menjelaskan gejala alam. Yang di tekankan dalam agama protastan yaitu pada kegiatan dalam dunia ini ikut menghasilkan suatu situasi dimana dunia adiduniawi dam dunia sesudah kematian itu pelan-pelan hilang dari kesadaran.

Ide-ide Weber mengenai pengaruh etika protestan tidak di dasarkan pada analisa sejarah yang sistematis. Tujuannya bukan untuk menelusuri perkembangan sejarah Protestantisme. Sebaliknya, dia bergerak kurang lebih di antara berbagai cabang Protestantisme di berbagai periode dalam sejarah Protestan. Aliran-aliran utama dalam Protestantisme dari mana ia mengambil prinsip-prinsip utama mengenai etika Protestan mencakup Luther, Kalvinisme, Pietisme, Metodisme, dan sekte-sekte baptis.

PROTESTANTISME DIBANDINGKAN DENGAN AGAMA-AGAMA DUNIA LAINNYA

Kasus etika Protestan menggambarkan tekanan weber utama dalam teorinya yang berhubungan dengan peran dan independen dimana ide-ide agama dapat memainkan peran dalam menggalakn perubahan social. Dia juga merencanakan suatu study yang besar mengenai agama-agama besar lainnya, dengan menerbitkan monograf mengenai kofusianisme dan Taoisme di cina, Hinduisme dan Budisme di India, serta Judaisme. Akan tetapi Weber meninggal sebelum menyelesaikan karyanya. Salah satu tujuan utama dari study perbandingan ini adalah untuk memperlihatkan bahwa tanpa memandang kondisi-kondisi materil, tife kapitalisme Borjuis Barat modern tidak muncul di tempat dimana tidak ada orientasi agama asketis dalam dunia. Pengaruh  motivasional dari asketisme dalam dunia ini sangat bertentangan dengan mistisme luar dunia (other worldly mysticism).

Weber menganalisa agama sebagai suatu dasar utama bagi pembentukan kelompok status dan berbagai tife struktur kepemimpinan dalam kelompok agama dan motivasi di satu pihak dan gaya hidup serta kepentingan materil di lain pihak. Jadi, orang-orang di dalam lapisan-lapisan yang berbeda atau tife kondisi social dan materil yang berbeda akan berbeda pula dalam “selera” agamanya.

Dalam membandingkan berbagai agama dunia denga Protestantisme, tekanannya adalah pada pengaruh system kepercayaan agama-agama itu terhadap pola motivasi dan tindakan dalam dunia sekuler, khususnya dalam dunia Ekonomi.dunia materil ini dilihat sebagai suatu jenis perangkap yang besar, penuh ilusi dan penderitaan, dan menjauhkan diri dari dunia itu merupakan satu-satunya jalan keluar menuju Nirwana. Jelaslah gaya hidup rasional borjuis, uang mencerminkan komitmen terhadap kewajiban-kewajiban duniawi, hampir tidak dapat sesuia dengan orientasi agama ini.

Konfusianisme sebaliknya, merupakan suatu agama yang menolak dunia; pandangan hidup Konfusian menekankan bahwa suatu prinsif akal budi yang mutlak dan keteraturan meliputi seluruh alam semesta, termasuk dunia alamiah dan struktur social. Keteraturan ini tercermin dalam tradisi masyarakat sedangkan tujuan hidup utama yang ditekankan adalah  untuk menjadi terdidik secukupnya dalam tradisi-tradisi ini supaya penghargan terhadap rasionalitas yang mendalam mengenai rasionalitas yang lain dari pada rasionalitas tradisional sangatlah di batasi.

Dalam Yudaisme kuno, keterlibatan aktif di dalam meningkatkan perubahan dalam dunia materil dan sosial sangatlah dihidupkan, seperti halnya dalam Protestantisme. Tetapi keterlibatan ini dilihat sebagai persiapan untuk suatu abad Mesianis yang akan datang dan akan di mulai oleh suatu intervensi adiduniawi. Lebih penting lagi, konsep diri kolektif orang Yahudi sebagai orang yang terpilih, dan system etisnya yang Partikularistik mempersulit mereka untuk menjalin hubungan stabil dan langgeng dengan orang-orang dari Negara lain, meskipun rasionalisme ekonomi memungkinan mereka untuk berbuat demikian.

Tesis etika Protestan Weber sudah menimbulkan sejumlah tulisan yang tak terbilang jumlahnya dan sifatnya controversial. Diantara kecaman-kecaman itu beberapanya memperlihatkan bahwa banyak sekali orang Katolik Italia sebelum Reformasi sangat terlibat dalam kegiatan usaha yang tidak bersifat tradisional lagi. Juga banyak study empiric akhir-akhir ini memperlihatkan bahwa orang Katolik sama tinggi aspirasinya dengan orang Protestan dengan pekerjaaan. Perspektif lain juga diberikan oleh mereka ( anatara lain Sorokin) yang melihat bahwa Protestanisme dan kapitalisme merupakan suatu manifestasi dari suatu perubahan budaya yang mendasar, seperti meningkatnya sekularisasi dan hancurnya tradisi.

            Beberapa kritik literature kelihatannya salah menginterpretasi apa yang sesungguhnya Weber maksudkan. Dia tidak mengatakan bahwa keserakahan akan benda-benda materil muncul bersama Protestantisme. Juga dia tidak katakana bahwa Protesrantisme hanyalah sebuah rasionalisasi agama saja untuk mengajar tujuan-tujaun yang berhasil dicapai dalam bidang materi. Kekhasan etika Protestan  adalah kemampuannya untuk mendorong tindakan jangka panjang, disiplin, sistimatis dalam tugas pekerjaan sekules sebagai tugas agama. Orientasi ini membantu melegitimasi kegiatan ekonomi kaum kapitalis dimasa-masa awal, namun Weber tidak pernah mengemukakan bahwa kelanjutan dari suatu system kapitalis yang sudah mantap akan membutuhkan legitimasi agama terus-menerus. Seperti sudah kita lihat didepan, kapitalisme (dan komitmen pekerjaan yang menjadi dasarnya) menjadi berdikari; tambahan pula konsumsi kaplitalis sebenarnya membantu kerusakan orientasi agama yang bersifat aksetis itu dalam Protestantisme.


[1] Robert M.Z. Lawang. Teori Sosiologi Klasik dan Modern. Gramedia: Jakarta, 1988. Hlm 243 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s