filsafat materialisme


BAB I

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang Masalah

Materialisme merupakan faham dalam filsafat yang mengatakan bahwa hal yang dapat dikatakan benar-benar ada adalah materi. Pada dasarnya semua hal terdiri atas materi dan semua kejadian yang terjadi di alam ini merupakan hasil dari interaksi material. Materialisme tidak mengakui identitas yang bersifat nonmaterial seperti : roh, hantu, setan, dan malaikat, hal ini berarti para pelaku immaterial itu tidak ada. Tidak ada allah atau dunia  supranatural/adikodrati.

Akan tetapi seperti halnya dalam faham filsafat yang lain seperti idealisme, positivisme, pragmatisme, yang memiliki para pendukung dalam filsafatnya, dalam faham filsafat ini pun terdapat para pendukungnya dintaranya  Thales, Anaximandros, dll. Namun yang menjadikan pertanyaan adalah :

  1. Faham apakah yang mereka lontarkan dalam mengungkapkan semua argumennya?
  2. Ada berapa jeniskah faham materialisme ini?
  3. Apakah faham materialisme ini mempengaruhi dalam setiap argument yang mereka keluarkan?
  4. Ada berapa pendapat tentang materialisme ini?
  5. Maksud dan Tujuan

Maksud dari pembuatan makalah ini, selain sebagai salah satu syarat dalam mengikuti UAS, kami pun ingin mengetahui beberapa hal, diantaranya adalah :

  1. Siapa sajakah orang-orang yang mendukung dalam faham Materialisme ini
  2. Mengetahui beberapa argument tentang Materialisme
  3. Mengetahui beberapa jenis tentang Materialisme
  4. Untuk mengetahui faham tentang materialisme

 

 

      BAB II

PEMBAHASAN

  1. Pengertian Materialisme

Materialisme adalah paham filsafat yang meyakini bahwa esensi kenyataan, termasuk esensi manusia bersifat material atau fisik. Ciri utama dari kenyataan fisik atau material adalah bahwa ia menempati ruang dan waktu, memiliki keluasan (res extensa), dan bersifat objektif. Karena menempati ruang dan waktu serta bersifat objektif, maka ia bisa diukur, dihitung, dan diobserfasi. Alam spiritual atau jiwa, yang tidak menempati ruang, tidak bisa disebut esensi kenyataan, dan oleh karena itu ditolak keberadaannya.

Para materialis percaya bahwa tidak ada kekuatan apa pun yang bersifat spiritual di balik gejala atau peristiwa yang bersifat material itu. Kalau ada peristiwa yang masih belum diketahui, atau belum bisa dipecahkan oleh manusia, maka hal itu bukan berarti ada kekuatan yang bersifat spiritual di belakang peristiwa itu, melainkan karena pengetahuan dan akal kita saja yang belum dapat memahaminya.

Nama lain dari Materialisme adalah Naturalisme. Materialisme atau Naturalisme percaya bahwa setiap gejala, setiap gerak, bisa dijelaskan berdasarkan hukum kausalitas, hukum sebab akibat, atau hukum stimulus-respons. Gejala yang kita amati tidak bergerak dengan sendirinya, melainkan karena ada sebab eksternal yang mendahului atau menggerakannya. Misalnya bergeraknya bola bilyard, karena ada bola lain yang menabraknya, atau karena ada orang yang menyodokan tongkat bilyrdnya. Tindakan agresif yang diakukan manusia tidak terjadi begitu saja, melainkan karena respons dari bagian-bagian tertentu didalam system syaraf pusat manusia terhadap stimulus tertentu, sehingga tanpa dibendung, ia mampu melakukan tindakan agresif.

Ketika faham ini muncul pertama kali tidak ada orang yang menanggapinya secara serius hal ini disebabkan banyaka ahli filsafat yang menganggap faham ini aneh dan mustahil. Namun sekitar abad 19 faham Materialisme ini tumbuh subur di barat karena sudah banyak filosof yang menganut faham tersebut.

 

Diantara beberapa pendapat tentang Materialisme yaitu :

  1. Tidak ada sesuatu yang bersifat non-material seperti ruh, hantu, setan, malaikat. Pelaku-pelaku immaterial tidak ada
  2. Tidak ada tuhan atau Adikodrati (supranatural). Realitas satu-satunya adalah materi dan segala sesuatu merupakan manifestasi aktifitas materi
  3. Setiap peristiwa mempunyai sebab material, dan penjelasan material tentang semua itu merupakan satu-satunya penjelasan yang tepat
  4. Materi dan aktifitasnya bersifat abadi. Tidak ada sebab atau penggerak pertama
  5. Bentuk material dari barang-barang dapat diubah, tapi materi tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan
  6. Tidak ada kehidupan yang kekal. Semua gejala perubahan, akhirnya melampaui eksistensi yang kembali lagi ke dasar material Primordial, abadi dalam suatu peralih-wuju dan kembali yang abadi dari materi.

Akan tetapi faham Materialisme ini banyak yang menentangnya salah satunya adalah para tokoh agama karena terang-terangan tidak mengakui tuhan. Seorang Anti-Materialisme bernama Friedrich Paulsen berkata “ Kalau Materialisme itu benar, maka segala sesuatu di dunia ini akan dapat diterangkan, termasuk bagaimana atom membentuk teori Materialisme itu sendiri yaitu dapat berfikir dan berfilsafsat”. Ternyata hal itu sama sekali tidak dapat dijelaskan oleh kaum Materialisme.

     

 

 

 

 

 

 

  1. Tokoh-Tokoh Materialisme

Didalam berbagai faham atau aliran dalam filsafat terdapat tokoh-tokoh atau para pendukung dalam filsafat tersebut, begitu pula dalam filsafat Materialisme ini, filsafat Materialisme inilah yang mempengaruhi filosof alam dalam menyelidiki asal-usul kejadian alam ini. Diantaranya adalah :

  1. Thales (625-545 SM) berpendapat bahwa asal usul alam ini adalah air
  2. Anaximandros (610-545 SM) berpendapat bahwa asal usul alam ini adalah aperion, yaitu unsure yang tak terbatas
  3. Anaximenes (585-528 SM) berpendapat bahwa asal usul alam ini adalah udara
  4. Heraklitos (540-475 SM) mengatakan bahwa asal usulnya adalah api
  5. Demokritus (460-360 SM) mengatakan bahwa hakikat atom-atom yang amat banyak dan halus adalah asal dari kejadian alam ini.

Kaum Materialisme menyangkal adanya jiwa atau roh, mereka menganggapnya hanya sebagai pancaran materi saja. Bahkan Ludwig Feueurbach (1804-1872) yang dinggap sebagai pengikut dari Hegel mengatakan bahwa baik pengetahuan maupun tindakan berlaku adagium, artinya terimalah dunia yang ada, bila menolak agama/metafisika. Karl Max pun mengatakan bahwa tugas seorang filosof itu bukan untuk menerangkan dunia, tetapi untuk mengubahnya.

  1. Aliran-Aliran Dalam Materialisme

Didalam filsafat materialisme terdapat beberapa jenis yaitu :

  1. Materialisme Mekanik

Materialisme Mekanik adalah aliran filsafat yang pandangannya materialis sedangkan metodenya mekanis. Aliran ini mengajarkan bahwa materi itu selalu dalam keadaan bergerak dan berubah, gerakannya itu adalah gerakan yang mekanis artinya, gerak yang tetap selamnya atau gerak yang berulang-ulang (endless loop) seperti mesin tanpa perkembangan atau peningkatan secara kualitatif.

Materialisme mekanik tersistem ketika ilmu tentang mekanik mulai berkembang dengan pesat, tokoh-tkoh yang terkenal sebagai pendukung Materialisme pada waktu itu adalah Demokritus (460-370 SM), Heraklitus (500 SM) kedua pemikir yunani ini berpendapat bahwa aktivitas psikis hanya merupakan gerakan atom-atom yang sangat lembut dan mudah bergerak. Mulai abad ke-4 SM pandangan Materialisme primitive ini mulai menurun pengaruhnya digantikan dengan pandangan idealisme yang diusung oleh Plato dan Aristoteles sejak, sejak itulah selama 1700 tahun lamanya dunia filsafat dikuasai oleh filsafat Ideaisme.

            Baru pada akhir zaman feodal, sekitar abad ke-17 ketika kaum borjuis sebagai kelas baru dengan produksinya yang baru, Materialisme mekanik muncul dalam bentuk yang lebih modern karena ilmu pengetahuan telah maju dengan pesatnya. Pada waktu itu ilmu Materialisme ini menjadi senjata moril/idiologi bagi perjuangan kelas borjuis melawan kelas feudal yang masih berkuasa ketika itu. Perkembangan Materialisme ini meluas dengan adanya revolusi industry di negeri-negeri eropa. Wakil-wakil dari filsafat materialis pada abad ke-17 adalah Thomas Hobbes (1588-1679), Benedictus  Spinoza (1632-1677). Aliran filsafat Materialisme mekanik mencapai titik puncaknya ketika terjadi Revolusi  Prancis pada abad ke-18 yang diwakili oleh Paul de Holbach (1723-1789 M), Lamettrie (1709-1751 M) yang disebut juga Materialisme perancis.

            Materialisme Perancis dengan tegas mengatakan meteri adalah primer dan ide adalah sekunder, Holbach mengatakan : “Materi adalah sesuatu yang selalu dengan cara-cara tertentu menyentuh panca indera kita, sedang sifat-sifat yang kita kenal dari bermacam hal-ichwal itu adalah hasil dari bermacam impresi atau berbagai macam perubahan yang terjadi di alam pikiran kita terhadap hal-ichwal itu”. Materialisme perancis menyangkal pandangan religius tentang penciptaan penciptaan dunia (Demiurge), yang sebelum itu menguasai alam fikiran manusia. Bahkan secara terang-terangan Holbach mengatakan “Nampaknya agama itu diadakannya untuk memperbudak rakyat dan supaya mereka tunduk dibawah kekuasaan raja lalim”. Asal manusia merasa dirinya didalam dunia ini sangan celaka, maka ada orang yang datang mengancam mereka dengan kemarahan tuhan, memaksa mereka diam dan mengarahkan pandangan mereka kelangit, dengan demikian mereka tidak lagi dapat melihat sebab sesungguhnya dari pada kemalangan itu.

 Perancis adalah pandangan yang menganggap segala macam gerak atau gejala-gejala yang terjadi dialam itu dikuasai oleh gerakan mekanika, yaitu pergerakan tempat dan perubahan jumlah saja. Bahkan manusia dan segala aktivitetnya pun dipandang seperti mesin yang bergeraka secara mekanik.

  1. Materialisme Metafisik

Materialisme metafisik mengajarkan bahwa materi itu selalu dalam keadaan diam, tetap atau statis selamanya seandainya materi itu berubah maka perubahan tersebut terjadi karena factor luar atau kekuatan dai luar. Gerak materi itu disebut gerak ekstern atau gerak luar. Selanjutnya materi itu dalam keadaan terpisah-pisah atau tidak mempunyai hubungan antara satu dengan yang lainnya.

Matrialisme metafisik diwakili oleh Ludwig Feurbach, pandangan Materialisme ini mengakui bahwa adanya “ide absolut” Pra-Dunia dari Hegel, adanya terlebih dahulu “kategori-kategori logis” sebelum dunia ada, adalah tidak lain sisa-sisa khayalan dari kepercayaan tentang adanya pencipta diluar dunia, bahwa dunia materiil yang dapat dirasakan oleh panca indera kita adalah satu-satunya realitet. Tetapi Materialisme metafisik melihat segala sesuatu tidak secara keseluruhan, tidak dari hubungnnya atau segala sesuatu itu berdiri sendiri dan segala sesuatu yang rela itu tidak bergeraka, diam.

  1. Materialisme Dialektis

Materialisme dialektis adalah aliran filsafat yang bersandar pada matter (benda) dan metodenya dialektis. Aliran ini mengajarkan bahwa materi itu mempunyai keterhubungan satu dengan lainnya, saling mempengaruhi dan saling bergantung satu dengan lainnya. Gerak materi itu adalah gerakan yang dialektis yaitu pergerakan atau perubahan menuju bentuk yang lebih tinggi atau lebih maju seperti spiral. Tokoh-tokoh pencetus filsafat ini adalah karl Marx (1818-1883 M), Friedrich Engels (1820-1895 M). Gerakan materi itu adalah gerakan intern, yaitu bererak atau berubah karena dorongan dari faktor dalamnya (motive force-nya). Yang disebut “diam” itu hanya tampaknya atau bentuknya, sebab hakikat dari gejala yang tampaknya atau bentuknya “diam” itu isinya tetap gerak, jadi “diam” itu juga suatu bentuk gerak.

Metode  yang dipakai adalah dialektika Hegel, Marx mengakui bahwa orang yunani-lah yang pertam kali menentukan metode dialektika, tetapi Hegel-lah yang mensistemastikan metode tersebut. Tetapi oleh Marx dijungkir balikan dengan besandarkan Materialisme. Marx dan temannya Engels mengambil Materialisme Feurbach dan membuang metodenya yang metafisis sebagai dasar dari filsafatnya. Dan memakai dialektika sebagai metode dan membuang pandangan idealis Hegel.

Dialektika Hegel menentang dan menggulingkan metode metafisis yang selama berabad-abad menguasai lapangan filsafat. Hegel mengatakan “Yang penting dalam filsafat adalah metode bukan kesimpulan-kesimpulan mengenai ini dan itu”. Ia menunjukan kelamahan-kelamahan matafisika :

  1. Kaum metafisis memandang sesuatu bukan dari keseluruhannya, tidak dari saling hubungannya, tetapi dipandangnya sebagai sesuatu yang berdiri sendiri, sedangkan Hegel memandang dunia sebagai badan kesatuan, segala sesuatu didalamnya terdapat saling hubungan organic
  2. Kaum metafisis melihat segala sesuatu tidak dari geraknya, melainkan sebagai yang diam, mati dan tidak berubah-ubah, sedang Hegel melihat segala sesuatu dari perkembangannya, dan perkembangannya itu disebabkan kontradiksi internal, kaum metafisik berpendapat bahwa “ Segala yang bertentangan adalah irasional”. Mereka tidak tahu akal (reason) itu sendiri adalah pertentangan
  3. Sumbangan Hegel yang terpenting adalah kritiknya tentang evolusi vulgar, yang pada ketika itu sangat merajalela, dengan mengemukakan teorinya tentang “Lompatan” dalam proses perkembangannya. Sebelum Hegel sudah banyak filsuf yang mengakui bahwa ini berkembang, dan meninjau  sesuatu dari proses perkembangannya, tetapi perkembangannya hanya terbatas pada perubahan yang berangsur-angsur saja. Sedang Hegel berpendapat dalam proses perlembangan itu pertentangan intern makin mendalam dan meruncing dan pada suatu tingkat tertentu perubahan berangsur-angsur terhenti dan terjadilah “Lompatan”. Setelah “lompatan” itu terjadi, maka kwalitas sesuatu itu mengalami perubahan.

Akan tetapi dialektika Hegel diselimutu dengan kulit mistik, reaksioner, yaitu pandangan idealismenya sehingga dia memutar balikan keadaan sebenarnya. Hukum tentang dialektika yaitu hukum tentang saling hubungan dan perkembangan gejala-gejala yang berlaku didunia ini dipandangnnya bukan sebagai suatu hal yang objektif, yang primer melainkan perwujudan dari “Ide absolut”. Kulitnya yang reaksioner inilah yang kemudian dibuang oleh karl marx dan isinya yang  “Rasionil” diambil serta ditempatkan pada kedudukan yang benar.

            Sedangkan jembatan antara Marx dan Hegel adalah Feurbach, Materialisme dijadikan sebagai dasar filsafatnya tetapi Feurbach melihat gerak dari penjuru idealisme yang membuat ia berhenti dan membuang dialektika Hegel. Membuat hasil pemeriksaannya terpisah dan abstrak, Marx membuang metode metafisisnya dan menggantinya dengan dialektika sehingga menghasilakan sebuah system filsafat baru  yang lebih kaya dan lebih sempurna dari pendahulunya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

 

  1. Kesimpulan

Materialisme merupakan sebuah faham yang mengatakan bahwa esensi dari sebuah kebenaran adalah materi itu sendiri, hal ini menyebabkan semua hal yang bersifat nonmaterial seperti : roh, hantu, setan, dan malaikat ditiadakan, selain itu juga :

 

  1. Semua hal  yang bersifat non material pun hanyalah pancaran dari material itu sendiri
  2. Materialisme terdiri dari tiga jenis yaitu Materialisme mekanik, metafisik, dan dialektis
  3. Setiap peristiwa memiliki sebab akibat dan penjelasan material tentang semua itu merupakan satu-satunya penjelasan yang tepat
  4. Materi dan aktifitasnya bersifat abadi. Tidak ada sebab atau penggerak pertama
  5. Bentuk material dari barang-barang dapat diubah, tapi materi tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Praja.s.juhaya.2008.aliran-aliran filsafat & etika.prenada media:Jakarta

Achmadi.asmoro.2003.filsafat umum.pt.raja grafindo persada:Jakarta

Abidin.zainal.2006.filsafat manusia.pt remaja rosdakarya:bandung

Bagus.lorens.2002.kamus filsafat.pt gramedia pustaka utama:Jakarta

Google

 

 

 

 

 

                                                                                       

 

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s