Soe Hok Gie


SOE HOK GIE: catatan seorang demonstran

Resensi Film

“Unsur intrinsik”

Judul                           : Soek Hok Gie “ Catatan Seorang Demonstran”

Tema                           : Soek Hok Gie seorang pembaharu Revolusi

Alur                             : Maju Mundur atau Campuran

Setting atau Tempa     : Tempat Zaman Dulu pada masa Orde lama {Kampus UI (Universitas Indonesia), rumah Gie, Istana Presiden, Jalan Raya, Stasion Kereta Api.

Penokohan                  :

  • Ø Soek Hok Gie → Penentang, egois, penuh pendirian, percaya diri, bertanggung jawab, setia kawan, supel, pintar.
  • Ø Hans → Lugu, baik, Setia kawan, Pinplan.
  • Ø Ira → Penyabar, pintar, feminim, pendiam, aktif.
  • Ø Herman → Dewasa, pintar, setia kawan, bertannggung jawab.
  • Ø Jaka → Egois, ingin menang sendiri, pembohong, mudah terhasut, supel.

Sudut Pandang           : Sudut pandang Pengarang sebagai Pemeran Utama.

Amanat                       : Katakan yang benar itu sebagai kebenaran dan katakan yang salah itu sebagai kesalahan.

Produser                      : Mira Lesmana

Sutradara                     : Riri Riza (penulis skenario)

 

  1. 1.   Settingan Zaman Masa Hidup Tokoh

Apabila menyoroti settingan pada tempat tentunya yang tergambar adalah situasi atau keadaan pada zaman dulu ketika masa Orde Lama. Seperti yang terlihat pada saat pemeran Utama (Soek Hok Gie) menapaki jenjang pendidikan. Gambaran sekolah Shinwa tempo dulu dan SMP Srada pun terlihat sangat Jadul.

Selain itu, keadaan yang lebih sering terlihat adalah Kampus UI sebagai pusat kegiatan para Mahasiswa dalam penyalurkan bakatnya ataupun untuk menuntut ilmu. Dan di kampus pun banyak kegiatan yang terjadi dari mulai demo sampai muncul dan memuncaknya konflik.

Dan yang sering terlihat pula yaitu situasi dipuncak  Gunung karena para tokoh sering mengadakan kegiatan berkemah dan naik gunung. Gunung yang mereka kunjungin adalah Gunung Salak, Gunung Merapi dan Gunung Semeru yang merupakan gunung terakhir yang Soek Hok Gie kunjungi dan menjadi tempat terakhir Soek Hok Gie menghembuskan napasnya.

  1. 2.   Pemikiran-pemikiran para Tokoh

Mengenai pemikiran-pemikiran para tokoh jelas sekali berbeda satu sama lain. Dari mulai pemikiran Soek Hok Gie yang lebih menonjolkan karakternya yang lugas dan penuh pendirian. Ia berpendapat mengenai sistem pemerintahan pada zaman Revolusi itu sangat tidak sesuai dengan apa yang telah disuarakan kepada masyarakat luas. Dimana ketika Negara kita ini disuarakan Merdeka serta bebas dari Jajahan Bangsa Kolonial, disaat itu juga kita terjajah oleh para pemimpin Negara yang tidak bisa berkata benar serta jujur dalam memimpin Negaranya sendiri.

Sehingga yang miskin makin miskin dan yang kaya makin kaya. Kemiskinan yang merajalela dimana-mana mulai meresahkan rakyat sedangkan bagi para kaum bourju mereka hanya asyik berfoya-foya serta menikmati fasilitas yang ada. Tokoh Soek ini ingin mengubah cara atau kebudayaan para pemimpin yang bersifat absolut atau sewenang-wenang ini menjadi adil serta memandang semuanya sama dan berhak mendapatkan haknya masing-masing.

Sedangkan pemikiran yang ada pada Ira, Herman dan teman-teman Soek yang lainnya pun sejalan dengan pemikiran yang digambarkan oleh tokoh Soek ini. Mereka ingin membuat suatu pembeharuan yang membawa kepada kehidupan yang sejahtera bagi semua orang. Membuat rakyat tenang dengan harga-harga ekonomi yang seimbang serta merasa aman memiliki pemimpin yang adil, bertanggung jawab serta bersahaja. Itulah yang paling terlihat dari pemikiran-pemikiran tokoh yang sejalan dengan Soek.

Dan disamping itu ada kedua sahabat Soek yang berbeda jalan pemikirannya, yaitu Hans dan Jaka. Jaka mempunyai pemikiran ini menciptakan suatu organisasi yang berkualitas dan mampu membuat rakyat hidup sejahtera dan ingin menguasai perpolitikan yang mempunyai banyak bisa ular yang beracun. Jalan yang Jaka tempuh kurang tepat tetapi harapan yang ia pegang bagus sekali. Yang terlihat disini teori tidak sejalan dengan tindakan atau ekstion. Begitu pula dengan Hans, Ia ingin sekali mendapatkan perubahan pada dirinya dengan mengikuti organisasi PKI yang dianggap Tabu oleh pemerintah dimana bisa membuat dia lebih pintar untuk memajukan bangsa ini dan mendapatkan penghargaan dari Negara, tetapi semuanya salah dan berbalik 90o, bahwa yang terjadi adalah penderitaan yang berkepanjangan. Hingga berakhir dengan nyawa.

  1. 3.   Pergulatan Pemikiran Tokoh

Mengenai pergulatan pemikiran para tokoh yang terjadi, yaitu berkaitan dengan sebuah kekuasaan yang absolut, dimana seorang pemimpin sewenang-wenang memerintah rakyatnya dan juga berhubungan dengan politik yang identik dengan taktik yang busuk. Seperti yang terdapat dalam pemikiran Soek ketika ia masih duduk dibangku sekolah yang mempertahankan argumennya tentang karya Chairil Anwar atau sebuah sastra dan disisi lain seorang guru yang tidak menerima masukkan dari muridnya yang tetap saja mempertahankan pendapatnya yang kurang tepat.

Dari sana saya bisa mengambil kesimpulan bahwa pada zaman Revolusi semua orang tidak bebas mengeluarkan aspirasinya. Kebebasan berbicara hanya dimiliki oleh orang-orang yang mempunyai pengaruh terhadap kehidupan perpolitikan. Sedangkan bagi orang-orang yang tidak berpengaruh aspirasinya kurang didengar, kalaupun didengar apabila pendapatnya sesuai dengan pemerintah atau orang yang berpengaruh dan bila aspirasinya tidak sesuai maka mereka dihujat sekeras-kerasnya. Itu merupakan kehidupan perpolitikan yang terjadi dari dulu sampai sekarang.

Disamping itu ketika Soek mulai menginjak bangku kuliah, ia lebih sering berhadapan dengan orang-orang yang mempunyai pengetahuan lebih luas lagi mengenai politik dan Negara bahkan ia dapat memahami tentang sistem perpolitikan pada masa revolusi yang dipimpin oleh President Soekarno. Soek mengetahui bahwa betapa banyak kebusukan-kebusukan yang telah dilakukan para pemimpin Negara.

Salah satu pergulatan pemikiran yang lebih menonjol, yaitu ketika Soek menganggap politik itu sebagai jalan untuk melanggengkan suatu kekuasaan. Dapat dibuktikan dari kerjasama President Soekarno dengan PKI yang bertujuan untuk melanggengkan kekuasaannya, bahkan ada yang menetapkan bahwa President Soekarno sebagai President seumur hidup.

Dan satu lagi pergulatan pemikiran antara Soek dan Sahabatnya. Pertama, pergulatan pemikiran yang terjadi dengan Jaka, permasalah yang ditimbulkannya ketika Jaka mulai mengikuti suatu Organisasi politik orang-orang Katolik. Dalam golongan itu yang terlihat hanya kepentingan organisasi saja serta hanya memperlihatkan sisi kekerasannya. Dan pada saat yang bersamaan juga Soek diajak untuk bergabung, tetapi Soek menolaknya karena Visi dan Misinya sangat bertolak belakang dengan dia.  Dari sanalah masalah mulai memuncak. Kekuatan antar golongan yang ditonjolkan, dimana yang dikatakan benar  dan baik itu menurut golongannya masing-masing.

Kedua, pergulatan pemikiran yang terjadi antara Soek dan Hans, permasalahan yang muncul pada saat Hans bergabung dengan PKI. Dimana Soek melarangnya untuk bergabung karena PKI merupakan Organisasi yang berbahaya.

Penjelasannya:

Soek Hok Gie adalah seorang pemuda Indonesia keturunan Cina yang tumbuh dalam pergolakan ini dan merekamnya dalam catatan harian. Soek merupakan seorang pembaharu yang baik pada masa Revolusi. Pada akhir tahun 1950 dan awal 1960 adalah sebuah Negara yang terjebak diantara Perang Dingin. Seluruh unsur masyarakat terpolitisasi dan seluruh faksi dalam masyarakat, termasuk Mahasiswa Indonesia yang aktif terlibat dalam permainan politik yang kemudian ikut menentukan masa depan bangsa ini.

Bila disangkut-pautkan dengan materi-materi yang telah dipelajari dalam mata kuliah Ilmu Politik terdapat beberapa aspek yang berkenaan dengan Film Soek Hok Gie dalam Catatan seorang Demonstran, yaitu aspek Kekuasaan, HAM (Hak Asasi Manusia), Demokrasi dan Politik.

Seperti dalam aspek kekuasaannya yang terjadi pada masa revolusi menggunakan:

a)      Konsep Influnce (Pengaruh), yaitu seseorang melakukan pengaruh pada orang lain. Seperti yang dilakukan oleh para pemimpin Negara, yaitu President Soekarno kepada rakyatnya. Dan dimensi kekuasaan yang digunakkan adalah dimensi Pribadi, yaitu kharismatik sebagai kekuatan untuk mempengaruhi orang lain yang bersifat pribadi.

b)      Konsep Force (Tekanan), yaitu menekankan pada kekuatan fisik agar orang yang dipengaruhinya dapat dikuasai. Contohnya, seperti: Pemerintah yang mempengaruhi rakyat dengan ancaman akan dipenjara apabila tidak mengikuti semua peraturan yang ada.

Sedangkan dalam pandangan HAM dan demokrasi pada masa revolusi ini kurang berjalan dengan baik, karena Hak masyarakat untuk mengeluarkan pendapat masing dibatasi, hak untuk mendapatkan kehidupan yang layak pun belum sepenuhnya terpenuhi. Masih banyak rakyat yang kelaparan dan sengsara disamping itu ada pemimpin yang hidup serba enak. Tidak adanya keseimbangan diantara keduanya. Sedangkan dalam pandangan demokrasi lebih menyoroti pada kesejahteraan rakyat yang berhubungan dengan HAM, yaitu hak pengeluarkan pendapat.

Dan dalam pandangan politik sama dengan konsep kekuasaan untuk melanggengkan suatu kekuasaan para politikus melakukan kecurangan dengan oknum-oknum tertentu. Dimana seperti yang dilakukan oleh Soekarno menjalin kerjasama dengan PKI agar beliau bisa berkuasa sepenuhnya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s