candi cangkuang


BAB I

PENDAHULUAN

 

A. Latar Belakang Masalah.

Desa Cangkuang terletak disebelah utara kabupaten Garut masuk Kecamatan      Leles, tepatnya berjarak  17 km dari Garut atau 46 km dari Bandung. Untuk menuju situs Cangkuang dari arah Bandung, bisa menggunakan mobil pribadi atau umum. Dari arah Bandung menuju Garut kita akan ketemu dengan kecamatan Leles. disamping Candi cangkuang terdapat sebuah pemukiman yang dinamakan dengan Kampung Pulo. Sebuah kampung kecil yang terdiri dari enam buah rumah dan kepala keluarga. Ketentuan ini harus ditepati, dan sudah merupakan ketentuan adat kalau jumlah rumah dan kepala keluarga itu harus enam.

Kampung Pulo merupakan miniatur masyarakat yang masih kuat memegang adat istiadat karuhun. Kampong ini hanya terdiri dari 6 kepala keluarga dengan jumlah penduduk 21 jiwa. Dalam kehidupan sehari-hari, warga kampung Pulo diatur ketentuan adat yang terus dipatuhi dari waktu ke waktu. Bagi warga Kampung Pulo, masih berlaku beberapa pantangan adat, yang apabila dilanggar bisa menyebabkan malapetaka. Pantangan adat itulah yang menuntut peri kehidupan sehari-hari warga Kampung Pulo begitu tertib dan teratur. Dan pantas saja bila orang-orang “pintar” dan mereka yang sering menyerap energi-energi alam sering merasakan adanya getaran-getaran aneh bila menginjakkan kaki di wilayah ini.

Dalam adat istiadat Kampung Pulo terdapat beberapa ketentuan yang masih berlaku hingga sekarang. Dan menurut kepercayaan bila masyarakat setempat melanggarnya, maka akan terjadi malapetaka bagi masyarakat tersebut. Antara lain :
1. Saat berziarah ke makam-makam leluhur, harus menyalakan bara api, kemenyan, minyak wangi, bunga-bungaan dan serutu. Hal ini dipercaya untuk mendekatkan diri (peziarah) dengan roh-roh para leluhur.

2. Dilarang beraktivitas pada hari Rabu. Karena Eyang Arif Muhammad tidak mau menerima tamu pada hari itu, dan hari Rabu digunakan untuk mengajarkan agama Islam. Kebiasaan warga Kampung Pulo untuk menghentikan kegiatan di hari Rabu ini juga terbawa oleh adat leluhur mereka yang telah membaurkan kebiasaan ini dengan ajaran agama Hindu.

3. Bentuk atap rumah selamanya harus mamanjang (jolopong).

4. Tidak boleh memukul Goong besar.

5. Khusus di kampong Pulo tidak boleh memelihara ternak besar berkaki empat seperti kambing, kerbau, sapi dan lain-lain.

6. Setiap tanggal 14 bulan Maulud melaksanakan upacara adat memandikan benda-benda pusaka seperti keris, batu aji, peluru dari batu yang dianggap bermakna dan mendapat berkah. Yang berhak menguasai rumah- rumah adapt adalah wanitadan diwariskan pula kepada anak perempuannya. Sedangkan bagi anak laki-laki yang sudah menikah harus meninggalkan kampong tersebut setelah 2 minggu.

Dipandfang dari ritual-itual kebudayaan, masyarakat Kampung Pulo masih teguh mempertahankan. Setelah Candi Cangkuang menjadi daerah objek wisata situs purbakala kapung pulo menjadi ramai oleh wisatawan lokal maupun wisatawan asing. Sistem mata pencaharian masayarakat Kampong Pulo pada masa lalu adalah sdebagai petani dan pemburu ikan. Pada masa modern seperrti ini, masyarakat Kampung Pulo bertambah mata pencahariannya menjadi berdagang. Didukung dengan keadaan Kampung Pulo sekarang yang ramai dikunjungi oleh para wisatawan. Hal ini sebagai mana yangh dikatakan oleh Pak Jaki sebagai pemandu wisata di daerah Cangkuang.

Dengan keadaan sepoerti ini, secara fisik kebudayaan yang dulu ada di daerah Kampung Pulo menjadi seakan-akan hilang. Seakan-akan hilang, dikartenakan oleh datangnya kebudayaan modern yang dibawa oleh para wisatawan, sehingga masyarakat kampong pulo ingin mengikuti kebudayaan-kebudayaan tersebut. Apa lagi alat-alat komunikasi dan elek tronik sudah masuk ke daerah Kampung Pulo ini, sehingga masyuarakat Kampung Pulo terbuka dengan kebudayaan modern khususnya yang berupa fisik, seperti pakaian, kerndaranaan, alat komunikasi (Hand Phone dan Tele Phone)n dan sebagainya yang bersifat modern. Berbeda dengan Kampung Naga di Tasik. Kampung Naga masih memelihara kebudayaan mereka, baik ritual maupun fisik, bahkan sekarang masyarakat Kampung Naga menutup diri Dari perubahan era modern dengan menutup daerah Kampung Naga dari para wisatawan atau mahasiwa.  Dari peristiwa itu terdapat sebuah masalah yang berkenaan dengan perubahan sosial dan kebudayaan yang terjadi pada masyarakat Kampung Pulo.

Di samping Candi Cangkuang terdapat sebuah makam, dimana makam itu adalah makam Arif Muhammad. Arif Muhammad adalah seseorang yang menjadi  pelopor dalam penyebaran agama Islam di daerah Desa Cangkuang. Pertanyaan bagaimana cara Arif Muhammad melakukan Islamisasai di daerah Desa Cangkuang masih menjadi polemik. Seorang Sesepuh di Kampong Pulo Bpk. Tatang tidak tahu pasti bagaiman Arif Muhammad melakukan itu. Tapi berdasarkan pengakuan Bpk Tatang , bahwa hancurnya candi adalah dikarenakan penghancuran yang dilakukan oleh Arif Muhammad sendiri. Dari pengakuan itu dapat disimplulkan, bahwa Arif Muhammad melakukan Islamisasi dengan cara yang keras. Berbeda dengan pengakuan Bpk. Jaki, dia menyatakan bahwa Islamisasi yang diolakukan oleh Arif Muhammad itu dengan cara damai, yaitu menyatukan atu mengasimilasikan ritual agama Islam dengan budaya masyarakat sekitar dan hancurnya Candi bukan  dikarena oleh Arif Muhammad melainkan dikarena kan oleh keadaan cuaca.

Selain masalah di atas terdapat permasalahan lagi. Permasalahan yang selanjutnya adalah kontroversi yang terjadi

 

B. Rumusan Masalah.

Dari pemaparan latar belakang di atas terdapat beberrapa masalah yang harus dapat diteliti hingga mendapatkan sebuah jawaban. Permasalah yang akan diteliti akan dirumuskan sehingga pemaparan makalah akan menmjadi lebih jelas. Permasalahan yang tertdapat pada obserpasi kami ketika di sekitar cagar budaya Kampung Pulo dan situs sejarah Candi Cangkuang, dalam pandangan saya adalah sebagai berikut:

  1. Masalah perubahan sosial dan budaya masyarakat Kampung Pulo setelah daerah candi cang kuang dijadikan tempat wisata.
  2. Masalah Islamisasi yang dilakukan oleh Arif Muhammad di sekitar Desa Cangkuang.

Dalam makalah laporan ini saya akan mermbahas rumusan masalah-masalah diatas. Semoga dengan laporan ini para pembaca dapat merngetahui tentang latar belakan dan penyelesaian masalah yang telah di rumuskan di atas. Semoga dengan membaca makalah ini juga, saya berharap para pembaca  dapat mengetahui tentang cagar budaya dan situs sejarah yang satu ini, yang berkenaan dengn sejarah dan sosialmya.

 

 

.
 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

A. Sejarah Kampung Pulo

Kampung Pulo tercipta karena hasil dari persyaratan dari calon istri Arif Muhammad, seorang gadis dari suku Madura. Identitas gadis yang menjadi istri dari Arif Muhammad itu masih menjadi pertanyaan besar, begitu ucap Bpk. Tatang. Kala itu sang gadis memberikan syarat kepada Arif Muhammad untuk membuat sebuah bendungan untuk membendung daratan Kampung Pulo. Jika syarat itu dapat dipenuhi oleh Arif Muhammad, maka sang gadis bersedia dipinang Arif Muhammad untuk menjadi istrinya dan dia juga akan bersedia masuk agama Islam sengan suka rela. Arif Muhammas pun mulai melaksanakan syarat yang diberikan oleh sang gadis yaitu membendung daratan Kampung Pulo. Bersama teman-temannya Arif Muhammad berhasil memenuhu syarat itu, dalam waktu satu hari kemudian terciptalah danau atau situ si wilayah Desa Cangkuang yang biasa disebut dengan Situ Cangkuang. Sesuai janjinya sang gadis akhirnya bersedia menikahi Arif Muhammad dan masuk Islam. Sampai sekarang identitas sang gadis belum diketahui secara jelas, sebagaimana yang dikatakan oleh Bpk. Tatang selaku sesepuh di sana.

Dari hasil pernikahan Arif Muhammad dengan sang gadis dianugrahi enam anak perempuan dan satu anak laki-laki. Kampung pulo kadang disebut dengan kampung panjang adalah satu diantara sekian daratan pulau yang ada di situ cangkang. Pulau-pulau lain diantaranya pulo gede, pulo leutik, pulo wedus, pulo masigit dan pulo katanda. Sebagai mana sebelumnya telah  disebutkan pada bab pendahuluan, bahwa rumah di Kampung Pluo hanya ada enam dan satu musola. Dari enam rumah ini hanya boleh dihuni oleh enam kepala keluarga.

Pilosofis dari enam rumah dan satu musola ini adalah untuk menandakan enam putri dan satu putra dari Arif Muhammad. Dalam satu rumah hanya dihuni satu kepala keluarga. Jikalau aturan adat ini di langgar maka akan ada hokum adapt yang berlaku. Secara empirisme pernah ada keluarga yang melanggar aturan adapt ini. dalam satu rumah dihuni lebih dari satu kepala keluarga. Hukuman adapt yang berlaku secara alami. Dari pengakuan Bpk. Tatang dan Bpk Jaki dalam rumah itu selalu terjadi konflik keluarga selain itu bahkan ada yang rumahnya kebakaran. Hukuman ini terjadi begitu saja, secara alami tidak direncanakan. Kebakaran yang menimpa rumah warga pelanggar adatpun hanya disiram air satu ember secara  menimpa rumah pelanggar adat tersebut setelah di siram air satu ember otomatis api yang membakar rumah padam dengan seketika, padahal api yang  membakar  rumah cukup besar. Setelah rumah dihuni oleh satu kepala keluarga lagi keadaan rumah menjadi aman tentram. Secara logika peristiwa ini memang tidak sapat diterima, namun realitas yang terjadi di masyarakat Kampung Pulo memang demikian adanya.

 

B. Kebudayaan Masyarakat Kampung Pulo

Kebudayaan yang masih di pertahankan sampai sekarang adalah kebudayaan yang bersifat ritual. Kebudayaan itu diantaranya seperti meziarahi makam Arif Muhammad. Dalam melakukan ziarah masyarakat diharuskan membawa arang api, kemenyan, minyak wangi, bunga-bungaan dan cerutu, sebagai syarat-syarat yang wajib dipenuhi. Aktivitas ini mereka katakana bukan suatu kemusyrikan karena akativitas ini selalu dilakukan oleh leluhur mereka. Para peziarah dilarang berziarah pada hari rabu, karena konon menurutnya pada saat itu adalah hari berkumpulnya tokoh-tokoh islam di wilayah cangkuang. Selain itu kebiasaan memandikan benda-benda pusaka masih sering dilakukan, sebagai mana yang dikatakan oleh Bpk. Jaki.

Bpk. Jaki juga mengatakan, bahwa budaya gotong royong masih terjaga dengan erat, meskipun tantangan modrnisme sudah mulai masuk ke Kampung Pulo. Ini telihat pada saat upacara pembangunan rumah salah satu penduduk dan upacara-upacara hari besar Islam.

Sedangkan budaya fisik yang terlihat di wilayah ini saya mengamatinya sudah semakin berkembang mengikuti arus mosernisasi. Hali ini saya katakan karena saya sudah melihat sudah ada alat-alat elektronik yang sudah dipakai oleh masyarakat sekitar. Berbeda dengan wilayah Kampung Naga yang masih memelihara budaya leluhurnya baik secara ritual maupun fisik. Hal itu dibuktikan dengan ditutupnya komplek Kampung Naga dari kunjungan wisatawan atau maha siswa yang mau meneliti.

Masih dalam budaya fisik. Secara arsitek rumah sudah tidak sepenuhnya murni kebudayaan leluhur. Ketika saya dan teman-teman berkunjung ke Kampung Pulo arsitektur rumah sudah sedikit berubah. Perubahan itu terlihat dari atap rumah yang sudah tidak memakai bambu. Atap rumah sudah dirubah dengan menggunakan genting tanah liat. Dalam pakaian pun masyarakat sudah menggunakan pakaian modern layaknaya orang-orang konvensional pada masa modrn ini.

Menurut penuturan dari Bpk. Tatang, atap rumah diganti, yang tadinya dari bambu menjadi genting, itu dikarenakan oleh peristiwa beberapa tahun lalu. Beberapa tahun lalu masyarakat Kampung Pulo terserang oleh penyakit, dikatakan penyakit itu adalah penyakit sejenis penyakit tifus. Atas dasar musyawarah masyarakat dengan sesepuh pada waktu itu, kemudian masyarakat sepakat untuk mengganti atap rumah dengan genting.

 

C. Mata Pencaharian Masyarakat Kampung Pulo

Secara geografis Kampung Pulo dekat dengan Situ Cangkuang dan tanah-tanah yang subur. Dikarenakan keadaan georafis Kampung Pulo yang Strategis seperti itu, maka mata pencaharian yang biasa dilakukan oleh masyarakat sekitar adalah bertani dan memancing ikan. Selain itu mata pencaharian yang dulu dilakukan oleh masyarakat Kampung Pulo adalah menjadi pengrajin daun cangkuang yang banyak tumbuh di sekitar desa Cangkuang. Karena latar belakang demikianlah, maka daerah itu dulu dikatakan desa Cangkuang.

Pada masa madern seperti ini, dimana sarana informasi media elektronik sudah mulai masuk ke Kampung Pulo, serta sudah ditetapkannya wilayah Desa Cangkuang menjadi wilayah wisata, maka mata pencaharian masyarakat berkonversi debagian ada yang menjadi pedagang. Barang komoditas yang didagangkan berupa makanan dan minuman-minuman kemasan, kerajinan-kerajinan aksesoris-aksesoris perempuan, laki-laki dan kaos-kaos yang bergambar Candi Cangkuang, dan sebagainya. Namun disayangkan komoditas barang yang didatangkan bukan lah hasil asli kebudayaan dari saerah sekitar. Hal ini juga ini dikatakan oleh Bpk. Kholid Aodri delaku arkeolog dan Dosen Arkeologi di UIN Bandung.

Berbeda dengan daerah Kampung Naga yang mendagangkan hasil dari kerajinan tangan masyarakat di sana. Jika Kampung Pulo tetap memperjual belikan komoditas barang dagangan yang dukan asli dari daerah ini, maka seolah-olah ke khasan atau cirri kusus buah tangan dari daerah ini seolah-olah tidak ada, karena barang-barang yang di jual di wilayah ini rata-rata dapat kita jumpai di wilayah lain juga. Dalam penuturan Bpk. Tatang , dulu masyarakat mempersagangkan barang komoditas dagang asli dari daerah sendiri, barang itu adalah kerajinan tangan yang berbahan baku dari daun Cangkuang, tapi sekarang komoditas itu tidak di perdagangakan kembali. Sebenarnya dari kerajinan daun cangkuang ini Kampung Pulo akan memiliki sesuatu yang khas untuk buah tangan bagi para wisatawan.

D. Arif Muhammad

Pada sekitar abad 17 Batavia telah dikuasai oleh penjajah Belanda melalui perusahaan dagangnya VOC. Di Batavia Belanda dipimpin oleh seseorang yang bernama J.P Coen. Oleh sebab itu Sultan Agung dari Kerajaan Mataram Islam mengutus salah satu panglimanya untuk menyerang Belanda di Batavia tersebut. Pang lima yang di utus itu adalah Arif Muhammad. Dalam peperangan melawan Belanda Arif Muhammad mengalami kekalahandan enggang pulang ke Kerajaan. Arif Muhammad enggan pulang ke Kerajaan karena jika dia pulang dia daia akan terkena hukuman dari Sultan Agung, sebagaiman yang dituturkan oleh Bpk. Jaki. Selain alasa demikian, ada sebuah perinsip yang dipegang oleh Arif Muhammad yaitu lebih baik gugur, syahid di medan perang daripada harus pulang dengan kekalahan.

Setelah kekalahannya itu Arif Muhammad bersama prajurit dan teman-temannya mundur ke daerah pedalaman. Penjelajahannya Arif Muhammad di tanah priangan akhirnya selesai setelah menemukan wilayah Desa Cangkuang sebagai tempat persembunyianya dari kejaran tentara Belanda, dan pencarian prajurit Mataram. Pada saat Arif Muhammad memutuskan untuk diam di desa ini, desa ini sudahmemiliki penduduk dan penduduknya pun sudah memegang keyakinan yaitu keyakinan Hindu. Melihat keadaan ini Arif Muhammad berniat untuk melakukan Islamisasai

 

E. Islamisasi yang Dilakukan Arif Muhammad

Arif Muhammad beserta kawan-kawannya melakukan Islamisasi di sekitar daerah garut, namun Arif Muhammad yang memantapkan melakukan Islamisasinya di wilayah Desa Cangkuang ini. Menurut  Bpk. Jaki Islamisasi yang dilakukan oleh Arif Muhammad itu Islamisasi dengan jalan damai. Dalam sumber sejarah serta penuturan dari nara sumber, bahwa Desa Cangkuang telah terlebih dahulu dihuni oleh masyarakat yang sudah mapan dengan keyakinan Hindunya. Jika Islamisasi yang dilakukan oleh Arif Muhammad dilakukan denagna cara konserpatif atau radikal, maka konfliklah yang akan terjadi di daerah itu bukannya konversi agama dan integrasi.

Berdasarkan penuturan dari Bpk. Tatang, bahwa Arif Muhammad mempunyai hubungan dengan Cirebon dan apalagi berasal dari Mataram. Tentulah metode dakwah yang dilakukan tidak akan berbeda jauh dengan metode dakwah para wali yang ada di kerajaan-kerajaan tersebut. Sebagaimana telah diketahui bahwa metode dakwah yang dilakukan oleh para Wali notabene adalah metode dakwah yang dilakukan secara damai menggunakan metode Sufi tidak Fiqhiyah. Contohnya Islamisasi di Cirebon yang dilakukan oleh Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Djati secara damai ini terbukti dengan masih terlihatnya budaya fisik yang memperlihatkan perpaduan budaya Hindu Budha yang di psatukan dengan konsep Islam.

Begitu pula Islamisasi yang dilakukan oleh Arif Muhammad di Desa Cangkuang. Sedangkang pernyataan yang menyatakan bahwa Candi Cangkuang yang dihancurkan oleh Arif Muhammad itu seolah-olah menandakan bahwa Islamisasi yang dilakukan oleh Arif Muhammad itu menggunakan jalan kekerasan. Sebelumnya telah dituliskan, bahwa sebelumnya di wilayah Desa Cangkuang ini telah ada msyarakat yang menganut agama Hindu. Msyarakat yang sudah mapan dengan kepercayaannya akan sulit untuk dikonversikan. Islam adalah agama baru dalam pandangan leluhur masyarakat Desa Cangkuang terdahulu, sebelum mereka memeluk agama Islam. Agama Hindu adalah agama yang sudah lama lahir di wilayah ini. Sudah sepantasnya umat Hindu  memiliki otortitas untuk mebolak untuk melakukan konverrsi ke dalam agama Islam. Masyarakat yang mayoritas pada saat itu masyaraka adalah Hindu, sehingga untuk melakukan penolakan bahkan pengusiran terhadap Arif Muhammad dan kawan-kawanya yang sama-sama berjuang untuk Islam.

Untuk melancarkan dakwah Islamnya Arif Muhammad melakukan Islamisasidi wilayah Desa Cangkuang ini dengna jalan damai. Oleh katrena itu  pernyataan yang menyatakan, bahwa Arif  Muhammad melakukan penghancuran terhadap Candi Cangkuang yang menyimbolkan bahwa dakwah yang dilakukan oleh Arif Muhammad itu diulakukan dengn jalan kekerasan berdasarkan pemaparan di atas yang ditutuyrkan oleh nara sumber terutama Bpk Jaki, telah terbantahkan. Karena hancurnya Candi Cangkuang dikarenakan oleh gejala alam, sebagai mana yang dituturkan oleh Bpk Jaki. Pernyataan yang menyebutkan Arif Muhammad menghancurkan candi dituturkan oleh Bpk . Tatang. Sedangkan Bpk. Tatang mengaku tidak tahu pasti mengenai metode Islamisasi yang dilakukan oleh Arif Muhammad, sehingga pernyataan Bpk. Tatang yang menyebutkan Arif Muhammad melakukan penghancuran terhadap candi, sebagai symbol jalan dakwah Arif Muhammad yang keras diragukan. Pernyataan itu di ragukan karena tidak sesuai dengan fakta dilapangan yang masih terasa perpaduan  budaya HJindu dengan ajaran Islam. Hal ini menandakan bahwa Arif Muhammad memadukan budaya Hindu dengan ajaran Islam dalam melakukan Islamisainya.

Perpaduan klebudayaan yang terasa adalah makam Arif Muhammad yang dibangun di samping Candi Cangkuang. Hal ini dilakukan masyarakat Desa Cangkuang jaman dulu karena memiliki keeper cayaan bahwa makam harus lah di bangun di tempat yang paling tinggi agar dekat dengan langit atau kayangan agar doa-doa cepat sampai keapada Tuhan. Olerh karena itu baik Candi maupun makam di bangun di bukit Desa Cangkuang agar doa-doa  yang di panjatkan masyarakat sewaktu berziarah cepat sampai kepada Tuhan.. kepercayaan ini adalah kepercayaan leluhur masyarakat Desa Cangkuang termasuk dalam hal ini masyarakat Kampong Pulo yang masih beragama Hindu pada masa lalu. Kepercayaan ini tidak dihilangkan oleh Arif Muhammad pada saat melakukan Islamisasi. Selain itu kebiasaaan membawa kemenyan, cerutu (sesajen) dalam setiap melakukan ziarah ke makam Arif Muhammad. Kebiasaan ini selalu di lakukan oleh leluhur mereka sejak jaman dahulu, tutur seorang tokoh masyarakat di Kampung Pulo. Sebenarnya kebiasaan in adalah kebiasaan dari umat Hindu, namun substanti dari setiap rituial agama yang dilakukan di luruskan ke dalam ajaran Islam. Dengan demikian timbulah budaya perpadiuan antara budaya Hindu dengan ajaran Islam. Dengan demikian sampai saat ini masih hidup budaya-budaya yang berbau Hindu tetapi bersubstansi ajaran Islam di wilyah Desa Cangkuang terutama di Kampung Pulo.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB IV

ANALISIS KASUS DALAM PENDEKATAN ILMU SOSIAL

 

A. Perubahan Sosial dan Budaya Masyarakat Kampun Pulo

Sebagai mana telah dituliskan sebelumnya, bahwa perubahan sosial budaya masyarakat Kampung Pulo berubah setelah wilayah diman berdirinya situs sejarah Candi Cangkuang dijadikan sebagai objek pariwisata. Kebudayaan asli dari dari Kampung Pulo seakan-akan mulai luntur dikarena oleh budaya-budaya luar yang masuk ke dalam Kmpung Puilo yng dibawa oleh para wisatawan mulai mengkontaminasi kebudayaan setempat. Selain itu dalam era modern seperti ini barang-barang elektronik dan media informasi sudah mulai masuk  sebagai mana yang dinyatakan oleh Alvin Toffler. Berdasarkan analisisnya mengenai perubahan , bahwa setiap Negara maju sekarang sedang menuju pada proses gelombangh ketiga setelah revolusi di bidang pertanian dan industri yaitu adalah bidang informasi. Kampung Pulo sebagai bagian dari wilayah nsgara berkembang yaitu Indonesia, maka Kampung Pulo terkena imbas dari perrubahan sosial tersebut.

Perubahan sosial dapat bermakna positif  ataupun negatif. Makna tersebut dapat dilihat atau dirasakan oleh masyarakat setempat yang mengalami perubahan. Perubahan sosial terjadi dikarenakan oleh adanya perbedaan yang ada di masyarakat. Dalam hal ini perbedaan muncul dari gaya hidup dan budaya para wisatawan yang mengunjungi Kampung Pulo dengan masyarakat Kampung Pulo itu sendiri. Selain itu perubahan sosial yang tertjadi pada masyarakat Kampung Pulo itu dikarenakan oleh difusi kebudayaan. Difusi adalah suatu proses persebaran kebudayaan yang dimana, dalam kasus ini agen difusi di Kampong Pulo adalah tidak lin dan tidak bukan para wisatawan. Budaya-budaya modern yang di sebarkan oleh para wisatawan ditiru oleh masyarakat Kampung Pulo.

Seperti itulah proses perubahan sosial dan budaya yang terjadi pada masyarakat Kampung Pulo. Perubahan yang terjadi ini seolah-olah mengakibatkan lunturnya budaya asli yang dulu pernah lahir, berkembang dan maju di wilayah ini, tentunya budaya asli (Hindu) yang sudah mengalami akulturasi dengan ajaran Islam baik ritual maupuin fisik . Sebagaimana teori yang diungkapkan oleh Pitrim Sorokin mengenai perubahan social, bahwa perubahan itu maju, berkembang dan mundur. Menurut comte perubahan soial terjadi pada tiga tahap yaitu tahap, teologi, metafisik, dan positivistik. Tahap teologi disini comte nyatakan sebelum era 1300. dalam periode ini sistem gagasan utamanaya menekankan pada keyakinan bahwa kekuatan dikodrati, tokoh agama, dan keteladan kemanusiaan menjadi dasar segala sesuatu.Dunia social dan alam fisik khususnya dipandang sebagai ciptaan Tuhan. Tahap mertafisik yang terjadi kira-kira antara 1300-1800. Era ini ditandai dengan keyakinan bahwa kekuatan abstraklah yang menerangkan segala sesuatu, bukanya dewa-dewa personal. Terakhir adalah tahap positivistic yang  terjadi pada tahun 1800 hingga sekarang. Era in I ditandai oleh keyakinan terhadap ilmu sains. Manusia mulai cenderung menghentikan penelitian terhadap penyebab absolute (Tuhan atau alam) dan perhatian terhadap alam fisik dan dunia sosial guna mengetahui hokum-hukum yang mengaturnya.

Perubahan sosial budaya yang terjadi pada masyarakat Kampung Pulo termasuk kedalam teori yang dikemukakan oleh Pitrim Sorokin. Dikatakan demikian karena perubahan social budaya yang terjadi pada masa sekarang telah memundurkan kebudayaan asli yang dulu di anut oleh masyarakat di Kampung Pulo, khususnya kebudayaan fisik. Perubahan social yang terjadi oleh sebab-sebab diatas tadi pasti sudah merubah kebiasaan-kebiasaan atau tindakan-tindakan social yang dulu dilakukan oleh masyarakat Kampung Pulo.

Sedanhgkan perubahan yang terjadi pada masyarakat Kampung pulo jika dipandang dalam pendekatan teori Comte, perubahan sosial di sini masih berrada pada tahap perrtama yaitu tahap teologi. Masih berada pada tahap ini dikarenakan kepercayaan masyarakat pada tradisi-tradisi leluhur masih kuat dan dipertahankan. Hal ini terbukti bahwa pada setiap hari besar keagamaan selalu diperingati dengan upacara-upacara yang telah diwariskan oleh leluhur. Selain hal-hal itu, tahap teologi yang terjadi pada masyarakat Kampung Pulo di tandai oleh masih dihormatinya dan didoakannya serta diamalkannya ajaran-ajaran dari tokoh agama setempat yang tidak lain dan buka yaitu Arif Muhammad.

 

B. Islamisai Dengan Jalan Damai

Dalam sosiologi agama Islamisasi dapat disinergikan dengan teori konsevasi agama. Konversi berasal dari kata “conversio” yang berarti tobat, pindah, dan berubah (agama). Selanjutnya dalam bahasa Inggris, kata tersebut dipakai (conversion) dengan yang mengandung pengertian berubah dari suatu keadaan atau dari suatu agama ke keadaan atau agama yang lain. Jadi, konversi agama (religious conversion) secara umum dapat diartikan dengan berubah pendirian terkait ajaran agama atau bisa juga berarti masuk agama. Max Heirich mengatakan bahwa konversi agama adalah suatu tindakan dimana seseorang atau sekelompok orang masuk atau berpindah ke suatu sistem kepercayaan atau perilaku yang berlawanan dengan kepercayaan sebelumnya.

Dalam Islamisai yang dilakukan oleh Arif Muhammad kepada Masyarakat Desa Cangkuang, terutama masyarakat Kampung Pulo seakan-akan tidak berlaku teori yang dikatakan oleh Max Heirich diatas. Karena masyarakat desa merasa kepercayaan mereka terdahulu (Hindu) dengan kepercayaan yang baru (Islam). Sebagaimana yang dikatakan oleh Bpk. Jaki bahwa masyarakat Desa Cangkuang terdahulu tidak mersakan adanya perubahan keyakinan karena Islamisasi yang dilakukan oleh Arif Muhammad memakai metode perpaduan kebudayaan Hindu dengan ajaran Islam. Seperti misalnya, Arif Muhammada masih membiarkan masyarakat melakukan ritual-ritual agama mereka yang dulu (Hindu) tapi secara substansial telah dikonversi kedalam ajaran Islam. Contohnya seperti berziarah , mrerteka masih membawa sesajen, tapi inti ziarah yang dilakukan itu berdasarkan ajaran Islam. Walaupun demikian secara realitanya masyarakat Desa telah mengalami konversi agama.

 

C. Saran

Untuk mempertahankan kebudayaan asli dari masyarakat Kampung Pulo pihak pemerintah dari Departemen Pariwisata Kota Garut lebih baiuk mengadakan penyuluhan tentang kebudayaan. Jika tidak para wisatawan yang berkunjung ke sana harus merubah dahlu pakaian mereka dengan pakaian adapt sunda. Dengan demikian secvara langsung mengajak masyarakat untuk senantiasa memakai pakaian khas Sunda. Selain itu kembangkan hasil hasil kerajinan khas dari Kampung Pulo seperti anyaman dari daun Cangkuang, sehingga dapat menjadi buah tangan yang menjadi cirikhas  dari Kampung Pulo.

 

 

 

 

 

BAB V

KESIMPULAN

 

  1. Perubahan social yang terjadi pada masyarakat Kampung Pulo dikarenakan oleh difusu kebudayaan dari para wisatawan.
  2. Untuk mempertahankan kebudayaan masyarakat Kampung Pulo harus mendapat penyuluhan.
  3. Arif Muhammad adalah seorang palima matram Islam yang ditugasai untuk menyerang Belanbda di Batavia, namun mengalami kekalahan.
  4. Setelah kalah berperang Arif Muhammad mundur ke pedalaman yang akhirnya sampai di Desa Cangkuang dan memutuskan menyebarkan Islam di sana.
  5. Arif Muhammad menikah dengan seoarng gadis yang memberikan syarat untuk membuatkan bendungan di daerah daratan Pulo.
  6. Bendunganpun berhasil dibangun.
  7. Dalam teori perubahan kasus Kampung Pulo termasuk kedalam teori perubahan Pitrim Sorokin.
  8. Termasuk kedalam teori Pitrim karena perubhan itu menyebabkan kemunduran terhadap kebudayaan asli.
  9. Dalam teopri comte perubahan di Kampung Pulo termasuk tahap teologi
  10. Tahap teologi karena masih menjadikan tokoh agama (Arif Muhammad) sebagai dasar segala sesuatu.
  11. Konveresi yang terjadi pada Masyarakat Desa Cangkuang tidak sesuai dengan teori Max Heirich  yang mengatakan perpindahan keyakinan yang berlawanan terhadap keyakinan sebelumnya.
  12. Koversi agama seakan-akan tidak tedrasa karena metode Islamisasi yang dilakukan oleh Arif Muhammad dengan memperpadukan kebudayaan Hindu dengan ajaran Islam, sehingga masyarakat seolah-olah tidak merasakan adanya konversi agama.

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Ritzer,George, Goodman, Douglas J, Teori Sosiologi Modern, Kencana, Jakarta, 2008.

Abidin, Zaenal, Ahmed, Agus, Sosiophologi, Pustaka Setia, Bandung, 2002.

Ihromi.T.O.Pokok-Pokok Antropologi Budaya.Yayasan Obor Indonesia. Jakarta. 1999.

M. Si.Kahmad. Dadang. Dr. H. Sosiologi Agama. PT Remaja Rosda Karya. Bandung. 2002.

Koentjaraningrat. Pengantar Ilmu Antropologi. PT Rineka CBPTA. Jakarta. 1990.

http://jengjeng.matriphe.com/kampung-naga-kampung-yang-masih-memegang-tradisi-leluhur.html, 29, 6, 2010, 20:12

http://dayaknews.blogspot.com/2008/12/teori-konversi.html.23:42, 29, 6, 2010

http://community.gunadarma.ac.id/blog/view/id_18066/title_sejarah-candicangkuang/, 20:54, 22, 6, 2010.

 

Wawancara :

Bapak Jaki Selaku Pemandu Wisata Situs Sejarah Candi Cangkuang.

Bapak Tatang Selaku Sesepu atau Juru Kunci Kampung Pulo.

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s