Balai Arkeologi Bandung


BAB I

PENDAHULUAN

  1. A.    Latar Belakang

Menurut Azyumardi Azra dalam pengantar buku Arkeologi Islam Nusantara, menyebutkan bahwa Arkeologi merupakan salah satu ilmu yang sangat dekat dengan sejarah, karena keduanya memiliki persamaan, yaitu mempelajari dan mengungkap kehidupan manusia pada masa lalu. Akan tetapi meskipun terdapat persamaan yang menjadikan adanya hubungan antara keduanya, kedua ilmu tersebut dibedakan atas sumber data yang digunakan. Sejarah lebih banyak menggunakan sumber tertulis, sedangkan arkeologi menggunakan sumber yang berupa benda atau artefak yang salah satunya diperoleh dari eskavasi. Maka dengan itu, arkeologi menjadi tumpuan untuk penelitian sejarah.[1]

Bentuk data arkeologi menjadi pacuan utama untuk mengngkap sejarah kebudayaan manusia masa lalu, baik itu sejak masa prasejarah maupun pada masa sejarah. Data arkeologi tersebut terbagi ke dalam lima bagian, yaitu artefak, ekofak, fitur, situs, dan kawasan arkeologis. Kelima jenis data tersebut menjadi kajian arkelog untuk mengungkap kebudayaan manusia masa lalu.

Kajian lebih terperinci mangenai data-data arkeologi tersebut merupakan kajian inti para arkeolog, para mahasiswa atau pemula yang mempunyai keinginan untuk mengetahui dan mengkaji hal-hal yang berhubungan dengan arkeologi tentu tidak akan langsung mendapatkan pengetahuan dan informasi seputar arkeologi dari lapangan tempat ditemukannya situs, kecuali dengan panduan pakar Arkeologi. Pengetahuan dan informasi mengenai hal-hal yang berkaitan dengan arkeologi bisa ditemukan di Balai Arkeologi maupun museum-museum yang menyajikan hal tersebut.

Sebagai salah satu pusat informasi mengenai hal-hal yang berkaitan dengan Arkeologi, Balai Arkeoogi Bandung akan selalu memberikan informasi kepada setiap pengunjung yang ingin mengetahui seputar Arkeologi maupun benda-benda yang berkaitan dengannya. Untuk pengunjung yang baru mengenal arkeologi, petugas arkeologi akan memberikan pengantar Arkeologi. Dalam makalah ini akan dipaparkan mengenai informasi-informasi yang telah diberikan oleh Balai arkeologi bandung.

 

  1. B.     Rumusan Masalah
  • Informasi apa saja yang disajikan oleh Balai arkeologi bandung?
  • Peninggalan apa saja yang ditemukan dan disajikan di Balai arkeologi bandung?

 

  1. Tujuan
  • Mengetahui informasi yang disajikan oleh Balai arkeologi bandung
  • Mengetahui Peninggalan manusia masa lalu yang ditemukan dan disajikan di Balai arkeologi bandung

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

 

  1. A.    Sekilas Tentang Arkeologi
    1. a.      Sejarah, Arti, dan Disiplin Ilmu

Arkeologi muncul pada awal abad ke-19. Ilmu ini muncul diawali dengan adanya kelompok masyarakat di Eropa yang memburu barang-barang antik atau para kolektor yang disebut sebagai Kelompok Antiquarian. Kelompok Delletanty  yaitu kelompok masyara-kat yang selain mengoleksi barang-barang antik yang bernilai seni juga berusaha untuk mencari latar belakang sejarah dari benda-benda seni yang mereka kumpulkan.[2]

Secara etimologi, kata Arkeologi berasal dari kata archeosdan logos. Sedangkan secara terminology, Lutfi Yodri menjelaskan bahwa ada  beberapa pengertian mengenai Arkeologi, yaitu:[3]

  • ilmu yang mempelajari masa lampau melalui benda-benda tinggalan manusia;
  • Studi aspek-aspek sosial dan kultural masa lampau melalui sisa-sisa material dengan tujuan untuk menyusun dan menguraikan peristiwa yang terjadi pada masa lampau dan menjelaskan arti peristiwa tersebut
  • Sisa-sisa material ataupun benda-benda tinggalan manusia merupakan data penting

Ali Akbar dalam bukunya Arkeologi Masa Kini, menjelaskan bahwa Arkeologi adalah ilmu yang mempelajari kebudayaan masyarakat masa lalu melalui peninggalannya. Meskipun mengkaji sesuatu yang telah lalu, namun sebenarnya Arkeologi sangat dinamis. Dinamika tersebut terjadi karena penelitian terhadap data arkeologi belum terungkap semuanya.[4] Dalam mempelajari tentang budaya masa lalu, arkeologi merupakan salah satu disiplin ilmu yang berdiri sendiri dengan seperangkat ilmu bantu, baik yang berasal dari ilmu-ilmu keras (hard sciences), dan ilmu-ilmu lunak (soft sciences). Disiplin ilmu bantu yang berasal dari kelompok ilmu keras, yaitu:[5]

  • Geologi mengembangkan studi geoarkeologi;
  • Kimia mengembangkan studi kemikoarkeologi;
  • Biologi mengembangkan studi bioarkeologi dan ekologi;
  • Metalurgi dalam kajian teknologi dan bahan;
  • Arsitektur dalam kajian rancang bangun;
  • Dsb.

Sementara itu arkeologi juga mempergunakan ilmu bantu dari disiplin ilmu lunak, yaitu:[6]

  • Sejarah dalam pengembangan historical-archeology;
  • Antropologi dalam pengkajian perbandingan budaya, khususnya melalui penerapakan pendekatan etnoarkeologi;
  • Linguistik dan filologi dalam kajian naskah dan manuskrip;
  • Sosiologi dalam mempelajari gejala dan tingkah laku manusia;
  • Ilmu-ilmu sastra dalam kajian naskah-naskah kuna;
  • Dsb.

 

  1. b.      Bentuk/Jenis Data Arkeologi

Data arkeologi terus mengalami perluasan dari waktu ke waktu. Mengutip dari Mundardjito, Ali Akbar menjelaskan bahwa data arkeologi dapat berupa: (1) Artefak (Artifact), (2) Fitur (Feature), (3) Ekofak (Ecofact), (4) Situs (Site), (5) Kawasan Arkeologis (Area) yang mencakup beberapa situs sekaligus di suatu bentang geografis.[7]

Artefak dan fitur dapat dipisahkan berdasarkan sifatnya yang dapat dipindahkan atau tidak dapat dipindahkan tanpa merusak kedudukannya, tetapi keduanya jelas menunjukan adanya modifikasi secara fisik oleh manusia. Ekofak adalah benda alam yang diintervensi oleh manusia melalui konsep atau makna, sehingga terkesan tidak ada perubahan fisik pada benda alam tersebut.[8] Situs (Site) yaitu bidang tanah yang mengandung tinggalan purbakala dan pernah dijadikan sebagai tempat kegiatan masyarakat masa lalu. Peninggalan yang terdapat di sebuah situs dapat terdiri dari gabungan antara artefak, fitur, dan ekofak. Sementara itu, Kawasan Arkeologi (Region) yaitu Suatu daerah yang di dalamnya mengandung situs-situs arkeologi. Bentuk kawasan geografis yang termasuk dalam kelompok ini dapat berupa Permukiman (seperti perkotaan, perkampungan, hunian tepi danau, perbukitan, dsb).

Sebuah situs bisa pernah dihuni sekali (single site), dan juga bisa dihuni secara berkelanjutan (multy component site) sepanjang sejarahnya. Suatu situs juga mempunyai batasan-batasan tertentu, yaitu: Pertama, batas cultural, yaitu batas satuan ruang yang dibuat dengan sengaja atau tidak sengaja oleh manusia masa lalu atau masa kini (pagar keliling candi, benteng, patok, batas pemilikan lahan, ketiadaan temuan dll). Kedua, batas geografikal, yaitu batas satuan ruang yang dibentuk oleh alam berwujud  bentukan geografis (laut, sungai,  gunung, bukit, selokan, tanggul alam, dll). Ketiga, batas arbitrer yaitu batas satuan ruang yang ditentukankan oleh arkeolog dalam proses penelitian  (batas ekskavasi, cakupan pandangan, dan lain-lain). Keempat, batas administrasi, yaitu batas satuan ruang yang ditentukan secara administratif.

 

  1. c.       Tiga pokok perhatian Arkeologi dalam mempelajari masa lampau
    1. Bentuk (Form) – deskripsi fisik dan klasifikasi bukti-bukti arkeologis yang ditemukan;
    2. Fungsi (function) – analisis bentuk dan saling hubungan sisa-sia material masa lampau untuk mengetahui fungsi sisa-sisa tersebut;
    3. Proses budaya – menjelaskan tentang ‘bagaimana’ dan ‘mengapa’ kebudayaan mengalami perubahan.

 

  1. d.   Dimensi-dimensi Arkeologi
    1. 1.      Bentuk (Formal), meliputi bentuk, ukuran dari temuan;
    2. 2.      Ruang (Spatial), keletakan tinggalan arkeologi dalam ruang geografis baik secara horizontal (persebaran di buma bumi/permukaan tanah maupun vertikal dalam konteks stratigrafi;
    3. 3.      Waktu (Temporal), meliputi pertanggalan mutlak   (absolute dating), pertanggalan relatif (relative dating). Dalam dimensi waktu, terdapat macam-macam pertanggalan, yaitu pertanggalan mutlak (absolute dating) dan pertanggalan relative.
      1. a.      Pertanggalan mutlak, meliputi:
  • Carbon dating (analisis pertanggalan C-14) untuk pertanggalan pada benda dengan kiran waktu di bawah 50.000 tahun yang lalu;
  • Fission track (kalium-argon) untuk pertanggalan di atas 50.000 tahun yang lalu.

 

  1. b.      pertanggalan relative, meliputi:
  • Pertanggalan secara stratigrafi, yaitu dengan menempatkan tinggalan arkeologi berdasarkan keletakannya pada lapisan tanah. Temuan yang berada pada lapisan terbawah berusia lebih tua dibanding temuan yang terletak dekat  dengan permukaan tanah.
  • Cross dating (pertanggalan silang), yaitu mengkorelasikan pertanggalan satu temuan dengan temuan yang lain dalam satu keletakan (asosiasi) yang sudah diketahui umurnya.
  • Seriation dating, yaitu penentuan umur dengan cara merunut temuan dari bentuk sederhana ke bentuk yang paling canggih. Dalam hal ini temuan dengan bentuk sederhana dianggap memiliki umur yang lebih tua.

 

  1. e.       Klasifikasi Data Arkeologi

Data-data arkeologi yang berupa artefak, ekofak, dan fitur, dapat diklasifikasikan kedalam beberapa jenis.

  1. 1.      Klasifikasi Artefak
  • Ideofak, yaitu artefak yang memiliki fungsi untuk memberikan rasa aman atau artefak-artefak yang berhubungan dengan fungsi psikologis. contoh : benda-benda keagamaan, simbol-simbol/atribut tertentu.
  • Teknofak, yaitu artefak yang memiliki fungsi secara langsung untuk mempertahankan diri. contoh : kapak batu, mata panah, pisau, rumah, goa, dsb.
  • Sosiofak, yaitu artefak yang berhubungan dengan status sosial yang ada dalam lingkungan masyarakat dan sekaligus merupakan simbol untuk mempertahankan susunan masyarakat dan integrasi masyarakat.   Contoh : Mahkota, keris, tongkat komando, dan sebagainya.

 

Dalam pengamatan sebuah artefak dalam arkeologi, selain pengamatan (deskripsi) bentuk, juga dilihat bagaimana atribut-atribut (satuan variabel terkecil yang dapat diamati pada satu objek) antara lain:

  • atribut formal : menyangkut bentuk, ukuran, bahan, dsb.
  • atribut gaya : menyangkut warna, tekstur, hiasan, dsb.
  • atribut teknologis : menyangkut teknik dan teknologi pembuatan, rancang bangun, dsb.
  1. 2.      Klasifikasi Fitur

Berdasarkan konstruksi dan bentuknya fitur dibedakan atas :

  • Simple feature : fitur berbentuk sederhana, dibuat tanpa perencanaan bahkan seringkali memanfaatkan langsung ketersediaan alam. Contoh : lubang sampah, goa, dan lain-lain.
  • Composite feature : fitur berbentuk sangat indah, terencana, dan tertata dengan baik. Contoh : candi, masjid, gapura, benteng, dan lain-lain.

 

  1. f.       Faktor-Faktor Penentu Data Arkeologi

Factor-faktor penentu data Arkeologi yaitu Tempat Kedudukan (Matrix), Keletakan Temuan  (Provinience), Kumpulan Antar Temuan (Association), Hubungan Antar Temuan (Context), Konteks Sistem, Konteks Tafonomi dan Konteks Arkeologi,  Proses-proses dalam Sistem Perilaku (Behavioral System),danProses-proses Transformasiyang berupa alam dan budaya.

  1. g.      Penelitian Arkeologi

Ada tiga tahap penelitian arkeologi, yaitu Observasi, Deskripsi, dan Eksplanasi. Metode dan teknik penelitian (tingkat observasi), yaitu meliputi:

  1. Pengumpulan data: 1. Penjajagan (reconaisance), 2. Survei (survey), 3.  Eks-kavasi (excavation).
  2. Pengolahan Data (Tingkat Deskripsi): 1. Analisis spesifik dan kontekstual,  2. Analisis destruktif dan non destruktif, 3.  Analisis bentuk umum (taxonomic) dan atribut (analitic) : bentuk dan ukuran, teknologi, dan gaya, 4.  Konsep dan metode klasifikasi tinggalan arkeologi, 5.  Penyajian data.
  3. Penafsiran data (tingkat eksplanasi): 1. Integrasi dan sintesa data, 2. Penggunaan sumber-sumber analogi: etnografi, histori, dan eksperimen, 3. Penafsiran dan penjelasan data.

 

  1. B.     Benda Arkeologis Hasil Temuan

Selain menyediakan berbagai informasi mengenai arkeologi, Balai arkeologi bandung juga menyimpan benda-benda hasil temuan Arkeologi, baik itu berupa benda asli ataupun reflika. Koleksi benda-benda Arkeologis tersebut akan memberikan pengetahuan lebih kepada kita tentang kebudayaan manusia masa lalu. Benda-benda peninggalan kebudayaan manusia masa lalu tersebut diantaranya:

  1. a.      Benda Arkeologis dari Gua Pawon

Satu-satunya gua di kawasan Jawa Barat yang memiliki temuan yang paling lengkap tentang penghidupan prasejarah di dalamnya adalah Gua Pawon. Gua ini terletak di kawasan batugamping Gunung Masigit, Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat atau dalam skala kawasan yang lebih luas berada di bagian barat Dataran Tinggi Bandung yang dahulunya melingkungi kawasan Danau Bandung Purba. Gua tersebut merupakan penemuan baru dalam kegiatan penelitian prasejarah yang pernah dilakukan di daerah Jawa bagian barat.[9]

Penelitian (eskavasi) arkeologi di Gua Pawon antara lain telah dilakukan oleh Balai arkeologi bandung pada bulan Juli dan Oktober (2003), Mei (2004), April (2004), Oktober (2005), dan April (2009). Dalam penelitian tersebut telah ditemukan berbagai bentuk peralatan berupa alat-alat serpih yang terbuat dari bahan-bahan obisidian, jasper dan kalsedon, alat tulang dan taring berupa lancipan dan spatula, perkutor, sisa-sisa moluska, jejak perhiasan dan gigi ikan hiu, taring hewan, serta rangka manusia berupa tengkorak, atap tengkorak, serta rangka yang cukup lengkap ditemukan terkubur dalam posisi terlipat.[10]

Rangka manusia dari Gua Pawon yang dikoleksi Balai arkeologi bandung dibuat reflika

 

  1. b.      Artefak Peninggalan Masa Kerajaan Sunda

Tinggalan arkeologis dari masa kerajaan Sunda yang menunjukan sifat keagamaan, diantaranya berupa arca tipe Pajajaran. Arca tipe Pajajaran yaitu arca yang menunjukan cirri-ciri Hindu-Budha tetapi dengan penggambaran yang sederhana. Beberapa arca tipe Pajajaran antara lain ditemukan di Cikapundung dan Bukit Tunggul, Bandung; Pejambon, Cirebon; Jambansari, Ciamis. Arca yang ditemukan di Bukit Tunggul berbentuk Ganesa. Di Pejambon, Cirebon terdapat sekumpulan arca seperti Siwa, Ganesa, dan Lingga Yoni. Sedangkan arca  yang ditemukan di situs Jambansari, Ciamis berbentuk Nandi dan Ganesa.[11]

 

Selain itu pula, Balai Arkelogi Bandung menyediakan gambar benda-benda arkeologis yang berupa artefak, fitur, dan ekofak, dipajang pada dinding-dinding dekat benda-benda arkeologis. Gambar-gambar tersebut disertai dengan penjelasan untuk memberikan informasi kepada pengunjung mengenai peninggalan kebudayaan masa lalu, diantaranya yaitu:

  1. a.      Prasasti Ciaruten

Prasasti ini ditulis dengan huruf Palawa berbahasa Sansekerta, dituliskan dalam bentuk puisi India dengan irama anustubh terdiri dari empat baris. Isi dari prasasti tersebut yaitu: “Ini bekas dua kaki, yang seperti kaki dewa Wisnu, ialah kaki Yang Mulia Purnavarman, raja di negeri Taruma, raja yang gagah berani di dunia”.

  1. b.      Batu Dakon

Batu Dakon berada pada suatu lahan berukuran 7 x 6 m, dikelilingi pagar tembok setinggi 140 cm. Di dalam lahan tersebut terdapat dua batu dakon yang berjajar timur barat, berjarak sekitar 1 m. Pada permukaan batu dakon tersebut masing-masing terdapat 8 dan 10 lubang. Di sebelah selatan batu dakon terdapat dua menhir yang berjajar timur – barat berjarak sekitar 1 m.

  1. c.       Batu Tukuh

Di Lebak Cibeduk, tepatnya di wilayah Desa Citorek, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebab, Propinsi Banten telah ditemukan peninggalan bercorak megalitik yang sarat akan unsure-unsur budaya yang melatarbelakanginya. Oleh masyarakat tinggalan tersebut disebut dengan “batu tukuh”. Masing-masing temuan tersebut yaitu:

  • Batu Tukuh Cibeduk 1, merupakan satu kelompok tinggalan tradisi megalitik berbentuk batur punden dengan ukuran panjang 3,25 m, panjang 3, 10 m, terletak dengan orientasi utara selatan.
  • Batu Tukuh Cibeduk 2, berbentuk batur punden yang terbuat dari susunan batuan andesit berukuran panjang 3, 70 m, lebar 2, 60 m, berorientasi baratlaut – tenggara.
  • Batu Tukuh Cibeduk 3, merupakan dua menhir yang terbuat dari tufa berwarna putih, berpasangan dengan orientasi timur – barat.

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

 

  1. A.   Kesimpulan

Arkeologi muncul pada awal abad ke-19. Ilmu ini muncul diawali dengan adanya kelompok masyarakat di Eropa yang memburu barang-barang antik atau para kolektor yang disebut sebagai Kelompok Antiquarian. Kelompok Delletanty  yaitu kelompok masyara-kat yang selain mengoleksi barang-barang antik yang bernilai seni juga berusaha untuk mencari latar belakang sejarah dari benda-benda seni yang mereka kumpulkan.

Ali Akbar dalam bukunya Arkeologi Masa Kini, menjelaskan bahwa Arkeologi adalah ilmu yang mempelajari kebudayaan masyarakat masa lalu melalui peninggalannya. Meskipun mengkaji sesuatu yang telah lalu, namun sebenarnya Arkeologi sangat dinamis. Dinamika tersebut terjadi karena penelitian terhadap data arkeologi belum terungkap semuanya.

Data arkeologi terus mengalami perluasan dari waktu ke waktu. Mengutip dari Mundardjito, Ali Akbar menjelaskan bahwa data arkeologi dapat berupa: (1) Artefak (Artifact), (2) Fitur (Feature), (3) Ekofak (Ecofact), (4) Situs (Site), (5) Kawasan Arkeologis (Area) yang mencakup beberapa situs sekaligus di suatu bentang geografis.

Selain menyediakan berbagai informasi mengenai arkeologi, Balai arkeologi bandung juga menyimpan benda-benda hasil temuan Arkeologi, baik itu berupa benda asli ataupun reflika. Koleksi benda-benda Arkeologis tersebut diantaranya yaitu benda arkeologis dari Gua Pawon, telah ditemukan berbagai bentuk peralatan berupa alat-alat serpih yang terbuat dari bahan-bahan obisidian, jasper dan kalsedon, alat tulang dan taring berupa lancipan dan spatula, perkutor, sisa-sisa moluska, jejak perhiasan dan gigi ikan hiu, taring hewan, serta rangka manusia berupa tengkorak, atap tengkorak, serta rangka yang cukup lengkap ditemukan terkubur dalam posisi terlipat. Tinggalan arkeologis dari masa kerajaan Sunda yang menunjukan sifat keagamaan, diantaranya berupa arca tipe Pajajaran.

Selain itu pula, Balai Arkelogi Bandung menyediakan gambar benda-benda arkeologis yang berupa artefak, fitur, dan ekofak, dipajang pada dinding-dinding dekat benda-benda arkeologis. Gambar-gambar tersebut diantaranya yaitu Prasasti Ciaruten, Batu Dakon, dan Batu Tukuh.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Akbar, Ali. 2010. Arkeologi Masa Kini. Jatinangor: ALQAPRINT.

Widyastuti, Endang. 2010. Brosur Persentuhan dengan Budaya India. Bandung:  Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata-Balai arkeologi bandung.

Tjanrasasmita, Uka. 2009. Arkeologi Islam Nusantara. Jakarta: KPG.

Balai arkeologi bandung. 2010. Brosur tentang Potensi Tinggalan Prasejarah di Kawasan Jawa Bagian Barat. Bandung: Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata-Balai arkeologi bandung.

 

Narasmber:

Lutfi Yondri, Arkeolog, Balai arkeologi bandung

 


[1] Uka Tjanrasasmita, Arkeologi Islam Nusantara, (Jakarta: KPG, 2009), dalam  Pengantar

[2] Informasi didapat dari seorang Arkeolog, Lutfi Yodri ketika berkunjung ke Balai arkeologi bandung.

[3] Ibid.

[4] Ali Akbar, Arkeologi Masa Kini, (Jatinangor: ALQAPRINT, 2010), hlm. dalam Sebuah Pengantar

[5] Informasi didapat dari Lutfi Yodri ketika berkunjung ke Balai arkeologi bandung

[6] Ibid.

[7]

[8] Ali Akbar, A

[9] Balai arkeologi bandung, Brosur tentang Potensi Tinggalan Prasejarah di Kawasan Jawa Bagian Barat, (Bandung: Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata-Balai arkeologi bandung, 2010)

[10] Ibid.

[11] Endang Widyastuti, Brosur Persentuhan dengan Budaya India, (Bandung:  Kementrian Kebudayaan dan Pariwisata-Balai arkeologi bandung, 2010)

 

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s