Murji’ah


BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latarbelakang

Ilmu Kalam adalah salah satu dari empat disiplin keilmuan yang telah tumbuh dan menjadi bagian dari tradisi kajian tentang agama Islam. Tiga lainnya ialah disiplin-disiplin keilmuan Fiqh, Tasawuf, dan Falsafah. Ilmu Kalam tidak sama sekali bebas dari kontroversi atau sikap-sikap pro dan kontra, baik mengenai isinya, metodologinya, maupun klaim-klaimnya. Karena itu penting sekali mengerti secukupnya ilmu ini, agar terjadi pemahaman agama yang lebih seimbang.[1]

Didalam pembahasan ilmu kalam terdapat bebrapa aliran, seperti mu’tazilah, dan murjiah. Aliran-aliran yang dikenal ini memiliki doktrin masing-masing yang berbeda bahkan doktrin mereka bertentangan dengan faham islam yang maisnstream. Hal ini yang menjadi latarbelakang penyusun menyusun makalah ini selain sebagai tugas mandiri dari mata kuliah ilmu kalam.

  1. Maksud dan Tujuan

Adapun maksud dan tujuan dari pembuatan makalah selain memenuhi tuigas mandiri yakni :

  1. Ingin mengetahui Sejarah Asal Usul Murji’ah
  2. Ingin mengetahui Pengertian Murjiah
  3. Ingin mengetahui Golongan Dan Tokoh Aliran Murji’ah
  4. Ingin mengetahui Doktrin-doktrin Murjiah

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. ASAL-USUL MURJI’AH

Awal kemunculan aliran dalam Islam terjadi pada saat Kholifah Islamiyah mengalami suksesi kepemimpinan dari Usman bin Afan ke Ali bin Abi Thalib. Masa pemerintahan Ali merupakan era kekacauan dan awal perpecahan dikalangan umat Islam. Namun, bibit-bibit perpecahan itu mulai muncul pada akhir kekuasaan Utsman.

Pada masa pemerintahan khalifah ke empat ini perang secara fisik beberapa kali terjadi antara pasukan Ali bin Abi Thalib melawan para penentangnya. Peristiwa-peristiwa ini telah menyebabkan terkoyaknya persatuan dan kesatuan umat. Sejarah mencatat, paling tidak ada dua perang besar pada masa itu. Perang pertama adalah perang jamal (perang unta) yang terjadi antara Ali dan ‘Aisyah yang dibantu Zubair bin Awam dan Thalhah bin Ubaidillah. Perang kedua adalah perang sifin yang berlangsung antara pasukan Ali melawan tentara Muawiyah bin Abu Sufyan.

Faktor penyulut perang jamal ini disebabkan oleh kebijakan Ali yang tidak mau menghukum para pembunuh Utsman. Ali sebenarnya ingin menghindari perang dan menyelesaikan perkara itu secara damai, namun ajakan tersebut ditolak oleh ’Aisyah, Zubair dan Thalhah. Zubair dan Thalhah terbunuh ketika melarikan diri, sedangkan ‘Aisyah ditawan dan dikirim kembali ke Madinah.

Bersamaan dengan itu kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan Ali semasa memerintah juga mengakibatkan timbulnya perlawanan dari gubernur di Damaskus. Perlawanan itu didukung oleh sejumlah bekas pejabat tinggi.

Dalam suasana pertentangan serupa inilah, timbul suatu golongan-golongan baru yang ingin bersikap netral tidak mau turut dalam praktek kafir-mengkafirkan yang terjadi antara golongan yang bertentangan itu. Bagi mereka sahabat-sahabat yang bertentangn itu merupakan orang-orang yang dapat dipercayai dan tidak keluar dari jalan yang benar. Oleh karena itu mereka tidak mau mengeluarkan pendapat tentang siapa yang sebenarnya salah, dan memandang lebih baik menunda penyelesaian persoalan ini ke hari perhitungan didepan Tuhan.

Dengan demikian kaum murji’ah pada mulanya merupakan golongan yang tidak mau turut campur dalam pertentangn-pertentangan yang terjadi dan mengambil sikap menyerahkan penentuan hukum kafir atau tidak kafirnya orang-orang yang bertentangan itu kepada Tuhan.

  1. PENGERTIAN MURJI’AH

Pengertian murj’ah dapat dibagi menjadi dua, yakni  pengertian secara etimologis dan terminologis. Jika secara etimologi kata murji’ah Nama Murji’ah diambil dari kata irja atau arja’a yang bermakna penundaan, penangguhan. dan Pengharapan. Kata arja’a mengandung Pula arti memberi harapan, yakni memberi harapan kepada pelaku dosa besar untuk memperoleh pengampunan dan rahmat Allah.[2] Selain itu, arja’a berarti pula meletakkan di belakang atau mengemudikan, yaitu orang yang mengemudikan amal dan iman.

Sedangkan menurut terminologis atau arti sebenarnya aliran Murji’ah adalah aliran Islam yang muncul dari golongan yang tak sepaham dengan Khowarij. Ini tercermin dari ajarannya yang bertolak belakang dengan Khowarij. Pengertian murji’ah sendiri ialah penangguhan vonis hukuman atas perbuatan seseorang sampai di pengadilan Allah SWT kelak. Jadi, mereka tak mengkafirkan seorang Muslim yang berdosa besar, sebab yang berhak menjatuhkan hukuman terhadap seorang pelaku dosa hanyalah Allah SWT, sehingga seorang Muslim, sekalipun berdosa besar, dalam kelompok ini tetap diakui sebagai Muslim dan punya harapan untuk bertobat.[3]

  1. GOLONGAN dan TOKOH ALIRAN MURJI’AH

Kemunculan sekte-sekte dalama kelompok Murji’ah tampaknya dipicu oleh perbedaan pendapat (bahkan hanya dalam hal intensitas) dikalangan pendukung Murji’ah sendiri.[4]

Secara garis besar, kelompok murji’ah terbagi kepada dua golongan yakni, golongan moderat dan golongan ekstrim. Golongan murji’ah yang moderat tetap teguh berpegang pada doktrin Murji’ah. Sementara golongan Murji’ah ekstrim memiliki doktrin masing-masing. Yang termasuk golongan Murji’ah ekstreme antara lain: [5]

  1. Jahm Ibnu Sofwan. Dia merupakan pelopor Al-Jahmiyah. Golongan ini berpendapat jika seseorang telah mempercayai Allah SWT, rosul-rosulnya dan segala sesuatu yang datang dari Allah SWT berarti ia mukmin walaupun perbuatanya bertentangan dengan apa yang diimaninya.
  2. Abu Hasan As-Sahili, merupakan salah satu tokoh golongan As-shalihiyah, mereka berpendapat sama dengan golongan al-Jahmiyah. Salah satunya mereka berpendapat, shalat itu tidak merupakan ibaddah kepada Tuhan karena yang disebut ibadah itu adalah hanya beriman kepada Tuhan dalam arti hanya beriman kepeda Tuhan.
  3. Yunus Ibnu an-Namiri, merupakan tokoh yang diikuti oleh golongan Yunusiyah, mereka mempercayai bahwa perrbuatan jahat dan maksiat tidak merusak keimanan yang penting pengetahuan tentang tuhan, rendah hati dan tidak takabur.
  4. Ubay Al-Maktaib, merupakan pelopor dari golongan Al-Ubaidiyah, pada dasarnya pendapat golongan ini sama dengan pendapat gologan Yunusiyah. Artinya perbuatan jahat dan semua dosa yang dilakukan tidak akan merusak keadaan iman.
  5. Ghailan Al-Dimasyqi, merupakan orang yang mempelopori golongan Gailaniyah. Berpendapat bahwa iman adalh ma’rifat kepada Allaah SWT melalui nalar dan menunjukan sikap cinta dan tunduk dan kepada Allah SWT.
  6. Abu Sauban, adalah pemimpin dari golongan al-Saubaniyah. Prinsip yang dimiliknya hampirr sama dengan golongan al-Galainiyah.Adapun yang menjadi tambahannya ialah mengetahui dan mengakui sesuatu yang menurut akal wajib.
  7. Bisyar Al-Marisiyah meruupakan pelopor golongan al-Marisiyah.
  8. Muhammad Ibnu Karam sebagai pelopor golongan al-Karamiyah berpendapat bahwa mukmin dan kafirnyya seorang dapat dilihat dari pengakuannya terhadap Allah SWT secara lisan.

 

  1. DOKTRIN-DOKTRIN MURJI’AH

Harun Nasution menyatakan ajraran pokok (doktrin) Murji’ah sebagai berikut :[6]

  1. Menunda atas hukuman Ali, Mu’awiyah, Amr Ibn Ash, dan Abu Musa Al-Asy’ari yang terlibat tahkim dan menyerahkannya kepada Allah SWT di hari kiamat kelak.
  2. Menyerahkan keputusan kepada Allah atas orang muslim yang berdosa besar.
  3. Meletakan pentingnya iman daripada amal.
  4. Memberikan penghargaan kepada muslim yang berdosa besar untuk memperoleh ampunan dan rahmat dari Allah SWT.

Menurut W. Montgomery Watt, doktrin teologi Murji’ah terdiri dari hal-hal berikut :

  1. Penangguhan keputusan terhadap Ali dan Mu’awiyah hingga Allah memutuskannya dihari kiamat kelak.
  2. Penangguhan Ali untuk menduduki ranking ke empat dalam peringkat khulafah Ar-Rasyidin.
  3. Pemberian pengharapan terhadap orang muslim yang berdosa besar untukmemperoleh ampunan dari rahmat Ilahi.
  4. Doktrin-doktrin Murji’ah menyerupai pengajaran para skeptis dan empiris dari kalangan Helenis[7]

Sementara itu, Abdul A’la al-Maududi menyebut ajaran Murji’ah daam dua doktrin pokok, yaitu :[8]

  1. Iman itru adalah percaya kepada Allah dan rasul-Nya saja. Adapun amal atau perbuatan tidak merupakan suatu keharusan bagi adanya iman. Berdasarkan hal ini, seorang tetap dianggap orang mukmin walaupun meninggalkan perbuatan yaang difardukan dan melakukan dosa besar.
  2. Dasar keselamatan adalah iman semata. Selama masih ada iman dihati, setiap maksiat tidak dapat mendatangkan madarat atau gangguan atas seorang. Untuk dapat pengampunan manusia cukup hanya denggan menjauhkan diri dari syirik dan mati dalam keadaan akidah tauhid.[9]

Doktrin Murji’ah tidak akan menetap terus di neraka, jika di dalam hatinya masih ada setitik iman. Hal ini di landaskan Jawaban Nabi, suatu ketika ada seorang sahabat bertanya kepada Nabi. “Ya Rasulullah di mana letak iman itu?”. Nabi menjawab: ا لا ما ن ها هو نا (Iman di dalam Hati) sambil Nabi Menunjuk dada Beliau. Inilah yang melatarbelakangi pemikiran aliran Murji’ah, yang berbeda dengan apa yang kita yakini saat ini. Karena Murji’ah memahami/ menafsirkan al-Quran dan al-Hadits apa adanya sesuai dengan kemampuan mereka. Hal itu menyebabkan orang menjadi permisif (tidak takut dengan dosa), karena dosa sebesar apapun kelak di akhirat masih berkesempatan masuk surga.[10]

 

BAB III

KESIMPULAN

Kaum murji’ah pada mulanya merupakan golongan yang tidak mau turut campur dalam pertentangn-pertentangan yang terjadi dan mengambil sikap menyerahkan penentuan hukum kafir atau tidak kafirnya orang-orang yang bertentangan itu kepada Tuhan.

Aliran Murji’ah adalah aliran Islam yang muncul dari golongan yang tak sepaham dengan Khowarij.

Secara garis besar, kelompok murji’ah terbagi kepada dua golongan yakni, golongan moderat dan golongan ekstrim. Golongan murji’ah yang moderat tetap teguh berpegang pada doktrin Murji’ah. Sementara golongan Murji’ah ekstrim memiliki doktrin masing-masing.

Untuk doktrin murji’ah berbeda-beda, salah satu pendapat Harun Nasution menyatakan ajraran pokok (doktrin) Murji’ah sebagai berikut :

  1. Menunda atas hukuman Ali, Mu’awiyah, Amr Ibn Ash, dan Abu Musa Al-Asy’ari yang terlibat tahkim dan menyerahkannya kepada Allah SWT di hari kiamat kelak.
  2. Menyerahkan keputusan kepada Allah atas orang muslim yang berdosa besar.
  3. Meletakan pentingnya iman daripada amal.
  4. Memberikan penghargaan kepada muslim yang berdosa besar untuk memperoleh ampunan dan rahmat dari Allah SWT

 

DAFTRA PUSTAKA

Dr. Nurcholish Madjid, Islam Doktrin dan Peradaban, (Jakarta: Yayasan Paramadina)

Rohanda W.S., 2006, Ilmu Kalam daari Klasik sampai Kontemporer, Bandung : Najwa Press

Harun Nasution, 1986, Teologi Islam : Aliran-aliran, sejarah, Analisa, dan perbandingan, Jakarta: Universitas  Indonesia,

W. Montgomery Watt, 1990, Early Islam: Collected Articels, Eindburg

Abdul A’la Al-Mauduudi,1994, Al-Khalifah wa Al-Mulk, terj. Muhammad al-Baqir, Bandung: Mizan,

Ibnu Taimiyah, 2004,  Al-Imam, Jakarta: Darul Falah

http://referensiagama.blogspot.com/2011/02/murjiah-pemikiran-doktrin-dan-sekte.html

http://id.wikipedia.org/wiki/Murjiah. Posted  at 12:11, 16 April 2010.

http://dinulislami.blogspot.com/2009/08/murjiah.html diposkan tanggal 23 Agustus 2009


[1] Dr. Nurcholish Madjid, Islam Doktrin dan Peradaban, (Jakarta: Yayasan Paramadina)

[2] Rohanda W.S., Ilmu Kalam daari Klasik sampai Kontemporer, (Bandung : Najwa Press, 2006), hal. 33

 

[3] Diakses dari  http://id.wikipedia.org/wiki/Murjiah. Posted  at 12:11, 16 April 2010.

[4] Diakses dari http://dinulislami.blogspot.com/2009/08/murjiah.html diposkan tanggal 23 Agustus 2009

[5] Harun Nasution, Teologi Islam : Aliran-aliran, sejarah, Analisa, dan perbandingan (Jakarta: Universitas  Indonesia, 1986)  hal.26-27

[6] Harun Nasution, Op.Cit., hlm. 22-23

[7] W. Montgomery Watt, Early Islam: Collected Articels,  (Eindburg, 1990) hlm. 181

[8] Abdul A’la Al-Mauduudi, Al-Khalifah wa Al-Mulk, terj. Muhammad al-Baqir, (Bandung: Mizan, 1994), hlm. 279-280

[9] Ibnu Taimiyah, Al-Imam, (jakarta: Darul Falah, 2004) hlm. 115

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s