konsep kebenaran dalam filsafat


BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah

Manusia sebagai mahluk pencari kebenaran dalam perenungannya akan menemukan tiga bentuk eksistensi yaitu agama, ilmu pengetahuan dan filsafat. Agama mengantarkan pada kebenaran dan filsafat membuka jalan untuk mencari kebenaran. Sebagai mahluk yang dinamis Manusia selalu berusaha menemukan kebenaran. Beberapa cara ditempuh untuk memperoleh kebenaran, antara lain dengan menggunakan rasio seperti para rasionalis dan melalui pengalaman atau empiris. Pengalaman-pengalaman yang diperoleh manusia membuahkan prinsip-prinsip yang lewat penalaran rasional, kejadian-kejadian yang berlaku di alam itu dapat dimengerti.

Filsafat dipahami sebagai suatu kemampuan berpikir dengan menggunakan rasio dalam objek yang menjadi sasaran kebenaran itu sendiri belum pasti melekat dalam objek. Terkadang hanya dapat dibenarkan oleh persepsi-persepsi belaka. Dari fakta tersebut kebenaran itu berarti dapat didefinisikan berdasarkan dengan paradigma yang dipakai. Manusia selalu mencari kebenaran, jika manusia mengerti dan memahami kebenaran, sifat asasinya terdorong pula untuk melaksanakan kebenaran itu. Sebaliknya pengetahuan dan pemahaman tentang kebenaran, tanpa melaksanakan konflik kebenaran, manusia akan mengalami pertentangan batin, konflik psikologis. Karena di dalam kehidupan manusia sesuatu yang dilakukan harus diiringi akan kebenaran dalam jalan hidup yang dijalaninya dan manusia juga tidak akan bosan untuk mencari kenyataan dalam hidupnya yang dimana selalu ditunjukkan oleh kebanaran.

Melihat dari realitas yang ada maka fokus pembahasan penulis adalah tentang arti kebenaran menjelaskan sesungguhnya apa yang disebut kebenaran serta syarat-syarat apa yang menyebabkan suatu pengetahuan dapat dikatakan benar. Dalam pembahasan intinya kami menjelaskan tentang teori-teori kebenaran yang menjadi standarisasi penentuan kebenaran. Semua itu akan dibahas dalam makalah yang berjudul “Teori Kebenaran” .

 

  1. Rumusan Masalah
    1. Apakah arti dari kebenaran itu sendiri?
    2. Sebutkan macam-macam teori kebenaran?
    3. Bagaimana teori-teori kebenaran dalam menentukan kebenaran?
    4. Bagaimana kebenaran ilmiah?
  2. Tujuan Penulisan
    1. Untuk mengetahui arti dari kebenaran itu sendiri.
    2. Untuk mengetahui macam-macam teori kebenaran.
    3. Untuk mengetahui dan memahami penentuan kebenaran dari berbagai teori-teori kebenaran yang ada.
    4. Untuk mengetahui konsep kebenaran ilmiah.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

  1. Definisi Kebenaran

Secara bahasa kata kebenaran itu bisa dikategorikan sebagai suatu kata benda yang konkret maupun abstrak (abbas hamami, 1983). Secara bahasa arti dari kata kebenaran adalah proposisi yang benar . proposisi sendiri berarti makna yang dikandung dalam suatu pernyataan (statement). Apabila subjek menyatakan kebenaran bahwa proposisi yang diuji itu pasti memiliki kualitas sifat atau karakteristik hubungan dan nilai. Hal yang demikian itu karena kebenaran tidak dapat begitu saja terlepas dari kualitas, sifat, hubungan dan nila itu sendiri. [1]

  1. Tingkatan Kebenaran

Berdasarkan scope potensi subjek, maka susunan tingkatan kebenaran itu menjadi :

  1. Tingkatan kebenaran indera adalah tingakatan yang paling sederhanan dan pertama yang dialami manusia
  2. Tingkatan ilmiah, pengalaman-pengalaman yang didasarkan disamping melalui indara, diolah pula dengan rasio
  3. Tingkat filosofis,rasio dan pikir murni, renungan yang mendalam mengolah kebenaran itu semakin tinggi nilainya.
  4.  Tingkatan religius, kebenaran mutlak yang bersumber dari Tuhan yang Maha Esa dan dihayati oleh kepribadian dengan integritas dengan iman dan kepercayaan.[2]

 

 

  1. Teori kebenaran

Sebelum muncul teori kebenaran yang terlembaga, para filosof sebelumnya telah mengemukakan bebrapa teori yang hakiktnya mencari sebuah kebenaran diantaranya adalah

  1. Teori idealisme Plato yang berpusat pada idealism
  2. Teori rasionalisme R.Descartes yang berpusat pada rasio dan kesadaran
  3. Teori imanuel kant yang berpusat pada akanl dan rasio murni
  4. Teori relefansi kalangan teolog yang berpusat pada tuhan
  5. Teori koheren yang menyatakan kebaran itu suatu nilai, intersubjektif, ada nilai yang disepakati bersama antara subjek dengan subjek yang dinilai
  6. Teori korespodensi, kebenaran itu merupakan sesuatu yang sesuai dengan hukum alam
  7. Teori pragmatism menyatakan kebenaran adalah sesuatu yang berguna bagi manusia didunia
  8. Teori utilitiarisme, yang menyatakan bahwa kebenaran itu memberikan faedah atau keuntungan bagi manusia
  9. Teori esensialisme menyatatakan bahwa kebenaran itu adalah sesuatu yang abstrak dan yang bermakna sebagai hal yang terdalam dari fikiran manusia
  10. Teori eksistensialisme menyatakan bahwa kebenaran itu sangat konstekstual yakni yang sesuai dengan waktu
  11. Teori metafisisontology menyatakanbahwa kebenaran itu adalah sesuatu yang ontologism, diketahui atau tidak kebenaran itu ada dalam ruang yang ada
  12. Teori ilmu pengetahuan menyatakan bahwa kebenaran itu sesuatu yang sesuai dengan asas-asas yang ada dalam ilmu pengetahuan
  13. Teori petenialisme menyatakan bahwa kebenaran sesuatu yang muncul dari hati nurani manusia yang sifatnya abstrak
  14. Teori penomenologi menyatkan bahwa kebenaran itu adalah sesuatu yang tetap dan abstrak yang bernama neumenon, jauh dibalik gejala
  15. Teori kontruktivisme yang menyatakan bahwa kenbenaran adalah suatu hasil konstruksi fikiran manusia yang bebas dan selalu berubah
  16. Teori postmodernisme menyatakan bahwa kebenaran itu adalah sesuatu yang berubah dan akal manusi yang menciptakan secara bebas dan tidak pernah sama dengan yang lalu, terdapa tkecenderungan bahwa kebenaran tidak dapt diungkapkan dalma bahasa
  17. Teori progrevisisme menyatakan bahwa kebenaran itu tidak pernah static, melainkan selalu berubah kedepan sesuai perkembangan zaman
  18. Teori kritik menyatakan bahwa kebenaran itu adalha suatu hasi pemikiran manusia yang terbuka dan kritik sepanjang jaman dimana kebenaran ini lahir dari sebuah diskusi, dialog, dan diskursus yang kontinu
  19. Teori nihilism menyatakan bahwa kebenaran itu tidak ada, yang ada hanyalah kekuatan.[3]

                        Sebagaimana dikemukakan seorang filosof abad XX jusfers yang dikutip oleh haneisme 1985 mengemukakan bahwa sebenarnya para pemikir sekarang ini hanya melengkapi dan menyempurnaan teori sebelum-sebelumnya karena teori kebenaran itu selalu parallel dengan teori pengetahuan yang dibangun sebelum-sebelumnya[4]. Teori kebenaran selalu pararel dengan teori pengetahuan yang dibangunnya. Berikut ini adalah teori-teori kebenaran yang telah terlembaga itu antara lain :

  1. Teori kebenaran korespondensi

Teori ini dikenal dengan teori kebenaran tradisional (white, 1978) atau teori yang paling tua yang berangkat dari pengetahuan Aristoteles yang menyatakan bahwa segala sesuatu yang kita ketahui adalah sesuatu yang dapat dikembalikan pada kenyataan yang dikenal oleh subjek (Ackerman, 1965). Dengan kata lain teori ini adalah suatu pengetahuan mempunyai nilai benar apabila pengetahuan itu mempunyai saling kesesuaian dengan kenyataan yang diketahuinya atau sebagaimana dikemukakan oleh Randal dan Buchler dalam bukunya philosophy an Introdaction yang menyatakan bahwa “ A belief is called “true” if it “agrees” with a fact”.[5]

Kebenaran dapat didefinisikan sebagi kesetian pada realitas objektif. Yaitu suatu pernyataan yang sesuai dengan fakta atau sesuatu yang selaras dengan situasi. Kebenaran adalah persesuaian mengenai fakta dengan fakta aktual, atu antara putusan dngan situasi seputar yang diberi interpretasi.[6]

 Masalah kebenaran menurut teori ini hanyalah perbandingan antara realita objek (informasi, fakta, peristiwa, pendapat) dengan apa yang ditangkap oleh subjek (ide, kesan). Jika ide atau kesan yang dihayati subjek (pribadi) sesuai dengan kenyataan, realita, objek, maka sesuatu itu benar. Teori ini umumnya dianut oleh para pengikut realisme, diantaranya plato, aristoteles, moore, russel, ramsey, dan tarski. Teori ini dikembangkan betrand russel (1872-1970).[7]

Menurut persepsi lain, teori korespondensi dapat diartikan sebagi sebuah teori kebenaran yang mengatakan bahwa suatu kebenaran itu banar proporsi bersesuaian dengan realitas menjadi objek pengetahuan itu. Teori ini juga mendasarkan diri kepada krireria tentang kesesuian antara mareri yang dikandung oleh suatu pernyataan dengan objek yang dikenai pernyataan tersebut. Sesuatu dianggap benar apabila apa yang diungkapkan sesuai dengan pakta yang ada dilapangan.[8]

  1. Teori kebenaran Koherensi

Teori kebenaran ini sama dengan teori kebenaran korespondensi yakni dikenal sebagai teori kebenaran tradisional. Teori ini diartikan sebagai teori kebanaran saling berhubungan yaitu suatu proposisi itu atau makna pernyataan dari suatu pengetahuan bernilai benar, bila proposisi itu mempunyai hubungan dengan ide-ide dari proposisi yang terdahulu yang bernilai benar. [9]

Koherensi juga diartikan sebagai teori kebenaran yang menjelaskan suatu proposisi akan diakui atau dianggap benar apabila memiliki hubungan dari gagasan-gagasan dengan proporsi sebelumnya yang juga benar dan dapat dibuktikan secara logis sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan logika. Teori ini menjelaskan bahwa semakin konsisten ide-ide yang ditangkap beberapa subjek tentang suatu objek yang sama, maka makin semakin benar ide-ide tersebut.[10]

Rumusan kebenaran adalah turth is a sistematis coherence dan trut is consistency. Jika A = B dan B = C maka A = C

Logika matematik yang deduktif memakai teori kebenaran koherensi ini. Logika ini menjelaskan bahwa kesimpulan akan benar, jika premis-premis yang digunakan juga benar. Teori ini digunakan oleh aliran metafisikus rasional dan idealis.[11]

Menurut teori ini, putusan yang satu dengan yang lainnya saling berhubungan dan saling menerangkan satu sama lain. Karenanya lahirlah rumusan diatas yang menegaskan bahwa kebenran adalah konsistensi dan kecocokan. [12] Teori ini sudah ada sejak Pra Socrates, kemudian dikembangan oleh Benedictus Spinoza dan George Hegel. Suatu teori dianggapbenar apabila telah dibuktikan (klasifikasi) benar dan tahan uji. Kalau teori ini bertentangan dengan data terbaru yagn benar atau dengan teori lama yang benar, maka teori itu akan gugur atau batal dengan sendirinya.

 

 

  1. Teori  Kebenaran Pragmatisme

Teori ini juga tergolong sebagai teori kebanaran tradisional, sebab teori ini bersumber pada paham pragmatic yang merupakan pandangan filsafat kontemporer karena paham ini baru berkembang pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Tokoh-tokohnya yaitu C.S. Pierce, William James, dan Jaohn Dewey. Menurut Kattsoff 1986 menguraikan bahwa penganut pragmatism meletakan ukuran kebenaran dalan salah satu macan konsekuensi. Jadi menurut teori ini suatu proposisi berniali benar bila proposisi itu mempunyai konsekuensi-konsekuensi praktis. Karena setiap pernyataan selalu terikat pada hal-hal yang bersipat praktis, maka tiada kebenaran yang bersifat mutlak, berlaku umum, tetap, berdiri sendiri, sebab pengalaman itu berjalan terus dan segala yang dianggap benar dalam perkembangannya pengalaman itu senantiasa berubah. Dari pernyataan tersebut dapat disimpulkan bahwa suatu pengertian itu tidak pernah benar melainkan dapat menjadi benar apabila dapat dimanfaatkan secara praktis. Menurut Muhammad Abid mendefinisikan teori ini ebagai teori kebenaran yang mendasarkan diri kepada kriteria tentang fungsi atau tidaknya suatu pernyataan dalan lingkup ruang dan waktu tertentu. Menurutnya ide-ide itu belum dikatakan benar atau salah sebelum diuji.[13]

Teori pragmatisme (the pragmatic theory of truth) menganggap suatu pernyataan, teori atau dalil itu memliki kebanran bila memiliki kegunaan dan manfaat bagi kehidupan manusia. Kaum pragmatis menggunakan kriteria kebenarannya dengan kegunaan (utility) dapat dikerjakan (workobility) dan akibat yang memuaskan (satisfaktor consequence). Oleh karena itu tidak ada kebenaran yang mutak/ tetap, kebenarannya tergantung pada manfaat dan akibatnya.[14]

Akibat/ hasil yang memuaskan bagi kaum pragmatis adalah :

1. Sesuai dengan keinginan dan tujuan

2. Sesuai dengan teruji dengan suatu eksperimen

3. Ikut membantu dan mendorong perjuangan untuk tetap eksis (ada)

Teori ini merupakan sumbangan paling nyata dari pada filsup Amerika tokohnya adalha Charles S. Pierce (1914-1939) dan diikuti oleh Wiliam James dan John Dewey (1852-1859). Wiliam James misalnya menekankan bahwa suatu ide itu benar terletak pada konsikuensi, pada hasil tindakan yang dilakukan. Bagi Dewey konsikasi tidaklah terletak di dalam ide itu sendiri, malainkan dalam hubungan ide dengan konsekuensinya setelah dilakukan. Teory Dewey bukanlah mengerti obyek secara langsung (teori korepondensi) atau cara tak langsung melalui kesan-kesan dari pada realita (teori konsistensi). Melainkan mengerti segala sesuai melalui praktek di dalam program solving.

  1. Teori kebenaran religiusme

Menurut teori ini Kebenaran adalah kesan subjek tentang suatu realita, dan perbandingan antara kesan dengan realita objek. Jika keduanya ada persesuaian, persamaan maka itu benar. Kebenaran tak cukup hanya diukur dengan rasion dan kemauan individu. Kebenaran bersifat objective, universal,berlaku bagi seluruh umat manusia, karena kebenaran ini secara antalogis dan oxiologis bersumber dari Tuhan yang disampaikan melalui wahyu.[15]

Penalaran dalam mencapai ilmu pengetahuan yang benar dengan setelah melakukan penyelidikan, pengalaman, dan percobaan sebagi trial and error. Sedangkan manusia mencari dan menentukan kebenaran sesuatu dalam agama dengan jalan mempertanyakan atau mencari jawaban tentang berbagai masalah asasi dari atau kepada kitab suci.[16]

Nilai kebenaran mutlak yang bersumber dari Tuhan itu adalah objektif namun bersifat superrasional dan superindividual. Bahkan bagi kaum religius kebenarn aillahi ini adalah kebenarna tertinggi, dimnaa semua kebanaran (kebenaran inderan, kebenaran ilmiah, kebenaran filosofis) taraf dan nilainya berada di bawah kebanaran ini :

Dalam teori kebanran agama digunakan wahyu yang bersumber dari Tuhan. Sebagai makluk pencari kebeanran, manusia dan mencari dan menemukan kebenaran melalui agama. Dengan demikian, sesuatu dianggap benar bila sesuai dan koheren dengan ajaran agama atau wahyu sebagai penentu kebenaran mutlak.agama dengan kitab suci dan haditsnya dapat memberikan jawaban atas segala persoalan manusia, termasuk kebenaran.[17]

  1. Teori kebenaran sintaksis

Para penganut teori ini berpegang kepada gramatika yang melekat atau dipakai oleh suatu pernyataan. Dengan demikian suatu pernyataan yang memiliki nilai benar bila pernyataan itu mengikutu sintaksis yang baku dengan kata lain apabila proposisi tidak mengikuti syarat atau keluar dari hal yang disyaratkan maka proposisi itu tidak mempunyai arti.[18]

 

  1. Teori kebenaran semantis

Menurut teori ini suatu proposisi memiliki nilai benar ditinjau dari segi arti atau makna. Di dalam teori kebanaran semantik ada beberapa sikap yang dapat mengakibatkan pakah proposisi itu mempunyai arti osetrik, arbitrer, atau hanya mempunyai arti sejauh dihubungkan dengan niali praktis dari sunjek uang menggunakannya. Sikap-sikap yang terdapat dalan teori ini antara lain adalah pertama, siakp epistemologis skeptik, maksudnya adalah suatu sikap kebimbangan taktis atau sikap keragu-raguan untuk menghilangkan ragu-rahu dalam memperoleh pengetahuan. Kedua, sikap epistemologik yakin dan ideologik, yakni sebuh proposisi itu memiliki arti, namun artinya itu bersifat arbiter dan tidak memiliki sipat pasti. Ketiga, sikap epistemilogik pragmatik, yakni makna dari proposisi tergantung pada nilai guna dan nilai prktis dari pemakaian proposisi.[19]

 

  1. Teori kebenaran Non-Deskripsi

Teori ini mendasarkan pada penganut filsafat pungionalisme sebab pada dasarnya suatu pernyataan dikatakan benar tergantung dari peran dan fungsi pernyataan itu. Pernyataan itu juga merupakan kesepakatan bersama untuk menggunakan secara praktis dalam kehidupan sehari-hari.[20]

 

  1. Teori kebenaran logik yang berlebihan

Pada dasarnya menurut teori kebanaran ini adalah bahwa problema kebenaran hanya merupakan kekacauan bahasa saja, karena pada dasarnya sebuah pernyataan yang akan dibuktikan kebenaranya memiliki derajat logika yang sama yang masing-masing saling melingkupinya. Sesungguhnya hal yang demikian terjadi karena suatu pernyataan yang hendak dibuktikan nilai kebenarannya, sebenarnya telah merupakan suatu objek pengetahun itu sendiri artinya pernyataan itu telah menunjukan kejelasan dalam dirinya sendiri (Gallagher, 1984).[21]

 

 

 

 

  1. Teori Esensialisme

Esensialime adalah pendidikan yang didasarkan kepada nilai-nilai kebudayaan yang ada sejak awal peradaban manusia. Esensialisme memandang bahwa pendidikan harus berpijak pada nilai-nilai yang memikili kejelasan dan tahan lama yang memberikan kesetabilan dan niali-nilai terpilih yang mempunyai tata yang jelas. [22]

  1. Teori kontruksifisme

Teori ini didefinisikan sebagai pembelajaran yang bersifat generatif yaitu tindakan mencipta sesuatu makna dari apa yang dipelajari. Teori ini dianggap berusaha menghilangkan aspek power dalam memaam nilai. Kontruktivisme kehilangan tujuan utama pemikiran kritis yakni emansipasi. Jadi, sekalipun memahami realitas bukan sebagai sesuatu yang beku, alaamiah dan abadi melainkan sebagai produk dari interaksi, kontruktvisme tidak memaknai interaksi antar nilai sebagai sebuah proses politik yang sangat berpengaruh pada aspek keadilan, kesederajatan dan kebebasan.[23]

  1. Sifat kebenaran ilmiah

Kebenaran ilmiah itu muncul dari hasil penelitian ilmiah, artinya unttuk menemukan kebenaran kita harus melewati prosedur tertentu yang sifatnya sudah baku. Prosedur baku yang harus dilalui itu adalah tahap-tahap untuk memperoleh pengetahuan ilmiah. Kebenaran dalam ilmu adalah kebenaran yang sifatnya objektif, maksudnya adalah bahwa kebenaran dari suatu teori atau lebih tinggi lagi aksioma atau paradigma harus didkung oleh fakta-fakta yang berupa kenyataan dalam keadaan objektivnya.[24]

Mengacu pada status ontologis objek,  maka pada dasarnya kebenaran dalam ilmudapat digolongkan dalam dua jenis teori yaitu teori kebenaran korespondensi atau kebenaran kohernsi. Kebenaran dalam ilmu harus selalu merupakan hasil persetujuan atau konvensi dari ilmuwan pada bidangnya. Sifat kebenaran ilmu itu adalah universal sejauh kebenaran ilmu itu dipertahankan namun apabila ada penemuan baru atau penemuan lain yang hasilnya menolak penemuan terdahulu atau bertentangan sama sekali.[25]

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

A.Simpulan

Manusia sebagai mahluk pencari kebenaran ia akan selau mencari tiga eksistensi, yaitu agama, ilmu pengetahuan dan agama. Agama itu sebagi pengantar kepada kebenaran, filsafat sebagai alat untuk pembuka jalan untuk mencari kebenaran. Ilmu pengetahuan hakikatnya merupakan kebenaran itu sendiri, karena mansia iitu menuntut ilmu dengan tujuan mencari tahu rahasia alam agar gejala alamiah tersebut tidak lagi menjadi misteri.

Pada dasarnya setiap proses mengetahui akan memunculkan suatu bentuk kebenaran sebagai kandungan isi pengetahuan itu. Akan tetapi setiap kebenaran pada saaat pembuktiannya harus kembali pada status ontologis objek, sikap epistimologis dan akhirnya dengan sikap aksiologis yang bagaimana. Dengan demikian muculah begitu banyak teori kebenaran.  

Kebenaran dan kesesatan ilmu pengetahuan itu sendiri tergantung kepad kita yang berusaha mencari tahu dengan menggunakan metode kriteria kebenaran yang terdiri dari koherensi, korespendensi, positivisme, esensialisme, kontruksivisme dan religiusme.

Dalam teori keilmuan untuk membuktikan kebenaran ilmiah suatu pernyataan maka harus sesuai dengan dasar metodologis yang digunakan dan amat tergantung pada konvensi. Itulah sebabnya peran masyarakat ilmiah juga menentukan karakteristik dari kebenaran ilmiah.     

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Sumantri Surya. 1994. Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan

Tim Dosen Filsafat Ilmu Fakultas Filsafat UGM. 2007. Filsafat Ilmu. Yogyakarta: Liberty

Adib, Muhamad.  2010.  Fisafat Ilmu. Yogyakarta: Pustaka Pelajar

Amsal Bakhtiar. 2004. Filsafat Ilmu . Jakarta: PT Raja Grafindo Persada

 


[1] Tim Dosen Filsafat Ilmu Fakultas Filsafat UGM, Filsafat Ilmu, (Yogyakarta: Liberty, 2007), h.135

 

[2] Sumantri Surya, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer (Pustaka Sinar Harapan:Jakarta,1994), hal. 60

 

 

[3] Adib, Muhamad, Fisafat Ilmu, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010), h.118-120

[4] Tim Dosen Filsafat Ilmu Fakultas Filsafat UGM, Filsafat Ilmu, Op.Cit, h 138

 

[5] Tim Dosen Filsafat Ilmu Fakultas Filsafat UGM, Filsafat Ilmu, Ibid, h. 139

[6] Amsal Bakhtiar, Filsafat Ilmu, (Jakarta:PT Raja Grafindo Persada  2004) h. 113

[7] Amsal Bakhtiar, Filsafat Ilmu,Ibid, h.114

[8] Adib, Muhamad, Fisafat Ilmu, Op.Cit, h.121-122

[9] Tim Dosen Filsafat Ilmu Fakultas Filsafat UGM, Filsafat Ilmu, Op.Cit, h. 139

[10] Adib, Muhamad, Fisafat Ilmu, Op.Cit, h 121

[11]Sumantri Surya, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, Op.Cit, h 64

[12] Amsal Bakhtiar, Filsafat Ilmu, Op. Cit, h. 116

[13] Adib, Muhamad, Fisafat Ilmu,Ibid, h.123

[14] Amsal Bakhtiar, Filsafat Ilmu,Op.Cit, h.120

 

[15] Adib, Muhamad, Fisafat Ilmu, Op.Cit, h 125

[16] Amsal Bakhtiar, Filsafat Ilmu,Op.Cit, h.121

[17] Sumantri Surya, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, op.cit, h. 82

[18] Tim Dosen Filsafat Ilmu Fakultas Filsafat UGM, Filsafat Ilmu, Op.Cit, h.141

[19] Tim Dosen Filsafat Ilmu Fakultas Filsafat UGM, Filsafat Ilmu, Ibid, h.141-142

[20] Tim Dosen Filsafat Ilmu Fakultas Filsafat UGM, Filsafat Ilmu, Ibid, h. 142-143

[21] Tim Dosen Filsafat Ilmu Fakultas Filsafat UGM, Filsafat Ilmu, Ibid, h. 143

[22] Adib, Muhamad, Fisafat Ilmu, Op.Cit, h 123

[23] Adib, Muhamad, Fisafat Ilmu, Ibid, h 123-124

[24] Tim Dosen Filsafat Ilmu Fakultas Filsafat UGM, Filsafat Ilmu, Op.Cit, h. 144

[25] Tim Dosen Filsafat Ilmu Fakultas Filsafat UGM, Filsafat Ilmu, Ibid, h. 144

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s