filsafat ilmu


Sejarah Filsafat Ilmu

Menurut buku Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer karya Jujun mengatakan bahwa ilmu merupakan cabang pengetahuan yang mempunyai ciri-ciri tertentu. Sedangkan Filsafat Ilmu adalah bagian dari epistimologi (filsafat pengetahuan) yang secara spesifik mengkaji hakikat ilmu (pengetahuan ilmiah).

Dan dalam Buku Filsafat Ilmu karya Tim Dosen Filsafat Ilmu UGM menerangkan tentang ruang lingkup Filsafat Ilmu dalam bidang filsafat sebagai keseluruhan pada dasarnya mencakup dua pokok bahasan, yaitu membahas “Sifat Pengetahuan Ilmiah” dan Menelaah Cara-Cara Mengusahakan Pengetahuan Ilmiah. Selain itu, Para Tim Dosen itu mengatakan bahwa Filsafat Ilmu adalah penyelidikan filosofis tentang ciri-ciri pengetahuan Ilmiah dan cara-cara untuk memperolehnya. Dengan kata lain filsafat ilmu sesungguhnya merupakan penyelidikan lanjutan.

Filsafat Ilmu dikelompokkan menjadi dua, yaitu:

  1. Filsafat Ilmu Umum

     Yang mana kajiannya mencakup tentang persoalan kesatuan, keseragaman, serta hubungan diantara segenap ilmu. Kajian ini terkait dengan masalah hubungan antara ilmu dengan kenyataan, kesatuan, perjenjangan, susunan kenyataan dan sebagainya.

  1. Filsafat Ilmu Khusus

      Yaitu kajian filsafat ilmu yang membicarakan kategori-kategori serta metode-metode yang digunakan dalam ilmuilmu tertentu atau dalam kelompok limu tertentu.

Filsafat ilmu dapat pula dikelompokkan berdasarkan model pendekatan, yaitu:

  1. Filsafat Ilmu Terapan

      Filsafat ilmu yang mengkaji pokok pikiran kefilsafatan yang melatar belakangi pengetahuan normative dunia ilmu.

 

 

  1. Filsafat Ilmu Murni

       Bentuk kajian filsafat ilmu yang dilakukan dengan menelaah secara kritis dan ekploratif terhadap materi kefilsafatan, membuka cakrawala terhadap kemungkinan berkembangnya pengetahuan normatife yang baru.

   Hubungan Filsafat Ilmu Dengan Epistemologi

Filsafat ilmu secara sistematis merupakan cabang dari rumpun kajian epistemologi. Epistemologi sendiri mempunyai dua cabang, yaitu filsafat pengetahuan (theories of knowledge) dan filsafat ilmu (theory of science). Objek material filsafat pengetahuan, yaitu gejala pengetahuan sedangkan objek material filsafat ilmu, yaitu mempelajri gejala-gejala.

 

Sejarah Ilmu

Ilmu menurut buku Filsafat Ilmu karya jujun mengatakan bahwa ilmu itu merupakan pengetahuan yang kita pelajarin dari bangku sekolah dasar sampai bangku perguruan tinggi. Sejarah ilmu yang diterangkan dalam buku Filsafat Ilmu Para Tim Dosen UGM mengatakan bahwa ilmu itu senantiasa berkembang dari masa ke masa untuk mencapai suatu kesempurnaan ilmu.

Bahkan sebenarnya bangsa Timurlah yang paling mebanyak memberikan sumbangsihnya terhadap dunia ini dibandingkan dari bangsa Barat. Oleh karena itu, periodesasi perkembangan ilmu disusun disini mulai dari peradaban Yunani, kemudian diakhiri pada penemuan-penemuan pada zaman kontemporer.

  1. Ilmu berkembang dari zaman Pra Yunani Kuno (abad 15-7 SM);
  2. Pada Zaman Yunani Kuno (abad 7-2 SM);
  3. Pada Zaman Renaissance (14-17 SM);
  4. Pada Zaman Modern (17-19 M);
  5. Pada Zaman Kontemporer (abad 20-dst).

 

 

Kajian Ontologi, Epistemologi dan Aksiologi

Ontologi

Kata ontology berasal dari perkataan yunani : On=being, dan logos=logic. Jadi ontology adalah the theory of being qua being (teori tentang kebenaran sebagai keberadaan). Lois O. khatsoff dalam elemens of filosofy mengatakan, ontology itu mencari ultimate reality dan menceritakan bahwa diantara contoh pemikiran olntologi adalah pemikiran Thales, yang berpendapat bahwa air lah yang menjadi ultimate substance yang mengeluarkan semua benda. Jadi semua benda hanya satu saja yaitu air.

Ontology merupakan salah satu diantara lapangan penyelidikan kefilsafatan yang paling tua. Awal mula alam fikiran yunani telah menunjukan munculnya perenungan dibidang ontology. Yang tertua diantara segenap filsafat yunani yang kita telah kenal adalah Thales. Atas perenungannya terhadap air merupakan substansi terdalam yang merupakan asal mula dari segala sesuatu.

Pertama kali orang dihadapkan pada adanya dua macam kenyataan. Yang pertama, kenyataan yang berupa materi (kebenaran) dan kedua, kenyataan yang berupa rohani (kejiwaan).

Menurut Jujun S. Suriasumantri dalam pengantar ilmu dalam perspektif mengatakan, ontology membahas apa yang ingin kita ketahui, seberapa jauh kita ingin tau, atau dengan perkataan lain, suatu pengkajian mengenai teori tentang ada. Di dalam pembahasan ontology dapat ditemukan pandangan-pandangan pokok pemikiran sebagai berikut:

  1. Monoisme
    1. Materialism;
    2. Idealisme.

 

 

  1. Dualisme
  2. Pluralisme
  3. Nihilsme
  4. Agnostisisme

 

Epistemoligi

Epistemologi atau teori pengetahuan ialah cabang filsafat yang berurusan dengan hakikat dan lingkup pengehuan, pengadaian-pengadaian dan dasar-dasarnya serta pertanggung jawaban atas pertanyaan mengenai pengatahuan yang dimiliki.

Filsafat Bacon mempunyai peran dalam metode induksi dan sisitematis prosedur ilmiah menurut Russel. Dasar filsafatnya sepenuhnya bersifat praktis, yaitu untuk memberi kekuasaan pada manusia atas alam melalui penyelidikan ilmiah.

Pengetahuan yang diperoleh oleh manusia melalui akal, indera dan lain=lain mempunyai metode tersendiri dalam teori pengethuan, diantaranya adalah:

  1. Metode Induktif

Induksi yaitu suatu metode yang menyimpulkan pernyataan-pernyataan hasil observasi disimpulkan dalam suatu pernyataan yang lebih umum.

Dalam indusi, setelah diperoleh pengetahaun, makan akan dipergunakan hal-hal lain, seperti ilmu mengajarakan kita bahwa kalau logam dipanasi, ia mengembang, bertolak dari teori ini kita akan tahu bahwa logam lain yang kalau dipansi juga akan mengembang. Dari contoh diatas bias diketahui bahwa induksi tersebut memberikan suatu pengetahuan yang disebut juga dengan pengetahuan sintetik.

  1. Metode Deduktif

Deduksi adalah suatu metode yang menyimpulkan bahwa data-data empirik diolah oleh lanjut dalam suatu system pernyataan yang turut. Hal-hal yang harus ada dalam metode deduktif ialah adanya perbandingan logis antara kesimpulan-kesimpulan itu sendiri.

 

  1. Metode Positivisme

Metode ini dikeluarkan oleh Augus Comte (1798-1857). Metode ini berpaqngakl dari apa yang telah diketahui, yang factual, yang positif. Ia menyampingkan segala uraian/ persoalan diuar yang ada sebagai fakta. Apa yang diketahui secara positif, adalah segala yang tampak dan segala gejala. Dengan demikian metode ini dalam bidang filsafat dan ilmu pengetahuan dibatasi kepada bidang gejala-gejala saja.

  1. Motede Kontemplatif

Metode ini mengatakan adanya keterbatasan indera dan akal manusia untuk memperoleh pengethuan, sehingnga objek yang dihsilkan pun akan berbeda-beda harusnya dikembangakan suatu kemampuan akal ayang disebut dengan intuisi. Pengetahuan yang diperoleh lewat intuisi ini bias diperoleh dengan cara beeko[etensi seperti yang dilakuakan oleh al-Gazali.

  1. Metode Dealistis

Dalam filsafat, dielitika mula-mula berarti motede Tanya jawab untuk mencapai kejernihan filsafat. Metode ini diajarkan oleh Socrates. Namun Plato mengartikannya diskusi logika. Kini dielitika berarti tahap logika, yang mengarjakan kaidah-kaidahdan metode-metode penurunan, juga analisis sistematik tentang ide-ide untuk mancapai apa ayang terkandung dalam pandangan.

Aksiologi

Aksologi berasalkan dari perkataan axios (yunani) yang berarti nilai dan logos yang berarti teori. Jadi aksiologi adalah teori tentang nilai. Sedangakan arti aksilogi yang terdapat didalam bukunya jujun S. Suarisumantri filsafat ilmu sebuah pengantar popular bahwa aksiologi diartikan sebagai teori nilai yang berkaitan dengan kegunaan dari pengetahuan yang diperoleh. Menurut Bramel, aksiologi terbagi dalam tiga bagian:

  1. Moral conduct, tindakkan moral, bidang ini melahirkan disiplin khusu, yakni etika
  2. Esthetic expression, yaitu ekpresi keindahan. Bidang ini melahirkan keindahan.
  3. Sosio-polotical life, yaitu kehidupan sisoal politik, yang akan melahirkan filsafat social-politik

 

Objek Ilmu

Menurut buku Filsafat Ilmu karya Dosen UGM menyatakan dari berbagai bentuk, jenis dan paradigma ilmu tersebut, maka dapat memperoleh gambaran adanya ragam, tingkat dan aliran ilmu, seperti di bawah ini:

  1. 1.      Ilmu Alam dan Empiris;

Ilmu empiris berpandangan sebagai berikut: ilmu mempelajari objek-objek empiris di alam semesta ini. Jadi, berdasarkan objek telaahnya, maka ilmu dapat disebut sebagai suatu pengetahuan empiris.

Ilmu Empiris mempunyai beberapa asumsi mengenai objek (empiris), antara lain:

  1. Menganggap objek-objek tertentu mempunyai keserupaan satu sama lain, yaitu dalam hal bentuk, struktur dan sifat sehingga ilmu tidak bicara mengenai kasus individual, melainkan suatu kelas tertentu.
  2. Menganggap bahwa suatu benda tidak mungkin mengalami perubahan dalam jangka waktu tertentu.
  3. Menganggap tiap gejala bukan merupakan suatu kejadian yang bersifat kebetulan, tiap gejala mempunyai pola tertentu yang bersifat tetap dengan urut-urutan kejadian yang sama.

 

 

  1. 2.      Ilmu Abstrak

Ilmu yang tergolong formal pada umumnya berasumsi bahwa objek ilmu adalah bersifat abstrak, tidak kasat mata dan tidak terikat oleh ruang dan waktu. Objek dapat berupa konsep dan bilangan, ia berada dalam pemikiran manusia.

  1. 3.      Ilmuilmu dan Kemanusiaan

Ilmu kemanusiaan mencakup juga ilmuilmu sosial, ia merupakan ilmu empiris yang mempelajari manusia dalam segala aspek hidupnya, cirri khasnya, tingkah lakunya baik perorangan maupun bersama dalam lingkup kecil maupun besar.

Objek maretial ilmu sosial adalah lain sama sekali dengan objek material dalam ilmu alam yang bersifat deterministik. Objek material dalam ilmu adalah berupa suatu tingkah laku dalam tindakan yang khas manusia.

  1. 4.      Ilmu Sejarah

Ciri ilmu sejarah dibandingkan dengan ilmu empiris lainnya, yaitu sifat objek materialnya bersangkutan dengan data-data peninggalanmasa lampau baik berupa kesaksian, alat-alat, makam, rumah, tulisan, karya seni. Semuanya itu mirip dengan objek material ilmu kealaman, karena sama-sama sebagai benda mati.

 

Struktur Ilmu

Struktur ilmu merupakan aspek-aspek yang terkandung dalam ilmu. Struktur ilmu juga merupakan satu ke satu yang saling berkaitan sehingga unsur-unsur didalam. Struktur ilmu juga berkaitan dengan logika dan rasional. Perbedaan rasional dan logika terletak pada aspek-aspeknya.

Menurut Immanuel Kant Rasional merupakan pembuktiaan secara empirik inputnya atau terjadi secara natural. Sedangkan Logis merupakan akal, yang mana aspek yang harus ada dalam logis adalah harus ada, mungkin ada dan tidak ada. Logika dalam ilmu bersifat Induktif.

 

Dasar-dasar Pengetahuan

Secara etimologi pengetahuan (knowledge) adalah kepercayaan yang benar (knowledge is justified true belief). Sedangkan secara terminologi, menurut Drs. Sidi Gazaliba, pengetahuan adalah apa yang diketahui atau hasil dari pekerjaan tahu. Pekerjaan tahu tersebut adalah hasil dari kenal, sadar, insaf, mengerti, dan pandai. Jadi semua pengetahuan itu adalah milik dari isi pikiran. Jadi pengetahuan merupakan hasil proses dari usaha manusia untuk tahu.

Dalam arti luas pengetahuan berarti semua kehadiran intensional objek dalam subjek. Tetapi dalam arti sempit dan berbeda dengan imajinasi atau pemikiran belaka, pengetahuan hanya berarti putusan yang benar dan pasti (kebenaran; kepastian).          

Burhanuddin Salam mengklasifikasikan bahwa pengetahuan yang diperoleh manusia dapat dikelompokkan menjadi empat kelompok, yaitu:

  1. Pengetahuan biasa (common sense) yaitu pengetahuan biasa, atau dapat kita pahami bahwa pengetahuan ini adalah pengetahuan yang karena seseorang memiliki sesuatau karena menerima secara baik. Orang menyebut sesuatu itu merah karena memang merah, orang menyebut benda itu panas karena memang benda itu panas dan seterusnya.
  2. Pengetahuan Ilmu (science) yaitu ilmu pengetahuan yang bersifat kuantitatif dan objektif, seperti ilmu alam dan sebagainya.
  3. Pengetahuan Filsafat, yakni ilmu pengetahuan yang diperoleh dari pemikiran yang bersifat kontemplatif dan spekulatif. Pengetahuan filsafat lebih menekankan pada universalitas dan kedalaman kajian tentang sesuatu.
  4. Pengetahuan Agama, yaitu pengetahuan yang hanya didapat dari Tuhan lewat para utusan-Nya. Pengetahuan agama bersifat mutlak dan wajib diyakini oleh para pemeluk agama.

 

 

 

 

 

Terdapat delapan factor yang menjadi dasar bagi pengetahuan,diantaranya:

  1. 1.      Empiris (Pengalaman)

Kata ini berasal dari kata Yunani empeirikos, artinya pengalaman. Menurut aliran ini manusia memperoleh pengetahuan melalui pengalamannya. Dan bila dikembalikan kepada kata Yunaninya, pengalaman yang dimaksud ialah pengalaman inderawi.

Pengalaman terbagi menjadi dua:

(1) Pengalaman primer, yaitu pengalaman langsung akan persentuhan      indrawi dengan benda-benda konkret di luar manusia dan peristiwa yang disaksikan sendiri; melihat segala sesuatu dengan kedua mata.

(2) Pengalaman sekunder, yaitu pengalaman tak langsung atau reflektif mengenai pengalaman primer: Sadar akan sesuatu yang dilihat.

 

Terdapat tiga ciri pokok pengalaman manusia:

  1. Pengalaman manusia yang beraneka ragam.
  2. Pengalaman yang berkaitan dengan objek-objek tertentu di luar diri kita sebagai subjek.
  3. Pengalaman manusia selalu bertambah seiring dengan pertambahan usia, kesempatan, dan kedewasaan.

 

  1. 2.      Ingatan

Pengetahuan manusia juga didasarkan pada ingatan sebagai kelanjutan dari pengalaman. Tanpa ingatan, pengalaman indrawi tidak akan bertumbuh menjadi pengetahuan. Ingatan mengandalkan pengalaman indrawi sebagai sandaran ataupun rujukan. Kita hanya dapat mengingat apa yang sebelumnya telah kita alami. Kendati ingatan sering kabur dan tidak tepat, namun kita dalam kehidupan sehari-hari selalu mendasarkan pengetahuan kita pada ingatan baik secara teoritis dan praktis. Tanpa ingatan, kegiatan penalaran kita menjadi mustahil. Karena untuk bernalar dan menarik kesimpulan dalam premis-premisnya kita menggunakan nalar.           

Ingatan tidak selalu benar dan karenanya tidak selalu merupakan bentuk pengetahuan. Agar ingatan dapat dijadikan rujukan dan dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya bagi pengetahuan, setidaknya ada dua syarat yang harus dipenuhi yakni: (1) kesaksian dan (2) konsisten.

 

  1. 3.      Kesaksian

“Kesaksian” dimaksudkan untuk penegasan sesuatu sebagai benar oleh seorang saksi kejadian atau peristiwa, dan diajukan kepada orang lain untuk dipercaya. “Percaya” dimaksudkan untuk menerima sesuatu sebagai benar yang didasarkan pada keyakinan dan kewenangan atau jaminan otoritas orang yang memberi kesaksian.

Dalam mempercayai suatu kesaksian, kita tidak memiliki cukup bukti intrinsik untuk kebenarannya. Yang kita miliki hanyalah bukti ekstrinsik. Menurut Descartes, beberapa pemikir menolak kesaksian sebagai salah satu dasar dan sumber pengetahuan karena kesaksian bisa keliru dan bersifat menipu. Walaupun demikian, ada beberapa pengetahuan yang kebenarannya dirujukkan kepada kesaksian seperti sejarah, hukum, dan agama secara metodologis.    

 

  1. 4.      Minat dan Rasa Ingin Tahu

Tidak semua pengalaman dapat dijadikan pengetahuan atau tidak semua pengalaman berkembang menjadi pengetahuan. Untuk berkembang menjadi pengetahuan subjek yang mengalami harus memiliki minat dan rasa ingin tahu. Minat mengarahkan perhatian ke hal-hal yang dialami dan dianggap penting untuk diperhatikan. Dan rasa ingin tahu mendorong untuk bertanya dan menyelidiki apa yang dialaminya dan menarik minatnya. Inilah yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya.     

Rasa ingin tahu terkait erat dengan pengalaman mengagumkan dan mengesankan dengan keheranan yang dialami. Mengajukan pertanyaan yang tepat mengandaikan bahwa orang tahu di mana ia tahu dan di mana ia tidak tahu. Maka, mengajukan pertanyaan yang tepat adalah langkah pertama untuk memperoleh jawaban yang tepat.     

 

  1. 5.      Pikiran dan Penalaran

Kegiatan pokok pikiran dalam mencari kebenaran dalam pengetahuan adalah penalaran. Penalaran adalah proses penarikan kesimpulan dari hal-hal yang telah diketahui sebelumnya atau merupakan suatu proses berpikir dalam menarik sesuatu kesimpulan yang berupa pengetahuan.

Penalaran menghasilkan pengetahuan yang dikaitkan dengan kegiatan berpikir dan bukan dengan perasaan,maka dalam rangka menemukan kebenaran, kita dapat bedakan jenis pengetahuan:

  • Pengetahuan yang didapatkan melalui usaha aktif dari manusia untuk menemukan kebenaran, baik secara nalar maupun lewat kegiatan lain seperti perasaan dan intuisi.
  • Pengetahuan yang didapat tidak dari kegiatan aktif manusia melainkan ditawarkan atau diberikan seperti ajaran agama. Untuk melakukan kagiatan analisis maka kegiatan penalaran tersebut harus diisi dengan materi pengetahuan yang berasal dari sumber kebenaran yaitu dari rasio (paham rasionalisme) dan fakta (paham empirisme).

Penalaran Ilmiah sendiri dapat dibagi menjadi 2, yaitu :

  1. Penalaran deduktif yang berujung pada rasionalisme, berupa penalaran yang menarik kesimpulan umum (universal) dari kasus-kasus tertentu (partikular). Sebagai contoh: Jika ada asap pasti ada api, Jakarta adalah ibu kota Republik Indonesia.
  2. Penalaran induktif yang berujung pada empirisme. Yakni Penalaran untuk merumuskan sebuah hipotesis berupa pernyataan umum yang kemungkinan pernyataannya masih perlu untuk diuji coba. Contoh: seseorang sakit setelah makan roti,timbul pertanyaan apakah ia sakit karena keracunan makanan,ataukah ada faktor lain?.

 

 

  1. 6.      Logika

Aristoteles menyusun buku tentang logika untuk menjelaskan cara menarik kesimpulan secara valid. Logika Aristoteles didasarkan pada susunan pikir/silogisme.

Silogisme terdiri atas tiga pernyataan:

  1. Premis mayor,sebagai pernyataan pertama yang mengemukakan hal umum yang telah diakui kebenarannya
  2. Premis minor,sebagai pernyataan kedua yang bersifat khusus dan lebih kecil dan kecil lingkupnya dari dari premis mayor
  3. Kesimpulan atau konklusi yang ditarik berdasarkan kedua premis tersebut.

Contoh:

premis 1: Semua makhluk hidup pasti mati

premis 2: Manusia adalah makhluk hidup

konklusi: Manusia

 

  1. 7.      Bahasa

Di samping logika penalaran juga mengandaikan bahasa. Tanpa bahasa manusia tidak dapat mengungkapkan pengetahuannya. Dalam eksperimen antara bayi dan anak kera yang lahir secara bersama waktunya, pada awalnya keduanya berkembang hampir sejajar. Tapi seorang anak mulai bisa berbahasa, daya nalarnya menjadi amat berekembang dan pengetahuan tentang diri sendiri serta lingkungannya menjadi jauh melampaui kera seusianya.
      Bahasa menjadi bahasa alami dan bahasa buatan:

      Bahasa Alami

Antara kata dan makna merupakan satu kesatuan utuh,atas dasar kebiasaan sehari-hari,karena bahasanya: secara spontan,bersifat kebiasaan,intuitif (bisikan hati),pernyataan langsung.

 

 

 

      Bahasa Buatan

Antara istilah dan konsep merupakan satu kesatuan bersifat relative,atas dasar pemikiran akal,karena bahasanya: berdsarkan pemikiran,sekehendak hati,diskursif(logic,luas arti),pernyataan tidak langsung.

 

Sumber Pengetahuan

Menurut buku Filsafat Ilmu yang ditulis oleh Jujun S. Suriasumantri menjelaskan bahwa manusia bisa mendapatkan pengetahuan yang benar dengan menggunakan dua cara, yaitu:

  1. Mendasarkan diri pada rasio;

Kaum Rasionalis yang mendasarkan diri pada rasio yang mengembangkan paham apa yang kita kenal dengan rasionalisme.

  1. Mendasarkan diri kepada pengalaman.

Sedangkan mereka yang mendasarkan diri pada pengalaman mengembangkan paham yang disebut dengan Empirisme.

Kaum rasionalis mempergunakan metode deduktif dalam menyusun pengetahuannya. Premis yang dipakai dalam penalarannya didapatkan dari ide yang menurut anggapannya jelas dan dapat diterima. Ide ini menurut mereka bukanlah ciptaan pikiran manusia. Prinsip ini sendiri sudah ada jauh sebelum manusia berusaha memikirkannya. Paham ini dikenal dengan nama Idealisme.

Berlainan dengan kaum Rasionalis, maka kaum empiris berpendapat bahwa pengetahuan manusia itu bukan didapatkan lewat penalaran rasional yang abstrak, namun lewat pengalaman yang kongkret. Seperti gejala-gejala alamiah menurut anggapan kaum empiris adalah bersifat kongkret dan dapat dinyatakan lewat tangkapan panca indera manusia.

 

 

 

 

Teori Kebenaran

Dalam buku Filsafat Ilmu karya para Dosen Filsafat UGM menyatakan bahwa kata “kebenaran” dapat digunakan sebagai suatu kata benda yang konkret maupun abstrak. Jika subjek hendak menuturkan kebenaran artinya adalah proposisi yang benar. Proposisi artinya adalah makna yang dikandung dalam suatu pernyataan atau statement. Apabila subjek menyatakan kebenaran bahwa proposisi yang diuji itu pasti memiliki kualitas, sifat atau karakteristik, hubungan dan nilai.

Dalam perkembangan pemikiran filsafat perbincangan tentang kebenaran sudah mulai sejak Plato yang kemudian diteruskan oleh Aristoteles. Teori-teori kebenaran yang telah terlembaga itu antara lain, yaitu:

  1. 1.      Teori Kebenaran Korespondensi;

Teori ini adalah teori yang paling tua yang dikemukakan oleh Hornie (1952). Teori kebenaran Korespondensi adalah segala sesuatu yang kita ketahui, yaitu sesuatu yang dapat dikembalikan pada kenyataan yang dikenal oleh subjek (Aristoteles). Atau suatu pengetahuan mempunyai nilai benar apabila pengetahuan itu mempunyai kesesuaian dengan kenyataan yang diketahuinya.

 

  1. 2.      Teori Kebenaran Koheren;

Teori kebenaran lain yang dikenal dengan teori tradisional yang dikemukakan oleh Hegel (kaum rasionalis). Teori koherensi adalah suatu proposisi itu atau makna pernyataan dari suatu pengetahuan bernilai benar bila proposisi itu  mempunyai hubungan dengan ide-ide dari proposisi yang terdahulu yang bernilai benar.

 

  1. 3.      Teori Kebenaran Pragmatis;

Teori Pragmatis merupakan teori yang kebenaran tradisional yang berpandangan kontemporer yang dikemukakan oleh William James. John Dewey. Yang mengatakan bahwa teori ini adalah suatu proposisi bernilai benar bila proposisi itu mempunyai konsekuensi-konsekuensi praktis seperti yang terdapat secara inheren dalam pernyataan itu sendiri.

 

  1. 4.      Teori Kebenaran Sintaksis;

Teori ini dikemukakan oleh Friederich Schleiermacher. Teori kebenaran Sintaksis adalah suatu pernyataan memiliki nilai benar bila pernyataan itu mengikuti aturan-aturan sintaksis yang baku. Dengan kata lain, apabila proposisi itu tidak mengikuti syarat atau keluar dari hal yang disyaratkan, maka proposisi itu tidak mempunyai arti.

 

  1. 5.      Teori Kebenaran Semantis;

Teori ini dikemukakan oleh Bertrand Russell. Menurut teori ini mengatakan bahwa suatu proposisi memiliki nilai benar ditinjau dari segi arti atau makna. Apakah proposisi yang merupakan pangkal tumpunya itu mempunyai pengacu (referent) yang jelas.

 

  1. 6.      Teori Kebenaran Non Deskripsi;

Teori kebenaran non-deskripsi dikembangkan oleh penganut filsafat Fungsionalisme. Karena pada dasarnya suatu statement atau pernyataan itu akan mempunyai nilai benar yang amat tergantung peran dan fungsi pernyataan itu.

 

  1. 7.      Teori Kebenaran Logis yang berlebihan.

Teori ini dikembangkan oleh kaum Positifistik yang diawali oleh Ayer. Menurut teori kebenaran ini adalah bahwa problem kebenaran hanya merupakan kekacauan bahasa saja dan hal ini akibatnya merupakan suatu pemborosan, karena pada dasarnya pernyataan yang hendak dibuktikan kebenarannya memiliki derajat logik yang sama yang masing-masing saling melingkupi.

Dengan demikian, sesungguhnya setiap proposisi yang bersifat logic dengan menunjukkan bahwa proposisi itu mempunyai isi yang sama, memberikan informasi yang sama dan semua orang sepakat, maka apabila kita membuktikannya lagi hal yang demikian itu hanya merupakan bentuk logis yang berlebihan.

 

Metodologi Ilmiah

Kata Metode berasal dari kata Yunani “ Meta” berarti Jalan; “hodos” berarti melalui; “ meta+hodos” berarti sepanjang jalan. Jadi Metode adalah jalan yang harus ditempuh untuk mencapai suatu tujuan atau “cara bekerja” menurut aturan-aturan atas dasar objeknya. Dengan demikian, maka ada:

  1. Metode untuk Mengajar;
  2. Metode untuk Belajar;
  3. Metode untuk Mendidik dan sebagainya.

Sedangkan dalam buku Jujun. S. mengtakan bahwa Metode Ilmiah merupakan prosedur dalam mendapatkan pengetahuan yang disebut ilmu. Jadi, ilmu merupakan pengetahuan yang didapatkan lewat metode ilmiah.

Unsur utama metode ilmiah adalah pengulangan empat langkah, sebagai  berikut:

a)      Karakterisasi (pengamatan atau pengukuran)

b)      Hipotesis

Penjelasan teoretis yang merupakan dugaan atas hasil pengamatan dan pengukuran

c)      Prediksi

Logika deduktif dari hipotesis

d)     Ekperimen

Pengujian atas semua hal yang telah dilakukan diawal.

 

Metodologi penelitian adalah pengetahuan tentang metode-metode yang dipergunakan dalam penelitian. Suatu penelitian dapat disebut sebagai penelitian ilmiah., jika penelitian tersebut menggunakan metode ilmiah. Metode ilmiah yang benar adalah:

 

1)      Berdasarkan Fakta;

2)      Bebas dari prasangka;

3)      Menggunakan prinsip analisis;

4)      Menggunakan hipotesis;

5)      Menggunakan ukuran objek;

6)      Menggunakan teknik kuantitatif.

Dalam prakteknya, metodologi penelitian dikelompokkan kedalam beberapa metode sesuai dengan disiplin keilmuan yang akan ditelitinya. Diantara metode-metode itu adalah:

  1. Metode Sejarah;

Penelitian ini dapat dilihat dalam perspektif serta waktu terjadinya fenomena-fenomena yang diselidiki dan mempunyai pespektif historis.

 

  1. Metode Deskriftif;

Suatu metode yang meliputi status kelompok manusia dalam suatu objek, kondisi dan sistem pemikiran ataupun kelas peristiwa pada masa sekarang.

 

  1. Metode Eksperimental;

Penelitian yang dilakukan dengan mengadakan manipulasi terhadap objek penelitian serta adanya kontrol.

 

  1. Grounded research;

Suatu metode yang mendasarkan diri kepada fakta dan menggunakan analisa perbandingan yang bertujuan untuk mengadakan generalisasi empiris, menetapkan konsep, membuktikan teori dan mengembangkan teori dimana pengumpulan dan analisa data berjalan pada waktu yang bersamaan.

 

 

  1. Metode Penelitian Tindakan (action research)

Suatu metode yang dikembangkan peneliti dan (decision maker) tentang variable yang dapat memanipulasi dan dapat segera digunakan untuk menentukan kebijakan.

 

Jadi, metodologi penelitian adalah pengetahuan tentang berbagai metode yang dipergunakan dalam penelitian. Setiap penelitian pada hakikatnya mempunyai metode penelitiannya masing-masing dan metode-metode penelitian dimaksud ditetapkan berdasarkan tujuan penelitian.

 

 

Hukum dan Teori Ilmiah

Ilmu pengetahuan sesungguhnya mengkaji atau meneliti hubungan sebab akibat antara berbagai peristiwa dalam alam dan dalam hidup manusia. Hubungan ini dianggap sebagai suatu hubungan yang bersifat pasti karena kalau satu peristiwa terjadi yang lain dengan sendirinya akan menyusul atau pasti telah terjadi sebelumnya. Inilah hubungan yang dlam ilmu pengetahuan disebut hukum.

Hukum ilmiah mempunyai sifat-sifat lebih pasti, lebih berlaku umum atau universal, dan punya daya terang yang lebih kuat.

  1. a.      Lebih Pasti

Hukum ilmiah adalah perkembangan lebih lanjut dari hipotesis. Yang mengungkapkan hubungan sebab akibat antara peristiwa yang satu dengan peristiwa yang lain, lanjutan dari hipotesis yang telah mendapat status yang lebih pasti sifatnya karena telah terbukti benar dengan didukung oleh fakta dan data yang tidak terbantahkan. 

  1. b.      Berlaku Umum atau Universal

Berkaitan dengan sifat hukum yang lebih pasti diatas, karena hukum lebih pasti sifatnya dengan sendirinya akan lebih umum atau universal pula keberlakuannya. Hukum bersifat umum karena:

  • Hukum mengungkapkan hubungan yang bersifat universal antara dua peristiwa. Hubungan ini merupakan sebuah hukum ilmiah tidak hanya terjadi pada kasus partikular, yaitu antara dua peristiwa khusus dalam kurun waktu dan tempat tertentu saja. Melainkan, berlaku untuk semua peristiwa sejenis lainnya kapan saja dan dimana saja. Hubungan sebab akibat diungkapkan, hukum ilmiah dengan sendirinya akan terjadi.

Hukum ilmiah siapapun akan sepakat dan menyetujui bahwa memang benar ada hubungan sebab akibat antara peristiwa sejenis yang satu dengan yang lainnya.

  1. c.       Punya Daya Terang yang Lebih Luas

Kedua sifat diatas, belum cukup untuk menentukan dengan jelas batas antara hipotesis dengan hukum, yang paling membedakan antara hukum dan hipotesis adalah bahwa hukum mempunyai daya terang yang jauh lebih jelas. Dengan hukum ilmiah, ilmuan ingin mendapatkan penjelasan ilmiah (socientific explanation) yang memperlihatkan secara gamblang hubungan antara satu peristiwa  dengan peristiwa yang lainnya.

Fungsi dari teori adalah untuk menjelaskan hukum ilmiah. Oleh karena itu, antara hukum dan teori ada kaitan yang sangat erat, namun demikian ada perbedaan yang besar diantara keduanya, hukum lebih bersifat empiris dan harus diperiksa dan ditolak berdasarkan fakta empiris. Sebaliknya, teori lebih merupakan pandangan umum yang sulit diperiksa langsung secara empiris. Teori terutama dimaksudkan sebagai huimpunan pengetahuan yang meliputi banyak kenyataan dan hukum yang sudah diketahui dan diperiksa berdasarkan kenyataan empiris. Jadi teori mencakup pula hukum.

Fungsi teori:

{  Teori merupakan upaya relatif untuk membangun hubungan yang cukup luas antara sejumlah hukum ilmiah.

{  Teori berfungsi menjelaskan hukum-hukum yang mempunyai hubungan satu sama lain, sehingga hukum-hukum tersebut dapat dipahami dn masuk akal.

Jika kita menerima teori tersebut sebagai benar maka kita dapat membuktikan bahwa hukum yang harus dijelaskannya juga benar dengan sendirinya. Dalam hal ini hukum dideduksikan dari teori yang bersangkutan.

 

 

Ilmu dan Moral

Ilmu

Secara etimologi, kata ilmu sendiri merupakan kata serapan dari bahasa Arab “ilm” yang berarti memahami, mengerti, atau mengetahui. Dalam kaitan penyerapan katanya, ilmu pengetahuan dapat berarti memahami suatu pengetahuan, dan ilmu sosial dapat berarti mengetahui masalah-masalah sosial,dan lain sebagainya.

Di dalam situs ensiklopedi wikipedia, ilmu adalah seluruh usaha sadar untuk menyelidiki, menemukan dan meningkatkan pemahaman amnesia dari berbagai segi kenyataan dalam alam manusia.Segi-segi ini dibatasi agar dihasilkan rumusan-rumusan yang pasti.Ilmu memberikan kepastian dengan membatasi lingkup pandangannya, dan kepastian ilmuilmu diperoleh dari keterbatasannya. Contoh: Ilmu alam hanya bisa menjadi pasti setelah lapangannya dibatasi kedalam hal yang bahani (materiil saja).

sifat-sifat ilmu merupakan kumpulan pengetahuan mengenai suatu bidang tertentu yaitu:

1. Berdiri secara satu kesatuan

2. Tersusun secara sistematis                                     

3. Ada dasar pembenarannya

4. Mendapat legalitas bahwa ilmu tersebut hasil pengkajian atau riset.

5. Communic able, ilmu dapat ditransfer kepada orang lain sehingga dapat di mengerti dan di pahami maknanya

6. Universal, ilmu tidak terbatas ruang dan waktu

7. Berkembang

 

 

Moral

Istilah moral berasal dari bahasa Latin. Bentuk tunggal kata ‘moral’ yaitu mos sedangkan bentuk jamaknya yaitu mores yang masing-masing mempunyai arti yang sama yaitu kebiasaan, adat. Bila kita membandingkan dengan arti kata‘etika’, maka secara etimologis, kata etika sama dengan kata moral karena kedua kata tersebut sama-sama mempunyai arti yaitu kebiasaan, adat. Dengan kata lain,kalau arti kata moral sama dengan kata etika, maka rumusan arti kata moral adalah nilai-nilai dan norma-norma yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya. Sedangkan yang membedakan hanya bahasa asalnya saja yaitu etika dari bahasa Yunani dan moral dari bahasa Latin.Jadi bila kita mengatakan bahwa perbuatan pengedar narkotika itu tidak bermoral, maka kita menganggap perbuatan orang itu melanggar nilai-nilai dan norma-norma etis yang berlaku dalam masyarakat.

Moralitas (dari kata sifat Latin moralis) mempunyai arti yang padadasarnya sama dengan ‘moral’, hanya ada nada lebih abstrak. Berbicara tentang“moralitas suatu perbuatan”, artinya segi moral suatu perbuatan atau baik buruknya perbuatan tersebut.Moralitas adalah sifat moral atau keseluruhan asas dan nilai yang berkenaan dengan baik dan buruk.

Moralitas yang meliputi nilai-nilai moral alam semesta dapat dirasakan oleh pikiran manusia dalam bentuk tiga dorongan dasar yaitu :

1. Dorongan tentang diri sendiri (pilihan moral, personal morality berpengaruh pada perkembangan spiritual dari manusia itu).

2. Dorongan tentang masyarakat (pilihan etik, berubah terus sesuai perubahan kesadaran sosial).

3. Dorongan tentang Allah (pilihan religius).Kondratyev (2000) membagi moralitas ke dalam dua bagian yaitu:

 

1. Moralitas pribadi yaitu moralitas yang melekat pada kepribadian.Moralitas pribadi itu ada dari semula, pada semua pribadi, tidak dihasilkan dari evolusi. Moralitas pribadi adalah salah satu ciri khas kepribadian yang tulen dan dasar.

2.  Moralitas sosial, yaitu moralitas yang berkembang pada kehidupan bermasyarakat. Moralitas sosial akan terus berubah sesuai perubahan bahagia dan sejahtera. Dalam konteks pemikiran demikian, maka keutuhan moral dengan ilmu harus tetap dijaga, baik pada tataran teoretis maupun praktis.

 

 

 

 

 

 

                  

 

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s