Pengertian Ilmu


BAB I
PENDAHULUAN

 

  1. A.    Latarbelakang

 

 

Secara etimologi, kata ilmu sendiri merupakan kata serapan dari bahasaArab “ilm” yang berarti memahami, mengerti, atau mengetahui. Dalam kaitan penyerapan katanya, ilmu pengetahuan dapat berarti memahami suatu pengetahuan, dan ilmu sosial dapat berarti mengetahui masalah-masalah sosial,dan lain sebagainya.

Mohammad Hatta (dalam Ahira : 2008) mendefinisikan bahwa ilmu adalah pengetahuan yang teratur tentang pekerjaan hukum sebab akibat dalam suatu golongan masalah yang sama sifatnya, baik menurut kedudukannya (apabila dilihat dari luar), maupun menurut hubungannya (jika dilihat dari dalam).

Dari definisi yang diungkapkan di atas, kita dapat melihat bahwa sifat-
sifat ilmu merupakan kumpulan pengetahuan mengenai suatu bidang tertentu yaitu

1.Berdiri secara satu kesatuan

2.Tersusun secara sistematis

3. Ada dasar pembenarannya

4.Mendapat legalitas bahwa ilmu tersebut hasil pengkajian atau riset.

5.Communic able, ilmu dapat ditransfer kepada orang lain sehingga dapat di mengerti dan di pahami maknanya

6.Universal, ilmu tidak terbatas ruang dan waktu

7.Berkembang

Istilah moral berasal dari bahasa Latin. Bentuk tunggal kata ‘moral’ yaitu mos sedangkan bentuk jamaknya yaitu mores yang masing-masing mempunyai arti yang sama yaitu kebiasaan, adat. Bila kita membandingkan dengan arti kata‘etika’, maka secara etimologis, kata etika sama dengan kata moral karena kedua kata tersebut sama-sama mempunyai arti yaitu kebiasaan, adat. Dengan kata lain,kalau arti kata moral sama dengan kata etika, maka rumusan arti kata moral adalah nilai-nilai dan norma-norma yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya. Sedangkan yang membedakan hanya bahasa asalnya saja yaitu etika dari bahasa Yunani dan moral dari bahasa Latin.Jadi bila kita mengatakan bahwa perbuatan pengedar narkotika itu tidak bermoral, maka kita menganggap perbuatan orang itu melanggar nilai-nilai dan norma-norma etis yang berlaku dalam masyarakat. Atau bila kita mengatakan bahwa pemerkosa itu bermoral bejat, artinya orang tersebut berpegang pada nilai-nilai dan norma-norma yang tidak baik.

B.Rumusan Masalah

1.Apa definisi dari ilmu ?

2.Apa manfaat dari ilmu ?

3.Apa arti dari moral ?

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 


A.
Definisi Ilmu

 

Secara etimologi, kata ilmu sendiri merupakan kata serapan dari bahasaArab “ilm” yang berarti memahami, mengerti, atau mengetahui. Dalam kaitan penyerapan katanya, ilmu pengetahuan dapat berarti memahami suatu pengetahuan, dan ilmu sosial dapat berarti mengetahui masalah-masalah sosial,dan lain sebagainya.

Di dalam situs ensiklopedi wikipedia, ilmu adalah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan dan meningkatkan pemahaman amnesia dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia.Segi-segi ini dibatasi agar dihasilkan rumusan-rumusan yang pasti.Ilmu memberikan kepastian dengan membatasi lingkup pandangannya, dan kepastian ilmuilmu diperoleh dari keterbatasannya. Contoh: Ilmu alam hanya bisa menjadi pasti setelah lapangannya dibatasi kedalam hal yang bahani (materiil saja).

Mohammad Hatta (dalam Ahira : 2008) mendefinisikan bahwa ilmu adalah pengetahuan yang teratur tentang pekerjaan hukum sebab akibat dalam suatu golongan masalah yang sama sifatnya, baik menurut kedudukannya (apabila dilihat dari luar), maupun menurut hubungannya (jika dilihat dari dalam).

Dari definisi yang diungkapkan di atas, kita dapat melihat bahwa sifat-
sifat ilmu merupakan kumpulan pengetahuan mengenai suatu bidang tertentu yaitu

1.Berdiri secara satu kesatuan

2.Tersusun secara sistematis

3. Ada dasar pembenarannya

4.Mendapat legalitas bahwa ilmu tersebut hasil pengkajian atau riset.

5.Communic able, ilmu dapat ditransfer kepada orang lain sehingga dapat di mengerti dan di pahami maknanya

6.Universal, ilmu tidak terbatas ruang dan waktu

7.Berkembang

Dari penjelasan di atas, kita dapat melihat bahwa tidak semua pengetahuan dikategorikan ilmu. Sebab, definisi pengetahuan itu sendiri sebagai berikut: Segala sesuatu yang datang sebagai hasil dari aktivitas panca indera untuk mengetahui, yaitu terungkapnya suatu kenyataan ke dalam jiwa sehingga tidak ada keraguan terhadapnya, sedangkan ilmu menghendaki lebih jauh, luas, dan dalam dari pengetahuan. Pada hakekatnya, manusia memiliki keingintahuan pada setiap hal yang ada maupun yang sedang terjadi di sekitarnya.Sebab, banyak sekali sisi-sisi kehidupan yang menjadi pertanyaan dalam dirinya. Oleh sebab itulah, timbul pengetahuan (yang suatu saat) setelah melalui beberapa proses beranjak menjadi ilmu.

B.Pemanfaatan Ilmu

Manfaat ilmu bagi manusia tidak terhitung jumlahnya.Sejak dahulu hingga sekarang, dari waktu ke waktu ilmu telah mengubah manusia dan peradabannya. Kehidupan manusia pun menjadi lebih dinamis dan berwarna.Dengan ilmu, manusia senantiasa:

1.Mencari tahu dan menelaah bagaimana cara hidup yang lebih baik dari sebelumnya.

2.Menemukan sesuatu untuk menjawab setiap keingintahuannya.

3.Menggunakan penemuan-penemuan untuk membantu dalam menjalani aktivitas sehari-hari.

Manusia pun menjadi lebih aktif mengfungsikan akal untuk senantiasa mengembangkan ilmu yang di peroleh dan yang di pelajarinya, berkat ilmu manusia :

1.Menjadi tahu sesuatu dari yang sebelumnya tidak tahu,    
2.Dapat melakukan banyak hal di berbagai aspek kehidupan,          
3.Menjalani kehidupan dengan nyaman dan aman,

C.Definisi Moral

Istilah moral berasal dari bahasa Latin. Bentuk tunggal kata ‘moral’ yaitu mos sedangkan bentuk jamaknya yaitu mores yang masing-masing mempunyai arti yang sama yaitu kebiasaan, adat. Bila kita membandingkan dengan arti kata‘etika’, maka secara etimologis, kata etika sama dengan kata moral karena kedua kata tersebut sama-sama mempunyai arti yaitu kebiasaan, adat. Dengan kata lain,kalau arti kata moral sama dengan kata etika, maka rumusan arti kata moral adalah nilai-nilai dan norma-norma yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya. Sedangkan yang membedakan hanya bahasa asalnya saja yaitu etika dari bahasa Yunani dan moral dari bahasa Latin.Jadi bila kita mengatakan bahwa perbuatan pengedar narkotika itu tidak bermoral, maka kita menganggap perbuatan orang itu melanggar nilai-nilai dan norma-norma etis yang berlaku dalam masyarakat. Atau bila kita mengatakan bahwa pemerkosa itu bermoral bejat, artinya orang tersebut berpegang pada nilai-nilai dan norma-norma yang tidak baik.

Moralitas (dari kata sifat Latin moralis) mempunyai arti yang padadasarnya sama dengan ‘moral’, hanya ada nada lebih abstrak. Berbicara tentang“moralitas suatu perbuatan”, artinya segi moral suatu perbuatan atau baik buruknya perbuatan tersebut.Moralitas adalah sifat moral atau keseluruhan asas dan nilai yang berkenaan dengan baik dan buruk.

Menurut Kondratyev (2000) , moralitas adalah kesadaran akan loyalitas pada tugas dan tanggung jawab. Moralitas berasal dari dalam kepribadian manusia itu sendiri.Binatang tidak memiliki moralitas karena tidak memiliki kepribadian.Moralitas tidak bisa dijelaskan dengan akal, karena itu berasal dari kepribadian manusia.Kondratyev menjelaskan lebih jauh bahwa moralitas manusia berasal dari kehidupan keluarga. Jadi keluarga yang baik akan menghasilkan pribadi yang memiliki moralitas yang baik pula. Keluarga adalah tempat mendidik moralitas.Sangat disayangkan pada masa modern saat ini banyak keluarga yang berantakan nilai-nilainya. Moralitas yang meliputi nilai-nilai moral alam semesta dapat dirasakan oleh pikiran manusia dalam bentuk tiga dorongan dasar yaitu :

1.Dorongan tentang diri sendiri (pilihan moral, personal morality berpengaruh pada perkembangan spiritual dari manusia itu).

2.Dorongan tentang masyarakat (pilihan etik, berubah terus sesuai perubahan kesadaran sosial).

3.Dorongan tentang Allah (pilihan religius).Kondratyev (2000) membagi moralitas ke dalam dua bagian yaitu:

1.Moralitas pribadi yaitu moralitas yang melekat pada kepribadian.Moralitas pribadi itu ada dari semula, pada semua pribadi, tidak dihasilkan dari evolusi. Moralitas pribadi adalah salah satu ciri khas kepribadian yang tulen dan dasar.

2.Moralitas sosial, yaitu moralitas yang berkembang pada kehidupan bermasyarakat. Moralitas sosial akan terus berubah sesuai perubahan bahagia dan sejahtera. Dalam konteks pemikiran demikian, maka keutuhan moral dengan ilmu harus tetap dijaga, baik pada tataran teoretis maupun praktis.

Dalam segala keterbatasan yang ada, kita perlu mengungkap dan mengangkat moral dan moralitas religious sebagai pondasi utama untuk merespon keterpurukan perkembangan ilmu.Hal ini saya pandang penting, karena padatataran paradigmatis, filosofis maupun empiris, sejarah kehidupan manusia dibelahan bumi manapun telah terbukti bahwa agama mampu menjadi pilar-pilar yang kokoh bagi terwujudnya peri kehidupan dan penegakan hukum yang benar-benar adil.

Apa yang dimaksud dengan moral di sini tidak lain adalah akhlak. Kata akhlak berasal dari bahasa Arab akhlaq, bentuk jamak dari kata khuluq.Khuluqberarti tabiat, watak, perangai dan budi pekerti yang bersumber atau berinduk pada al-Khaliq (Tuhan Yang Maha Esa).Akhlak sebagai hal yang melekat dalam jiwa, yang dari padanya timbul perbuatan-perbuatan yang dengan mudah untuk dilakukan tanpa dipikir dan diteliti. Jika hal-ihwal jiwa itu melahirkan perbuatan-perbuatan baik dan terpuji menurut akal dan hukum, maka hal-ihwal itu disebut akhlak yang baik, sebaliknya jika yang keluar darinya adalah perbuatan-perbuatan buruk, maka hal-ihwal jiwa yang menjadi sumbernya disebut akhlak yang buruk.Dengan demikian setiap perbuatan individu maupun interaksi sosial tidak dapat lepas dari pengawasan al-Khaliq (Allah Subhanallahu wata’aala).

Dari definisi itu dapat ditegaskan bahwa akhlak senantiasa berkaitandengan nilai baik dan buruk. Pertanyaan yang muncul kemudian dengan definisiini adalah masih relevankah memposisikanal-K haliq sebagai sumber, induk dantolok ukur untuk penilaian baik dan buruk, sehingga dapat dibedakan antaraakhlak yang baik/mulia (akhlaq al-karimah) dan akhlak buruk/jahat (akhlaq al-madzmudah)? Bagi orang-orang yang bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah swt, tentu tidak akan pernah ada keraguan barang sedikitpun bahwa sumber,induk dan tolok ukur tertinggi akhlak adalah Allah swt. Dialah Yang Maha Benar(al-Haq) dan daripada-Nya asal-usul kebenaran itu. Dia pula Yang Maha Adil (al-Adl) dan daripada-Nya keadilan absolut berasal. Berasal dan berawal dari-Nya dan akan terpulang kepada-Nya, segala amal manusia baik yang tergolong bermoral maupun amoral. Ajaran demikian itu telah sampai pada semua manusia melaluiagama yang diwahyukan kepada para Rasul dan selanjutnya oleh para Rasuldiajarkan, dijelaskan bahkan dicontohkan dalam segala aspek kehidupan.Inilah yang saya sebut dengan moral religius.

Moral religius merupakan moral kehidupan. Apabila kita sepakat bahwa seluruh aspek kehidupan tidak ada yang bebas, lepas dan netral dari nilai-nilai kebenaran dan keadilan, maka sebenarnya apa yang disebut moral religious menjadi identik dengan moral ilmu. Jangkauan dan cakupan moral religious menjadi sangat luas, menyeluruh dan menyentuh semua sendi-sendi kehidupan bagi siapapun, di manapun dan kapanpun.Dengan kata lain, moral religious bersifat universal.

Untuk memahami moral religius, maka kita harus memposisikan hatinurani (qalbu) Apabila hati nurani sehat, jernih dan suci maka segala amal perbuatan manusia pun akan menjadi bermoral, akan tetapi sebaliknya apabila hatinurani telah sakit, kotor dan keras maka amal perbuatan yang lahir pun menjadi amoral. Segalanya bertolak melalui hati nurani, dan segalanya berpulang melalui hati nurani. Di sini, menjadi sangat penting menjaga kesehatan, kesucian dan kejernihan hati nurani secara terus-menerus, agar qalbu tetap dalam keadaan suci,tidak terkontaminasi dengan nafsu/hasrat yang cenderung mendorong manusia pada jurang kehancuran.

Dengan memposisikan hati nurani (qalbu) sebagai kata kunci untukmemahami moral religius, segera memunculkan pertanyaan, di manakah posisiakal (ratio)? Pertanyaan ini wajar dimunculkan dan perlu mendapatkan penjelasan, terkait dengan suatu keyakinan bahwa kelebihan manusia atas makhluk-makhluk lain adalah terletak pada akal.Akal manusia diberikan untuk berpikir secara logis sesuai dengan batas kemampuannya untuk berpikir.Dengan berpikir itulah manusia dapat berfilsafat atau menemukan sebuah ilmu.

Sebagai seorang yang mampu menelurkan ilmu pengetahuan atau dianggap sebagai ilmuan, maka diri seorang tersebut perlu menyelaraskan antara hati nuraninya dengan akalnya, bila ia hanya menggunakan akalnya untuk berpikir tanpa mempedulikan nuraninya, maka yang terjadi adalah ketimpangan yang tentunya sangat disayangkan dan tidak diharapkan.

Akal dan hati nurani sebagai unsur-unsur kemanusiaan berada dalam satu wadah yang disebut roh (jiwa).Hati nurani mempunyai fungsi sebagai kendaliterhadap akal agar tidak terjerumus ke dalam jurang kesesatan dan kehancuran.Sebelum akal melangkah (berpikir) kepada sesuatu keputusan, seharusnya ia mengontrolnya dengan hati nurani. Dengan adanya kontrol atau kendali dari hatinurani, akal dapat berjalan lurus, menuju kebenaran dan keadilan absolut,walaupun hasil maksimal dari kebenaran dan keadilan yang dicapainya masihbersifat relatif. Derajat, kualitas dan moralitas ilmu hukum pada hakikatnya merupakan fungsi keterpaduan, keseimbangan dan kemaksimalan kerja hati nurani dan akal.Apabila demikian adanya maka seperti yang diharapkan akan tercapai konsep seorang ilmuan yang memiliki pendapat bahwa netralitas ilmu terhadap nilai-nilai hanyalah terbatas pada metafisik keilmuan, sedangkan dalam penggunaannya kegiatan keilmuan haruslah berlandaskan pada azas-azas moral.

Dihadapkan dengan masalah moral dalam menghadapai keberadaan ilmu dan teknologi yang bersifat merusak, para ilmuwan terbagi ke dalam dua golongan pendapat. Ilmuwan golongan pertama menginginkan bahwa ilmu harus bersifat netral terhadap nilai-nilai, baik itu secara ontologis maupun aksiologis. Dalam tahap ini tugas ilmuwan adalah menemukan pengetahuan dan terserah kepada orang lain untuk mempergunakannya, terlepas apakah pengetahuan itu dipergunakan untuk tujuan baik ataukah untuk tujuan yang buruk. Ilmuwan golongan kedua sebaliknya berpendapat bahwa netralitas ilmu terhadap nilai-nilai hanyalah terbatas pada metafisik keilmuan, sedangkan dalam penggunaannya kegiatan keilmuan haruslah berlandaskan pada azas-azas moral. Golongan kedua mendasarkan pendapatnya pada beberapa hal, yakni :

1.ilmu secara faktual telah dipergunakan secara destruktif oleh manusia yang dibuktikan dengan adanya dua perang dunia yang mempergunakan teknologi-teknologi keilmuan.

2.ilmu telah berkembang dengan pesat sehingga kaum ilmuwan lebih mengetahui tentang kejadian-kejadian yang mungkin terjadi bila terjadi salah penggunaan.

3.ilmu telah berkembang sedemikian rupa sehingga terdapat kemungkinan bahwa ilmu dapat mengubah manusia dan kemanusiaan yang paling hakiki seperti pada kasus revolusi genetika dan teknik perubahan sosial.

Berdasarkan ketiga hal itu maka golongan kedua berpendapat bahwa ilmu secara moral harus ditujukan untuk kebaikan manusia tanpa merendahkan martabat atau mengubah hakikat kemanusiaan.

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

  1. A.    Kesimpulan

Secara etimologi, kata ilmu sendiri merupakan kata serapan dari bahasa Arab “ilm” yang berarti memahami, mengerti, atau mengetahui. Dalam kaitan penyerapan katanya, ilmu pengetahuan dapat berarti memahami suatu pengetahuan, dan ilmu sosial dapat berarti mengetahui masalah-masalah sosial,dan lain sebagainya.

Manfaat ilmu bagi manusia tidak terhitung jumlahnya.Sejak dahulu hingga sekarang, dari waktu ke waktu ilmu telah mengubah manusia dan peradabannya. Kehidupan manusia pun menjadi lebih dinamis dan berwarna.Dengan ilmu, manusia senantiasa:

1.Mencari tahu dan menelaah bagaimana cara hidup yang lebih baik dari sebelumnya.

2.Menemukan sesuatu untuk menjawab setiap keingintahuannya.

3.Menggunakan penemuan-penemuan untuk membantu dalam menjalani aktivitas sehari-hari.

Istilah moral berasal dari bahasa Latin. Bentuk tunggal kata ‘moral’ yaitu mos sedangkan bentuk jamaknya yaitu mores yang masing-masing mempunyai arti yang sama yaitu kebiasaan, adat. Bila kita membandingkan dengan arti kata‘etika’, maka secara etimologis, kata etika sama dengan kata moral karena kedua kata tersebut sama-sama mempunyai arti yaitu kebiasaan, adat. Dengan kata lain,kalau arti kata moral sama dengan kata etika, maka rumusan arti kata moral adalah nilai-nilai dan norma-norma yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya. Sedangkan yang membedakan hanya bahasa asalnya saja yaitu etika dari bahasa Yunani dan moral dari bahasa Latin.Jadi bila kita mengatakan bahwa perbuatan pengedar narkotika itu tidak bermoral, maka kita menganggap perbuatan orang itu melanggar nilai-nilai dan norma-norma etis yang berlaku dalam masyarakat. Atau bila kita mengatakan bahwa pemerkosa itu bermoral bejat, artinya orang tersebut berpegang pada nilai-nilai dan norma-norma yang tidak baik.

Moralitas (dari kata sifat Latin moralis) mempunyai arti yang padadasarnya sama dengan ‘moral’, hanya ada nada lebih abstrak. Berbicara tentang“moralitas suatu perbuatan”, artinya segi moral suatu perbuatan atau baik buruknya perbuatan tersebut.Moralitas adalah sifat moral atau keseluruhan asas dan nilai yang berkenaan dengan baik dan buruk.

Menurut Kondratyev (2000) , moralitas adalah kesadaran akan loyalitas pada tugas dan tanggung jawab. Moralitas berasal dari dalam kepribadian manusia itu sendiri.Binatang tidak memiliki moralitas karena tidak memiliki kepribadian.Moralitas tidak bisa dijelaskan dengan akal, karena itu berasal dari kepribadian manusia.Kondratyev menjelaskan lebih jauh bahwa moralitas manusia berasal dari kehidupan keluarga. Jadi keluarga yang baik akan menghasilkan pribadi yang memiliki moralitas yang baik pula. Keluarga adalah tempat mendidik moralitas.Sangat disayangkan pada masa modern saat ini banyak keluarga yang berantakan nilai-nilainya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Tim dosen filsafat ilmu fakultas UGM,Filsafat Ilmu sebagai dasar Ilmu pengetahuan,yogyakarta :  liberty. 2010

Ahmad tafsir,filsafat umum,Bandung:rosda,1990

Drs,H.Mohamad adib MA.Filsafat Ilmu,edisi ke 2 tahun 2010,yogyakartapenerbit pustaka pelajar.

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s