filsafat postmodern


BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. A.     Latar Belakang masalah

Postmodern merupakan kritik atas masyarakat modern dan kegagalanya memenuhi janji-janjinya. Postmodern juga cendeung mengkritik segala sesuatu yang diasosiasikan dengan modernitas, yaitu akumulasi penglaman peradaban barat.

Postmodernisme bersifat relative. Kebenaran adalah relative, kenyataan (realita) adalah relative, dan keduanya menjadi konstruk yang tidak bersambungan satu sama lain. Hal tersebut jelas memepunyai  implikasi bagaimana kita memandang diri dan mengkonstruk identitas diri. Hal ini senada dengan devisi dari Friedrich Wiliam Nietzsche (1844-1900) yang dikenal sebagai nabi dari postmodernisme. Dia mengatakan bahwa”Ada banyak macam mata. Bahkan sphink juga mamiliki mata, dan oleh sebab itu ada banyak macam kebenaran, dan oleh sebab itu tidak ada kebenaran.

 

  1. B.      Rumusan Masalah
  • Apa latar belakang lahirnya postmodern?
  • Apakah definisi postmodern dan bagaimana sejarah perkembangannya?
  • Tokoh-tokoh postmodern dan ajarannya?

 

  1. C.     Tujuan Masalah
  • Memahami latar belakang lahirnya postmodern
  • Menjelaskan definisi postmodern dan  sejarah perkembangannya
  • Mengetahui tokoh-tokoh postmodern dan ajarannya

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian

Secara etimologis post modern terdiri dari dua kata yaitu post dan modern. Kata post yang berarti “later or after” dan modern. Sedangkan secara terminologis menurut Pauline rosenau postmodern merupakan kritik atas masyarakat modern dan kegagalanya memenuhi janji-janjinya. Postmodern juga cendeung mengkritik segala sesuatu yang diasosiasikan dengan modernitas, yaitu akumulasi penglaman peradaban barat.

Postmodernisme bersifat relative. Kebenaran adalah relative, kenyataan (realita) adalah relative, dan keduanya menjadi konstruk yang tidak bersambungan satu sama lain. Hal tersebut jelas memepunyai  implikasi bagaimana kita memandang diri dan mengkonstruk identitas diri. Hal ini senada dengan devisi dari Friedrich Wiliam Nietzsche (1844-1900) yang dikenal sebagai nabi dari postmodernisme. Dia mengatakan bahwa”Ada banyak macam mata. Bahkan sphink juga mamiliki mata, dan oleh sebab itu ada banyak macam kebenaran, dan oleh sebab itu tidak ada kebenaran.

B. Perbedaan Modernisme dan Postmodernisme

Pemikir Evalengical, Thomas Oden, berkata bahwa periode modern dimulai dari runtuhnya revolusi Prancis dan berakhir dengan kolapsnya komunisme dan runtuhnya tembok berlin. Modernisme adalah satu periode yang mengafirmasi keeksistensian dan kemungkinan mengetahui kebenaran dengan hanya menggunakan penalaran manusia. Oleh karena itu dalam arti simbolik penalaran menggantikan posisi Tuhan, naturalisme menggantikan supranatural.

Sedangkan postmodernisme adalah reaksi melawan moderisme yang muncul sejak akhir abad 19. Dalam postmodernisme, pikiran digantikan oleh keinginan, penalaran digantikan oleh emosi, dan moralitas digantikan oleh relativisme. Kenyataan tidak lebih dari konstuk sosial, kebenaran disamakan dengan kekuatan atau kekuasaan. Postmodernisme mempunyai sifat fragmentasi (terpecah-pecah menjadi lebih kecil), tidak menentukan (indeterminarcy) dan ketidakpercayaan terhadap hal universal (pendangan dunia) dan struktur kekuatan.

C. Sejarah Perkembangan Postmodern

Postmodernisme pertamakali muncul di Prancis sekitar tahun 1970-an. Pada awalnya postmodern lahir terhadap kritik arsitektur, dan harus kita akui kata postmodern itu sendiri muncul sebagai bagian dari modernitas ketika postmodern mulai memasuki ranah filsafat.  

Post dalam modern tidak dimaksudkan sebagai sbuah periode atau waktu tetapi lebih merupakan sebuah konsep yang hendak melampaui segala hal modern. Postmodern ini merupakan sebuh kritik atas realitas modernitas yang dianggap telah gagal dalam melnjutkan proyek p encerahan. Nafas utama dari postmodern adalah penolakan atas narasi-narasi besar yang muncul pada dunia modern dengan ketunggalan gangguan terhadap akalbudi dan mulai memberi tempat bagi narasi-narasi kecil, local, tersebar dan beranekaragam untuk bersuara dan menampakan dirinya.

D .Tokoh-Tokoh Postmodern dan Ajarannya

1.Friedrich Wilhelm Nietzsche sche (1844-1900)

Lahir di Rochen, Prusia 15 oktober 1884. Menurutnya manusia harus menggunakakan skeptisme radikal terhadap kemampuan akal. Tidak ada yang dapat dipercaya dari akal. Terlalu naïf jika akal dipercaya mampu memperoleh kebenaran. Kebenaran itu sendiri tidak ada. Jika orng beranggapan dengan akal diperoleh pengetahuan atau kebenaran, maka akal sekaligus merupakan sumber kekeliruan.

2.Jacques Derrida (Al-Jazair, 15 juli 1930-Paris, 9 oktober 2004)

Seorang filsuf Prancis keturunan Yahudi sebagai pendiri ilmu dekonstruktivisme. Menurutnya apa yang dicari manusia modern selama ini, yaitu kepastian tunggal yang “ada di depan,” tidaklah ada dan tidak ada satupun yang bisa dijadikan pegangan. Karena, satu-satunya yang bisa dikatakan pasti, ternyata adalah ketidakpastian, atau permainan. Semuanaya harus ditunda atau ditangguhkan sembari kita terus bermain bebas dengan perbedaan. Inilah yang ditawarkan Derrida, dan postmodernitas adalah permainan dengan ketidakpastian.

 

 

3. Capra

Capra melihat didunia saat ini banyak sekali terdapat kontradiksi. Kontradiksi inilah yang disebutnya sebagai kakacauan. Ini adalah suatu tanda kehancuran kebudayaan.

Menurutnya, budaya dunia ( dalam hal ini terutama Barat) telah terpuruk di lembah kehancuran,penuh kontradiksi, kacau. Penyebab utamanya ialah tidak tepatnya paradigm yang digunakan dalam penyusunan kebudayaan barat itu. Inilah kekeliruan pemikiran yang dimaksud.

Capra melihat bahwa kekacauan itu karena tidak digunakan paradigm utuh dalam merekayasa budaya. Dan capra menuding bahwa Cartesian dan Newtonian-lah yang bertanggungjawab memunculkan paradigma itu. Selanjutnya penggunaan paradigma itulah sebagai penyebab kekacauan budaya.

Capra mengusulkan harus ada paradigma tunggal (yang mampu melihat alam sebagai sesuatu yang wholeness) untuk digunakan dalam mendesains kembalibudaya dunia. Dia menghendaki agar filsafat China yaitu I Ching digunakan dalam mereformulasikan paradigma baru tersebut. Menurutnya filsafat China tersebut mampu melihat dunia sebagai suatu system.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

KESIMPULAN

 

Secara etimologis postmodern terdiri dari dua kata yaitu post dan modern. Kata post yang berarti “later or after” dan modern. Sedangkan secara terminologis menurut Pauline rosenau postmodern merupakan kritik atas masyarakat modern dan kegagalanya memenuhi janji-janjinya. Postmodern juga cendeung mengkritik segala sesuatu yang diasosiasikan dengan modernitas, yaitu akumulasi penglaman peradaban barat.

Postmodernisme pertamakali muncul di Prancis sekitar tahun 1970-an. Pada awalnya postmodern lahir terhadap kritik arsitektur, dan harus kita akui kata postmodern itu sendiri muncul sebagai bagian dari modernitas ketika postmodern mulai memasuki ranah filsafat.

Postmodernisme bersifat relative. Kebenaran adalah relative, kenyataan (realita) adalah relative, dan keduanya menjadi konstruk yang tidak bersambungan satu sama lain. Dalam postmodernisme, pikiran digantikan oleh keinginan, penalaran digantikan oleh emosi, dan moralitas digantikan oleh relativisme. Kenyataan tidak lebih dari konstuk sosial, kebenaran disamakan dengan kekuatan atau kekuasaan.

Post dalam modern tidak dimaksudkan sebagai sbuah periode atau waktu tetapi lebih merupakan sebuah konsep yang hendak melampaui segala hal modern. Postmodern ini merupakan sebuh kritik atas realitas modernitas yang dianggap telah gagal dalam melnjutkan proyek p encerahan. Nafas utama dari postmodern adalah penolakan atas narasi-narasi besar yang muncul pada dunia modern dengan ketunggalan gangguan terhadap akalbudi dan mulai memberi tempat bagi narasi-narasi kecil, local, tersebar dan beranekaragam untuk bersuara dan menampakan dirinya.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Arismunandar, Satrio, Dekonstruksi Derrida dan Pengaruhnya Pada Kajian Budaya, Desember 15

 

Abidin,Zainal, Filsafat Manusia: Memahami Manusia Melalui Filsafat, (Bandung:PT. Remaja Rosda Karya,2003), Cet. III

 

Purnomo, Ari, Narasi Kecil Sebagai Legitimasi Ilmu Pengetahuan era Postmodern Menurut Jean Francois Lyotard: Sebuah Skripsi, Yogyakarta: FTW, 2006

 

Rahayu,Sri, Epistimologi Friedrich Wilhelm Nietzsche sche, dalam Epistimologi Kiri, (Jogjakarta,Ar-Ruuz,2006), Cet. II

 

Tafsir,Ahmad,2009, Filsafat Umum, Bandung: Rosda

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s