Pemikiran Mu’tazilah


BAB I

PENDAHULUAN

 

A.     Latar Belakang

Pemikiran-pemikiran para filosof dari pada ajaran dan wahyu dari Allah sehingga banyak ajaran Islam yang tiddak mereka akui karena menyelisihi akal menurut prasangka mereka Berbicara perpecahan umat Islam tidak ada habis-habisnya, karena terus menerus terjadi perpecahan dan penyempalan mulai dengan munculnya khowarij dan syiah kemudian muncullah satu kelompok lain yang berkedok dan berlindung dibawah syiar akal dan kebebasan berfikir, satu syiar yang menipu dan mengelabuhi orang-orang yang tidak mengerti bagaimana Islam telah menempatkan akal pada porsi yang benar. sehingga banyak kaum muslimin yang terpuruk dan terjerumus masuk pemikiran kelompok ini. Akhirnya terpecahlah dan berpalinglah kaum muslimin dari agamanya yang telah diajarkan Rasulullah dan para shahabat-shahabatnya. Akibat dari hal itu bermunculanlah kebidahan-kebidahan yang semakin banyak dikalangan kaum muslimin sehingga melemahkan kekuatan dan kesatuan mereka serta memberikan gambaran yang tidak benar terhadap ajaran Islam, bahkan dalam kelompok ini terdapat hal-hal yang sangat berbahaya bagi Islam yaitu mereka lebih mendahulukan akal dan mencampakan dalil-dalil dari Al-qur’an dan As-Sunnah.

Oleh karena itu sudah menjadi kewajiban bagi seorang muslim untuk menasehati saudaranya agar tidak terjerumus kedalam pemikiran kelompok ini yaitu kelompok Mu’tazilah yang pengaruh penyimpangannya masih sangat terasa sampai saat ini dan masih dikembangkan oleh para kolonialis kristen dan yahudi dalam menghancurkan kekuatan kaum muslimin dan persatuannya. Oleh karena itu perlu dibahas asal pemikiran ini agar diketahui penyimpangan dan penyempalannya dari Islam, maka dalam pembahasan kali ini dibagi menjadi beberapa pokok pembahasan

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. A.    DOKTRIN-DOKTRIN MU’TAZILAH

Mempunyai doktrin yang selalu dipegang erat oleh mereka, bahkan di atasnya-lah prinsip-prinsip mereka dibangun. Doktrin itu mereka sebut dengan Al-Ushulul-Khomsah (lima landasan pokok). Adapun rinciannya sebagai berikut dan sekaligus kami iringi dengan bantahan cara pemahaman mereka mengenai ajaran keislaman mereka, sebagai berikut :

1. At-Tauhid

At-tauhid ( Penegasan Tuhan ) merupakan prinsip pertama dari intisari ajaran Mu’tazilah. Bagi Mu’tazilah, tauhid mamiliki arti yang spesifik. Tuhan harus di sucikan dari segala sesuatu yang dapat mengurangi arti kemahaesaan-nya.

Tuhanlah satu-satu nya yang Esa, yang unik dan tak ada satu pun yang menyamai-nya. Oleh karena itu, hanya dia-lah yang Qadim. Bila ada yang Qadim lebih dari satu, maka dia telah terjadi Ta’addud al-qudama (berbilangnya zat yang tak berpermulaan)[1].

Untuk memurnikan keesaan Tuhan (tanzih), Mu’tazilah menolak konsep yuhan memiliki sifat-sifat, penggambaran fiaik tuhan ( antromorfisme tajassun ), dan tuhan dapat melihat dengan mata kepala.

Mu’tazilah berpendapat bahwa tuhan itu Esa, tidak ada satu pun yang menyerupai-Nya. Dia Maha Melihat, Mendengar, Kuasa, Mengetahui, dan sebagainya. Namun, yang di sebutkan tadi bukanlah sifatnya melainkan Dzat-Nya. Menurut mereka sifat adalah sesuatu yang melekat. Bila sifat tuhan yang Qadim, berarti ada dua yang Qadim, yaitu Dzat dan sifatnya.

Apa yang disebut sebagai sifat menurut Mu’tazilah adalah Dzat Tuhan itu sendiri.

Doktrin tauhid Mu’tazilah lebih lanjut menjelaskan bahwa tidak ada satu pun yang dapat menyamai Tuhan. Begitu pula sebaliknya Tuhan tidak serupa dengan makhluk-Nya. Tuhan itu Immateri. Maha suci Tuhan dari penyerupaan dengan segala yang di ciptakan-Nya. Tegasnya Mu’tazilah menolak Antrofomorfisme.[2]

Mereka menolak terhadap faham Antrofomorfisme, bukan semata-mata pertimbangan akal, melainkan memiliki rujukan yang sangat kuat di dalan Al-Qur’an, yang berarti “ Tak ada satu pun yang menyamainya “, ( Q.S. Asy-Syura 42:9 ).

Memang tidak dapat di bantah Mu’tazilah, sebagai mana aliran kain, telah terkena pengaruh Filsafat Yunani. Namun hal itu tidak kemudian menjadikannya sebagai pengikut buta Hellenisme.

Penolakan Mu’tazilah terhadap pendapat bahwa Tuhan dapat dilihat oleh mata kepala merupakan konsekuensi logis dari penolakan terhadap Antropoirmofisme. Andaikan Tuhan dapat dilihat dengan mata kepala di Akherat, tantu di dunia pun Dia dapat dilihat oleh mata kepala.[3] Oleh karena itu, kata Melihat (Q.S. Al-Qiyamah,75:22-23) ditakwilkan dengan Mengetahui (know).[4]

2.Al-‘adl ( Keadilan )

Yang mereka maksud dengan keadilan adalah keyakinan bahwasanya kebaikan itu datang dari Allah, sedangkan . Dalilnya kejelekan datang dari makhluk dan di luar kehendak (masyi’ah) Allah adalah firman Allah : “Dan Allah tidak suka terhadap kerusakan.” (Al-Baqarah: 205). “Dan Dia tidak meridhai kekafiran bagi hamba-Nya.” (Az-Zumar: 7). Menurut mereka kesukaan dan keinginan merupakan kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Sehingga mustahil bila Allah tidak suka terhadap kejelekan, kemudian menghendaki atau menginginkan untuk terjadi (mentaqdirkannya) oleh karena itu mereka menamakan diri mereka dengan nama Ahlul ‘Adl atau Al-‘Adliyyah .

Bantahannya :

As-Syaikh Yahya bin Abil-Khair Al-‘imrani berkata : kita tidak sepakat bahwa kesukaan dan keinginan itu satu, dasarnya adalah dalam Al-Qur’an Allah berfirman : “Maka sesungguhnya Allah tidak menyukai Orang-orang kafir”.

Padahal kita semua tahu Allah-lah yang menginginkan adanya orang kafir tersebut dan Dia-lah yang menciptakan mereka. Terlebih lagi Allah telah menyatakan bahwasanya apa yang dikehendaki dan dikerjakan hamba tidak lepas dari kehendak dan ciptaan-Nya, Allah berfirman : “ Dan kalian tidak akan mampu menghendaki ( jalan itu ), kecuali bila dikehendaki Allah”. ( Al – Ihsan : 30 ). “Padahal Allah-lah yang meciptakan kalian dan yang kalian perbuat”. (Ash-Shaafaat : 96).

Dari sini kita tahu bahwa ternyata istilah keadilan itu mereka jadikan sebagai yang merupakan bagian dari takdir Allah , kedok untuk mengingkari kehendak Allah. Atas dasar inilah mereka lebih pantas dikatakan Qadariyyah, Majusyiah, dan orang-orang yang zalim.

 

3. Al-Wa’du Wal-Wa’id

Yang mereka maksud dengan landasan ini adalah bahwa wajib bagi Allah untuk memenuhi janji-Nya (al-wa’d) bagi pelaku kebaikan agar dimasukkan ke dalam Al-Jannah, dan melaksanakan ancaman-Nya (al-wa’id) bagi pelaku dosa besar (walaupun di bawah syirik) agar dimasukkan ke dalam An-Naar, kekal abadi di dalamnya, dan tidak boleh bagi Allah untuk menyelisihinya. Karena inilah mereka disebut dengan Wa’idiyyah.

Bantahannya :

Seseorang yang beramal shalih (sekecil apapun) akan mendapatkan pahalanya (seperti yang dijanjikan Allah) sebagai karunia dan nikmat dari-Nya. Dan tidaklah pantas bagi makhluk untuk mewajibkan yang demikian itu, karena termasuk pelecehan terhadap Rububiyyah-Nya dan sebagai bentuk keraguan kepada Allah terhadap Firman – Nya : “Sesungguhnya Allah tidak menyelisihi janji – Nya”. ( Ali-Imran : 9 ) Bahkan Allah mewajibkan bagi diri-Nya sendiri sebagai keutamaan untuk para hamba-Nya. Adapun orang-orang yang mendapatkan ancaman dari Allah karena dosa besarnya (di bawah syirik) dan meninggal dunia dalam keadaan seperti itu, maka sesuai dengan kehendak Allah. Dia Maha berhak untuk melaksanakan ancaman-Nya dan Maha berhak pula untuk tidak melaksanakannya, karena Dia telah mensifati diri-Nya dengan Maha Pemaaf, Maha Pemurah, Maha Pengampun, Maha Pengasih Lagi Maha Penyayang. Terlebih lagi Dia telah menyatakan : “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik (bila pelakunya meninggal dunia belum bertaubat darinya) dan mengampuni dosa yang di bawah (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya.” (An-Nisa: 48).

Adapun pernyataan mereka bahwa pelaku dosa besar (di bawah syirik) kekal abadi di An-Naar, maka sangat bertentangan dengan firman Allah dalam Surat An-Nisa ayat 48 di atas, dan juga bertentangan dengan sabda Rasulullah SAW yang artinya: “Telah datang Jibril kepadaku dengan suatu kabar gembira, bahwasanya siapa saja dari umatku yang meninggal dunia dalam keadaan tidak syirik kepada Allah niscaya akan masuk ke dalam al-jannah.” Aku (Abu Dzar) berkata: “Walaupun berzina dan mencuri?” Beliau menjawab: “ Walaupun berzina dan mencuri “ ( HR. Al-Bukhori Dan muslim dari sahabat Abu Dzar Al-Ghiffari ) namun meskipun mungkin mereka harus masuk neraka terlebih dahulu.

 

 

 

4. Al-Manjilah Baina Al-Manjilatayn

Bahwasanya keimanan itu bertingkat-tingkat, bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan, sebagaimana firman Allah : “Dan jika dibacakan ayat-ayat-Nya Kepada mereka, maka bertambahlah keimanan mereka”. ( Al-Anfal : 2 ). Dan juga firman-Nya : “Dan apabila diturunkan suatu surat, maka di antara mereka (orang-orang munafik) ada yang berkata: ‘Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turunnya) surat ini?’ Adapun orang-orang yang beriman, maka surat ini menambah imannya, sedang mereka merasa gembira. Dan adapun orang-orang yang di dalam hati mereka ada penyakit, maka dengan surat itu bertambah kekafiran mereka, di samping kekafirannya (yang telah ada) dan mereka mati dalam keadaan kafir”. ( At-Taubah : 124-125 ).

Dan dalam Firman-Nya yang lain juga : “(Yaitu) orang-orang (yang menaati Allah dan Rasul) yang kepada mereka ada orang-orang yang mengatakan: ‘Sesungguhnya manusia telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka’, maka perkataan itu menambah keimanan mereka dan mereka menjawab: ‘Cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung’.” (Ali ‘Imran: 173).

Atas dasar ini, pelaku dosa besar (di bawah syirik) tidaklah bisa dikeluarkan dari keimanan secara mutlak. Bahkan ia masih sebagai mukmin namun kurang iman, karena Allah masih menyebut dua golongan yang saling bertempur (padahal ini termasuk dosa besar) dengan sebutan orang-orang yang beriman, sebagaimana dalam firman-Nya: “Dan jika ada dua golongan dari orang-orang yang beriman saling bertempur, maka damaikanlah antara keduanya.” (Al-Hujurat: 9)

 

 

 

 

  1. 5.      Al-amr bi al-Ma’ruf wa al-Nahyi’ An al- Munkar

Di antara kandungan landasan ini adalah wajibnya memberontak terhadap pemerintah (muslim) yang zalim. Bantahannya : Memberontak terhadap pemerintah muslim yang zalim merupakan prinsip sesat yang bertentangan dengan Al Qur’an dan As Sunnah. Sebagaimana Allah berfirman : “Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul-Nya, dan ulil amri (pimpinan) di antara kalian.” (An-Nisa: 59) Rasulullahbersabda: “Akan datang setelahku para pemimpin yang tidak mengikuti petunjukku dan tidak menjalankan sunnahku, dan sungguh akan ada di antara mereka yang berhati setan namun bertubuh manusia.” (Hudzaifah berkata): “Wahai Rasulullah, apa yang kuperbuat jika aku mendapati mereka?” Beliau menjawab: “Hendaknya engkau mendengar (perintahnya) dan menaatinya, walaupun punggungmu dicambuk dan hartamu diambil.” (HR. Muslim, dari shahabat Hudzaifah bin Al-Yaman).

Adapun ciri-ciri Mu’tazilah ialah suka berdebat, terutama di hadapan umum mereka yakin akan kekuatan fikiran, karena itulak suka berdebat dengan siapa saja yang berbeda pendapat dengannya.

Sekitar dua abad lamanya ajaran-ajaran mu’tazilah ini berpengaruh, karena diikuti atau didukung oleh penguasa waktu itu. Masalah-masalah yang diperdebatkan antara lain :

  • Sifat-sifat allah itu ada atau tidak
  • Baik dan buruk itu ditetapkan berdasarkan syara’ atau akal
  •  Orang yang berdosa besar akan kekal di neraka atau tidak
  • Perbuatan manusia itu dijadikan oleh allah
  • Al-qur’an itu makhluk atau tidak
  • Allah itu bias dilihat di akhirat nanti atau tidak
  • Alam itu qodim atau hadits
  • Allah wajib membuat yang baik (shilah) dan yang lebih baik (ashlah)
  • Pandangan Ulama

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

KESIMPULAN

  1. 1.      At-Tauhid

Yang mereka maksud dengan At-Tauhid adalah mengingkari dan meniadakan sifat-sifat Allah, dengan dalil bahwa menetapkan sifat-sifat tersebut berarti telah menetapkan untuk masing-masingnya tuhan, dan ini suatu kesyirikan kepada Allah, menurut mereka (Firaq Mu’ashirah, 2/832). Oleh karena itu mereka menamakan diri dengan Ahlut-Tauhid atau Al-Munazihuuna lillah (orang-orang yang mensucikan Allah).

  1. 2.      Al-‘Adl (keadilan)

Yang mereka maksud dengan keadilan adalah keyakinan bahwasanya kebaikan itu datang dari Allah, sedangkan kejelekan datang dari makhluk dan di :I. Dalilnya adalah firman Allah Iluar kehendak (masyi’ah) Allah

وَاللهُ لاَ يُحِبُّ الْفَسَادَ

“Dan Allah tidak suka terhadap kerusakan.” (Al-Baqarah: 205)

Menurut mereka kesukaan dan keinginan merupakan kesatuan yang tidak bisa dipisahkan. Sehingga mustahil bila Allah tidak suka terhadap kejelekan, kemudian menghendaki atau menginginkan untuk terjadi (mentaqdirkannya). Oleh karena itu mereka menamakan diri dengan Ahlul-‘Adl atau Al-‘Adliyyah.

 

 

  1. 3.      Al-Wa’du Wa Al-Wa’id

Magsud dari terminology ini (janji dan ancaman) bahwa tuhan tidak adil bila dia tidak menghukum orang yang berbuat jahat, dan tidak member pahala pada orang yang berbuat baik.

Menurut Mu’tazilah, Tuhan berkewajiban melaksanakan semua janji dan ancaman yang telah difirmankan-Nya.[5] Tuhan tidak adil bila memasukan pendosa ke surge dan orang yang beramalam shaleh ke neraka.

  1. 4.      Al-Manjilah Baina Al-Manjilatayn

Artinya bahwa orang yang bebuat dosa besar menempati ‘tempat khusus’. Tidak kafir dan tidak pula mukmin. Mukmin adalah posisi terbatas yang harus dilalui dengan Syahadah dan di pelihara dengan tidak melakukan dosa besar. Posisi tengah di tampati orang yang mengucapkan “ syahadatayn “ tetapi melakukan dosa besar dan bertaubat. Inilah Al-Manjilah Baina Al-Manjilatayn tempat pendosa yang pernah mengucapkan Syahadatayn.

  1. 5.      Al-amr bi al-Ma’ruf wa al-Nahyi’ An al- Munkar

Perintah berbuat baik dan larangan berbuat jahat, erat kaitannya dengan pembinaan moral. Mu’tazilah sangat memperhatikan prilaku, sebab iman harus dibuktikan dengan perbutan baik. Orang yang mengaku beriman tetapi tidak dibuktikan dengan perbuatan nyata, tetap terancam neraka.

Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi oleh seorang mukmin dalam Al-amr bi al-Ma’ruf wa al-Nahyi’ An al- Munkar, yaitu;[6]

  • Ia harus mengetahui perintah itu jelas Ma’ruf dan Nahyi itu jelas munkar;
  • Ia mengetahui kemunkaran itu ntyata dilakukan orang;
  • Ia mengetahui perbuatan Al-amr bi al-Ma’ruf wa al-Nahyi’ An al- Munkar, tidak akan menbawa madarat yang lebih besar, dan
  • Ia mengetahui atau menduga tindakannya tidak berbahaya bagi diri dan hartanya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

http://www.komunitaskalikidang.co.cc/2010/12/aliran-mutazilah.html

http://www.scribd.com/doc/39598795/Mu-Tazilah#fullscreen:off

WS. Rohanda, Dkk,  Ilmu Kalam Untuk Mahasiswa, Najwa Press, Bandung 2010

Dr. Abdul Rojak, Dkk, Ilmu Kalam, Pustaka Setia, Bandung 2006

 

 

 


[1] Abd Al-Jabbar bin Ahmad, Syarh Al-Ushul Al-Khamsah, Maktab Wahbah, Kairo, 1965, hal. 196

[2] Al-Jabbar, op. cit, hlm 217

[3] Ibid, hlm. 253

[4] Watt, Op.cit., hlm. 87

[5] Muhamad Mazru’ah, Tarikh al-firaq al-islamiah, (kairo: Dar al-Manar, 1991, hal. 122

[6] Abu al-Jabar ibn Ahmad, op. cit., hal. 142-143

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s