Pemikiran Al-Ghazali


BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah

Perkembangan filsafat tidak hanya berkembang di yunani, di dunia islampun filsafat berkembang dengan pesat. Filsafat yang muncul dalam kehidupan islam yang banyak dibicarakan oleh oaring-orang arab dan sudah konvensi para pemikir islam. Kelahilaran ilmu filosof yang terkenal dan memiliki pengaruh besar terhadap filsafat islam adalah Al-ghazali.

Al-ghazali merupakan salah seorang pemikir besar islam yang dianugrahi gelar Hujjat Al-islam (bukti kebenaran ajaran islam) dan Zayn ad-din (perhiasan agama), ia merupakan seorang ulama dan pemikir besar islam yang sangat produktif dalam menulis. Ia banyak menulis kitab dan buku yang meliputi berbagai bidang ilmu yang popular pada zamannya, diantaranya tentang tafsir Al-quran, ilmu kalam, ushul fiqh, fiqh, tasawuf, mantik, falsafah, dan lain-lain.

Al-ghazali terkenal dalam sejarah filsafat islam, namun Al-ghazali sendiri tidak menganggap dirinya filuf dan tidak suka dianggap sebagai filsuf. Hal ini sangat bertolak belakang dengan fakta-fakta yang ada, ini semua dibuktikan dalam buku karangannya “Tahufut Al-Falasifah” dan “Munqidz Min Al-Dhalal” yang menentang para filosof, bahkan menempelkan label kekufuran kepada para filosof, telah menimbulkan sikap pro dan kontra terhadap dirinya. Tujuan penulisan buku ini adalah untuk menghancurkan pemikiran filsafat dan menggoyahkan terhadap filsafat.

Hal seperti apa yang menimbulkan Al-ghazali besa menggagalkan filsafat? Untuk itu penulis akan menjelaskan alasan-alasan Al-ghazali memutuskan hal demikian, kesalahan apa saja yang dilakukan oleh para filosof terdahulu sehingga ia mengkufurkan para filosof, bagaimana pandangan Al-ghazali mengenai filsafat itu sendiri, serta seberapa besar pengaruh filsafat Al-ghazali yang dirasakan hingga kini.

Berdasarkan titik tolak tersebut, pada pembahasan kali ini kami akan membahas lebih lanjut tentang pemikiran Al-ghazali terhadap filsafat, dengan judul “AL-GHAZALI

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II

PEMBAHASAN

  A.  Biografi Al-ghazali

            Al-ghazali bernama lengkap Abu Hamid  Muhammad Ibnu Ahmad  al-ghazali al –thusi , ia dilahirkan  pada tahun 430 H /1058 M di Ghazal ,thus, provinsi khurasan Republik Islam Iran. Ayah al-ghozali adalah seorang wara (sufi) yang hanya makan dari usaha tangannya sendiri yaitu menenun wol, ia meninggal dunia di waktu al-ghazali dan saudara kandungnya ahmad masih dalam usia anak-anak.[1] Tetapi sebelum wafat beliau telah menitipkan al-ghazali dan ahmad kepada seorang teman  dekatnya untuk di didik dan di besarkan dengan baik.

            Kemudian setelah menginjak remaja, dia melanjutkan belajar fiqih  di thus pada seorang ulama yang bernama Ahmad Ibnu Muhammad al-razakanya al-thusi.[2] Selanjutnya ia belajar kepada Abu Nashr al-isma’ily di jurjan pada tahun 470 H-1078 M,ia pergi ke kota Naisabur. Ia menguasai berbagai disiplin ilmu pengtahuan dan di angkat menjadi dosen di Universitas An-nizamniah-naisabur.Setelah imam haramain meninggal dunia ,ia pindah ke Mu’askar , berkenalan dengan Nizam al-mulk perdana mentri sultan bani saljuk yang kemudian mengangkatnya menjadi guru besar di sakolah nizhamiyah Bagdad.

            Pada tahun 489 H atau 1091 M Al-ghazali merasakan krisis rohani yakni munculnya keraguan dalam dirinya yang meliputi masalah akidah dan semua jenis ilmu pengetahuan, baik yang empiris maupun yang rasional.[3] Maka ia bertekad untuk meninggalkan kota Bagdad dan meminta berhenti dari seluruh jabatan nya,terutama jabatan nya sebagai rektor Universitas Nidhamiah dan pergi ke syam,setelah itu ia memutuskan untuk berkhalawat di masjid Damaskus pada tahun 490 H/1098 M.

            Setelah sembuh dari penyakit rohani nya,al-ghazali kembali memimpin perguruan Nizhamiah d Bagdad,kemudian ia memutuskan untuk kembali ke Thus pada tahun 1105M kemudian di sana ia membangun sebuah madrasah khn-kah tempat belajar tasauf.Ia wafat pada hari senin,14 jumadil akhir 505H bertepatan dengan tanggal 18 desember IIII M dalam usia 55 tahun. Jasanya dikebumikan di sebelah timur benteng dekat Thabaran berdampingan dengan makam yang terkenal Al-firdausy.[4]

Al-ghazali mendapatkan gelar Hujjat Al-islam (Argumentasi islam) karena pembelaan nya yang mengagungkan terhadap agama islam dan Zayn ad din(perhiasan agama). Keistimewaan ia merupakan seorang ulama pendidikan ahli fikir dalam ilmu nya dan pengarang yang produktif.Karya tulis nya meliputi berbagai disiplin ilmu pengetahuan.Al-ghazali dalam hidup nya telah menempuh berbagai jaln dan meneliti berbagai madzhab di mulai sebagai ahlij hukum islam, berbalik menjadi seorang teolog muslim berpindah sebagai filosof muslim, dan berakhir sebagai seorang sufi.

  B.  Karya-Karya Al-ghazali

            Al-ghazali adalah seorang ulama dan pemikir dalam dunia islam yang sangat produktif dalam menulis.Jumlah kitab yank di tulis Al-ghazali sampai sekarang belum di sepakati secara definitif oleh para penulis sejarahnya.Menurut Ahmad Daudy penelitian paling akhir tentang jumlah buku yang di karang oleh Azl-ghazali adalah yang di lakukan oleh Abdurahman-Al badawi yang hasilnya di kumpulkan dalam satu buku yang berjudul Muallafad Al-ghazali.

            Abdurahman mengklasifikasikan karya al-ghzali ke dalam 3 kelompok, pertama kelompok yang dapat di pastikan sebagai karya Al-ghazali yang terdiri dari 72 kitab. Kedua, kelompok kitab yang di ragukan sebagai karyanya yang asli yang terdiri dari 22 kitab.Ketiga,kelompok kitab yang di pastikan bukan karya nya,terdiri atas 31 buah kitab.[5]

Berbeda dengan Abdurahman Al-badawi mengatakan bahwa jumlah karangan al-ghazali ada 47 buah,nama nama buku tersebur adalah :

  1. Ihya ulum ad-din (membahas ilmu-ilmu agama)
  2. Al-iqtishad fi al itiqad (inti ilmu kalam)
  3. Tahafut Al-Falahsifah (menerangkan pendapat para filsuf di tinjau dari segi agama)
  4. Al-Munqid min adh-dhalal (menerangkan tujuan dan rahasia rahasia ilmu)
  5. Jawahir Al-quran (rahasia rahasia yang terkandung dalam Al-quran)
  6. Mizan Al-amal (tentang falsafah keagamaan)
  7. Al_maqashid Al-asna fi ma’ani asma ‘illahi al-husna (tentang arti nama nama tuhan)
  8. Faishal Al-tafriq Baina Al-islam wa Al-Zindiqah (perbedaan antara islan dan zindiq)
  9. Al-Qistha s Al-mustaqim (jalan untuk mengatasi perselisihan pendapat)
  10. Al-Mustadhhiry
  11. Hujjat al-haq (dalil yang benar)
  12. Mufahil Al-khilaf fi ushul ad-Din (menjauhkan perselisihan dalam masalah ushul ad-din)
  13. Kimiya As-sa’adan (menerangkan syubhat ahli ibadah)
  14. Al-Basith (fiqih)
  15. Al-wasith (fiqih)
  16. Al-wajiz(fiqih)
  17. Al-khulasoh Al-mukhtasaroh (fiqih)
  18. Yaqut at-ta’wil fi tafsir at-tanzil (tanzil 49 jilid)
  19. Al-mustasfa (ushul fiqih)
  20. Al-mankhul (ushul fiqih)
  21. Al-muntana fi’ilmi al-jadal (cara cara berdebat yang baik)
  22. Mi’yar al-ilmi (timbangan ilmu)
  23. Al-maqashid (yang di ruju)
  24. Al-madnun bihi’ala ghairi ahlihi
  25. Misykaat al-anwar (pelajaran keagamaan)
  26. Mahqu An-nadhar
  27. Asraru’ilmu ad-din (rahasia ilmu agma)
  28. Minhaj al-abidin
  29. Ad-dariar Al-faqhirah-fi-kasyfi’ulum al-akhirah (tasawuf)
  30. Al-anis fi al-wahdah (tasauf)
  31. Al-qurbah ila allah’azza wajala (tasauf)
  32. Akhaq al-abrar (tasauf)
  33. Bidayat Al-Hidayah (tasauf)
  34. Al-abra’infi ushul ad-din (ushul al-din)
  35. Adz-dzari’ahila mahakim Asysyari’ah (pintu kepengadilan agama)
  36. Al-mabadi wa al-ghyyat (permulaa dan tujuan)
  37. Talbissu iblis (tipu daya iblis)
  38. Nashinat al-mulik (nasihat baqgi raja raja)
  39. Syifa’u al-alilfi-al-qyash-wa at-talil (usul fiqih)
  40. Iljam Al-Awwam’An ilmi al-kalam (ushul ad-din)
  41. At intishar lima fi al-ajnas min al-asrar (rahasia rahasia alam)
  42. Al’ulum al-laduniah (ilmu laduni)
  43. Ar-risalah al-qudsiah
  44. Isbat an-nadhar
  45. Al-ma’akhidj (tempat pengambilan)
  46. Al-qaul al-jamil fi ar-araddi’alamangnayyara al-injil(perkataan baik bagi orang yang mengubah injil)
  47. Al-amali.[6]

Buku’’ muqasid al-falasifah’’ di tulis sebagai pendahuluan dari buku nya ‘’yahaful al-falq sifah’’ pada pendahuluan buku’’muqasid al-falasifah,al-ghazali menulis bahwa jika menolak sebuah pendapat sebelum memahami dan mengkajinya secara mendalam sama artinya dengan menolak dan menyanggah dalam kebutaan dan kesesatan.Buku ini twelah di terjemahkan ke dalam bahasa latin pada tahun 1145 M.Olel Domicus Guundisalimus ditoledo dengan judul ‘’logika et phllosophia al-ghazali arabis’’.

Tahafut Al-falasifah adlah kecurigaan al-ghazali terhadap kebenaran yang di lafai para filosif.Buku ini merupakan sanggahan terhadap pemikiran para filosof dengan menjelaskan kesalahan melalui analisis yang di teliti.pada abad ke-13 M buku ini telah di terjemahkan ke dalam bahasa latin dengan judul ‘’Destructione philosophorun’’.[7]

Raimon Martin menamai Tahafut Al-falasifah dengan ruina filosoforum,sedangkan oleh S A kamili di beri judul dengan ‘’Incoherence Of The Philosofheia’’,menurut Harun Nasution menerjamahkan ‘’Tahafut Al-Falasifah menjadi ‘’kesesatan kaum filosof’’.J.W M Baker mengartikan dengan ‘’ketidak beresan,kekaburan dari filsafat’’ Nurcholis Majid menybut nya dengan ‘’kekacauan pemikiran para filosof’’ sedangkan Ahmad Toha dengan judul ‘’Keracunan para filosof’’.[8]

      Dalam bukunya Munqiz Min Al-dhalal,Al-ghazali mengelompokan filosof menjadi tiga golongan:

  1. Filosof Matrerialis (Dahriyyun)

     Filosof yang menyangkal adanya tuhan

  1.  Filosof Natrualis

 Para filosof yang melaksanakan berbagai penelitian di alam ini dan mengakui adanya maha pencipta

  1.  Filosof Ketuhanan

      Para filosof yang menyanggah pemikiran filosof materialis dan naturalis, menurut al-ghazali golongan ini pantas dikafirkan karena ketidak mampuan mereka melepaskan diri sepenuhnya dari dua tifikal pemikiran sebelum mereka. Menurut al-ghazali, lapangan filsafat hanya ada enam:matematika, logika, fisika, metafisika, politik, dan etika.

   C. Filsafat Al-ghazali

1. Filsafat di mata al-ghazali

            Al-ghazali itu menentang filsafat. Berfilsafat itu menggunakan logika. Menurut yusuf Qhardhwi yang mengutip kitab’’ma’arijul al-kuds” di dalamnya terdapat penjelasan bahwa akal tidak akan mendapat petunjuk kecuali dengan syara dan syara tidak akn jelas kecuali dengan akal. Akal bagaikan landasan sedangkan syara bagaikan bangunan.

            Filsafat menurut al-ghazali terbagi enam bagian,’’ilmu pasti,ilmu logika,ilmu alam,ilmu ketuhanan,ilmu politik,dan ilmu ahlak.Menurut al-ghazali,secara teoritis akal dan syara tidak bertentangan secara hakiki dari segi praktis tidak ada hakikat agama yang bertentangan dengan hakikat ilmiah.[9]

            Menurut Al-ghazali ‘’akal bagaikan penglihatan sehat,sedangkan Al-Quran bagaikan matahari yang menebarkan sinarnya yang saling membutuhkan.Mereka bagaikan orang yang melihat cahaya matahari dengan menutup kelopak mata tidak ada bedanya antara orang seperti ini dengan orang buta’’. Akal tidak mungkin menetapkan suatu kebenaran yang di nafikan syara dan syara tidak akan membawa suatu keyakinan yang tidak dapat di terima oleh akal.

            Selanjutnya Al-ghazali menjelaskan bahwa akal dan syara memiliki keistimewaan dan memiliki bidang kompetensi yang tidak pernah di langgar nya.Apa yang tidak dapat di tetapkan oleh akal, tidak dapat di tetapkan oleh syara.[10] Al-ghazali berpendapat bahwa tugas akal adalah untuk membenarkan syara lewat penetapan pencipta alam, kenabian yang di berikan kepada hamba yang dipilih-nya

            Al-ghozali melihat bahwa dalam bidang amaliah ini ada bidang yang haram yang dimasuki akal. Yaitu mengetahui hukum  terinci dari ibadat-ibadat syari’ah akal tidak dapat memahami mengapa sujud dalam shalat jumlahnya dua kali lipat ruku .Ilmu logika (akal) menurut al-ghazali merupakan instrumen untuk memahami  dalil-dalil syariat.

  1. Tipologi Filsafat Al-ghazali

            Al-ghazali yidak mengangap dirinya filsuf dan tidak suka dianggap sebagai filsuf .Menurut Al-ghazali bahwa filsafat setidak –tidaknya pasti mempunyai pengaruh tak langsung atas pemikiran taswufnya  selain itu kitab tahrut al- falsifah merupakan bentuk nyara al-ghazali dalam memahami filsafat . Karya orang yang paling menumental adalah sebuah karya yanh mampu menggabungkan  ilmu fiqh,kalam ,ilmu filsafat dan ilmu tasawuf yakni ihya ulum ad-din.[11]

            Dalam bidang ke tuhanan al-ghazali memandang para filosof sebagai ahi al-Bid’at dari kafir kesalahan para pilosof tersebut dalam bidag ketuhanan adadua puluh masalah ,yaitu:

a)      Berpendapat bahwa alam itu azali

b)      Berpendapat bahwa alam itu abadi

c)      Berpendapat bahwa Alloh SWT adalah pencipta alam dan alam adal ciptaan-nya

d)     Menetapkan adanya pencipta

e)      Membangun argumen untuk menunjukan kemustahilan adanya dua tuhan

f)       Menafikan (meniadakan) sifat-sifat tuhan

g)      Berpendapat bahwa substansi al-awwal (tuhan) bukanlah jenis (genus) dan bukan pula diferensia

h)      Berpendapat bahwaal-awwal (tuhan) adalah wujud yang simpel tanpa ensir

i)        Bependaat bahwa al-awwal (tuhan) itu bukan tubuh

j)        Seharusnya mereka mengatakan adanya masa meniadakan pencipta alam

k)      Bependapat bahwa ia (tuhan) mengetahui substansi-nya

l)        Berpendapat bahwa al-awwal  (tuhan)tidak mengetahui jua ‘iyyat ‘

m)    Berpendapat bahwa langit adalah awan yang bergerak dengan iradah

n)      Memberikan tentang keterangan tujuan yang menggerakan langit

  • o)      Berpendapat bahwa al-awwal (tuhan)mengetahui selain dirinya

p)      Berpendapat bahwa jiwa-jiwa langit mengetahui semua juj ‘iyyat

q)      Menyatakan kemustahilan terjadinya  kejadian luar biasa

r)       Berpendapat bahwa jiwa manusia adalah substansi yang berduri dengan dirinya semdiri ,bukan dengan tubuh dan buka pula dengan aksidin

s)       Menyatakan kemustahilan fananya jiwa-jiwa manusia

t)       Mengingkari kebangkitan tubuh –tubuh manusia untuk merasakan kesenangan jasmaniyah dan kepedihan jasmani di neraka

 

    Adapun tiga persoalan dari dua puluh persoalan di atas yang di nyatakan sebagai alasan untuk mengkufurkan para filosof adalah sebagai berikut :

a)      Pendapat tentang ke qa-diman alam (tesis khas aristoteles)

b)      Pendapat tentang ketidakmungkinan Tuhan untuk mengetahui hal-hal partikulan tesir yang benar-benar di pegang oleh ibnu sina

c)      Dan pendapat tentang penolakan atas doktrin kebangkitan materi yang di yakini para filosof naturalis

Menurut al-ghozali kepercayaan dalam ketiga masalah ini bertentangan dengan kepercayaan umat islam dan di pandang mendustakan rasul-rasul alloh ,padahal tidak ada golongan islam manapun yang berpendapat seperti ini.[12] Paham Qadimnya Alam

          Bagi al-ghazali bila alam itu di katakan Qadim (tidak bermula:tidak pernah tidak ada)artinya alam ittu ada dengan sendirinya-wujud alam bersamaan dengan wujud allah itu mustahil.Alam itu bertentangan dengan ajaran al-qur’an.Sebab bagi al-ghazali alam harus lah tidak qadim mereeka yang beranggapan alam itu qadim karena tuhan menciptakan nya sejak azali.Kerangka filosofis yang ia terangkan adalah titik tolak yang benar dan ortodoks harus di awali dengan mengakui adanya tuhan sebagai wujud tertinggi dan kehendak unik yang bertindak secara aktual al-ghazali sangat menekan kan kehendak tuhan,suatu sifat yang mentransformasi kan diri dalam fotensi (aktualitas)tindakan.Al-ghazali menolak secara mutlak keberadaan kausalitas alamiah yang di kehendak tuhan yang menciptakan hakikat membakar.

    Al-ghazali selali menekan kan kenyataan bahwa tuhan lah yang menciptakan kaitan antar fenomena,Al-ghazali menolak bahwa dunia ini kekal dan d ciptakan lewat proses emanasi dengan bahan dasar yang bersifat kolokal dan yang secara terus menerus menganbil bentuknya yang berbeda.Ia berpendapat bahwa dunia ini di ciptakan oleh tuhan dari benar benar tiada,pada waktu yang lalu secara terbatas,baik (mater)maupun bentuk dari pada dunia ini,dulunya telah di ciptakan oleh tuhan dalam tindakan yang asli seperti itu.

Al-ghazali memberikan ulasan bahwa sanya Tuhan dengan mudah mewasiatkan secara abadi agar dunia tercipta pada waktu tertentu pada masa mendatang ,jika dia menginginkan begitu.[13] Al-ghazali menantang orang yang berpendapat bahwa keinginan ketuhanan tidak dapat menghasilkan akibat yang di undur.Dia mendukung adanya kemungkinan akibat atau hasil sesuatu yang d undur dengan menetengahkan keterangan yang mengandung kilah tentang bagaimana kemauan tuhan akan terlaksana dengan baik.Al-ghazali menjelaskan lebih lanjut bahwa waktu memang di bentuk dan di ciptakan dan sebelum itutidak ada wktu sama sekali.Al-ghazali berpendapat bahwa sebelum penciptaan dunia,tuhan telah ada,tetapi tidak dalam ruang lingkup dimensi waktu.[14] Menurutnya kehendak tuhan lain yang qadim yang menghendaki agar alam terwujud.kehendak tuhan adalah kehendak yang bisa membedakan sesuatu dari yang lain,kehendak mutlak yang tak terbatas.

 

 

  1. a.       Paham Bahwa Tuhan tidak mengetahui Juz’iyyat

            Tuhan tidak mengetahui juz’iyyat bukan lah paham yang di anut oleh para filsuf muslim,paham ini di anut oleh aristoteles.Ibnu sina berpendapat bahwa tuhan sebenarnya tidak mengetahui hal-hal yang juz’i.Baginya tuhan mengtahui hal-hal yang kulli,menurut kulli nya dan mengtahui hal-hal yang juz’i nya menurut juz’i nya. Tuhan mengetahui hal-hal juz’i itu dengan pengetahuan yang tidak berubah (pengetahuan yang azalli).

            Al-ghazali memandang bahwa tuhan maha segala tahu baik besar maupun kecil.Al-ghazali menolak pengetahuan tuhan terbatas pada hal-hal yang universal sehingga tidak mengtahui yang partikular.Bagi al-ghazali tindakan berpengetahuan bukan proses perubahan yang seperti di yakini para filosof, tetapi penambahan.[15] Atas dasar ini pengetahuan yang fartikular bukan sebuah pemustahilan bagi tuhan.

Menurut nya allah mengtahui segala sesuatu dengan ilmu nya yang satu (esa)semenjak azali dan tidak berubah meskipun alam yang diketahuinya itu mengalami perubahan.Terdapat perbedaan dan persamaan antara pemikirannya dengan para filosof muslim.Persamaan nya terletak pada ilmu dan zat allah yang tidak mungkin mengalami perubahan dan allah maha mengetahui perbedaan nya yaitu para filosof muslim mengidentikan anatara sifat dengan zat sementara al-ghazali membedakan antara zat dengan sifat,sebab ia berpendapat bahwa allah memiliki zat beserta sifat,bukan zat tanpa sifat.Filosof muslim berbedanya objok ilmu membawa perubahan pada ilmu dan zat.sementara al-ghazali berbedanya objek ilmu tidak membawa perubahan pada ilmu dan zat.Al-ghazali berusaha menarik masalah pada tataran kongkrit,sedangkan para filosof menarik masalah pada tataran abstrak.[16]

 

 

  1. b.      Paham Kebangkitan Jasmani

            Menurut Al-ghazali gambaran tentang kehidupan di akhirat mengacu padakehidupan yang bersofat rohani dan jasmani jasad di bangkitkan dan di salurkan untuk merasakan ni’mat surgawi yang bersifat rohani-jasmani dan merasakan ni’mat surgawi yang bersipat rohani-jasmani dan merasakan azab neraka yang bersipat rohani-jasmani.[17] ia tidak menolak kekekalan rohani setelah berpisah dengan jasad

            Menurut para filosof muslim, yang akan di bangkitkan di akhirat nanti adalah rohani saja sedangkan jasmani akan hancur , jadi yang akan merasakan kebahagiaan atau kepedihan adalah rohani saja . Dalam menyanggah pendapat para filosof ia bersandar pada artikekstual al-qur’an .Para fi;osof muslim berpendapat bahwa mutahil mengembalikan rohani kepada jasad semula ,menurut merekasetelah rohani berpisah dengan jasad berarti kehidupan telah berakhir dan tubuh telah hancur.

            Menurut al-ghazali kekalnya jiwa setelah mati tidak bertentangan dengan ajaran agama islam kebangkitan jasmani secara ekspilit telah di tegaskan syara (agama) dengan arti jiwa di kembalikan pada  tubuh .Perbedaan antara pemikiranal-ghazali dan filosof muslim itu dipengaruhi oleh latar belakang aliran yang di ikuti. Al-ghazali pemikirannya di warnai oleh pemikiran rasional yang lebih liberal.

            Dengan demikian jelaskah bahwa yang mereka pertentangkan hanya pertentangan interpretasi tentang dasar-dasar ajaran islam ,yakni bentuk kebangkitan di akhirat bukan pertentangan dasar-dasar islam itu sendiri yakni kebangkitan diakhirat.[18]

 

 

  1. c.       Paham Metafisika

            Dalam persoalan-persoalan metafisika al-ghazali membwerikan reaksi keras secara langsung atas paham metafisikan neo platonisme islam dan secara tidak langsung mengecam Aristoteles. Sebab mereka ingin menaggalkan keyakinan –keyakinan islam dan mengabaikan dasr-dasar pemujaan ritual dengan menggapainya sebagai hal yang tidak berguna bagi pencapaian intelektual mereka.

            Al-ghazali mengawali pembicaraanya tentang tuhan dengan terlebih dahulu menerima keyakinan bahwa tuhan merupakan wujud tertinggi dan khendak unik yang selalu meng aktualisasiakan tindakan \bertindak aktual .Selanjutnya al-ghazali meyakini bahwa prinsip pertama yang di libatkan kepada tuhan adalah hal ikhwal Tuhan .Tuhan telah menciptakan semua makhluknya sesuai dengan keindahannya

            Al-ghazali menyatakan bahwa Tuhan mampu dan mungkin saja untuk menjungkir balikan hukum-hukum alam dan menundukan aspek-aspek  pungsional alam  kepada hukum-hukum baru yang mungkin berlawanan .Menurut al-ghazali sipat –spat kesempurnaan bagi alloh itu terjelma dalam dua kriteria .Sifat dzati yang di nisbatkan pada tuhan ada lima: qadim,baqa, mukhalafatu lil al-hawdits , qiyamuhu binafsihi dan wahdaniat ,adapun yang kedua adalah sifat ma’ani  al-ghazali mengidentikannya dengan sifat tsubutiyah bukan merupakan dzat-nya yang berdiri ada tujuh : qudroh, iradah , ilmi, hayat , sama, bashar dan kalam.

            Dalam pembicaraannya tentang jiwa ia memandang jiwa sebagai unsur dasar penciptaan manusia selain jasad ,jiwa berasal dari ilahi dan mengandung potensi kecenderungan ke arah kebaikan sekaligus menolak kekejian menurut al-ghazali jiwa adalah suatu zat dan bukan suatu kea adan  sehingga ia ada pada dirinya sendiri jasad bergantung padanya jiwa berada dalam spiritual sedangkan jasad di dalam mteri yang asal dan sifatnya illahiyah ia tak pre-eksisten tidak berawal dengan waktu yang kekal setelah mati.[19]

            Menurut al-ghazali semua yang ada pada jasad materal adalah ‘’pelayan jiwa’’ ada yang tertangkap indera yaitu organ-organ tubuh manusia dan ada yang tidak tertangkap indra  terdiri dari
(a) suber motif (dorongan) dan rangsangan (b) kekuatan penggerak jasad baik gerakan menuju arah benda yang diinginkan atau gerakan dari yang tidak di inginkan  (c) pelayanan yang berhubungan dengan alat penangkap pengetahuan  terdiri dari dua bagian pertama panca indra dan ke dua lima daya jiwa yang menempati lima tempat di dalam otak lima daya jiwa ini adalah daya khayal ,daya simpan, daya fikir, daya ingatan memorial dan sensus komunis.[20]

            Jadi, jiwa merupakan inti hakiki manusia dan jasad hanyalah alat baginya untuk mencari bekal  dan kesempurnaan, karena jasad sangat di prlukan oleh jiwa maka ia harus di rawat baik-baik

  1. d.      Klasifikasi Ilmu

            Kajiannya di dasarkan atas dua sumber utama : the book of knowledge dari ihya dan ar-risalat al-laduniyan . Dalam karyanya ini al-ghazali menyebutkan empat sisten klafikasi  yang berbeda

1. Pembagian ilmu –ilmu menjadi bagian teoritus dan praktis.

2. Pembagian ilmu pengetahuan menjadi pengetahuan yang di hadirkan  untuk pengetahuan yang di capai.

3. Pembagian atas ilmu-ilmu religius dan intelektual.

4. Pembagian ilmu menjadi ilmu yang wajib atas sertiap individu dan wajib atas umat.

 

 

  1. e.       Moralitas Dalam Pemikiran Al-ghazali

            Al-ghazali mendefinisikan ilmu akhlak sebagai ilmu yang membahas tingkah laku amaliah manusia dan ilmu yang berisikan aturan dan pedoman tentang apa-apa yang seharusnya di lakukan manusia agar tingakah lakunya sesuai dengan semangat dan ajaran islam . Al-ghazali menggariskan tiga tujuan utama dalam pelajaran akhlak : pertama sebagai studi teoritas  yang bertujuan untuk memahami ciri-ciri  kesusilaan kedua untuk meningkatkan kualitas hidup dalam tindakan keseharian ketiga sebagai seorang subjek teoritas dalam rangka menemukan kebenaran tentang hak-hak moral.

            Bagi Al-ghazali akhlak mempunyai tiga dimensi yang meliputi (a) akhlak dalam dimensi diri yang mengatur hubungan antara seseorang dengan dirinya sendiri dan dengan tuhannya
(b) akhlak dengan dimensi sosial kemasyarakatan  dan pemerintahan (c) akhlak dalam dimensi metafisis mwngatur pedoman dalam kaidah dan  keyakinan . Kajian akhlak juga dengan kehidupan jiwa karena arti kebahagiaan telah terlebih dahulu di sematkan dalam jiwa tujuan manusia yang benar  dalam kebahagiaan ukhwari  yang memiliki empat ciri khusus berkelanjutan dan tanpa akhir ,kegembiraan tanda duka, pengetahuan tanpa kebodohan dan kecukupan yang tidak membutuhkan tambahan manapun.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

SIMPULAN

 

Abu hamid Muhammad bin Muhammad bin ahmad al-ghazali yang terkenal dengan sebutan Al-ghazali. Lahir di Thus wilayah khurasan iran pada tahun 450 H/ 1058 M dan meninggal di kota ini pula diusia 55 tahun pada hari senin, 14 jumadil akhir 505 H/ 18 desember 1111 M. karya-karya yang telah dihasilkan oleh Al-ghazali sangat banyak sebab ia dikenal sebagai seorang pemikir besar islam, ulama besar, pendidik, ahli pikir dalam ilmunya, dan pengarang popular pada zamannya, diantaranya tentang tafsir Al-quran, ilmu kalam, ilmu filsafat, ushul fiqh, fiqh, tasawuf, mantik, falsafah, dan lain-lain. Salah satu karyanya yang sangat terkenal adalah sebuah karya yang mampu menggabungkan ilmu fiqih, kalam, ilmu filsafat, dan tasawuf yaitu Ihya Ulum Ad-Din yang sampai sekarang masih digunakan dan dikembangklan dengan pola-pola yang berbeda.

Terdapat sikap pro dan kontra dalam memandang Al-ghazali sebagai seorang filosof, sebab beberpa pendapat menyebutkan bahwa dia adalah seorang teolog. Hal ini disebabkan oleh sikap Al-ghazali yang menentang para filosof dan bahkan mengkufurkan para filosof. Salah satu buktinya adalah dibuatnya kitab “Tahufut Al-Falasifah” untuk menyerang para filosof, yang berisi sanggahan terhadap pemikiran para filosof dengan menjelaskan kesalahan mereka melalui analisis yang teliti. Menurutnya para filosof berlebihan menggunakan akal dan menetapkan sesuatu tanpa bukti atas nama akal dan menetapkan sesuatu tanpa bukti atas nama akal, disamping menafikan sesuatu yang tidak ada dalil-dalil syara yang menafikannya.

Adapun tiga persoalan yang dinyatakan sebagai alas an untuk mengkufurkan para filosof adalah sebagai berikut:

  1. Alam dan semua substansi qadim      
  2. Allah tidak mengetahuai hal-hal particular, yang juz’iyat (terperinci) yang terjadi di alam
  3. Kebangkitan jasmani itu tidak ada (penolakan terhadap kebangkitan jasmani).

Pada sanggahan pertama, menurutnya alam itu tidak qadim apapun alasannya. Kehendak Tuhan yang qadim yang menghendaki agar alam terwujud, karena Tuhan mendahului apapun yang bukan Tuhan, maka kehendak Tuhan mendahului alam dan ini membuktikan bahwa alam itu qadim. Pada sanggahan kedua, menurutnya Tuhan mengetahui hal-hal yang particular meskipun yang particular itu berubah, dzat Tuhan tidak akan berubah. Maka pengetahuan yang particular bukan sebuah kemustahialan bagi Tuhan. Dan pada sanggahan ketiga, menurutnya kebangkitan jasmani bukanlah hal yang tidak mungkin, bukan hal yang mustahil bagi-Nya untuk membangkitkan jasad yang telah hancur.

Al-ghazali juga memaparkan mengenai metafisika, terutama mengenai jiwa. Menurutnya jiwa merupakan inti hakiki manusia dan jasad adalah alat baginya untuk mencari bekal dan  kesempurnaan karna jasad sangat diperlukan oleh jiwa maka ia harus dirawat dengan baik.

Dalam hal klasifikasi ilmu ia menyebutkan empat system klasifikasi yang berbeda:

  1. Pembagian ilmu-ilmu menjadi bagian teoritis dan praktis
  2. Pembagian pengetahuan menjadi pengetahuan yang dihadirkan dan pengetahuan yang dicapai
  3. Pembagian antara ilmu-ilmu religius dengan intelektual
  4. Pembagian ilmu-ilmu menjadi ilmu fardhu ‘ain dan fardhu kifayah

Pembicaraan seputar persoalan moralitas dalam pemikiran Al-ghazali. Ia mendefinisikan ilmu akhlak sebagai ilmu yang membahas tingkah laku amaliah manusia dan ilmu yang memberikan aturan dan pedoman tentang apa-apa yang seharusnya dilakukan manusaia agar tingkah lakunya sesuai dengan semangat dan ajaran islam…

 


[1] S.Praja, Juhaya. 2009. Pengantar Filsafat Islam. Bandung: Pustaka Setia.hlm 144

 

[2] Zar, Sirajuddin. 2009. Filsafat Islam. Jakarta: PT.Grafindo Persada.hlm 156

 

[3] Basri, Hasan, dkk. 2008. Filsafat Islam Sejak Klasik Sampai Modern. Bandung: Insan Mandiri.hlm 148

 

[4] Zar, Sirajuddin. 2009. Filsafat Islam. Jakarta: PT.Grafindo Persada.hlm 158

[5] S.Praja, Juhaya. 2009. Pengantar Filsafat Islam. Bandung: Pustaka Setia.hlm 152

[6] S.Praja, Juhaya. 2009. Pengantar Filsafat Islam. Bandung: Pustaka Setia.hlm 154

[7] Basri, Hasan, dkk. 2008. Filsafat Islam Sejak Klasik Sampai Modern. Bandung: Insan Mandiri.hlm156

[8] Ibid hlm 157

[9] S.Praja, Juhaya. 2009. Pengantar Filsafat Islam. Bandung: Pustaka Setia.hlm 156

[10] Ibid hlm 157

[11] S.Praja, Juhaya. 2009. Pengantar Filsafat Islam. Bandung: Pustaka Setia.hlm 159

[12] Zar, Sirajuddin. 2009. Filsafat Islam. Jakarta: PT.Grafindo Persada.hlm 163

[13] S.Praja, Juhaya. 2009. Pengantar Filsafat Islam. Bandung: Pustaka Setia.hlm 165

[14] Ibid. 170

[15]  S.Praja, Juhaya. 2009. Pengantar Filsafat Islam. Bandung: Pustaka Setia.hlm 171

                                                                                                                              

 

 

[16] Zar, Sirajuddin. 2009. Filsafat Islam. Jakarta: PT.Grafindo Persada.hlm 171

[17]  S.Praja, Juhaya. 2009. Pengantar Filsafat Islam. Bandung: Pustaka Setia.hlm 171

                                                           

[18] Zar, Sirajuddin. 2009. Filsafat Islam. Jakarta: PT.Grafindo Persada.hlm 173                            

[19]  S.Praja, Juhaya. 2009. Pengantar Filsafat Islam. Bandung: Pustaka Setia.hlm 174

 

[20]  S.Praja, Juhaya. 2009. Pengantar Filsafat Islam. Bandung: Pustaka Setia.hlm 172

 

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s