Pemikiran Tarekat Qadariyah


 

BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar belakang

Di zaman Nabi, umat Islam dapat kompak dalam lapangan agama, termasuk dalam aqidah. Kalau tidak ada hal-hal yang tidak jelas atau hal-hal yang diperselisihkan diantara para sahabat, mereka mengembalikannya kepada Nabi. Maka penjelasan beliau itulah yang kemudian menjadi pegangan dan ditaatinya.

Pada masa Nabi tak sulit untuk memecahkan suatu permasalahan yang timbul ditengah-tengan umat manusia, karen mereka dengan mudah untuk menanyakan permasalah itu kepada Nabi. Namun disaat nabi wafat mualilah bermunculan masalah-masalah yang tak pernah terjadi pada masa Nabi. Umat muslim saat itu kebingungan bagaimana caranya untuk memecahkan masalah tersebut. Sehingga mengakibatkan perpecahan dikalangan umat muslim pada saat itu. Mulai bermunculan kelompok-kelompok yang berfaham akan keagaman dan hukum islam. Diantara kelompok tersebut adalah aliran Qodariyah yang mempunyai faham akan paham agama.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEBAHASAN

  1. Doktrin Qodariyah

Dalam kitab tatikh al-firaq al-islamiyah, ali musthaf al-ghurabi menjelaskan bahwa menurut paham teologi aliran qodaiyah, manusia berkuasa atas perbuatan-perbuatannya; manusia sendirilah yang melakuakan perbuatan-perbuatan baik atas kehendak dan kemauannya sendiri, dan manusia sendirilah yang melakuakan perbuatan-perbuatan jelek atas kehendak dan kemauannya sendiri.[1] Menurut paham mereka, manusia mempunyai kebebasan dalam tingkah lakunya. Ia dapat berbuat baik kalu ia menghendakinya, dan ia pula dapat berbuat jahat kalu ia menghendakinya.

Dalam ajarannya, aliran Qodariyah sangat menekankan posisi manusia yang amat menentukan dlam gerakan laku dan perbuatannya. Manusia dinilai mempunyai kekuatan unutuk melaksanakan kehendaknya sendiri atau untuk tidak melaksanakan kehendaknnya itu. Dalam menentuakan keputusan yang menyangkut perbuatannya sendiri, manusilah yang menentukan, tanpa ada campur tangan Tuhan.

Menurut Ghailan berpendapat bahwa manusia berkuasa untuk melakuakn perbuatan-perbuatan atas kehendak dan kekuasannya sendiri, dan manusia pula yang melakuakn atau tidak melakuakn perbuatan-perbuatan jahat tas kemampuan dan datanya sendiri.[2]

Salah seorang pemuka Qadariyah yang lain, An-Nazzam, mengemukakan bahwa manusia hidup mempunyai daya dan ia berkuasa atas segala perbuatannya.

Dari beberapa penjelasan diatas, dapat di pahami bahwa segala tingkah laku manusia dilakukan atas kehendaknya sendiri. Mansuia mempunyai kewenangan untuk melakukan segala perbuatan atas kehendaknya sendiri, baik berbuat baik maupun berbuat jahat. Oleh karena itu, ia berhak mendapatkan pahala atas kebaikan yang dilakukannya dan juga berhak mendapatkan pahala atas kebaikan yang dilakukannya dan juga berhak pula memproleh hukuman atas kejahatan yang diperbuatnya.Seseorang diberi ganjaran baik dengan balasan surga kelak di akhirat dan diberi ganjaran siksa dengan balasan neraka kelak di akhirat,itu berdasarkan pilihan pribadinya sendiri, bukan akhir Tuhan.Sungguh tidak pantas,manusia menerima siksaan atau tindakan salah yang dilakukan bukan atas keinginan dan kemampuannya sendiri.

Faham takdir dalam pandang Qadariyah bukanlah dalam pengertian takdir yang umum di pakai bangsa Arab ketika itu,yaitu faham yang mengatakan bahwa nasib manusia telah di tentukan terlebih dahulu. Dalam perbuatan-perbuatannya,manusia hanya bertindak menurut nasib yang telah di tentukan sejak azali terhadap dirinya.Dalam faham Qadariyah,takdir itu ketentuan Allah yang di ciptakan-Nya bagi alam semesta beserta seluruh isinya,sejak azali,yaitu hukum yang dalam istilah Al-Quran adalah sunatullah. Seseorang diberi ganjaran baik dengan balasan surga kelak di akhirat dan diberi ganjaran siksa dengan balasan neraka kelak di akhirat,itu berdasarkan pilihan pribadinya sendiri ,bukan akhir Tuhan.Sungguh tidak pantas,manusia menerima siksaan atau tindakan salah yang dilakukan bukan atas keinginan dan kemampuannya sendiri.[3]

Secara alamiah, sesungguhnya manusia telah memiliki takdir yang tidak dapat diubah. Manusia dalam dimensi fisiknya tidak dapat berbuat lain, kecuali mengikuti hukum alam. Misalnya, manusia ditakdirkan oleh Tuhan tidak mempunyai sirip atau ikan yang mampu berenang dilautan lepas. Demikian juga manusia tidak mempunyai kekuatan. Seperti gajah yang mampu mambawa barang beratus kilogram, akan tetapi manusia ditakdirkan mempunyai daya pikir yang kreatif, demikian pula anggota tubuh lainnya yang dapat berlatih sehingga dapat tampil membuat sesuatu, dengan daya pikir yang kreatif dan anggota tubuh yang dapat dilatih terampil. Manusia dapat meniru apa yang dimiliki ikan. Sehingga ia juga dapat berenang di laut lepas. Demikian juga manusia juga dapat membuat benda lain yang dapat membantunya membawa barang seberat barang yang dibawa gajah. Bahkan lebih dari itu, disinilah terlihat semakin besar wilayah kebebasan yang dimiliki manusia. Suatu hal yang benar-benar tidak sanggup diketahui adalah sejauh mana kebebasan yang dimiliki manusia ? siapa yang membatasi daya imajinasi manusia? Atau dengan pertanyaan lain, dimana batas akhir kreativitas manusia?Dengan pemahaman seperti ini, kaum Qadariyah berpendapat bahwa tidak ada alasan yang tepat untuk menyadarkan segala perbuatan manusia kepada perbuatan tuhan. Doktrin-doktrin ini mempunyai tempat pijakan dalam doktrin islam sendiri. Banyak ayat Al-Qur’an yang mendukung pendapat ini.

Aliran ini menolak paham yang mengatakan bahwa manusia dalam perbuatan-perbuatannya hanya bertindak menurut kadaar yang telah ditentukan sejak zaman azali.

  1. Dalil yang menjadi landasan Qodariyah

Banyak ayat Al-Qur’an yang bisa membawa kepada paham Qodariyah, diantaranya adalah Al-Kahfi ayat 29:

È@è%ur ‘,ysø9$# `ÏB óOä3În/§‘ ( `yJsù uä!$x© `ÏB÷sã‹ù=sù ÆtBur uä!$x© öàÿõ3u‹ù=sù 4 Î

Dan Katakanlah: “Kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu; Maka Barangsiapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan Barangsiapa yang ingin (kafir) Biarlah ia kafir”.

Fushshilat ayat 40:

¨ 4 (#qè=uHùå$# $tB ôMçGø¤Ï© ( ¼çm¯RÎ) $yJÎ/ tbqè=yJ÷ès? ÅÁt/ ÇÍÉÈ

Perbuatlah apa yang kamu kehendaki; Sesungguhnya Dia Maha melihat apa yang kamu kerjakan.

Al-Ra’d ayat 11:

3 žcÎ) ©!$# Ÿw çŽÉitóム$tB BQöqs)Î/ 4Ó®Lym (#rçŽÉitóム$tB öNÍkŦàÿRr’Î/ 3 !

Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaa yang ada pada diri mereka sendiri.

 

 

 

 

BAB III

KESIMPULAN

  1. Kesimpulan

Aliran Qodariyah mempunyai pemahaman akan manusia itu adalah sebagai makhluk yang merdeka dalam menentukan tingkah lakua dan kehendaknya. Jika manusia berbuat baik maka hal itu adalah atas kehandak dan kemauannya sendiri serta berdasarkankemerdekaan dan kebebasan memilih yang ia miliki. Oleh karana itu jika seseorang diberi ganjaran yang baik berupa surga di akhirat, atau diberi siksaan di neraka, maka semuanya itu adalah atas pilihannya sendiri.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Basari, Hasam, Dkk. 2009. ILMU KALAM sejarah dan pokok pikiran aliran-aliran. Bandung: Azkia pustaka

 

Nata, Abudiin.1993. ILMU KALAM, FISAFAT DAN TASAWU., Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

http://artikelthoyib.blogspot.com/2010/01/qadariyah.html

http://datarental.blogspot.com/2009/06/aliran-qodariyah.html

 


[1] Drs. Hasan Basari. M. Ag.  Dkk, ILMU KALAM sejarah dan pokok pikiran aliran-aliran, Bandung, 2009, hlm 35

[2] Drs. Abudiin Nata, M. A, ILMU KALAM, FISAFAT DAN TASAWUF, Jakarta, 1993, hlm 37

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s