dasar-dasar pengetahuan


BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. A.    Definisi dan Jenis Pengetahuan

            Secara etimologi pengetahuan (knowledge) adalah kepercayaan yang benar (knowledge is justified true belief).[1] Sedangkan secara terminologi, menurut Drs. Sidi Gazaliba, pengetahuan adalah apa yang diketahui atau hasil dari pekerjaan tahu. Pekerjaan tahu tersebut adalah hasil dari kenal, sadar, insaf, mengerti, dan pandai. Jadi semua pengetahuan itu adalah milik dari isi pikiran[2].

Jadi pengetahuan merupakan hasil proses dari usaha manusia untuk tahu[3]

            Dalam arti luas pengetahuan berarti semua kehadiran intensional objek dalam subjek. Tetapi dalam arti sempit dan berbeda dengan imajinasi atau pemikiran belaka, pengetahuan hanya berarti putusan yang benar dan pasti (kebenaran; kepastian). Di sini subjek sadar akan hubungan-hubungannya sendiri dengan objek dan sadar akan hubungan objek dengan eksistensi.

           

            Burhanuddin Salam mengklasifikasikan bahwa pengetahuan yang diperoleh manusia dapat dikelompokkan menjadi empat kelompok, yaitu:

 

  1. Pengetahuan biasa (common sense) yaitu pengetahuan biasa, atau dapat kita pahami bahwa pengetahuan ini adalah pengetahuan yang karena seseorang memiliki sesuatau karena menerima secara baik. Orang menyebut sesuatu itu merah karena memang merah, orang menyebut benda itu panas karena memang benda itu panas dan seterusnya.
  2. Pengetahuan Ilmu (science) yaitu ilmu pengetahuan yang bersifat kuantitatif dan objektif, seperti ilmu alam dan sebagainya.
  3. Pengetahuan Filsafat, yakni ilmu pengetahuan yang diperoleh dari pemikiran yang bersifat kontemplatif dan spekulatif. Pengetahuan filsafat lebih menekankan pada universalitas dan kedalaman kajian tentang sesuatu.

 

  1. Pengetahuan Agama, yaitu pengetahuan yang hanya didapat dari Tuhan lewat para utusan-Nya. Pengetahuan agama bersifat mutlak dan wajib diyakini oleh para pemeluk agama.

            Jadi perbedaan antara pengetahuan dan ilmu adalah jika pengetahuan (knowledge) adalah hasil tahu manusia untuk memahami suatu objek tertentu.sedangkan ilmu (science) adalah pengetahuan yang bersifat positif dan sistematis.

Dengan perkataan lain, pengetahuan itu dapat berkembang menjadi ilmu apabila memenuhi kriteria sebagai berikut :
a. Mempunyai objek kajian
b. Mempunyai metode pendekatan
c. Bersifat universal (mendapat pengakuan secara umum[4]

  1. B.     Hakikat Pengetahuan

Ada dua teori yang digunakan untuk mengetahui hakekat pengetahuan:

1.Realisme, teori ini mempunyai pandangan realistis terhadap alam. Pengetahuan adalah gambaran yang sebenarnya dari apa yang ada dalam alam nyata.

2.Idealisme, teori ini menerangkan bahwa pengetahuan adalah proses-proses mental/psikologis yang bersifat subjektif. Pengetahuan merupakan gambaran subjektif tentang sesuatu yang ada dalam alam menurut pendapat atau penglihatan orang yang mengalami dan mengetahuinya.

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

Terdapat delapan factor yang menjadi dasar bagi pengetahuan,diantaranya:

~        Empiris (Pengalaman)

 

            Kata ini berasal dari kata Yunani empeirikos, artinya pengalaman. Menurut aliran ini manusia memperoleh pengetahuan melalui pengalamannya. Dan bila dikembalikan kepada kata Yunaninya, pengalaman yang dimaksud ialah pengalaman inderawi.[5]

            Hal paling utama yang mendasarkan pengetahuan adalah pengalaman. Pengalaman merupakan keseluruhan peristiwa yang terjadi dalam diri manusia dalam interaksinya dengan alam, lingkungan dan kenyataan, termasuk Yang Ilahi. Dalam hal ini harus ada 3 hal, yaitu yang mengetahui (subjek), yang diketahui (objek) dan cara mengetahui (pengalaman)[6].

 

            Pengalaman terbagi menjadi dua:

(1) pengalaman primer, yaitu pengalaman langsung akan persentuhan indrawi dengan benda-benda konkret di luar manusia dan peristiwa yang disaksikan sendiri; melihat segala sesuatu dengan kedua mata.

(2) pengalaman sekunder, yaitu pengalaman tak langsung atau reflektif mengenai pengalaman primer: Sadar akan sesuatu yang dilihat. [7]

 

            Terdapat tiga ciri pokok pengalaman manusia;

  1. Pengalaman manusia yang beraneka ragam.
  2. Pengalaman yang berkaitan dengan objek-objek tertentu di luar diri kita sebagai subjek.
  3. Pengalaman manusia selalu bertambah seiring dengan pertambahan usia, kesempatan, dan kedewasaan.[8]

 

~      Ingatan

            Pengetahuan manusia juga didasarkan pada ingatan sebagai kelanjutan dari pengalaman. Tanpa ingatan, pengalaman indrawi tidak akan bertumbuh menjadi pengetahuan. Ingatan mengandalkan pengalaman indrawi sebagai sandaran ataupun rujukan. Kita hanya dapat mengingat apa yang sebelumnya telah kita alami. Kendati ingatan sering kabur dan tidak tepat, namun kita dalam kehidupan sehari-hari selalu mendasarkan pengetahuan kita pada ingatan baik secara teoritis dan praktis. Tanpa ingatan, kegiatan penalaran kita menjadi mustahil. Karena untuk bernalar dan menarik kesimpulan dalam premis-premisnya kita menggunakan nalar.

            Ingatan tidak selalu benar dan karenanya tidak selalu merupakan bentuk pengetahuan. Agar ingatan dapat dijadikan rujukan dan dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya bagi pengetahuan, setidaknya ada dua syarat yang harus dipenuhi yakni: (1) kesaksian dan (2) konsisten.[9]

~          Kesaksian

            “Kesaksian” dimaksudkan untuk penegasan sesuatu sebagai benar oleh seorang saksi kejadian atau peristiwa, dan diajukan kepada orang lain untuk dipercaya. “Percaya” dimaksudkan untuk menerima sesuatu sebagai benar yang didasarkan pada keyakinan dan kewenangan atau jaminan otoritas orang yang memberi kesaksian.
            Dalam mempercayai suatu kesaksian, kita tidak memiliki cukup bukti intrinsik untuk kebenarannya. Yang kita miliki hanyalah bukti ekstrinsik. Menurut Descartes, beberapa pemikir menolak kesaksian sebagai salah satu dasar dan sumber pengetahuan karena kesaksian bisa keliru dan bersifat menipu. Walaupun demikian, ada beberapa pengetahuan yang kebenarannya dirujukkan kepada kesaksian seperti sejarah, hukum, dan agama secara metodologis.[10]

~          Minat dan Rasa Ingin Tahu

            Tidak semua pengalaman dapat dijadikan pengetahuan atau tidak semua pengalaman berkembang menjadi pengetahuan. Untuk berkembang menjadi pengetahuan subjek yang mengalami harus memiliki minat dan rasa ingin tahu. Minat mengarahkan perhatian ke hal-hal yang dialami dan dianggap penting untuk diperhatikan. Ini berarti bahwa dalam kegiatan mengetahui terdapat unsur penilaian. Orang akan memperhatikan dan mengetahui apa apa yang ia anggap bernilai. Dan rasa ingin tahu mendorong untuk bertanya dan menyelidiki apa yang dialaminya dan menarik minatnya. Inilah yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya.

Rasa ingin tahu terkait erat dengan pengalaman mengagumkan dan mengesankan dengan keheranan yang dialami. Mengajukan pertanyaan yang tepat mengandaikan bahwa orang tahu di mana ia tahu dan di mana ia tidak tahu. Maka, mengajukan pertanyaan yang tepat adalah langkah pertama untuk memperoleh jawaban yang tepat.[11]

 

~        Pikiran dan Penalaran

            Kegiatan pokok pikiran dalam mencari kebenaran dalam pengetahuan adalah penalaran. Penalaran adalah proses penarikan kesimpulan dari hal-hal yang telah diketahui sebelumnya atau merupakan suatu proses berpikir dalam menarik sesuatu kesimpulan yang berupa pengetahuan.

             Manusia pada hakikatnya merupakan mahluk yang berpikir, merasa, bersikap dan bertindak. Sikap dan tindakan yang bersumber pada pengetahuan yang didapat melalui kegiatan merasa atau berpikir.

            Penalaran menghasilkan pengetahuan yang dikaitkan dengan kegiatan berpikir dan bukan dengan perasaan,maka dalam rangka menemukan kebenaran, kita dapat bedakan jenis pengetahuan:

  • Pengetahuan yang didapatkan melalui usaha aktif dari manusia untuk menemukan kebenaran, baik secara nalar maupun lewat kegiatan lain seperti perasaan dan intuisi.
  • Pengetahuan yang didapat tidak dari kegiatan aktif manusia melainkan ditawarkan atau diberikan seperti ajaran agama. Untuk melakukan kagiatan analisis maka kegiatan penalaran tersebut harus diisi dengan materi pengetahuan yang berasal dari sumber kebenaran yaitu dari rasio (paham rasionalisme) dan fakta (paham empirisme).

Ciri-ciri Penalaran:
1. Adanya suatu pola berpikir yang secara luas dapat disebut logika( penalaran merupakan suatu proses berpikir logis ).

2. Sifat analitik dari proses berpikir. Analisis pada hakikatnya merupakan suatu kegiatan berpikir berdasarkan langkah-langkah tertentu. Perasaan intuisi merupakan cara berpikir secara analitik.

Penalaran Ilmiah sendiri dapat dibagi menjadi 2, yaitu :
1. Penalaran deduktif yang berujung pada rasionalisme, berupa penalaran yang menarik kesimpulan umum (universal) dari kasus-kasus tertentu (partikular). Sebagai contoh: Jika ada asap pasti ada api, Jakarta adalah ibu kota Republik Indonesia.
2.Penalaran induktif yang berujung pada empirisme. Yakni Penalaran untuk merumuskan sebuah hipotesis berupa pernyataan umum yang kemungkinan pernyataannya masih perlu untuk diuji coba. Contoh: seseorang sakit setelah makan roti,timbul pertanyaan apakah ia sakit karena keracunan makanan,ataukah ada faktor lain?.

            Bagi seorang guru, nalar adalah latihan intelektual untuk meningkatkan akal budi anak didik. Bagi seorang advokat, nalar adalah cara membela dan menyanggah kesaksian. Bagi ekonom, nalar adalah sarana membagi sumber daya untuk meningkatkan efisiensi, daya guna, dan kemakmuran. Sedang, bagi ilmuwan, nalar adalah metode merancang percobaan untuk memeriksa hipotesis. Nalar dalam kehidupan kita sehari-hari selalu diartikan rasionalitas. Nicholas Rescher mengatakan, “Bersikap rasional berarti menggunakan kecerdasan untuk menentukan tindakan terbaik dalam suatu keadaan.” Ini definisi kasar, tapi berguna sebagai landasan untuk membangun suatu argumen.[12]
           

~        Logika[13]

            Aristoteles menyusun buku tentang logika untuk menjelaskan cara menarik kesimpulan secara valid. Logika Aristoteles didasarkan pada susunan pikir/silogisme.

Silogisme terdiri atas tiga pernyataan;

  1. Premis mayor,sebagai pernyataan pertama yang mengemukakan hal umum yang telah diakui kebenarannya
  2. Premis minor,sebagai pernyataan kedua yang bersifat khusus dan lebih kecil dan kecil lingkupnya dari dari premis mayor
  3. Kesimpulan atau konklusi yang ditarik berdasarkan kedua premis tersebut.

 

Contoh:

premis 1: Semua makhluk hidup pasti mati

premis 2: Manusia adalah makhluk hidup

konklusi: Manusia pasti juga akan mati.

 

~ Bahasa

            Manusia mempunyai bahasa yang mampu mengomunikasikan informasi dan jalan pikiran yang melatarbelakangi informasi tersebut. Tanpa bahasa manusia tidak dapat mengungkapkan pengetahuannya. Dalam eksperimen antara bayi dan anak kera yang lahir secara bersama waktunya, pada awalnya keduanya berkembang hampir sejajar. Tapi seorang anak mulai bisa berbahasa, daya nalarnya menjadi amat berekembang dan pengetahuan tentang diri sendiri serta lingkungannya menjadi jauh melampaui kera seusianya[14].

     Bahasa[15] terbagi menjadi bahasa alami dan bahasa buatan:

~ Bahasa Alami

Antara kata dan makna merupakan satu kesatuan utuh,atas dasar kebiasaan sehari-hari,karena bahasanya: secara spontan,bersifat kebiasaan,intuitif (bisikan hati),pernyataan langsung.

~        Bahasa Buatan

Antara istilah dan konsep merupakan satu kesatuan bersifat relative,atas dasar pemikiran akal,karena bahasanya: berdsarkan pemikiran,sekehendak hati,diskursif(logic,luas arti),pernyataan tidak langsung.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III
PENUTUP

 

Kesimpulan

 

Dasar-dasar pengetahuan merupakan fondasi dari terbentuknya sebuah pengetahuan. Pengetahuan itu sendiri merupakan suatu proses untuk menuju tahu.

 

Yang termasuk dasar pembentuk pengetahuan itu sendiri diantaranya:

 

  • Pengalaman
  • Ingatan

 Kesaksian

  • Minat dan rasa ingin tahu
  • Pikiran dan penalaran
  • Logika
  • Bahasa .

 

Dalam interaksinya dengan dunia dan lingkungannya manusia membutuhkan pengetahuan. Maka, kebutuhan manusia juga dapat mendasari dan mendorong manusia untuk mengembangkan pengetahuannya. Berbeda dengan binatang, manusia memperoleh pengetahuan tidak hanya didasarkan pada instingtif tapi juga kreatif. Manusia adalah makhluk yang mampu menciptakan alat, memiliki strategi, dan kebijaksanaan dalam bertindak.

            Walaupun kebutuhan manusia yang mendasari pengetahuan termasuk ke dalam dimensi pragmatis pengetahuan tapi juga terdorong oleh rasa keingintahuan yang dimiliki oleh manusia itu sendiri

 

 

 


[1] Suriasumantri, Jujun S., Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, cet. XVI, Jakarta : Sinar Harapan, 2003.

[2] Bakhtiar, Amsal, Filsafat Ilmu, cet. I, Jakarta : Raja Grafindo Persada, 2006.

[3] ———-, Amsal Filsafat Agama I, cet. I, Jakarta : Logos Wacana Ilmu, 1997

[4] Rachman, Maman, dkk. 2008. Filsafat Ilmu. Semarang: UPT MKU Universitas Negeri Semarang.

[5] Tafsir, Ahmad, Filsafat Umum, Akal dan Hati Sejak Thales Sampai Capra, Bandung : Remaja Rosdakarya, 2002.

[6] Tokoh yang terkenal: John Locke (1632 –1704), George Barkeley(1685 -1753) dan David Hume

[7]  J. Sudarminta, Epistemologi Dasar: Pengantar Filsafat Pengetahuan (Yogyakarta: Kanisius, 2002), hlm. 32-33

[8] J. Sudarminta, Epistemologi Dasar: Pengantar Filsafat Pengetahuan (Yogyakarta: Kanisius, 2002), hlm. 32-33

[9] Ibid., hlm. 34-5

[10]  Ibid., hlm. 36-7

[11] Ibid., hlm. 37-8

[12]   Donald B. Calne, Batas Nalar: Rasionalitas dan Perilaku Manusia, terj. Parakitri T. Simbolon (Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2005), hlm. 19-20

[13] Tim Dosen Filsafat Ilmu UGM.Filsafat Ilmu.Yogyakarta.2010.hlm 73

[14] J. Sudarminta, Op. Cit., hlm 42

[15] Tim Dosen UGM. Op.Cit.hlm 101

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s