Al-kindi



BAB I

PENDAHULUAN

 

Al-kindi adalah salah satu dari 12 pemikir terbesar di abad pertengahan, cetus sarjana Italia era Renaissance, Geralomo Cardano (1501-1575). Di mata sejarawan Ibnu Al-Nadim, Al-kindi merupakan manusia terbaik pada zamannya. Ia menguasai beragam ilmu pengetahuan. Dunia pun mendapuknya sebagai filosof Arab yang paling tangguh.

Salah seorang penulis buku tentang studi Islam, Henry Corbin, menggambarkan akhir hayat dari sang filosof Islam. Menurut Corbin, pada tahun 873, Al-kindi tutup usia dalam kesendirian dan kesepian. Saat itu, Baghdad tengah dikuasai rezim Al-Mu’tamid. Begitu ia meninggal, buku- buku filsafat yang dihasilkannya banyak yang hilang. Sejarawan Felix Klein-Franke menduga lenyapnya sejumlah karya filsafat Al-kindi akibat dimusnahkan rezim Al-Mutawakkil yang tak senang dengan paham Muktazilah. Selain itu, papar Klein-Franke, bisa juga lenyapnya karya-karya Al-kindi akibat ulah serangan bangsa Mongol di bawah pimpinan Hulagu Khan yang membumihanguskan kota Baghdad dan Baitulhikmah. Hingga kini, Al-kindi tetap dikenang sebagai ilmuwan Islam yang banyak berjasa bagi ilmu pengetahuan dan peradaban manusia.[1]

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

  1. A.      Riwayat HidupAl-kindi

Al-kindi (185H/801M-260H/873M), nama sebenarnya adalah Abu Yusuf Ya’kub Bin Ishak Al-kindi. Ia adalah keturunan suku Kindah, Arab selatan yang merupakan salah satu suku Arab besar pra-Islam. Ayahnya Ishak Al-Sabah adalah seorang gubernur Kufah di masa Khalifah Al-Mahdi (775-78M) dan Khalifah Ar-Rasyid (786-809M). Ia lahir ditengah keluarga yang kaya akan informasi kebudayaan dan berderajat tinggi serta terhormat dimata masyarakat.

Al-kindi pergi ke Bashra yang pada saat itu merupakan tempat persemaian gerakan intelektual dan pusat ilmu pengetahuan yang besar. Sebuah kota yang menjanjikan harapan bagi para penggumul ilmu. Ia lalu pergi ke Baghdad dan menyelesaikan pendidikannya disana, di sini ia berkenalan dengan al-Ma’mun, al-Mu’tasim dan Ahmad putra al-Mu’tasim. Ia iangkat sebagai guru pribadi Ahmad, yang kepadanya ia persembahkan karya-karyanya.

Al-kindi hidup selama masa pemerintahan Daulah Abbasiyah, yaitu al-Amin (809-813M), al-Ma’mun (813-833M), al-Mu’tasim (833-842M), al-Watiq (842-847M), dan al-Mutawakil (847-841M). Bila ditelusuri nasabnya, Al-kindi merupakan keturunan Ya’rib bin Qathan, raja di wilayah Qindah. Pendidikan dasar ditempuh Al-kindi di tanah kelahirannya. Kemuian, ia melanjutkan dan menamatkan pendidikan di Baghdad. Sejak belia, ia sudah dikenal berotak encer. Tiga bahasa penting dikuasainya, yakni Yunani, Suryani, dan Arab. Sebuah kelebihan yang jarang dimiliki orang pada era itu.

Semasa hidupnya, selain bisa berbahasa Arab, ia mahir berbahasa Yunani pula. Banyak karya-karya para filsuf Yunani diterjemahkannya dalam bahasa Arab; antara lain karya Aristoteles dan Plotinus. Sayangnya ada sebuah karya Plotinus yang diterjemahkannya sebagai karangan Aristoteles dan berjudulkan Teologi menurut Aristoteles, sehingga di kemudian hari ada sedikit kebingungan.

Al-kindi hidup di era kejayaan Islam Baghdad di bawah kekuasaan Dinasti Abbasiyah. Kepandaian dan kemampuannya dalam menguasai berbagai ilmu, termasuk kedokteran, membuatnya iangkat menjadi guru dan tabib kerajaan. Khalifah juga mempercayainya untuk berkiprah di Baitulhikmah (House of Wisdom) yang kala itu gencar menerjemahkan buku-buku ilmu pengetahuan dari berbagai bahasa, seperti Yunani. Ketika Khalifah Al-Ma’mun tutup usia dan digantikan puteranya, Al-Mu’tasim, posisi Al-kindi semakin diperhitungkan dan mendapatkan peran yang besar. Ia secara khusus iangkat menjadi guru bagi puteranya.

Al-kindi mampu menghidupkan paham Muktazilah. Berkat peran Al-kindi pula, paham yang mengutamakan rasionalitas itu ditetapkan sebagai paham resmi kerajaan. Menurut Al-Nadhim, selama berkutat dan bergelut dengan ilmu pengetahuan di Baitulhikmah, Al-kindi telah melahirkan 260 karya. Di antara sederet buah pikirnya dituangkan dalam risalah-risalah pendek yang tak lagi ditemukan. Karya-karya yang dihasilkannya menunjukan bahwa Al-kindi adalah seorang yang berilmu pengetahuan yang luas dan dalam. Ratusan karyanya itu dipilah ke berbagai bidang, seperti filsafat, logika, ilmu hitung, musik, astronomi, geometri, medis, astrologi, ialektika, psikologi, politik dan meteorologi. Bukunya yang paling banyak adalah geometri sebanyak 32 judul. Filsafat dan kedokteran masing-masing mencapai 22 judul. Logika sebanyak sembilan judul dan fisika 12 judul.

Setelah era Khalifah AL-Mu’tasim berakhir dan tampuk kepemimpin beralih ke Al-watiq dan Al-Mutawakkil, peran Al-kindi semakin dipersempit. Namun, tulisan kaligrafinya yang menawan sempat membuat Khalifah kepincut. Khalifah AL-Mutawakkil kemuian mendapuknya sebagai ahli kaligrafi istana. Namun, itu tak berlangsung lama.

Ketika Khalifah Al-Mutawakkil tak lagi menggunakan paham Muktazilah sebagai aliran pemikiran resmi kerajaan, Al-kindi tersingkir. Ia dipecat dari berbagai jabatan yang sempat diembannya. Jabatannya sebagai guru istana pun iambil alih ilmuwan lain yang tak sepopuler Al-kindi. Friksi pun sempat terjadi, perpustakaan pribadinya sempat iambil alih putera-putera Musa. Namun akhirnya Al-kindiyah – perpustakaan pribadi itu – dikembalikan lagi.

  1. B.       AjaranFilsafat Al-kindi

Menurut Al-kindi, filsafat hendaknya diterima sebagai bagian dari kebudayaan Islam. Gagasan Al-kindi mengenai filsafat berasal dari Aristotelianisme Neo-Platonis, namun juga benar ia meletakkan gagasan itu dalam konteks baru, dengan mendamaikan warisan Hellenistis dengan Islam. Al-Nadim memberikan gambaran tentang Al-kindi: “Al-kindi adalah manusia terbaik pada masanya, unik pengetahuannya tentang seluruh ilmu pengetahuan kuno. Ia disebut filosof Arab. Buku-bukunya mengandung aneka ilmu pengetahuan. Kami menyebutnya filosof alam, karena ia menonjol dalam ilmu pengetahuan”.

Filsafat merupakan pengetahuan tentang kebenaran, dalam risalah Al-kindi tentang Filsafat Awal, berbunyi demikian: “Filsafat adalah pengetahuan tentang hakikat segala sesuatu dalam batas-batas kemampuan manusia, karena tujuan para filosof dalam berteori adalah mencapai kebenaran, dan dalam berpraktek adalah menyesuaikan dengan kebenaran’. Pada akhir risalahnya ia menyifati Allah dengan istilah “kebenaran” yang merupakan tujuan filsafat.

 

  1. C.      Pemikiran Al-kindi
  2. 1.      Tuhan

Al-kindi membagi pengetahuan menjadi dua jenis, yaitu:

  1. Pengetahuan Ilahi, sebagaimana yang tercantum dalam Al-Qur’an = yaitu pengetahuan yang diperoleh Nabi dan Tuhan. Dasar pengetahuan ini adalah keyakinan.
  2. Pengetahuan manusiawi (falsafat). Dasar pengetahuan ini adalah pemikiran.

Suatu pengetahuan memadai dan menyakinkan tentang Tuhan merupakan tujuan akhir filsafat. Ketunggalan, ketakterlihatan, ketakterbagian, dan kepenyebaban beban gerak merupakan sifat-sifat-Nya yang dinyatakan oleh Theon. Ketika Al-kindi menyebutkan itu, ia tak lebih dari pengalihkonsepsi Hellenistis tentang Tuhan. Keaslian Al-kindi terletak pada upayanya mendamaikan konsep Islam tentang Tuhan dengan gagasan filosofis Neo-Platonis terkemuian. Gagasan dasar Islam tentang Tuhan adalah Keesaan-Nya, penciptaan oleh-Nya dari ketakadaan, dan ketergantungan semua ciptaan kepada-Nya. Sifat-sifat ini dalam Al-Qur’an dinyatakan secara tak filosofis atau ialektis.

Al-kindi menyifati Tuhan dengan istilah-istilah baru. Tuhan adalah yang benar. Ia tinggi dan dapat disifati hanya dengan sebutan-sebutan negatif. “Ia bukan materi, tak berbentuk, tak berjumlah, tak berkualitas, tak berhubungan, juga Ia tak dapat disifati dengan ciri-ciri yang ada, Ia tak berjenis, tak terbagi dan tak berkejaian. Ia abadi…”.

Untuk memahami posisi Al-kindi, kita mesti merujuk pada kaum Tradisionalis dan Mu’tazilah. Kaum tradisionalis (Ibn Hanbal adalah salah seorang tokohnya) menafsirkan sifat-sifat Allah dengan “nama-nama Allah”, mereka menerima makna harfiyah Al-Qur’an tanpa memberikan penafsiran lebih jauh. Kaum Mu’tazilah yang semasa dengan Al-kindi, secara akal menfsirkan sifat-sifat Allah demi memantapkan Kemahaesaan-Nya. Mereka memecahkan masalah ini berdasarkan hubungan antara zat Allah dan sifat-sifat-Nya. Menurut mereka, sifat-sifat utama Allah ada tiga: tahu, kuasa dan berkehendak. Sifat-sifat ini mereka tolak, karena bila mereka menerima hal ini sebagai sifat-sifat Tuhan, berari zat-Nya banyak.

Al-kindi, filosof muslim pertama, mengikuti kaum Mu’tazilahdalam menolak sifat-sifat tersebut. Tetapi pendekatannya dalam memecahkan masalah tersebut berbeda sekali. Pertama, yang menjadi perhatiannya bukan zat Allah dan sifat-sifat-Nya, tetapi hal dapat disifatinya zat Allah. Kedua, segala sesuatu dapat didefinisikan, karena itu mereka dapat diketahui dengan menentukan jenis-jenis mereka, kecuali Allah yang tak berjenis. Dengan kata lain Al-kindi mengikuti jalur “ahli logika”.

Dalih-dalih Al-kindi tentang kemaujudan Allah bertumpu pada keyakinan akan hubungan sebab akibat. Segala yang maujud pasti mempunyai sebab yang memaujudkannya. Rangkaian sebab itu terbatas, akibatnya ada sebab pertama atau sebab sejati yaitu Allah. Dalam filsafat Al-kindi, Tuhan adalah sebab efisien.

Ada dua macam sebab efisien: Pertama, sebab efisien sejati dan aksinya adalah ciptaan dari ketiadaan (ibda’). Kedua, semua sebab efisien yang lain adalah lanjutan, yaitu sebab-sebab tersebut ada lantaran sebab-sebab lain. Segala kemaujudan senantiasa membutuhkan Allah. Hal ini karena Allah, Sang Pencipta yang abadi, adalah penunjang semua ciptaan-Nya.

  1. 2.      Jiwa

Adapun tentang jiwa, menurut Al-kindi tidak tersusun, mempunyai arti penting, sempurna, dan mulia. Substansi roh berasal dari substansi Tuhan. Hubungan dengan Tuhan sama dengan hubungan cahaya dengan matahari. Selain itu jiwa bersifa spiritual,Ilahiah, terpisah dan berbeda dari tubuh.
Jiwa atau roh adalah salah satu pembahasan Al-kindi. Ia juga merupakan filosof Muslim pertama yang membahas hakikat roh secara terperinci.Al-kindi membagi roh atau jiwa ke dalam tiga daya, yakni daya nafsu, daya pemarah, dan daya berpikir. Menurutnya, daya yang paling penting adalah daya berpikir, karena bisa mengangkat eksistensi manusia ke derajat yang lebih tinggi.

Al-kindi juga membagi akal mejadi tiga, yakni akal yang bersifat potensial, akal yang telah keluar dari sifat potensial menjadi aktual, dan akal yang telah mencapai tingkat kedua dari aktualitas.Akal yang bersifat potensial, papar Al-kindi, tak bisa mempunyai sifat aktual, jika tak ada kekuatan yang menggerakkannya dari luar. Oleh karena itu, menurut Al-kindi, masih ada satu macam akal lagi, yakni akal yang selamanya dalam aktualitas. Akal yang bersifat potensial tidak dapat keluar menjadi actual jika tidak ada kekuatan yang menggerakkannya dari luar. Akal yang selamanya dalam aktualisasi inilah yang menggerakkan potensial menjadi actual.

  1. 3.      Metafisika

 Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang mulia. Filsafatnya tentang keesaan Tuhan selain didasarkan pada wahyu juga proposisi filosofis. Menurut ia, Tuhan tak mempunyai hakikat, baik hakikat secara juz’iyah atau aniyah (sebagian) maupun hakikat kulliyyah atau mahiyah (keseluruhan). Dalam pandangan filsafat Al-kindi, Tuhan tidak merupakan genus atau species. Tuhan adalah Pencipta. Tuhan adalah yang Benar Pertama (al-Haqq al-Awwal) dan Yang Benar Tunggal. Al-kindi juga menolak pendapat yang menganggap sifat-sifat Tuhan itu berdiri sendiri. Tuhan haruslah merupakan keesaan mutlak. Bukan keesaan metaforis yang hanya berlaku pada obyek-obyek yang dapat ditangkap indera. Menurut Al-kindi, Tuhan tidak memiliki sifat-sifat dan atribut-atribut lain yang terpisah dengan-Nya, tetapi sifat-sifat dan atribut-atribut tersebut haruslah tak terpisahkan dengan Zat-Nya.

Adapun mengenai ketuhanan, bagi Al-kindi, Tuhana adalah wujud yang sempurna dan tidak didahului wujud lain. Tuhan adalah Maha Esa yang tidak dapat dibagi-bagi dan tidak ada zat lain yang menyamai-Nya dalam segala aspek. Sebagai pencipta dunia, sifat Tuhan yang utama adalah Esa (Unity). Jika pencipta dunia lebih dari satu, maka masing-masing sekutunya akan membagi satu karekteristik yang umum dengan yang lain, dan iantara mereka harus dibedakan beberapa sifat, akibatnya pencipta ini haruslah merupakan gabungan.

Mengenai kekuasaan Tuhan dan kebijaksanaan-Nya apabila direnungkan, kita akan merasa kagum karena begitu rasional dan harmonis dalam penataan alam semesta. Adapun bumi ini yang terletak dibawah falak bulan, merupakan pusat alam. Sedangkan falak-falak atau benda –benda langit menurut Al-kindi adalah makhluk hidup, memiliki indra penglihatan dan pendengaran sebagai indra yang diperlukan untuk dapat berfikir dan membedakan.

  1. 4.      Ketakterhinggaan

Alam, dalam sistem Aristoteles, terbatas oleh ruang tetapi tak terbatas oleh waktu, karena gerak alam seabadi Penggerak Tak Tergerakkan. Keabaian alam dalam pemikiran Islam, ditolak, karena Islam berpendirian bahwa alam diciptakan. Al-kindi, berbeda dengan para filosof besar penggantinya, menyatakan alam ini tak kekal. Mengenai hal ini ia memberikan pemecahan yang radikal, dengan membahas gagasan tentang ketakterhinggaan secara matematik.

Benda-benda fisik terdiri atas materi dan bentuk, dan bergerak didalam ruang dan waktu. Jadi materi, bentuk, ruang dan waktu merupakan unsur dari setiap fisik. Wujud yang begitu erat kaitannya dengan fisik, waktu dan ruang adalah terbatas, karena mereka takkan ada kecuali dalam keterbatasan. Waktu bukanlah gerak, melainkan bilangan pengukur gerak, karena waktu tak lain adalah yang dahulu dan yang kemuian.

Dalil-dalil yang menentang ketakterbatasan diulang dalam sejumlah tulisan Al-kindi. Kami kutipkan dari tulisannya, “Perihal Keterbatasan Wujud Dunia”, empat teori yang membuktikan keterbatasan:

  1. Dua besaran (di pakai untuk garis, permukaan atau benda), yang sama disebut sama, bila yang satu tak lebih besar daripada yang lain.
  2. Bila satu besaran ditambahkan pada salah satu dari dua besaran yang sama tersebut, maka keduanya akan menjadi tak sama.
  3. Dua besaran yang sama tak bisa menjadi tak terbatas, bila yang satu lebih kecil dari yang lain, karena yang lebih kecil mengukur yang lebih besar atau sebagian darinya.
  4. Jumlah dua besaran yang sama, karena masing-masing terbatas, adalah terbatas.

Dengan ketentuan ini, maka setiap benda yang terdiri atas materi dan bentuk, yang terbatas ruang, dan bergerak didalam waktu adalah terbatas, meski benda tersebut adalah wujud dunia. Dan karena terbatas maka tak kekal. Hanya Allah-lah yang kekal.

  1. 5.      Ruh dan Akal

Ruh adalah suatu wujud sederhana, dan zatnya terpancar dari Sang Pencipta. Ruh bersifat spiritual, ketuhanan, terpisah, dan berbeda dari tubuh, maka ruh memperoleh pengetahuan yang ada di bumi dan melihat hal yang ialami. Setelah terpisah dari tubuh ia menuju ke alam akal, kembali ke nur Sang Pencipta dan bertemu dengan-Nya. Tiga bagian ruh adalah nalar, keberangan dan hasrat. Orang yang meninggalkan kesenangan-kesenangan jasmani, dan berusaha mencapai hakikat segala sesuatu adalah orang yang baik dan sangat sesuai dengan Sang Pencipta.

Al-kindi membagi akal menjadi empat macam yaitu:

  1. Akal yang selalu bertindak.
  2. Akal yang selalu potensial berada didalam ruh.
  3. Akal yang telah berubah dalam ruh, dari daya menjadi aktual.
  4. Akal yang kita sebut akal yang kedua, yaitu tingkat kedua aktualitas.

Jalannya akal ini diterangkan kembali oleh Al-kindi dalam risalahnya “Filsafat Awal”. Ia berkata: ‘Bila genus-genus dan spesies menyatu dalam ruh, maka mereka menjadi terakali. Ruh menjadi benar-benar rasional setelah menyatu dengan spesies. Sebelum menyatu ruh berdaya. Maka, segala suatu yang maujud dalam bentuk daya tak dapat menjadi aktual, kecuali bila dibuat oleh sesuatu dari daya menjadi aktual. Genus-genus dan spesies itulah yang menjadikan ruh yang berupa daya rasional menjadi benar-benar aktual, maksud saya yang menyatu dengannya”.[2]

  1. D.      Karya-KaryaAl-kindi
  2. 1.      Bidang Astronomi

a)    Risalah fi Masa’il Su’ila anha min Ahwal al-Kawatib, jawaban dari pertanyaan tentang planet.

b)   Risalah fi Jawab Masa’il Thabi’iyah fi Kayfiyyat Nujumiah, pemecahan soal-soal fisis tentang sifat-sifat perbintangan.

c)    Risalah fi anna Ru’yat al-Hilal la Tudhbathu bi al-Haqiqoh wa innama al-Qowl fiha bi at-Taqrib, bahwa pengamatan astronomi bulan baru tidak dapat ditentukan dengan ketetapan mutlak.

d)   Risalah fi Mathrah asy-Syu’a, tentang projeksi sinar.

e)    Risalah fi Fashlayn, tentang dua musim (musim panas dan musim dingin).

f)    Risalah fi Idhah ‘illat Ruju’ al-Kawakib, tentang penjelasan sebab gerak kebelakang planet-planet.

g)   Fi asy-Syu’at, tentang sinar (bintang).

  1. 2.      Meteorologi

a)    Risalah fi ‘illat Kawnu adh-Dhabasb, tentang sebab asal mula kabut.

b)   Risalah fi Atshar alladzi Yazhharu fi al-laww wa Yusamma Kawkaban, tentang tanda yang tampak di langit dan disebut sebuah planet.

c)    Risalah fi ‘illat Ikhtilaf Anwa’us Sanah, tentang sebab perbedaan dalam tahun-tahun.

d)   Risalah fi al-Bard al-Musamma “Bard al-Ajuz”, tentang dingin.

  1. Ramalan

a)    Risalah fi Taqdimat al-Khabar, tentang prediksi.

b)   Risalah fi Taqdimat al-Ma’rifah fi al-Ahdats, tentang ramalan dengan mengamati gejala meteorologi.

  1. 4.      Besaran (Magnitude)

a)    Risalah Ah’ad Masafat al-Aqalim, tentang besarnya jarak antara tujuh iklim.

b)   Risalah fi Istikhraj Bu’da Markaz al-Qamar min al-Ardh, tentang perhitungan jarak antara pusat perhitungan bulan dari bumi.

  1. Ilmu Pengobatan

a)    Risalah fi ‘illat Naftcad-Damm, tentang hemoptesis (batuk darah dari saluran pernapasan).

b)   Risalah fi Adhat al-Kalb al-Kalib, tentang rabies.

  1. 6.      Geometri

a)    Risalah fi Amal Syakl al-Mutawassithayn, tentang konstruksi bentuk garis-garis tengah.

b)   Risalah Ishlah Kitab Uqlidis, tentang perbaikan buku Euclides.

  1. 7.      Ilmu Hitung

a)    Risalah fi al-Kammiyat al-Mudhafah, tentang jumlah relatif.

b)   Risalah fi at-Tajhid min Jihat al-‘Adad, tentang keesaan dari segi angka-angka.

  1. 8.      Logika

a)    Risalatuhu fi Madhkal al-Manmtiq bi Istifa al-Qawl fihi, sebuah pengantar lengkap tentang logika.

b)   Ikhtisar Kitab Isaghuji li Farfuris, sebuah ikhtisar Eisagoge Porphyry.

  1. 9.      Sferika

a)    Risalah fi al-Kuriyat, tentang sferika.

b)   Risalah fi Amalis Samiti ‘ala Kurah, tentang konstruksi sebuah azimuth atas suatu sferah.

Karya-karya yang disebutkan iatas adalah merupakan sebagian terkecil dari sekian banyak karya Al-kindi. Karya Al-kindi di susun oleh Ibnu An-Nadim yang menyebutkan tidak kurang dari 242 buah karya Al-kindi, sedangkan sumber lain menyebutkan 265 buah, dan membaginya menurut pokok persoalannya menjadi filsafat, logika, ilmu hitung, sferika, ilmu kedokteran, astrologi, polemik, psikologi, politik, meteorologi, dan ramalan.

  1. E.       Keselarasan Filsafat dan Agama

Al-kindi mengarahkan filsafat muslim ke arah kesesuaian antara filsafat dan agama. Filsafat berlandaskan akal pikiran sedangkan agama berdasarkan wahyu. Logika merupakan metode filsafat sedang iman merupakan kepercayaan kepada hakikat yang disebutkan dalam Al-Qur’an sebagaimana diwahyukan Allah kepada Nabi-Nya.

Keselarasan antara filsafat dan agama didasarkan pada tiga alasan:

  1. Ilmu agama merupakan bagian dari filsafat.
  2. Wahyu yang diturunkan kepada Nabi dan kebenaran filsafat saling bersesuaian.
  3. Menuntut ilmu, secara logika diperintahkan dalam agama.

Filsafat merupakan pengetahuan tentang hakikat segala suatu, dan ini mengandung teologi (al-rububiyah), ilmu tauhid, etika dan seluruh ilmu pengetahuan yang bermanfaat. Dalam risalah, “Jumlah Karya Aristoteles”, Al-kindi membedakan secara tajam antara agama dan filsafat. Pembicaraannya tentang masalah ini dalam risalah ini, membuktikan bahwa ia membandingkan agama Islam denganfilsafat Aristoteles.

Ilmu Ilahiah yang dibedakannya dari filsafat adalah Islam, sebagaimana yang diturunkan kepada Rasulullah dan termaktub dalam Al-Qur’an. Kesimpulannya, Al-kindi adalah filosof pertama dalam Islam yang menyelaraskan antara agama dan filsafat. Ia memberikan dua pandangan yang berbeda. Pertama, mengikuti jalur ahli logika dan memilsafatkan agama. Kedua, memandang agama sebagai sebuah ilmu Ilahiah dan menempatkannya di atas filsafat. Ilmu Ilahiah ini diketahui melalui jalur para Nabi. Tetapi melalui penafsiran filosofis, agama menjadi selaras dengan filsafat.

Bertemunya agama dan filsafat dalam kebenaran dan kebaikan sekaligus menjadi tujuan dari keduanya. Agama disamping wahyu mempergunakan akal, dan filsafat juga mempergunakan akal. Namun demikian, tidak bisa dipungkiri perbedaan antara keduanya, sebagaimana yang telah dijelaskan Al-kindi dalam karyanya Kammiyah Kutub Aristoteles, sebagai berikut:

  1. Filsafat termasuk humaniora yang dicapai filsuf dengan berfikir, belajar, sedangkan agama adalah ilmu ketuhanan yang menempati tempat tertinggi karena diperoleh tanpa melalui proses belajar dan diterima secara langsung oleh para Rasul dalam bentuk wahyu.
  2. Jawaban filsafat menunjukkan ketidak pastian (semu) dan memerlukan berfikir atau perenungan. Sedangkan agama lewat dalil-dalilnya yang dibawa al-Quran memberi jawaban secaara pasti dan menyakinkan secara pasti dan menyakinkan dengan mutlak.
  3. Filsafat menggunakan metode logika, sedangkan agama mendekatinya dengan keimanan. Walaupun Al-kindi termasuk pengikut rasionalisme dalam arti umum, tetapi ia tidak mendewa-dewakan akal. Baginya tanggapan pemikiran belum dapat menjamin kebenaran sesuatu, karena itu dibutuhkan alat yang menjamin untuk kebenaran sesuatu.

 

  1. F.       Kitab Pemecah Kode

Sebagai ilmuwan serba bisa, Al-kindi tak cuma melahirkan pemikiran di bidang filsafat saja. Salah satu karyanya yang termasuk fenomenal adalah Risalah Fi Istikhraj al-Mu’amma. Kitab itu mengurai dan membahas kriptologi atau seni memecahkan kode. Dalam kitabnya itu, Al-kindi memaparkan bagaimana kode-kode rahasia diurai.

Teknik-teknik penguraian kode atau sandi-sandi yang sulit dipecahkan dikupas tuntas dalam kitab itu. Selain itu, ia juga mengklasifikasikan sandi-sandi rahasia serta menjelaskan ilmu fonetik Arab dan sintaksisnya. Yang paling penting lagi, dalam buku tersebut, A-Kindi mengenalkan penggunaan beberapa teknik statistika untuk memecahkan kode-kode rahasia.

Kriptografi dikuasainya, lantaran dia pakar di bidang matematika. Di area ilmu ini, ia menulis empat buku mengenai sistem penomoran dan menjadi dasar bagi aritmatika modern. Al-kindi juga berkontribusi besar dalam bidang geometri bola, bidang yang sangat mendukungnya dalam studi astronomi

Bekerja di bidang sandi-sandi rahasia dan pesan-pesan tersembunyi dalam naskah-naskah asli Yunani dan Romawi mempertajam nalurinya dalam bidang kriptoanalisa. Ia menjabarkannya dalam sebuah makalah, yang setelah dibawa ke Barat beberapa abad sesudahnya diterjemahkan sebagai Manuscript on Deciphering Cryptographic Messages. ”Salah satu cara untuk memecahkan kode rahasia, jika kita tahu bahasannya adalah dengan menemukan satu naskah asli yang berbeda dari bahasa yang sama, lalu kita hitung kejadian-kejadian pada tiap naskah Pilah menjadi naskah kejadian satu, kejadian dua, dan seterusnya,” kata Al-kindi.

Setelah itu, lanjut Al-kindi, baru kemudian dilihat kepada teks rahasia yang ingin dipecahkan. Setelah itu dilanjutkan dengan melakukan klasifikasi simbol-simbolnya. ”Di situ kita akan menemukan simbol yang paling sering muncul, lalu ubahlah dengan catatan kejadian satu, dua, dan seterusnya itu, sampai seluruh simbol itu terbaca.”

Teknik itu, kemudian dikenal sebagai analisa frekuensi dalam kriptografi, yaitu cara paling sederhana untuk menghitung persentase bahasa khusus dalam naskah asli, persentase huruf dalam kode rahasia, dan menggantikan simbol dengan huruf.[3]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

Bagi Al-kindi, filsafat adalah ilmu pengetahuan yang mulia. Filsafatnya tentang keesaan Tuhan selain didasarkan pada wahyu juga proposisi filosofis. Menurut dia, Tuhan tak mempunyai hakikat, baik hakikat secara juz’iyah atau aniyah (sebagian) maupun hakikat kulliyyah atau mahiyah (keseluruhan).

Buah pikir yang dihasilkannya begitu berpengaruh terhadap perkembangan peradaban Barat pada abad pertengahan. Karya-karyanya diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan bahasa Eropa. Buku-buku itu tetap digunakan selama beberapa abad setelah ia meninggal dunia.

Al-kindi dikenal sebagai filosof Muslim pertama, karena ialah orang Islam pertama yang mendalami ilmu-ilmu filsafat. Hingga abad ke-7 M, filsafat masih didominasi orang Kristen Suriah. Al-kindi tak sekedar menerjemahkan karya-karya filsafat Yunani, namun ia juga menyimpulkan karya-karya filsafat Helenisme. Salah satu kontribusinya yang besar adalah menyelaraskan filsafat dan agama.

Sebagai penggagas filsafat murni dalam dunia Islam, Al-kindi memandang filasafat sebagai ilmu pengetahuan yang mulia. Sebab, melalui filsafat-lah, manusia bisa belajar mengenai sebab dan realitas Ilahi yang pertama da merupakan sebab dari semua realitas lainnya. Baginya, filsafat adalah ilmu dari segala ilmu dan kearifan dari segala kearifan. Filsafat, dalam pandangan Al-kindi bertujuan untuk memperkuat agama dan merupakan bagian dari kebudayaan Islam.

DAFTAR PUSTAKA

 

Supriadi, Dedi, Pengantar Filsafat Islam, Pustaka Setia: Bandung, 2009.

Makhour, Ibrahim, Fi Al-Falsafat Al-Islamiyah (terjemahan), Bumi Aksara: Jakarta, 1995.

Hanafi, Ahmad, Pengantar Filsafat Islam, Bulan Bintang: Jakarta, 1990.

Madjid, Nurcholis, Khazanah Intelektual Islam, Bulan Bintang: Jakarta, 1994.

Abu Ridah, Rasa’il Al-kindi Al-Falsafiyah, Kairo, 1950.

Nasution, Harun, Filsafat dan Mistisme dalam Islam, Bulan Bintang: Jakarta, 2008.

http://www.kebunhikmah.com

http://em-aziez.blogspot.com/2007/12/al-kindi.html

 

www.wikipedia.com free encyclopedia

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s