hukum dan teori ilmiah


BAB I

PENDAHULUAN

 

Teori ilmiah merupakan sebuah kumpulan pernyataan yang saling berhubungan dan didukung dengan baik, yang menjelaskan berbagai pengamatan dan dapat digunakan untuk membuat prediksi yang dapat diuji.

Teori ilmiah menjelaskan suatu kerangka koheren yang sesuai dengan data-data pengamatan. Definisi ilmiah kata “teori” berbeda dengan pengertian kata ini secara umum. Secara umum, “teori” dapat berarti sebuah konjektur, opini atau spekulasi yang tidak mempunyai dasar-dasar fakta maupun dapat membuat prediksi yang dapat diuji kebenarannya. Dalam ilmu pengetahuan, pengertian teori lebih kaku, yakni : teori haruslah didasarkan pada fakta-fakta yang terpantau dan dapat membuat prediksi yang dapat diuji.

Hukum ilmiah biasanya adalah suatu pernyataan didalam dunia ilmu pengetahuan yang berupa hipotesis yang sebelumnya telah didukung oleh percobaan-percobaan dan menyangkut teoriteori sebelumnya yang dapat mendukung teori dan hukum tersebut.

Dalam sejarahnya, hukum ilmiah dapat diilhami berdasarkan suatu percobaan secara ilmiah, ada juga hukum tersebut dibuat atas dasar pemikiran yang kritis atau dengan suatu keadaan coba-coba bahkan ketidak sengajaan.

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. 1.      Hukum : Hubungan Sebab Akibat

Ilmu pengetahuan sesungguhnya bertujuan untuk mengkaji hubungan khusus antara peristiwa tertentu dengan peristiwa lainnya. Kalau satu peristiwa terjadi, peristiwa yang lain pasti terjadi atau menyusul. Atau kalau peristiwa yang satu terjadi, peristiwa yang lain sudah terjadi mendahuluinya. Hubungan diantara kedua peristiwa ini kemudian ditemukan sebagai hubungan sebab akibat, yaitu bahwa ternyata peristiwa yang satu menjadi sebab dari peristiwa yang lain atau bahwa yang satu menjadi akibat dan yang lain menjadi sebabnya.

Ilmu pengetahuan sesungguhnya mengkaji atau meneliti hubungan sebab akibat antara berbagai peristiwa dalam alam dan dalam hidup manusia. Hubungan ini dianggap sebagai suatu hubungan yang bersifat pasti karena kalau satu peristiwa terjadi yang lain dengan sendirinya akan menyusul atau pasti telah terjadi sebelumnya. Inilah hubungan yang dlam ilmu pengetahuan disebut hukum.

 

  1. 2.      Sifat-sifat Hukum Ilmiah

Hukum ilmiah mempunyai sifat-sifat lebih pasti, lebih berlaku umum atau universal, dan punya daya terang yang lebih kuat.

  1. Lebih Pasti

Hukum ilmiah adalah perkembangan lebih lanjut dari hipotesis. Yang mengungkapkan hubungan sebab akibat antara peristiwa yang satu dengan peristiwa yang lain, lanjutan dari hipotesis yang telah mendapat status yang lebih pasti sifatnya karena telah terbukti benar dengan didukung oleh fakta dan data yang tidak terbantahkan.  Setiap hukum ilmiah bagaimanapun tetap mengandung unsur hipotesis walaupun bersifat lebih pasti, selalu saj kebenarannya bersifat sementara atau tidak definitif selalu ada kemungkinan.

Semakin pasti hipotesis, hipotesis itu akan berubah menjadi sebuah hukum ilmiah. Ini ter bukti benar bahwa ada hubungan langsung tanpa terkecuali antara peristiwa yang satu dengan peristiwa yang lain. Dengan kata lain, kalau dalam bentuk hipotesis masih merupakan sebuah dugaan bahwa ada hubungan sebab akibat antara A dan B, dalam bentuknya sebagai hukum hubungan sebab akibat itu terbukti benar. Jika A terjadi maka B pun pasti terjadi dan terbukti ada hubungan sebab akibat antara keduanya. Sebaliknya, jika A terjadi dan B hanya kadang-kadang saja itu berarti hubungan A dan B bukan merupakan hubungan hukum ilmiah.

 

  1. Berlaku Umum atau Universal

Berkaitan dengan sifat hukum yang lebih pasti diatas, karena hukum lebih pasti sifatnya dengan sendirinya akan lebih umum atau universal pula keberlakuannya. Hukum bersifat umum karena:

  • Hukum mengungkapkan hubungan yang bersifat universal antara dua peristiwa. Hubungan ini merupakan sebuah hukum ilmiah tidak hanya terjadi pada kasus partikular, yaitu antara dua peristiwa khusus dalam kurun waktu dan tempat tertentu saja. Melainkan, berlaku untuk semua peristiwa sejenis lainnya kapan saja dan dimana saja. Hubungan sebab akibat diungkapkan, hukum ilmiah dengan sendirinya akan terjadi.
  • Hukum ilmiah siapapun akan sepakat dan menyetujui bahwa memang benar ada hubungan sebab akibat antara peristiwa sejenis yang satu dengan yang lainnya.

 

  1. Punya Daya Terang yang Lebih Luas

Kedua sifat diatas, belum cukup untuk menentukan dengan jelas batas antara hipotesis dengan hukum, yang paling membedakan antara hukum dan hipotesis adalah bahwa hukum mempunyai daya terang yang jauh lebih jelas. Dengan hukum ilmiah, ilmuan ingin mendapatkan penjelasan ilmiah (socientific explanation) yang memperlihatkan secara gamblang hubungan antara satu peristiwa  dengan peristiwa yang lainnya. Dengan hukum yang memberi penjelasan mengenai hubungan antara peristiwa yang dikaji agar bisa dimengerti dan masuk akal.

Hubungan sebab akibat yang bersifat pasti dan deterministik bukannya meniadakan kebebasan manusia. Dengan kata lain penjelasan yang diberikan hukum ilmiah jauh lebih memuaskan karena dengan penjelasan itu manusia tahu bahwa ada hubungan terkait yang erat sekali antara satu peristiwa dengan peristiwa yang lain.

 

  1. 3.      Hukum, Kebetulan, dan Kontituitas Alam

 

Ilmuwan alam tunduk pada hukum (regularitas dan uniformitas), dan karena itu alam dapat dimengerti karena hanya hukum yang terbuka bagi pikiran manusia. Hukum berkembang dari kebetulan, dalam pengertian bahwa variasi kebetulan secara bertahap tunduk pada hukum dan pada giliranya akan menjadi mantap dala pola-pola yang reguler dan karena itu dapat dipahami.

Hal ini terjadi secara continue, kontinuitas membuat peristiwa dan benda semakin lama semakin mencapai status hukum. Maka penjelasan tentang hukum juga dapat diperlihatkan dengan menunjukkan bagaimana ia berkembang dari kebetulan. Alam semesta berkembang dari kebetulan-kebetulan dan akan terus berkembang sehingga terbentuklah regularitas dan hukum. Dari kebetulan-kebetulan dimasa lampau dunia berkembang dan tumbuh ke arah hukum, ketetapan dan regularitas.

Selain kebetulan, kemunculan regularitas atau hukum alam dapat pula dipahami dalam konteks kontinuitas, kontinuitas  merupakan kenyataan dasar dari setiap benda. Dengan unsur kebetulan potensialitas itu menampakan diri dalam bentuk-bentuk yang lebih spesifik maka kontinuitas sudah ad sejak permulaan, atau ketika bend-benda belum terbentuk tetapi masih sebagai permulaan yang nengandung segala kemungkinan (arkhe).

Benda-benda pun semakin lam semakin membentuk diri dengan kebiasan tertentu. Maka ada kontinuitas dari situasi baru, spontanitas, dan orisinalitas arkhe kepada kebiasaan. Tahap ini disebut dengan apa yang disebut oleh peirce dengan the formation of habit pad benda-benda. Maka kontinuitas merupakan unsur yang penting dalam perkembangan alam atau benda-benda tetentu yakni kontinuitas chaos kepada formation of habit, dari kebetuln kepada hukum.

 

  1. 4.      Evolusi dan Kontinuitas Pengetahuan

 

Evolusi dan kontinuitas tidak hanya merupakan kenyataan alam, melinkan juga kenyataan pengetahun itu sendiri. Hal ini disebabkan karena pemikiran menusia selalu mengalami perkembangan, perkembangan itu terjdi baik dalam fikiran seorang ilmuan atau pun dalam fikiran komunitas ilmuan. Metode ilmu pengetahuan juga mengalami perkembangn dari zman ke zaman. Metode ilmu pengetahuan yang kita temukan dewasa ini merupakan hasil dari usah ayang panjang dari ilmu pengetahuan.

Ilmuwan melihat ilmu pengetahuan sebagai proses, suatu penelitian hidup tanpa henti. Proposisi-proposisi ilmiah yang diterima pada suatu waktu tertentu tidak lebih dari suatu demi-cadense dalam simponi kebenaran. Temuan-temuan ilmiah yang dicapai hanya merupakan suatu prestasi.

 

  1. 5.      Aktifitas Fikiran dan Alam

 

Dasar dari kesuksesn ilmu pengetahuan adalah afinitas antara diri manusia dan alam. Ever y single truth of scince is due to the affinity of the human soul and the soul of the universe. Keberhasilan ilmu pengetahuan dalam memilih hepotesis juga merupakan akibat dari fakta bahwa fikiran manusia bekerja bersamaan dengan alam. Dalam rumusan kaant, pengetahuan manusia terjdi karena kategori-kategori tertentu dalam akal budi manusia yang memungkinkannya untuk menangkap alam sebagai objek pengetahuan.

Keberhasilan ilmu pengetahuan berangkat dari kepercayaan dasar bahwa budi menusia memiliki kemampuan natural yang mengenal realitas alam. Galileo menyebutnya dengan kepercayaan kepada il lume naturale, natural light, or light nature.  Jadi ilmu pengetahuan berkembang karena insting budi atau intuisi budi yang langsung menyentuk kebenaran dn keindahan alam. Mind, as, one with nature, and also as a knowing fakulty, must have an instinctive feel for the ways of natura. Diatas kepercayaan ini, ilmu pengetahuan menugaskan diri untuk memilih atau menentukan hipotesis untuk diuji.

 

  1. 6.      Dari Hukum Menuju Teori

 

Fungsi dari teori adalah untuk menjelaskan hukum ilmiah. Oleh karena itu, antara hukum dan teori ada kaitan yang sangat erat, namun demikian ada perbedaan yang besar diantara keduanya, hukum lebih bersifat empiris dan harus diperiksa dan ditolak berdasarkan fakta empiris. Sebaliknya, teori lebih merupakan pandangan umum yang sulit diperiksa langsung secara empiris. Teori terutama dimaksudkan sebagai huimpunan pengetahuan yang meliputi banyak kenyataan dan hukum yang sudah diketahui dan diperiksa berdasarkan kenyataan empiris. Jadi teori mencakup pula hukum.

Fungsi teori:

Teori merupakan upaya relatif untuk membangun hubungan yang cukup luas antara sejumlah hukum ilmiah.

Teori berfungsi menjelaskan hukumhukum yang mempunyai hubungan satu sama lain, sehingga hukumhukum tersebut dapat dipahami dn masuk akal.

Jika kita menerima teori tersebut sebagai benar maka kita dapat membuktikan bahwa hukum yang harus dijelaskannya juga benar dengan sendirinya. Dalam hal ini hukum dideduksikan dari teori yang bersangkutan.

Bilamana suatu teori ilmiah dapat memberikan penjelasan dengan baik tentang fenomena yang jadi sasarannya, Bill Newton-Smith telah mengidentifikasi 8 ciri teori ilmiah yang mampu digunakan untuk memberikan penjelasan dengan baik, yang bias digunakan acuan dalam memilih suatu teori, yaitu:[1]

a.  Observational nesting. Suatu teori seharusnya mempunyai paling tidak konsekuensi observasi  yang sama dengan teoriteori sebelumnya.

b.  Fertility. Suatu teori seharusnya terbuka  untuk diuji dan dikembangkan.

c.  Track-record. Suatu teori hendaknya memiliki keberhasilan pada waktu-waktu  sebelumnya.

d.  Inter-theory support. Suatu teori seharusnya terintegrasi dan memberikan dukungan pada teoriteori lainnya.

e.  Smootness. Jika suatu teori tidak sesuai dengan fenomena yang dijelaskannya hendaknya terbuka untuk dilakukan perbaikan.

f.   Internal consistency.  Suatu teori hendaknya memiliki konsistensi internal.

g.  Compaibility with well-grounded metaphysical beliefs. Suatu teori hendaknya konsisten dengan asumsiasumsi umum atau metafisis thenrtang dunia.

h.  Simplicity. Teori  yang simpel lebih baik dari pada teori  yang rumit.

Dalam sejarah sains perjalanan suatu teori atau hipotesis ilmiah ternyata adalah juga perkara survival of the fittest dalam pengertian positif. Seperti hipotesis sains lainnya, dua hipotesis di atas, juga Teori Evolusi Darwin, harus selalu terbuka untuk diuji keandalannya. Teori Big Bang di ranah fisika adalah satu contoh teori yang bisa bertahan dari kritik. John Maddox, editor Nature, di tahun 1989 pernah mengganggapnya sebagai  teori yang ”…unlikely to survive the decade ahead…” Hingga sekarang, Teori Big Bang masih merupakan teori sains yang sangat kuat.

Dengan kata lain satu teori mendekati kebenaran daripada yang lain. Meminjam istilah Popper, teori tersebut akan memiliki verisimilitude (nearness to the truth) yang lebih besar. Semakin menantang dan berani mengambil resiko untuk dibuktikan gagal dalam pengujian, suatu hipotesis itu sebenarnya menjadi lebih berguna secara ilmiah (bold hypotheses).[2]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

Ilmu pengetahuan sesungguhnya bertujuan untuk mengkaji hubungan khusus antara peristiwa tertentu dengan peristiwa lainnya. Hukum ilmiah mempunyai sifat-sifat lebih pasti, lebih berlaku umum atau universal, dan punya daya terang yang lebih kuat. Ilmuwan alam tunduk pada hukum (regularitas dan uniformitas), dan karena itu alam dapat dimengerti karena hanya hukum yang terbuka bagi pikiran manusia.

Evolusi dan kontinuitas tidak hanya merupakan kenyataan alam, melinkan juga kenyataan pengetahun itu sendiri. Hal ini disebabkan karena pemikiran menusia selalu mengalami perkembangan, perkembangan itu terjdi baik dalam fikiran seorang ilmuan atau pun dalam fikiran komunitas ilmuan.

Dasar dari kesuksesn ilmu pengetahuan adalah afinitas antara diri manusia dan alam. Keberhasilan ilmu pengetahuan berangkat dari kepercayaan dasar bahwa budi menusia memiliki kemampuan natural yang mengenal realitas alam.

Fungsi dari teori adalah untuk menjelaskan hukum ilmiah. Fungsi teori:

Teori merupakan upaya relatif untuk membangun hubungan yang cukup luas antara sejumlah hukum ilmiah.

Teori berfungsi menjelaskan hukumhukum yang mempunyai hubungan satu sama lain, sehingga hukumhukum tersebut dapat dipahami dn masuk akal.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Keraf,  A Sonny and Mikhael Dua. 2001. Ilmu Pengetahuan Sebuah Tinjauan Filosofis. PENERBIT KANISIUS: Yogyakarta

http://ebekunt.wordpress.com/2010/08/30/filsafat-ilmu-diringkas-dari-buku-philosophy-of-science-karangan-john-bird/

http://netsains.com/2009/08/perjalanan-suatu-teoriilmiah/

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s