ilmu dan moral


 

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Ilmu dan moral adalah dua kata yang memiliki makna berbeda namunsebenarnya kedua makna kata tersebut saling melengkapi dan berhubungan eratdengan kepribadian seseorang.Sejak saat pertumbuhannya, ilmu sudah terkaitdengan masalah moral.Ketika Copernicus (1473—1543) mengajukan teorinyatentang kesemestaan alam dan menemukan bahwa “bumi yang berputarmengelilingi matahari” dan bukan sebaliknya seperti yang dinyatakan dalamajaran agama maka timbullah interaksi antara ilmu dan moral (yang bersumberpada ajaran agama) yang berkonotasi metafisik. Secara metafisik ilmu inginmempelajari alam sebagaimana adanya, sedangkan di pihak lain terdapatkeinginan agar ilmu mendasarkan kepada pernyataan-pernyataan (nilai-nilai) yangterdapat dalam ajaran-ajaran di luar bidang keilmuan (nilai moral), seperti agama.

Dari interaksi ilmu dan moral tersebut timbullah konflik yang bersumberpada penafsiran metafisik yang berkulminasi pada pengadilan inkuisisi Galileopada tahun 1633.Galileo oleh pengadilan agama dipaksa untuk mencabutpernyataan bahwa bumi berputar mengelilingi matahari.

Ketika ilmu dapat mengembangkan dirinya, yakni dari pengembangankonsepsional yang bersifat kontemplatif disusul penerapan-penerapan konsepilmiah ke masalah-masalah praktis atau dengan perkataan lain dari konsep ilmiahyang bersifat abstrak menjelma dalam bentuk konkret yang berupa teknologi,konflik antarilmu dan moral berlanjut. Seperti kita ketahui, dalam tahapanpenerapan konsep tersebut ilmu tidak saja bertujuan menjelaskan gejala-gejalaalam untuk tujuan pengertian dan pemahaman, tetapi lebih jauh lagi bertujuanmemanipulasi faktor-faktor yang terkait dalam gejala tersebut untuk mengontroldan mengarahkan proses yang terjadi. Bertrand Russel menyebut perkembanganini sebagai peralihan ilmu dari tahap “kontemplasi ke manipulasi” .

Dalam tahap manipulasi ilmu, masalah moral muncul kembali. Jika

dalam kontemplasi masalah moral berkaitan dengan metafisika keilmuan maka

 

2

dalam tahap manipulasi masalah moral berkaitan dengan cara penggunaanpengetahuan ilmiah atau secara filsafat dapat dikatakan bahwa dalam tahappengembangan konsep terdapat masalah moral yang ditinjau dari segi ontologiskeilmuan, sedangkan dalam tahap penerapan konsep terdapat masalah moral yangditinjau dari segi aksiologi keilmuan. Aksiologi itu sendiri adalah teori nilai yangberkaitan dengan kegunaan dari pengetahuan yang diperoleh.

Filosof beragama biasanya menempatkan kebenaran berpikir manusiaberada di bawah kebenaran transenden. Sebagai sebuah produsen moralitas danetika, tak bisa disangkal bahwa doktrin agama akan mengarahkan seseorang untukmerefleksikan penemuan atau penciptaan sebuah ilmu. Euthanasia, aborsi, kloningdan penerbangan ke bulan atau produksi tenaga nuklir merupakan beberapacontoh hasil perkembangan ilmu pengetahuan.Untuk menciptakan tatananmanusia yang lebih baik dan beradab, Ketidakmanusiaan merupakan pelanggaranterhadap etika seorang ilmuwan.Profesi dokter di Indonesia misalnya, terbatasioleh etika-aturan yang terakumulasi dalam etika profesi dokter. Tidak dibenarkan,misalnya, seorang dokter yang sedang melakukan penelitian virus HN51menyebarkannya ke lingkungan masyarakat sekitar untuk mencari obat penawarnya.

Berdasarkan uraian-uraian di atas, maka diperlukan suatu kajian yangmembahas tentang bagaimana hubungan antara cara penggunaan ilmu dengankaidah moral, baik dari segi ontologi maupun aksiologi. Dari segi ontologi perludiketahui bagaimanakah hakikat hubungan antara ilmu dan kaidah moral,sedangkan dari segi aksiologi, perlu dibahas bagaimana aplikasi antarapenggunaan ilmu dengan kaidah moral.

B. Rumusan Masalah

Rumusan masalah yang akan dibahas pada makalah ini adalah

1.Bagaimana hakikat hubungan antara cara penggunaan ilmu dengan kaidah

moral

2.Bagaimanakah penerapan hubungan antara cara penggunaan ilmu dengan

kaidah moral.

 

3

C. Sistematika Penulisan

Makalah ini disusun dengan sistematika sebagai berikut :

BAB I Pendahuluan

Pada bagian ini dijelaskan tentang latar belakang, perumusan masalahserta tujuan penulisan dari makalah hubungan antara cara penggunaan ilmudengan kaidah moral.

Bab II Tinjauan Pustaka

Pada bagian ini dikemukaan teori-teori yang berkaitan tentang hubungan

antara penggunaan ilmu dengan kaidah moral.

BAB III Pembahasan

Pada bab ini penulis mencoba menganalis teori tentang hubungan antara

penggunaan ilmu dengan kaidah moral.

BAB IV Penutup

Bab ini berisi kesimpulan dan saran penulis dari makalah ini.

Daftar Pustaka

Pada bagian ini berisi referensi-referensi dari berbagai sumber yang

penulis gunakan untuk pembuatan makalah ini.

D. Tujuan Penulisan

Tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut

1.Pembaca dapat mengetahui seluk beluk hakikat serta penerapan hubungan

antar penggunaan ilmu dengan kaidah moral.

2.Pembaca dapat mengambil manfaat arti pentingnya nilai-nilai moral dalam

penggunaan ilmu.

4

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Definisi Ilmu

Secara etimologi, kata ilmu sendiri merupakan kata serapan dari bahasaArab “ilm” yang berarti memahami, mengerti, atau mengetahui. Dalam kaitanpenyerapan katanya, ilmu pengetahuan dapat berarti memahami suatupengetahuan, dan ilmu sosial dapat berarti mengetahui masalah-masalah sosial,dan lain sebagainya.

Di dalam situs ensiklopedi wikipedia, lmu adalah seluruh usaha sadaruntuk menyelidiki, menemukan dan meningkatkan pemahaman amnesia dariberbagai segi kenyataan dalam alam manusia.Segi-segi ini dibatasi agardihasilkan rumusan-rumusan yang pasti.Ilmu memberikan kepastian denganmembatasi lingkup pandangannya, dan kepastian ilmu-ilmu diperoleh dariketerbatasannya. Contoh: Ilmu alam hanya bisa menjadi pasti setelah lapangannyadibatasi kedalam hal yang bahani (materiil saja) atau ilmu psikologi hanya bisameramalkan perilaku manusia jika membatasi lingkup pandangannya ke dalamsegi umum dari perilaku manusia yang kongkrit. Berkenaan dengan contoh ini,ilmu-ilmu alam menjawab pertanyaan tentang berapa jauhnya matahari dari bumi,atau ilmu psikologi menjawab apakah seorang pemudi sesuai untuk menjadi perawat.

Mohammad Hatta (dalam Ahira : 2008) mendefinisikan bahwa ilmuadalah pengetahuan yang teratur tentang pekerjaan hukum sebab-akibat dalamsuatu golongan masalah yang sama sifatnya, baik menurut kedudukannya (apabiladilihat dari luar), maupun menurut hubungannya (jika dilihat dari dalam).

Dari definisi yang diungkapkan di atas, kita dapat melihat bahwa sifat-
sifat ilmu merupakan kumpulan pengetahuan mengenai suatu bidang tertentu
yang…

1.Berdiri secara satu kesatuan,

2.Tersusun secara sistematis

3.Ada dasar pembenarannya (ada penjelasan yang dapat dipertanggung
jawabkan disertai sebab-sebabnya yang meliputi fakta dan data),
4.Mendapat legalitas bahwa ilmu tersebut hasil pengkajian atau riset.

5.Communic able, ilmu dapat ditransfer kepada orang lain sehingga dapat

dimengerti dan dipahami maknanya.

6.Universal, ilmu tidak terbatas ruang dan waktu sehingga dapat berlaku di

mana saja dan kapan saja di seluruh alam semesta ini.

7.Berkembang, ilmu sebaiknya mampu mendorong pengetahuan-
pengatahuan dan penemuan-penemuan baru. Sehingga, manusia mampu
menciptakan pemikiran-pemikiran yang lebih berkembang dari
sebelumnya.

Dari penjelasan di atas, kita dapat melihat bahwa tidak semuapengetahuan dikategorikan ilmu. Sebab, definisi pengetahuan itu sendiri sebagaiberikut: Segala sesuatu yang datang sebagai hasil dari aktivitas panca indera untukmengetahui, yaitu terungkapnya suatu kenyataan ke dalam jiwa sehingga tidak adakeraguan terhadapnya, sedangkan ilmu menghendaki lebih jauh, luas, dan dalamdari pengetahuan.

Pada hakekatnya, manusia memiliki keingintahuan pada setiap hal yangada maupun yang sedang terjadi di sekitarnya.Sebab, banyak sekali sisi-sisikehidupan yang menjadi pertanyaan dalam dirinya. Oleh sebab itulah, timbulpengetahuan (yang suatu saat) setelah melalui beberapa proses beranjak menjadiilmu.

Manusia diciptakan oleh Yang Maha Kuasa dengan sempurna, yaitudilengkapi dengan seperangkat akal dan pikiran. Dengan akal dan pikiran inilah,manusiamendapatkan ilmu, seperti ilmu pengetahuan sosial, ilmu pertanian, ilmupendidikan, ilmu kesehatan, dan lain-lain. Akal dan pikiran memroses setiappengetahuan yang diserap oleh indera-indera yang dimiliki manusia. Pengetahuankaidah berpikir atau logika merupakan sarana untuk memperoleh, memelihara,dan meningkatkan ilmu. Jadi, ilmu tidak hanya diam di satu tempat atau di satukeadaan. Ilmu pun dapat berkembang sesuai dengan perkembangan cara berpikirmanusia.

6

B. Pemanfaatan Ilmu

Manfaat ilmu bagi manusia tidak terhitung jumlahnya.Sejak Nabi Adamhingga sekarang, dari waktu ke waktu ilmu telah mengubah manusia danperadabannya. Kehidupan manusia pun menjadi lebih dinamis dan berwarna.Dengan ilmu, manusia senantiasa:

1.Mencari tahu dan menelaah bagaimana cara hidup yang lebih baik dari

sebelumnya,

2.Menemukan sesuatu untuk menjawab setiap keingintahuannya,

3.Menggunakan penemuan-penemuan untuk membantu dalam menjalani

aktivitas sehari-hari.

Manusia pun menjadi lebih aktif mengfungsikan akal untuk senantiasa

mengembangkan ilmu yang diperoleh dan yang dipelajarinya.Selain itu berkat

ilmu, manusia:
1.Menjadi tahu sesuatu dari yang sebelumnya tidak tahu,
2.Dapat melakukan banyak hal di berbagai aspek kehidupan,
3.Menjalani kehidupan dengan nyaman dan aman,

C. Definisi Moral

Istilah moral berasal dari bahasa Latin. Bentuk tunggal kata ‘moral’ yaitu

mos sedangkan bentuk jamaknya yaitu mores yang masing-masing mempunyai

arti yang sama yaitu kebiasaan, adat. Bila kita membandingkan dengan arti kata‘etika’, maka secara etimologis, kata etika sama dengan kata moral karena keduakata tersebut sama-sama mempunyai arti yaitu kebiasaan, adat. Dengan kata lain,kalau arti kata moral sama dengan kata etika, maka rumusan arti kata moraladalah nilai-nilai dan norma-norma yang menjadi pegangan bagi seseorang atausuatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya. Sedangkan yang membedakanhanya bahasa asalnya saja yaitu etika dari bahasa Yunani dan moral dari bahasaLatin.Jadi bila kita mengatakan bahwa perbuatan pengedar narkotika itu tidakbermoral, maka kita menganggap perbuatan orang itu melanggar nilai-nilai dannorma-norma etis yang berlaku dalam masyarakat. Atau bila kita mengatakan

7

bahwa pemerkosa itu bermoral bejat, artinya orang tersebut berpegang pada nilai-

nilai dan norma-norma yang tidak baik.

Moralitas (dari kata sifat Latin moralis) mempunyai arti yang padadasarnya sama dengan ‘moral’, hanya ada nada lebih abstrak. Berbicara tentang“moralitas suatu perbuatan”, artinya segi moral suatu perbuatan atau baikburuknya perbuatan tersebut.Moralitas adalah sifat moral atau keseluruhan asasdan nilai yang berkenaan dengan baik dan buruk.

Menurut Kondratyev (2000) , moralitas adalah kesadaran akan loyalitaspada tugas daan tanggung jawab. Moralitas berasal dari dalam kepribadianmanusia itu sendiri.Binatang tidak memiliki moralitas karena tidak memilikikepribadian.Moralitas tidak bisa dijelaskan dengan akal, karena itu berasal darikepribadian manusia.

Kondratyevmenjelaskan lebih jauh bahwa moralitas manusia berasaldari kehidupan keluarga. Jadi keluarga yang baik akan menghasilkan pribadi yangmemiliki moralitas yang baik pula. Keluarga adalah tempat mendidik moralitas.Sangat disayangkan pada masa modern saat ini banyak keluarga yang berantakannilai-nilainya.

Moralitas yang meliputi nilai-nilai moral alam semesta dapat dirasakan

oleh pikiran manusia dalam bentuk tiga dorongan dasar yaitu :

1.Dorongan tentang diri sendiri (pilihan moral, personal morality

berpengaruh pada perkembangan spiritual dari manusia itu).

2.Dorongan tentang masyarakat ( pilihan etik, berubah terus sesuai

perubahan kesadaran sosial).

3.Dorongan tentang Allah (pilihan religius).

Kondratyev (2000)membagi moralitas ke dalam dua bagian yaitu:

1.Moralitas pribadi yaitu moralitas yang melekat pada kepribadian.Moralitas pribadi itu ada dari semula, pada semua pribadi, tidak dihasilkandari evolusi. Moralitas pribadi adalah salah satu ciri khas kepribadian yangtulen dan dasar.

2.Moralitas sosial, yaitu moralitas yang berkembang pada kehidupan

bermasyarakat. Moralitas sosial akan terus berubah sesuai perubahan

 

11

bahagia dan sejahtera. Dalam konteks pemikiran demikian, maka keutuhan moral

dengan ilmu harus tetap dijaga, baik pada tataran teoretis maupun praktis.

Dalam segala keterbatasan yang ada, kita perlu mengungkap danmengangkat moral dan moralitas religiussebagai pondasi utama untuk meresponketerpurukan perkembangan ilmu.Hal ini saya pandang penting, karena padatataran paradigmatis, filosofis maupun empiris, sejarah kehidupan manusia dibelahan bumi manapun telah terbukti bahwa agama mampu menjadi pilar-pilaryang kokoh bagi terwujudnya perikehidupan dan penegakan hukum yang benar-benar adil.

Apa yang dimaksud dengan moral di sini tidak lain adalah akhlak. Kataakhlak berasal dari bahasa Arabak hlaq, bentuk jamak dari katakhuluq.K huluqberarti tabiat, watak, perangai dan budi pekerti yang bersumber atau berindukpadaal-K haliq (Tuhan Yang Maha Esa).Akhlak sebagai hal yang melekat dalamjiwa, yang daripadanya timbul perbuatan-perbuatan yang dengan mudah untukdilakukan tanpa dipikir dan diteliti. Jika hal-ihwal jiwa itu melahirkan perbuatan-perbuatan baik dan terpuji menurut akal dan hukum, maka hal-ihwal itu disebutakhlak yang baik, sebaliknya jika yang keluar darinya adalah perbuatan-perbuatanburuk, maka hal-ihwal jiwa yang menjadi sumbernya disebut akhlak yang buruk.Dengan demikian setiap perbuatan individu maupun interaksi sosial tidak dapatlepas dari pengawasanal-K haliq (Allah Subhanallahu wata’aala).

Dari definisi itu dapat ditegaskan bahwa akhlak senantiasa berkaitandengan nilai baik dan buruk. Pertanyaan yang muncul kemudian dengan definisiini adalah masih relevankah memposisikanal-K haliq sebagai sumber, induk dantolok ukur untuk penilaian baik dan buruk, sehingga dapat dibedakan antaraakhlak yang baik/mulia (akhlaq al-karimah) dan akhlak buruk/jahat (akhlaq al-

madzmudah)? Bagi orang-orang yang bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain

Allah swt, tentu tidak akan pernah ada keraguan barang sedikitpun bahwa sumber,induk dan tolok ukur tertinggi akhlak adalah Allah swt. Dialah Yang Maha Benar(al-Haq) dan daripada-Nya asal-usul kebenaran itu. Dia pula Yang Maha Adil (al-

Adl) dan daripada-Nya keadilan absolut berasal. Berasal dan berawal dari-Nya dan

akan terpulang kepada-Nya, segala amal manusia baik yang tergolong bermoral

12

maupun amoral. Ajaran demikian itu telah sampai pada semua manusia melaluiagama yang diwahyukan kepada para Rasul dan selanjutnya oleh para Rasuldiajarkan, dijelaskan bahkan dicontohkan dalam segala aspek kehidupan.Inilahyang saya sebut dengan moral religius.

Moral religius merupakan moral kehidupan. Apabila kita sepakat bahwaseluruh aspek kehidupan tidak ada yang bebas, lepas dan netral dari nilai-nilaikebenaran dan keadilan, maka sebenarnya apa yang disebut moral religiusmenjadi identik dengan moral ilmu. Jangkauan dan cakupan moral religiusmenjadi sangat luas, menyeluruh dan menyentuh semua sendi-sendi kehidupanbagi siapapun, di manapun dan kapanpun.Dengan kata lain, moral religiusbersifat universal.

Untuk memahami moral religius, maka kita harus memposisikan hatinurani (qalbu)Apabila hati nurani sehat, jernih dan suci maka segala amalperbuatan manusia pun akan menjadi bermoral, akan tetapi sebaliknya apabila hatinurani telah sakit, kotor dan keras maka amal perbuatan yang lahir pun menjadiamoral. Segalanya bertolak melalui hati nurani, dan segalanya berpulang melaluihati nurani. Di sini, menjadi sangat penting menjaga kesehatan, kesucian dankejernihan hati nurani secara terus-menerus, agarqalbu tetap dalam keadaan suci,tidak terkontaminasi dengan nafsu/hasrat yang cenderung mendorong manusiapada jurang kehancuran.

Dengan memposisikan hati nurani (qalbu) sebagai kata kunci untukmemahami moral religius, segera memunculkan pertanyaan, di manakah posisiakal (ratio)?Pertanyaan ini wajar dimunculkan dan perlu mendapatkanpenjelasan, terkait dengan suatu keyakinan bahwa kelebihan manusia atasmakhluk-makhluk lain adalah terletak pada akal.Akal manusia diberikan untukberpikir secara logis sesuai dengan batas kemampuannya untuk berpikir.Denganberpikir itulah manusia dapat berfilsafat atau menemukan sebuah ilmu.

Sebagai seorang yang mampu menelurkan ilmu pengetahuan ataudianggap sebagai ilmuan, maka diri seorang tersebut perlu menyelaraskan antarahati nuraninya dengan akalnya, bila ia hanya menggunakan akalnya untuk berpikir

13

tanpa mempedulikan nuraninya, maka yang terjadi adalah ketimpangan yang

tentunya sangat disayangkan dan tidak diharapkan.

Apabila ilmu tersebut dipergunakan oleh orang yang menggandeng hatinurani, maka tentu saja manfaat yang besar akan diperoleh bagi segenapkehidupan, namun sebaliknya bila ilmu dipergunakan tanpa dibarengi dengan hatinurani, berarti sama saja layaknya seorang ilmuan yang tak bermoral, maka tentusaja ilmu manfaat tersebut menjadi rusak dan membahayakan bagi kehidupanmanusia pada umumnya.

Meskipun akal mempunyai kedudukan dan fungsi penting dalamkehidupan manusia, namun akal bukanlah faktor penentu untuk menetapkan nilai-nilai moral.Akal itu bersifat nisbi atau relatif.Produk yang dihasilkan oleh akalmelalui berpikir pun bersifat nisbi atau relatif.Daya jangkauan akal terbatas.Akaltidak memadahi untuk memahami alam semesta, lantaran akal secara maksimalhanya bisa menangkap potongan-potongan alam yang terisolasi, dan kemudianmenghubungkan potongan-potongan itu satu dengan lainnya.

Akal dan hati nurani sebagai unsur-unsur kemanusiaan berada dalam satuwadah yang disebut roh (jiwa).Hati nurani mempunyai fungsi sebagai kendaliterhadap akal agar tidak terjerumus ke dalam jurang kesesatan dan kehancuran.Sebelum akal melangkah (berpikir) kepada sesuatu keputusan, seharusnya iamengontrolnya dengan hati nurani. Dengan adanya kontrol atau kendali dari hatinurani, akal dapat berjalan lurus, menuju kebenaran dan keadilan absolut,walaupun hasil maksimal dari kebenaran dan keadilan yang dicapainya masihbersifat relatif. Derajat, kualitas dan moralitas ilmu hukum pada hakikatnyamerupakan fungsi keterpaduan, keseimbangan dan kemaksimalan kerja hati nuranidan akal.Apabila demikian adanya maka seperti yang diharapkan akan tercapai

konsep seorang ilmuan yang memiliki pendapat bahwa netralitas ilmu terhadapnilai-nilai hanyalah terbatas pada metafisik keilmuan, sedangkan dalampenggunaannya kegiatan keilmuan haruslah berlandaskan pada azas-azas moral.

 

15

mengibaskan pencarian kebenaran dan keadilan melaluiqalbu. Cara seperti itudianggap cocok ketika manusia masih berada pada tahap teologis dan metafisis,sementara pada tahap positivistis pencarian kebenaran dan keadilan harusdilakukan dengan akal. Berpijak pada filsafat positivisme, maka berolah ilmuharus menggunakan akal/rasio sebagai alat analisis.Melalui metode induksi alaFrancis Bacon, metode rasional ala Descartes dan metode atomistis ala IssacNewton yang sudah diperkenalkan sejak abad Pertengahan. Maka ilmu secaraagresif menguasai objek-objek fisik dan menganalisisnya dengan cara atomistis,mekanis dan reduksionistis. Sekalian objek-objek ilmu dipilah-pilah, kemudiandigarap secara mekanis, dan dijelaskan secara rasional. Tidak sekali-kali ilmudipandang ilmiah kecuali memenuhi standar baku yakni rasional.

Sejak adanya dominasi positivisme, dan seiring dengan kehidupanbernegara, berbangsa dan bermasyarakat pada era modern yang ditata denganhukum positif, maka kehidupan dengan segala aspeknya dipaksa harus rasional.Itulah realitas yang dipandang benar. Manakala ilmu berbicara tentang keadilan,maka keadilan pun harus diukur dengan ukuran-ukuran yang rasional pula, bukandengan hati nurani yang dianugrahkan kepada mereka. Rasio menjadi di atassegala-galanya.Sejak saat itu, ilmu pengetahuan menjadi ilmu yangdis tinc t danesoterik, baik dalam substansi, metodologi maupun administrasi.

Dihadapkan dengan masalah moral dalam menghadapai keberadaan ilmudan teknologi yang bersifat merusak, para ilmuwan terbagi ke dalam duagolongan pendapat. Ilmuwan golongan pertama menginginkan bahwa ilmu harusbersifat netral terhadap nilai-nilai, baik itu secara ontologis maupun aksiologis.Dalam tahap ini tugas ilmuwan adalah menemukan pengetahuan dan terserahkepada orang lain untuk mempergunakannya, terlepas apakah pengetahuan itudipergunakan untuk tujuan baik ataukah untuk tujuan yang buruk. Ilmuwangolongan kedua sebaliknya berpendapat bahwa netralitas ilmu terhadap nilai-nilaihanyalah terbatas pada metafisik keilmuan, sedangkan dalam penggunaannyakegiatan keilmuan haruslah berlandaskan pada azas-azas moral. Golongan keduamendasarkan pendapatnya pada beberapa hal, yakni :

16

1.ilmu secara faktual telah dipergunakan secara destruktif oleh manusia yangdibuktikan dengan adanya dua perang dunia yang mempergunakanteknologi-teknologi keilmuan;

2.ilmu telah berkembang dengan pesat sehingga kaum ilmuwan lebihmengetahui tentang kejadian-kejadian yang mungkin terjadi bila terjadisalah penggunaan; dan

3.ilmu telah berkembang sedemikian rupa sehingga terdapat kemungkinanbahwa ilmu dapat mengubah manusia dan kemanusiaan yang paling hakikiseperti pada kasus revolusi genetika dan teknik perubahan sosial.

Berdasarkan ketiga hal itu maka golongan kedua berpendapat bahwa ilmusecara moral harus ditujukan untuk kebaikan manusia tanpa merendahkanmartabat atau mengubah hakikat kemanusiaan.

17

BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan

1.Secara ontologi, hakikat antara penggunaan ilmu dengan kaidah moralbahwa kaidah moral sebagai kendali dari penggunaan ilmu agar ilmutersebut dapat bermanfaat bagi kehidupan manusia.

2.Dalam penerapan hubungan antara cara penggunaan ilmu dengan kaidah

moral, para ilmuwan teragi menjadi dua golongan yaitu :

a.Ilmuwan golongan pertama menginginkan bahwa ilmu harus bersifatnetral terhadap nilai-nilai, baik itu secara ontologis maupunaksiologis. Dalam tahap ini tugas ilmuwan adalah menemukanpengetahuan

dan

terserah

kepada

orang

lain

untukmempergunakannya, terlepas apakah pengetahuan itu dipergunakanuntuk tujuan baik ataukah untuk tujuan yang buruk.

b.Ilmuwan golongan kedua sebaliknya berpendapat bahwa netralitasilmu terhadap nilai-nilai hanyalah terbatas pada metafisik keilmuan,sedangkan dalam penggunaannya kegiatan keilmuan haruslahberlandaskan pada azas-azas moral.

B. Saran

1.Perlunya menjunjung tinggi nilai secara penuh moralitas agama agarmenjadi pilar-pilar yang kokoh bagi terwujudnya perikehidupan danpenegakan hukum yang benar-benar adil.

2.Hendaknya kita memposisikan hati nurani (qalbu) sebagai kata kunciuntuk memahami moral religius serta memposisikan akal dengan tepatsesuai dengan penggunaannya pada batas-batas tertentu.

3.Penggunaan ilmu serta kegiatan keilmuan haruslah berlandaskan padaazas-azas moral agar penggunaan ilmu tersebut tidak menyalahi aturandengan melanggar norma-norma kehidupan yang telah di atur dan jugaagar pemanfaat ilmu tersebut dapat berguna bagi seluruh kehidupan dimuka bumi.

 

 

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s