organisasi-organisasi nasional


BAB I

PENDAHULUAN

  1. A.    Latar Belakang Masalah

Golongan terpelajar mendirikan organisasi pergerakan nasional untuk menciptakan Indonesia merdeka dan terbebas dari penderitaan penjajahan. Organisasi pergerakan nasional adalah upaya perjuangan untuk menciptakan Indonesia merdeka melalui organisasi yang baru dan moderen berbeda dengan yang digunakan para pejuang bangsa di masa sebelumnya.

Pertumbuhan pergerakan nasional timbul tidak saja disebabkan faktor-faktor dalam negri melainkan juga luar negri. Faktor dari dalam negri antara ain penderitaan rakyat yang terus menerus akibat penjajahan; sikap penjajahan Belanda yang semakin congkak; pelaksa naan politik etnis yang dijalankan pemerintah belanda memungkinkan masuknya ide-ide dariBarat dan pengaruh pembaharuan dalam agama Islam, dan keinginan untuk hidup merdeka sebagaimana bangsa-bangsa lainnya.

Factor dari luar negri yang turut mendorong semangat kaum terpelajar untuk berjuang melawan penjajah antara lain kemenangan perjuangan bangsa-bangsa Asia dari kaum penjajah, seperti kemenangan Jepang atas Rusia dan perlawanan bangsa India, Pakistan dan Burma menentang Ingris, serta perlawanan Indonesia menghadapi Perancis.

Dalam waktu yang tidak lama berdiri banyak organisasi nasional diberbagia tempat. Corak organisasi yang tumbuh dan berkembang bermacam-macam sesuai dengan sipatnya, misalnya bercorak kedaerahan, keagamaan sampai nasionalisme kebangsaan Indonesia.

  1. B.     Rumusan Masalah

Berdasarkan urayan di atas, maka penyusun merumuskan permasalahan yang akan di kaji sebagi berikut:

  1. Bagaimana perkembangan organisasi sosial keagamaan di Indonesia?
  2. Bagaimana perkembangan organisasi kedaerahan di Indonesia?
  3. Bagaimana perkembangan organisasi kepemudaan di Indonesia?
  4. Bagaimana perkembangan organisasi polik di Indonesia?
  1. C.    Tujuan Masalah

Adapun tujuan yang hendak dicapai dalam makalah ini adalah untuk:

  1. Mengetahui perkembangan organisasi keagamaan di Indonesia.
  2. Mengetahui perkembangan organisasi kedaerahan.
  3. Mengetahui perkembangan organisasi kepemudaan.
  4. Mengetahui perkembangan politik di Indonesia.

BAB II

PEMBAHASAN

PERTUMBUHAN ORGANISASI-ORGANISASI NASIONAL

 

  1. A.    Organisasi Sosial Keagamaan

Lahirnya beberapa organisasi Islam di Indonesia lebih banyak karena didorong oleh mulai tumbuhnya sikap patriotisme dan rasa nasionalisme serta sebagai respons terhadap kepincangan–kepincangan yang ada di kalangan masyarakat Indonesia pada akhir abad ke 19 yang mengalami kemunduran total sebagai akibat ekploitasi politik pemerintah kolonial Belanda. Langkah pertama diwujudkan dalam bentuk kesadaran berorganisasi.Walaupun banyak berbagai cara yang di lakukan oleh Belanda dengan tujuan untuk membendung pergolakan rakyat Indonesia ekonomi, politik sosial dan terutama melalui media pendidikan islam namun mereka tidak membawa hasil yang memuaskan, malahan berakibat sebaliknya makin menumbuhkan kesadaran tokoh-tokoh organisasi islam bagaimana untuk melawan penjajah Belanda itu sendiri, dengan cara menumbuhkan dan mengembangkan sikap dan rasa nasionalisme di kalangan rakyat dengan melalui pendidikan.

Dengan sendirinya kesadaran berorganisasi yang dijiwai oleh perasaan nasionalisme yang tinggi, menimbulkan perkembangan dan era baru di lapangan pendidikan dan pengajaran. Dan dengan demikian lahirlah Perguruan-perguruan Nasional, yang di topang oleh usaha-usaha swasta.

  1. 1.      Jami’atul khair

Al-Jami’at al-Khairiyah atau lebih dikenal dengan Jami’atul Khair, didirikan pada tanggal 17 juli 1905. Para pendiri organisasi ini ialah Sayid Muhammad al-Fachir bin Abdurahman al-Masjhur, Sayyid Muhammad bin Abdullah bin Syihab, Sayid Idrus bin Muhammad bin Syihab, dan Sayid Sjehan bin Sjihab. Mayoritas anggota-anggotanya berasal dari Arab, adapun beberapa tokoh anggota dari Indonesia seperti Kh.Ahmad Dahlan, R.Hassan Djayadiningrat, saudara Regen Serang, merupakan anggota Jami’atul Khair pada tahun 1910 yang bersifat pasif[1]. Para anggota dan pemimpin dari organisasi ini umumnya terdiri dari orang-orang yang berada, yang memungkinkan sebagian waktu mereka kepada perkembangan organisasi tanpa merugikan usaha pencaharian nafkah.

Setiap dari mereka gerakan Modernisme Islam termasuk organisasi islam yang beranggoatakan keturunan Arab memiliki karakter gerakan yang berbeda-beda. Ada gerakan Islam yang menekankan pada aspek ekonomi dan politik, ada yang menekankan pada upaya pemurnian ajaran Islam, serta ada yang menekankan pada uapaya pemurnian ajaran Islam, serta ada yang menekankan pada aspek pembaharuan pendidikan Islam. Contoh gerakan Moderenisme Islam yang berdiri pada awal abad ke-20 adalah Jami’atul khair, sebuah organisasi Islam, yang mana organisasi ini sebagai tempat para Ulama dan aktivis yang berjuang dan memperjuangkan pembaharuan dalam segala aspek. Jami’atu khair juga sebagai organisasi Islam pertama di Indonesia yang dikelola dengan sistem (managemen) keorganisasian modern, Jami’atu khair memliki anggaran dasar, anggaran rumah tangga, buku anggota notulensi rapat, iuran anggota dan lembaga kontrol anggota melalui rapat tahunan, dan lain sebagainya. Organisasi ini memantapkan tujuannya pada bidang pendidikan.

Sekolah dasar yang pertama didirikan pada tahun 1905 di Pekojan Jakarta. Beberapa tahun setelah itu, dibuka pula sekolah-sekolah di Krukut, Tanah Abang dan Bogor, pada bulan Rabiul Awal 1329 H, atau bulan Maret 1911 M. Kurikulumnya tidak hanya dalam bidang agama tetapi ilmu umum juga diajarkan. Guru-guru didatangkan dari luar daerah bahkan luar negeri. Seperti H.Muhammad Mansur dari Padang dan tiga orang guru dari Arab bergabung ke Jami’atul Khair, mereka adalah Syaikh Ahmad Surkatti Al-Anshari dari Sudan ditempatkan disekolah Jami’atul khair di Pekojan dan sekaligus sebagai pemilik sekolah-sekolah Jami’atul khair lainnya. Syaikh Muhammad Thaib Al-Maghribi dari Maroko ditempatkan disekolah Krukut dan syaikh Muhammad Abdul Hamid Al-Sudani dari Mekah ditempatkan di sekolah Jami’atul khair di Bogor dan Muhammad al-Hasyimi dari Tunis yang ditempatkan di sekolah tanah Abang. Syaikh Muhammad Thaib tidak tinggal lama di Indonesia, ia meniggalkan Indonesia pada tahun 1913. Sehingga pihak Jami’at mendatangkan kembali guru-guru dari luar negeri sahabat-sahabat Surkati, diantaranya: Muhammad Noor, M.Abd. Fadl, dan Hasan Hamid al-Anshari yang kesemuaanya ditempatkan di Surabaya.

Keempat guru tersebut merupakan pengikut Muhammad Abduh, sehingga dalam pengajarannya mereka lebih menekankan pada pelajaaran ilmu ‘alat untuk memahami sumber-sumber islam. Mereka lebih mengembangkan pengertian dan daya kritik dibanding hafalan. Juga lebih memperjuangkan persamaan sesama muslim dan pemikiran kembali kepada Al-Quran dan Hadits. Pandangan mereka ini menyebabkan pengasingan mereka dari kalangan Sayid Jami’atul Khair yang memandang tentang persamaan ini sebagai ancaman terhadap kedudukan mereka yang lebih tinggi di bandingkan dengan golongan lain dalam masyarakat islam di Jawa.

Jamiatul Khair banyak mendatangkan surat kabar dan majalah dari Timur Tengah. Organisasi ini juga melakukan korespondensi (surat-menyurat) dengan tokoh-tokoh pergerakan dan surat kabar luar negeri. Dengan demikian kabar-kabar mengenai kekejaman penjajah Belanda di Indonesia dapat sampai ke dunia luar, antara lain karena melalui Jamiatul Khair.

Snouck Hurgronje, seorang orientalis yang berperan besar dalam penaklukan Aceh, dengan terang-terangan bahkan menuding Jami’atul Khair membahayakan pemerintah Belanda. Melalui siswa-siswanya, Jami’atul Khair ikut berkontribusi dalam perjuangan membebaskan tanah air dari cengkeraman para penjajah serta melakukan syiar islam ke seluruh nusantara. Karena hal tersebut, terjadi pertikaian antara Ahmad Surkatti beserta keempat sahabatnya dengan pengurus Jami’atul Khair yang lain. Juga karena kekakuan pendapat pada golongan Sayid semakin menyebabkan perpecahan Jam’iat Khair. Disamping itu golongan non-Sayid juga tersadarkan dengan pembedaan kedudukan tersebut sehingga mereka mendirikan organisasi baru yang bernama jjam’iyat al-islam wal ersyad al-arabia atau disingkat al-irsyad.

  1. 2.      Al-Irsyad.

Perhimpunan Al-Irsyad Al-Islamiyyah (Jam’iyat al-Islah wal Irsyad al-Islamiyyah) berdiri pada 6 September 1914 (15 Syawwal 1332 H). Tanggal itu mengacu pada pendirian Madrasah Al-Irsyad Al-Islamiyyah yang pertama, di Jakarta. Pengakuan hukumnya sendiri baru dikeluarkan pemerintah Kolonial Belanda pada 11 Agustus 1915. Tokoh sentral pendirian Al-Irsyad adalah Al-’Alamah Syeikh Ahmad Surkatti Al-Anshori, seorang ulama besar Mekkah yang berasal dari Sudan. Pada mulanya Syekh Surkatti datang ke Indonesia atas permintaan perkumpulan Jami’at Khair-yang mayoritas anggota pengurusnya terdiri dari orang-orang Indonesia keturunan Arab golongan sayyid, dan berdiri pada 1905. Nama lengkapnya adalah Syeikh Ahmad Bin Muhammad Assoorkatty Al-Anshary. Pada awalnya, Ahmad Surkatti tidak menyetujui perpecahan di Jami’atul Khair namun karena pihak Jami’atul Khair yang mulai tidak menginginkannya ia pun keluar dan bergabung dengan al-Irsyad. Al-Irsyad adalah organisasi Islam nasional. Syarat keanggotaannya, seperti tercantum dalam Anggaran Dasar Al-Irsyad adalah: “Warga negara Republik Indonesia yang beragama Islam yang sudah dewasa.” Jadi tidak benar anggapan bahwa Al-Irsyad merupakan organisasi warga keturunan Arab.

Perhimpunan Al-Irsyad mempunyai sifat khusus, yaitu Perhimpunan yang berakidah Islamiyyah dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat, di bidang pendidikan, pengajaran, serta sosial dan dakwah bertingkat nasional. (AD, ps. 1 ayat 2). perhimpunan ini adalah perhimpunan mandiri yang sama sekali tidak mempunyai kaitan dengan organisasi politik apapun juga, serta tidak mengurusi masalah-masalah politik praktis (AD, ps. 1 ayat 3).

Setelah tiga tahun berdiri, Perhimpunan Al-Irsyad mulai membuka sekolah dan cabang-cabang organisasi di banyak kota di Pulau Jawa. Setiap cabang ditandai dengan berdirinya sekolah (madrasah). Cabang pertama di Tegal (Jawa Tengah) pada 1917, dimana madrasahnya dipimpin oleh murid Syekh Ahmad Surkatti angkatan pertama, yaitu Abdullah bin Salim al-Attas. Kemudian diikuti dengan cabang-cabang Pekalongan, Cirebon, Bumiayu, Surabaya, dan kota-kota lainnya. Al-Irsyad di masa-masa awal kelahirannya dikenal sebagai kelompok pembaharu Islam di Nusantara, bersama Muhammadiyah dan Persatuan Islam (Persis). Tiga tokoh utama organisasi ini: Ahmad Surkati, Ahmad Dahlan, dan Ahmad Hassan (A. Hassan), sering disebut sebagai “Trio Pembaharu Islam Indonesia.” Mereka bertiga juga berkawan akrab. Malah menurut A. Hassan, sebetulnya dirinya dan Ahmad Dahlan adalah murid Syekh Ahmad Surkati, meski tak terikat jadwal pelajaran resmi.

Namun demikian, menurut sejarawan Belanda G.F. Pijper, yang benar-benar merupakan gerakan pembaharuan dalam pemikiran dan ada persamaannya dengan gerakan reformisme di Mesir adalah Gerakan Pembaharuan Al-Irsyad.  Sedang Muhammadiyah, kata Pijper, sebetulnya timbul sebagai reaksi terhadap politik pemerintah Hindia Belanda pada waktu itu yang berusaha untuk menasranikan orang Indonesia.

Muhammadiyah lebih banyak peranannya pada pembangunan lembaga-lembaga pendidikan. Sedang Al-Irsyad, begitu lahir seketika terlibat dengan berbagai masalah diniyah. Ofensif Al-Irsyad kemudian telah menempatkannya sebagai pendobrak, hingga pembinaan organisasi agak tersendat. Al-Irsyad juga terlibat dalam permasalahan di kalangan keturunan Arab, hingga sampai dewasa ini ada salah paham bahwa Al-Irsyad merupakan organisasi para keturunan Arab.

Al-Irsyad juga berperan penting sebagai pemrakarsa Muktamar Islam I di Cirebon pada 1922, bersama Syarekat Islam dan Muhammadiyah. Sejak itu pula, Syekh Ahmad Surkatti bersahabat dekat dengan H. Agus Salim dan H.O.S. Tjokroaminoto. Al-Irsyad juga aktif dalam pembentukan MIAI (Majlis Islam ‘A’laa Indonesia) di zaman pendudukan Jepang, Badan Kongres Muslimin Indonesia (BKMI) dan lain-lain, sampai juga pada Masyumi, Badan Kontak Organisasi Islam (BKOI) dan Amal Muslimin. Selaku penganut paham Pan Islam, tentu Syekh Ahmad Surkatti bertahan dengan Islamisme. Semaun berpendirian, hanya dengan komunisme lah Indonesia bisa merdeka. Dua jam perdebatan berlangsung, tidak ditemukan titik temu. Namun Syekh Ahmad Surkatti ternyata menghargai positif pendirian Semaun. “Saya suka sekali orang ini, karena keyakinannya yang kokoh dan jujur bahwa hanya dengan komunisme lah tanah airnya dapat dimerdekakan!” Peristiwa ini sekaligus membuktikan bahwa para pemimpin Al-Irsyad pada tahun 1922 sudah berbicara masalah kemerdekaan Indonesia.

Sejak didirikannya, Al-Irsyad Al-Islamiyyah bertujuan memurnikan tauhid, ibadah dan amaliyah Islam. Bergerak di bidang pendidikan dan dakwah. Untuk merealisir tujuan ini, Al-Irsyad sudah mendirikan ratusan sekolah formal dan lembaga pendidikan non-formal di seluruh Indonesia. Dan dalam perkembangannya kemudian, kegiatan Al-Irsyad juga merambah bidang kesehatan, dengan mendirikan beberapa rumah sakit. Yang terbesar saat ini adalah RSU Al-Irsyad di Surabaya dan RS Siti Khadijah di Pekalongan. Namun perkembangan Al-Irsyad yang awalnya naik pesat, kemudian menurun drastis bersamaan dengan masuknya pasukan pendudukan Jepang ke Indonesia. Apalagi setelah Syekh Ahmad Surkatti wafat pada 1943, dan revolusi fisik sejak 1945. Banyak sekolah Al-Irsyad hancur, diporak-porandakan Belanda karena menjadi markas laskar pejuang kemerdekaan. Sementara beberapa gedung milik Al-Irsyad yang dirampas Belanda, sekarang berpindah tangan, tanpa bisa diambil lagi oleh Al-Irsyad.

  1. 3.      Persyarikatan ulama

Persyarikatan ulama merupakan gerakan pembaharuan yang berdiri didaerah Majalengka, Jawa Barat. Didirikan oleh H. Abul Halim secara resmi pada tahun 1917. Beliau adalah seorang yang berasal dari keluarga yang taat beragama, dilahirkan pada tahun 1887. Ia mendapat pelajaran agama pada masa kanak-kanak dengan belajar di berbagai pesantren di daerah Majalengka sampai usia 22 tahun. Ia juga pergi ke Mekkah untuk menjalankan ibadah haji. Selama di Mekkah, ia juga mengenal tulisan-tulisan M. Abduh dan Jamaluddin al-Afghani, sekalipun demikian, ia tidak terpengaruh dengan pemikiran-pemikiran mereka, ia tetap berpegang teguh pada mazhab Syafi’i. Sepulang dari Mekkah pada tahun 1991, Halim mendirikan sebuah organisasi yang bernama Hayatul Qulub yang bergerak di bidang perekonomian dan pendidikan. Namun, organisasi ini hanya bertahan sekitar 4 tahun karena persaingan dengan pedagang Cina sehingga sering menimbulkan kerusuhan. Oleh karenanya organisasi ini di tutup.

Meskipun telah di tutup, namun eksistensinya masih di akui di masyarakat.
Hingga pada tahun 1917, atas bantuan O.S. Cokroaminoto, organisasi baru bernama Persyarikatan Ulama ini dapat berdiri. Dalam program kerjanya, organisasi ini tidak hanya bergerak dalam bidang pendidikan tetapi juga dalam bidang perekonomian atau keterampilan seperti Hayatul qulub, organisasi sebelumnya. karena Halim memandang bahwa kebanyakan dari lulusan sekolah yang didirikan pemerintah hanya menggantungkan diri kepada lapangan kerja yang disediakan dalam lingkungan pemerintah. Beberapa yayasan dan perusahaan yang ia dirikan diantaranya: yayasan rumah anak yatim yang diselenggarakan oleh Fatimiyah, Santi Asrama, perusahaan tenun, dan lan sebagainya.

  1. 4.      Muhammadiyah

Bulan Dzulhijjah (8 Dzulhijjah 1330 H) atau November (18 November 1912 M) merupakan momentum penting lahirnya Muhammadiyah. Itulah kelahiran sebuah gerakan Islam modernis terbesar di Indonesia, yang melakukan perintisan atau kepeloporan pemurnian sekaligus pembaruan Islam di negeri berpenduduk terbesar muslim di dunia. Sebuah gerakan yang didirikan oleh seorang Kyai Haji Ahmad Dahlan atau Muhammad Darwis dari kota santri Kauman Yogyakarta.[2]

Kata ”Muhammadiyah” secara bahasa berarti ”pengikut Nabi Muhammad”.Penggunaan kata ”Muhammadiyah” dimaksudkan untuk menisbahkan (menghubungkan) dengan ajaran dan jejak perjuangan Nabi Muhammad. Penisbahan nama tersebut menurut H. Djarnawi Hadikusuma mengandung pengertian sebagai berikut: ”Dengan nama itu dia bermaksud untuk menjelaskan bahwa pendukung organisasi itu ialah umat Muhammad, dan asasnya adalah ajaran Nabi Muhammad saw, yaitu Islam. Dan tujuannya ialah memahami dan melaksanakan agama Islam sebagai yang memang ajaran yang serta dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw, agar supaya dapat menjalani kehidupan dunia sepanjang kemauan agama Islam. Dengan demikian ajaran Islam yang suci dan benar itu dapat memberi nafas bagi kemajuan umat Islam dan bangsa Indonesia pada umumnya.

Kelahiran dan keberadaan Muhammadiyah pada awal berdirinya tidak lepas dan merupakan menifestasi dari gagasan pemikiran dan amal perjuangan Kyai Haji Ahmad Dahlan (Muhammad Darwis) yang menjadi pendirinya. Setelah menunaikan ibadah haji ke Tanah Suci dan bermukim yang kedua kalinya pada tahun 1903, Kyai Dahlan mulai menyemaikan benih pembaruan di Tanah Air. Gagasan pembaruan itu diperoleh Kyai Dahlan setelah berguru kepada ulama-ulama Indonesia yang bermukim di Mekkah seperti Syeikh Ahmad Khatib dari Minangkabau, Kyai Nawawi dari Banten, Kyai Mas Abdullah dari Surabaya, dan Kyai Fakih dari Maskumambang; juga setelah membaca pemikiran-pemikiran para pembaru Islam seperti Ibn Taimiyah, Muhammad bin Abdil Wahhab, Jamaluddin Al-Afghani, Muhammad Abduh, dan Rasyid Ridha. Kelahiran Muhammadiyah dengan gagasan-gagasan cerdas dan pembaruan dari pendirinya, Kyai Haji Ahmad Dahlan, didorong oleh dan atas pergumulannya dalam menghadapi kenyataan hidup umat Islam dan masyarakat Indonesia kala itu, yang juga menjadi tantangan untuk dihadapi dan dipecahkan. Adapun faktor-faktor yang menjadi pendorong lahirnya Muhammadiyah ialah antara lain:

  1. Umat Islam tidak memegang teguh tuntunan Al-Quran dan Sunnah Nabi, sehingga menyebabkan merajalelanya syirik, bid’ah, dan khurafat, yang mengakibatkan umat Islam tidak merupakan golongan yang terhormat dalam masyarakat, demikian pula agama Islam tidak memancarkan sinar kemurniannya lagi;
  2. Ketiadaan persatuan dan kesatuan di antara umat Islam, akibat dari tidak tegaknya ukhuwah Islamiyah serta ketiadaan suatu organisasi yang kuat
  3. Kegagalan dari sebagian lembaga-lembaga pendidikan Islam dalam memprodusir kader-kader Islam, karena tidak lagi dapat memenuhi tuntutan zaman;
  4. Umat Islam kebanyakan hidup dalam alam fanatisme yang sempit, bertaklid buta serta berpikir secara dogmatis, berada dalam konservatisme, formalisme, dan tradisionalisme;
  5. 5.      Persis

Lahirnya Persis Diawali dengan terbentuknya suatu kelompok tadarusan (penalaahan agama Islam di kota Bandung yang dipimpin oleh H. Zamzam dan H. Muhammad Yunus, dan kesadaran akan kehidupan berjamaah, berimamah, berimarah dalam menyebarkan syiar Islam, menumbuhkan semangat kelompok tadarus ini untuk mendirikan sebuah organisasi baru dengan cirri dan karateristik yang khas.

Pada tanggal 12 September 1923, bertepatan dengan tanggal 1 Shafar 1342 H, kelompok tadarus ini secara resmi mendirikan organisasi yang diberi nama “Persatuan Islam” (Persis). Nama persis ini diberikan dengan maksud untuk mengarahkan ruhul ijtihad dan jihad, berusaha dengan sekuat tenaga untuk mencapai harapan dan cita-cita yang sesuai dengan kehendak dan cita-cita organisasi, yaitu persatuan pemikiran Islam, persatuan rasa Islam, persatuan suara Islam, dan persatuan usaha Islam. Pada dasarnya, perhatian Persis ditujukan terutama pada faham Al-Quran dan Sunnah. Hal ini dilakukan berbagai macam aktifitas diantaranya dengan mengadakan pertemuan-pertemuan umum, tabligh, khutbah, kelompok studi, tadarus, mendirikan sekolah-sekolah (pesantren), menerbitkan majalah-majalah dan kitab-kitab, serta berbagai aktifitas keagamaan lainnya. Tujuan utamanya adalah terlaksananya syariat Islam secara kaffah dalam segala aspek kehidupan.Untuk mencapai tujuannya Persis mendirikan berbagai pendidikan.

Kepemimpinan Persis periode pertama (1923 1942) berada di bawah pimpinan H. Zamzam, H. Muhammad Yunus, Ahmad Hassan, dan Muhammad Natsir yang menjalankan roda organisasi pada masa penjajahan kolonial Belanda, dan menghadapi tantangan yang berat dalam menyebarkan ide-ide dan pemikirannya. Pada masa pendudukan Jepang (1942-1945), ketika semua organisasi Islam dibekukan, para pimpinan dan anggota Persis bergerak sendiri-sendiri menentang usaha Niponisasi dan pemusyrikan ala Jepang. Hingga menjelang proklamasi kemerdekaan Pasca kemerdekaan. Persis mulai melakukan reorganisasi untuk menyusun kembali system organisasi yang telah dibekukan selama pendudukan Jepang, Melalui reorganisasi tahun 1941, kepemimpinan Persis dipegang oleh para ulama generasi kedua diantaranya KH. Muhammad Isa Anshari sebagai ketua umum Persis (1948-1960), K.H.E. Abdurahman, Fakhruddin Al-Khahiri, K.H.O. Qomaruddin Saleh, dll. Pada masa ini Persis dihadapkan pada pergolakan politik yang belum stabil; pemerintah Republik Indonesia sepertinya mulai tergiring ke arah demokrasi terpimpin yang dicanangkan oleh Presiden Soekarno dan mengarah pada pembentukan negara dan masyarakat dengan ideology Nasionalis, Agama, Komunis (Nasakom).

Setelah berakhirnya periode kepemimpinan K.H. Muhammad Isa Anshary, kepemimpinan Persis dipegang oleh K.H.E. Abdurahman (1962-1982) yang dihadapkan pada berbagai persoalan internal dalam organisasi maupun persoalan eksternal dengan munculnya berbagai aliran keagamaan yang menyesatkan seperti aliran pembaharu Isa Bugis, Islam Jama’ah, Darul Hadits, Inkarus Sunnah, Syi’ah, Ahmadiyyah dan faham sesat lainnya.

Kepemimpinan K.H.E. Abdurahman dilanjutkan oleh K.H.A. Latif Muchtar, MA. (1983-1997) dan K.H. Shiddiq Amien (1997-2005) yang merupakan proses regenerasi dari tokoh-tokoh Persis kepada eksponen organisasi otonom kepemudaannya. (Pemuda Persis). Pada masa ini terdapat perbedaan yang ckup mendasar: jika pada awal berdirinya Persis muncul dengan isu-isu kontrobersial yang bersifat gebrakan shock therapy paa masa ini Persis cenderung ke arah low profile yang bersifrat persuasive edukatif dalam menyebarkan faham-faham al-Quran dan Sunnah.

  1. 6.      Nahdatul Ulama

Nahdlatul Ulama (Kebangkitan Ulama atau Kebangkitan Cendekiawan Islam), disingkat NU, yang didirikan oleh KH.Hassyim Asy’ary merupakan sebuah organisasi Islam besar di Indonesia. Organisasi ini berdiri pada 31 Januari 1926 dan bergerak di bidang pendidikan, sosial, dan ekonomi.[3]

Keterbelakangan baik secara mental, maupun ekonomi yang dialami bangsa Indonesia, akibat penjajahan maupun akibat kungkungan tradisi, telah menggugah kesadaran kaum terpelajar untuk memperjuangkan martabat bangsa ini, melalui jalan pendidikan dan organisasi. Gerakan yang muncul 1908 tersebut dikenal dengan “Kebangkitan Nasional”. Semangat kebangkitan memang terus menyebar ke mana-mana – setelah rakyat pribumi sadar terhadap penderitaan dan ketertinggalannya dengan bangsa lain. Sebagai jawabannya, muncullah berbagai organisasi pendidikan dan pembebasan. Kalangan pesantren yang selama ini gigih melawan kolonialisme, merespon kebangkitan nasional tersebut dengan membentuk organisasi pergerakan, seperti Nahdlatul Wathan (Kebangkitan Tanah Air) pada 1916. Kemudian pada tahun 1918 didirikan Taswirul Afkar atau dikenal juga dengan “Nahdlatul Fikri” (kebangkitan pemikiran), sebagai wahana pendidikan sosial politik kaum dan keagamaan kaum santri. Dari situ kemudian didirikan Nahdlatut Tujjar, (pergerakan kaum saudagar). Serikat itu dijadikan basis untuk memperbaiki perekonomian rakyat. Dengan adanya Nahdlatul Tujjar itu, maka Taswirul Afkar, selain tampil sebagai kelompok studi juga menjadi lembaga pendidikan yang berkembang sangat pesat dan memiliki cabang di beberapa kota.

Berangkan komite dan berbagai organisasi yang bersifat embrional dan ad hoc, maka setelah itu dirasa perlu untuk membentuk organisasi yang lebih mencakup dan lebih sistematis, untuk mengantisipasi perkembangan zaman. Maka setelah berkordinasi dengan berbagai kyai, akhirnya muncul kesepakatan untuk membentuk organisasi yang bernama Nahdlatul Ulama (Kebangkitan Ulama) pada 16 Rajab 1344 H (31 Januari 1926). Organisasi ini dipimpin oleh K.H. Hasyim Asy’ari sebagai Rais Akbar. Untuk menegaskan prisip dasar organisasi ini, maka K.H. Hasyim Asy’ari merumuskan kitab Qanun Asasi (prinsip dasar), kemudian juga merumuskan kitab I’tiqad Ahlussunnah Wal Jamaah. Kedua kitab tersebut kemudian diejawantahkan dalam khittah NU, yang dijadikan sebagai dasar dan rujukan warga NU dalam berpikir dan bertindak dalam bidang sosial, keagamaan dan politik.

NU menganut paham Ahlussunah waljama’ah, sebuah pola pikir yang mengambil jalan tengah antara ekstrem aqli (rasionalis) dengan kaum ekstrem naqli (skripturalis). Karena itu sumber pemikiran bagi NU tidak hanya al-Qur’an, sunnah, tetapi juga menggunakan kemampuan akal ditambah dengan realitas empirik. Cara berpikir semacam itu dirujuk dari pemikir terdahulu seperti Abu Hasan Al-Asy’ari dan Abu Mansur Al-Maturidi dalam bidang teologi. Kemudian dalam bidang fiqih lebih cenderung mengikuti mazhab: imam Syafi’i dan mengakui tiga madzhab yang lain: imam Hanafi, imam Maliki,dan imam Hanbali sebagaimana yang tergambar dalam lambang NU berbintang 4 di bawah. Sementara dalam bidang tasawuf, mengembangkan metode Al-Ghazali dan Junaid Al-Baghdadi, yang mengintegrasikan antara tasawuf dengan syariat. Gagasan kembali kekhittah pada tahun 1984, merupakan momentum penting untuk menafsirkan kembali ajaran ahlussunnah wal jamaah, serta merumuskan kembali metode berpikir, baik dalam bidang fikih maupun sosial. Serta merumuskankembali hubungan NU dengan negara. Gerakan tersebut berhasil kembali membangkitkan gairah pemikiran dan dinamika sosial dalam NU.

Program organisasi.

  1. Di bidang agama, melaksanakan dakwah Islamiyah dan meningkatkan rasa persaudaraan yang berpijak pada semangat persatuan dalam perbedaan.
  2. Di bidang pendidikan, menyelenggarakan pendidikan yang sesuai dengan nilai-nilai Islam, untuk membentuk muslim yang bertakwa, berbudi luhur, berpengetahuan luas. Hal ini terbukti dengan lahirnya Lembaga-lembaga Pendidikan yang bernuansa NU dan sudah tersebar di berbagai daerah khususnya di Pulau Jawa.
  3. Di bidang sosial budaya, mengusahakan kesejahteraan rakyat serta kebudayaan yang sesuai dengan nilai keislaman dan kemanusiaan.
  4. Di bidang ekonomi, mengusahakan pemerataan kesempatan untuk menikmati hasil pembangunan, dengan mengutamakan berkembangnya ekonomi rakyat. Hal ini ditandai dengan lahirnya BMT dan Badan Keuangan lain yang yang telah terbukti membantu masyarakat.
  5. Mengembangkan usaha lain yang bermanfaat bagi masyarakat luas. NU berusaha mengabdi dan menjadi yang terbaik bagi masyrakat.
  6. 7.      Al-Wasliyah.

Al Jam`iyatul Washliyah merupakan organisasi kemasyarakatan dengan amal ittifaknya yaitu pendidikan, dakwah dan amal sosial yang didirikan oleh pelajar-pelajar Maktab Islamiah Tapanuli Medan, Sumatera Utara pada tanggal 9 Rajab 1349 H bertepatan tanggal 30 Nopember 1930 dan organisasi tersebut diberi nama ALJAM`IYATUL WASHLIYAH (Al Washliyah) oleh Ulama Besar Shyeh H. Muhammad Yunus. Dan mejadi landasan gerakan perjuangannya adalah Quran Surat Asshof ayat 10-11.

Memperhatikan salah satu seruan dan petunjuk Allah Swt sebagaimana tertulis pada ayat diatas dapat dipahami bahwa untuk mencapai kesusksesan hidup didunia dan akhirat setidak-tidaknya harus terpenuhi dua syarat, yang pertama beriman kepada Allah dan RasulNya, sedangkan yang kedua adalah berjuang secara sungguh-sungguh (berjihad) dengan menyumbangkan harta, tenaga, pikiran, pengetahuan, keahlian, keterampilan dan sebagainya. Jihad yang dimaksud bukan hanya berangkat ke medan perang tetapi memperdalam pengetahuan dan mengembangkan pendidikan merupakan bagian dari jihad. Al-Wasliyah dan Perkembangannya di Indonesia. Dilihat aspek pengembangan pemikiran keagamaan, Al-Washliyah pun berada di garda depan. Di zaman Belanda Al-Washliyah berhasil upaya de-mistifikasi (penghancuran berpikir mistik) dengan gerakan rasionalisasinya, tetap tetap berpijak pada konsep Al-Qur’an dan As-Sunnah. Dengan pola pikir yang rasional tetapi tetap mengedepankan jiwa kemanusiaan (kecerdasan emosional), Al-Washliyah berhasil membawa umat sedikit demi sedikit untuk mempergunakan nalar rasional dengan inspirasi ajaran Qur’an dan Sunah.

Dari pola pemikiran rasional tsb gerakan Al-Washliyah telah “membangunkan” kesadaran umat Islam yang sebelumnya lebih terkesan tertinggal dan menjauhi kemajuan modern dalam pengembangan sains dan teknologi. Sehingga perlahan Al-Washliyah bisa membawa umat dan bangsa untuk mensejajarkan umat dan bangsa ini dengan umat dan bangsa lainnya. Bahkan peranan Al-Washliyah sampai kini tetap menjadi harapan umat dan bangsa, selain ormas Islam lainnya seperti NU, Persis, SI dan lain-lain. Terlebih dalam menyikapi isu-isu nasionaol dan internasional selalu tampil di depan sebagai pelopornya. Baik secara kelembagaan ataupun yang diperankan individu kader-kadernya.

Analisis tersebut wajar. Sebab dalam rentang usianya mendekati satu abad, Al-Washliyah telah, sedang dan akan terus mengahasilkan kader-kader intelektual bagi umat dan bangsa. Dari latar belakang tersebut di atas, bila meminjam teori Hero (Tokoh) nya Thomas Carlyle bahwa pemimpin besar (The Great Man) sebagai penggerak idea akan terjadi perubahan sejarah. Bahwa idea dapat membangkitkan gerak sejarah suatu bangsa, jika ada penggeraknya yaitu pemimpin besar.

Seperti halnya ajaran Islam, tidak akan berkembang tanpa kehadiran dan peranan pemimpin besarnya, nabi Muhammad. Dengan memakai pendekatan teori sejarah ini, maka gerakan Al-Washliyah tidak akan berkembang dan berpengaruh besar sampai kini jika tanpa kehadiran ideolog dan penggerak awalnya. Karena itu mencermati dan melakukan studi atas pemikiran Para Pendiri Al-Washliyah menjadi penting dilakukan. Ini akan berguna untuk memahami dinamika perkembangan Al-Washliyah khususnya, dan dinamika umat Islam dan bangsaIndonesia.

Selain itu juga tujuan asasi pendirian Al-Washliyah untuk melaksanakan tuntunan Islam dalam meraih kebahagiaan hidup dunia dan akhirat nampaknya telah mengalami pergeseran yang cukup darastis dari kehidupan dunia kepada kehampaan hidup (dari dunia untuk dunia), karena jalan untuk meraih kedua kehidupan tersebut diperlukan Sumber Daya Manusia (SDM) yang benar-benar mampu mengelola alam dan lingkungan sebagaimana salah aspek kestagnasian Al-Washliyah ini bersumber dari ketiadaan atau ketidak siapan diri dalam melakukan aksi inovatif kreatif yang mampu membangun Al-Washliyah untuk lebih baik dari sebelumnya. Sedangkan pada aspek tabligh, tazkir, dan pengajian di tengah masyarakat yang merupakan agenda dasar Al-Washliyah juga telah melemah dalam artian aktifitas lebih cenderung dilakukan kepada orientasi lain bersifat profan hanya mendatangkan keuntungan pribadi dengan meninggalkan keutuhan dan integritas umat yang merupakan bangunan fundamen dalam menata masyarakat yang adil dan beradab dalam bingkai kepatuhan kepada Tuhan sebagai bentuk masyarakat madani yang tercerahkan pemikirannya.

Demikian juga cita luhur Al-Washliyah untuk membangun Perguruan Tinggi sebagai upaya kesempurnaan pelajaran, pendidikan dan kebudayaan juga nampaknya merupakan upaya yang belum dapat disebut berhasil walaupun sebenarnya dari dahulu sudah ada Perguruan Tinggi Al-Washliyah akan tetapi keberadaannya yang belum siap untuk bersaing dengan Perguruan Tinggi lain yang kondisi ini muncul dari minimnya tenaga ahli yang mampu mengelola dan memajukan lembaga tersebut, serta ditambah kurangnya sarana fisik yang menunjang semakin memperburuk keadaan Perguruan Tinggi Al-Washliyah hari ini, walaupun sebenarnya telah dilakukan inovasi kearah perbaikan. Demikian juga aktifitas lain yang dirintis Al-Washliyah dalam menyatuni fakir miskin, memelihara dan mendidik anak yatim, menyampaikan seruan Islam kepada orang yang belum beragama, mendirikan dan perbaiki tempat ibadah sangat jauh dari apa yang diinginkan para pendahulu khususnya dalam menyantuni anak yatim lebih terkesan tanpa adanya manajemen memadai dalam bentuk pemberian keterampilan kepada anak-anak yang diasuh berakibat saat anak sudah meninggalkan Al-Washliyah sulit untuk berpartisipasi dalam memajukan yang semestinya sudah menjadi tanggung kolektif atau minimal sebagai beban moral masyarakat Al-Washliyah.

  1. B.     Organisasi Kepemudaan dan Kedaerahan
  2. 1.      Tri Korodharmo Dan Jong Java

TRI KORO DHARMO (Tiga Tujuan Mulia),organisasi ini  didirikan pada 17 Maret 1915 oleh R. Satiman Wirjosandjojo, Kadarman, dan Soenardi, di Jakarta. Tujuan dasar dari organisasi ini ialah memiliki cita-cita yang tertuju pada cinta tanah air, memperluas persaudaraan dan mengembangkan kebudayaan Jawa. Dalam pelaksanaanya Tri Koro Dharmo lebih bersifat Jawa sentries atau untuk menyatukan para pelajar pribumi di sekolah-sekolah menengah dan institusi-intitusi kejuruan; untuk memperluas pengetahuan umum para anggotanya, dan untuk membangkitkan rasa persaudaraan di antara semua bahasa dan budaya di Hindia-sekarang Indonesia- (Poerbopranoto, 1981:23-26).

Sifat Jawa sentris yang kental dalam Tri Koro Dharmo menimbulkan ketidak senangan di kalangan pemuda di luar suku Jawa, seperti pemuda-pemuda suku Sunda, Madura, dan Bali. Untuk menghindari perpecahan antara pemuda-pemuda suku Jawa dan non-Jawa dalam tubuh Tri Koro Dharmo, pada kongresnya yang pertama di Surakarta, pada 12 Juni 1918 mengubah organisasinya menjadi Jong Java. Sebagai organisasi kepemudaan yang ditujukan bagi pelajar-pelajar sekolah menengah, Jong Java juga hidup dalam lingkungan STOVIA.[4]

Pada awalnya Jong Java enggan menjadi organisasi politik. Terbukti pada kongres Mei 1922 disepakati, para anggota Jong Java dilarang menjalankan politik praktis, apalagi menjadi anggota perkumpulan politik. Alasannya agar pemerintah colonial saat itu mau mengakuinya sebagai badan hukum, setelah anggaran dasarnya berubah dan disesuaikan dengan permintaan pemerintah Hindia-Belanda. Namun tngginya semangat zaman saat itu mau tak mau menyeret Jong Java dalam gerakan politik. Pada kongres VII 1924 ada anggota yang memberi usulan, Jong Java tetap tidak menjadi perkumpulan politik, tetapi kebebasan politik diberikan kepada anggotanya yang sudah cukup dewasa. Hal ini menjadi pilihan bijak untuk mengakomodasi berbagai kepentingan, sehingga dapat mencegah terjadinya pertentangan, atau bahkan perpecahan.

Jong Java merupakan organisasi pemuda Indonesia pertama yang bersikap netral dalam asas kebangsaan. menurut anggaran dasar yang ditetapkan pada kongres Jong Java keempat di Bandung (1921), Jong Java bertujuan membangun cita-cita Jawa Raya dengan jalan mengembangkan rasa bersatu di antara golongan-golongan orang Indonesia di Jawa, Madura, dan Bali untuk mencapai kemakmuran dan kekayaan batin. Namun pada kenyataannya, perhimpunan pelajar seperti tiu tak dapat menghindar dari para penunggang kepentingan. Dengan segera organisasi tersebut menjadi medan pertempuran dalam persaingan pengaruh terutama kalangan priyai konservatif, misi-misi Kristen, dan para da’I reformis-modernis Islam.[5]

Pada Desember 1924 Jong Java menyelenggarakan kongres tahunannya di Yogyarkarta. Dalam kongres yang ketujuh itu, Sjamsuridjal yang menjabat sebagai ketua jong java melontarkan gagasannya untuk menyelenggarakan kursus agama Islam dikalangan pemuda Islam.

Usul ini muncul sebagai pertimbangan bahwa sebagai calon pemimpin masyarakat, anggota Jong Java hendaklah memahami masyarakat yang akan dipimpinnya dengan mengenal sikap, kecenderungan, serta keyakinan masyarakat itu, dan lebih banyak bergaul dengan mereka. Kedua segi ini hanya dapat dikembangkan apabila mereka lebih mengenal agama yang dianut oleh sebagian masyarakat itu, yaitu Islam. Sjamsuridjal berpendapat bahwa usul ini wajar dan dapat dipertanggungjawabkan karena pendeta-pendeta Katolik dan Protestan juga telah mengadakan kursus agama mereka untuk anggota-anggota peminat dari Jong Java.[6]

Berkaitan dengan usul tersebut, kongres kemudian mengadakan pemungutan suara. Usul Sjamsuridjal akhirnya ditolak setelah dalam dua kali pemungutan suara ternyata dihasilkan jumlah suara yang sama antara yang setuju dan yang tidak setuju. Namun akhirnya keputusan tersebut menjadi ilham bagi para pemuda Islam untuk mendirikan Jong Islamiten Bond.

  1. 2.      Jong Sumatranen Bond

Jong Sumatranen Bond berdiri di Batvia-sekarang Jakarta pada 9 Desember 1917. Organisasi pelajar sumatera ini pada awalnya diragukan banyak pihak, Namun pada perkembangannya organisasi ini menyebar hingga ke daerahnya yakni Sumatera. Nazir Pamontjak yang saat itu berencana melakukan perjalanan menuju Leiden untuk melanjutkan study­-nya di bidang Ilmu Hukum, terpaksa menunda keberangkatannya dikarenakan situasi Perang Dunia I; tidak memungkinkan baginya untuk melakukan perjalanan ke Eropa.

Oleh sebab itu penundaan keberangkatannya dimanfaatkannya untuk pulang ke kampung halamannya untuk menemui keluarga, pada kesempatan itu ia diminta oleh pengurus Jong Sumatranen Bond untuk mengenalkan organisasi tersebut kepada para pelajar di Sumatera dan mendirikan cabang-cabangnya. Sambutan hangat ia dapatkan dari Engku Marah Sutan. Dengan dukungannya, diselenggarakanlah sebuah rapat dimana Nizar menguraikan maksud dan tujuan Jong Sumatranen Bond kepada murid-murid sekolah menengah yang ada di Padang, salah satunya Sekolah Raja Bukit tinggi.

Sebagaimana biasa pada rapat-rapat murid sekolah menengah pada waktu itu, pidato Nazir Dt. Pamontjak diucapkan dalam bahasa Belanda. Ia memulai uraiannya dengan kata yang sugestif bahwa pemuda Sumatera sudah terlambat, dua tahun terlambat. Pemuda Jawa sudah mendirikan perkumpulan pada tahun 1915. Pemuda Sumatera harus mengejar, dan keinsafan itulah yang mendorong lahirnya Jong Sumatranen Bond pada tanggal 9 Desember 1917. Lalu ia memberikan penjelasan yang panjang lebar tentang tujuan Jong Sumatranen Bond dan jalan yang akan ditempuhnya untuk mencapai tujuan itu.

Tujuan Jong Sumatranen Bond ialah :[7]

  1. Memperkuat pertalian antara pemuda Sumatera yang masih belajarserta menanamkan keinsafan dalam jiwanya bahwa mereka mempunyai seruan hidup untuk menjadi pemimpin dan pendidik bangsanya.
  2. Menimbulkan perhatian kepada anggotanya dan orang lain terhadap tanah dan bangsa Sumatera dan untuk mempelajari adat istiadat Sumatera, kesenian, bahasa-bahasa, pertanian, dan sejarahnya.

Jong Sumatranen akan berusaha mencapai tujuannya itu dengan memerangi keangkuhan suku bangsa yang merasa lebih tinggi sukunya dari suku-suku lain di antara penduduk sumatera, dengan memperkuat rasa persatuan di antara mereka, dengan ikut berusaha untuk mengangkat derajat bangsa Sumatera dan melakukan propaganda dengan memberikan kursus, pidato-pidato, dan lain-lain.

Sehabis pidato Nazir Pamontjak itu, yang memakan waktu kira-kira satu jam, terasa olehku seolah-olah suatu tugas baru terbentang di muka pemud Sumatera. Mereka harus mempersiapkan diri untuk menjadi pemimpin dan pendidik guna mengangkat derajat bangsanya yang masih terbelakang. Jong Sumatranen Bond memiliki enam cabang, empat di Jawa, dua di Sumatera yakni Padang dn Bukittinggi.

Jong Sumatra terbit pertama kali pada bulan Januari 1918. Dengan jargon Organ van Den Jong Sumatranen Bond, surat kabar ini terbit secara berkala dan tidak tetap, terkadang bulanan, terkadang triwulan, bahkan pernah terbit setahun sekali. Bahasa Belanda merupakan bahasa mayoritas yang digunakan kendati ada juga artikel yang memakai bahasa Melayu. Jong Sumatra dicetak di WeltevredenBatavia, sekaligus pula kantor redaksi dan administrasinya[8]

Mulanya, dewan redaksi Jong Sumatra juga merupakan pengurus (centraal hoofbestuur) JSB. Mereka itu adalah Tengkoe Mansyur (ketua), A. Munir Nasution (wakil ketua), Mohamad Anas (sekretaris I), Amir (sekretaris II), dan Marzoeki (bendahara), serta dibantu beberapa nama lain. Keredaksian Jong Sumatra dipegang oleh Amir, sedangkan administrasi ditangani Roeslie. Mereka ini rata-rata adalah siswa atau alumni STOVIA serta sekolah pendidikan Belanda lainnya. Setelah beberapa edisi, keredaksian Jong Sumatra dipisahkan dari kepengurusan JSB meski tetap ada garis koordinasi. Pemimpin redaksi pertama adalah Mohammad Amir dan pemimpin perusahaan dijabat Bahder Djohan.[9]

Surat kabar Jong Sumatra memainkan peranan penting sebagai media yang menjembatani segala bentuk reaksi atas konflik yang terjadi. Dalam Jong Sumatra edisi 12, th 1, Desember 1918, seseorang berinisial Lematang mempertanyakan kepentingan kaum adat. Sambutan positif juga datang dari Mohamad Anas, sekretaris JSB. Anas mengatakan dengan lantang bahwa bangsa Sumatera sudah mulai bangkit dari tiduranya, dan sudah mulai memandang keperluan umum.

Sumatra memang dikenal banyak menghasilkan jago-jago pergerakan, dan banyak di antaranya yang mengawali karier organisasinya melalui JSB, seperti Mohammad Hatta dan Mohammad Yamin. Hatta adalah bendahara JSB di Padang 1917-1918. Kemudian ia menjadi pengurus JSB Batavia pada 1919 dan mulai mengurusi Jong Sumatra sejak 1920 hingga 1921. Selama di Jong Sumatra inilah Hatta banyak menuangkan segenap alam pikirannya, salah satunya lewat karangan berjudul “Hindiana” yang dimuat di Jong Sumatra no 5, th 3, 1920.

Sedangkan Mohammad Yamin adalah salah satu putra Sumatra yang paling dibanggakan. Karya-karyanya yang berupa esai ataupun sajak sempat merajai Jong Sumatra. Ia memimpin JSB pada 1926-1928 dan dengan aktif mendorong pemikiran tentang perlunya bahasa Indonesia digunakan sebagai bahasa persatuan. Kepekaan Yamin meraba pentingnya bahasa identitas sudah mulai terlihat dalam tulisannya di Jong Sumatra no 4, th 3, 1920. Jong Sumatra berperan penting dalam memperjuangkan pemakaian bahasa nasional, dengan menjadi media yang pertama kali mempublikasikan gagasan Yamin, mengenai bahasa Melayu sebagai bahasa persatuan.

  1. 3.      Jong Celebes

Artinya Celebes Muda atau Pemuda Celebes, yaitu organisasi yang menghimpun pemuda-pemuda pelajar yang berasal dari seluruh pulau Celebes (Sulawesi), sehingga jangkauannya lebih luas dari Jong Minahasa. Maksud dan tujuannya adalah mempererat rasa persatuan dan tali persaudaraan di kalangan pemuda-pemuda (pelajar) yang berasal dari Pulau Celebes atau Sulawesi. Tokoh-tokohnya yang terkenal antara lain Waroruntu (Pendiri), Arnold Mononutu, R.C.L. Senduk (yang turut berperan dalam terlaksananya Kongres Pemuda II), dan Magdalena Mokoginta atau dikenal dengan Ibu Sukanto (Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia yang pertama).

Media cetak yang diterbitkannya dengan nama “Pewarta Celebes” turut banyak memberikan kontribusi bagi perkembangan Nasionalisme di wilayah Indonesia Timur.[10]

  1. 4.      Studi Club Surabaya dan Bandung

Studi Club pertama didirikan oleh mantan aktivis IV/PI (Indische Vereeniging/Perhimpunan Indonesia) Sutomo yang telah pulang dari negeri Belanda pada 1923, dengan nama Indonesische Studieclub (ISC) dan majalahnya, Soeloeh (Ra’jat) Indonesia. Studi Club ini didirikan di Surabaya pada Juli 1924.

Studi Club ini didirikan dengan tujuan untuk memajukan kesadaran akan Indonesia sebagai sebuah bangsa dan untuk memajukan rasa tanggung jawab sosio-politik di kalangan orang Jawa yang berpendidikan Barat. Dalam rangka mencari jawaban atas problem-problem bangsa, klub ini menekankan pada nilai praktis dari pengetahuan.

Pembentukan Studi Club di Surabaya ini ini dengan cepat menular. Beberapa Studi Club yang sama muncul di kota-kota seperti Surakarta, Yogyakarta, Batavia, Semarang, dan Bogor. Namun klub yang paling terkenal ialah Algemene Studieclub (ASC).

Algemene Studieclub berdiri di Kota Bandung pada bulan November 1926. Tokoh awal dari klub ini ialah Iskak Tjokroadisurjo, seorang mantan aktivis PI yang telah kembali ke Tanah Air pada 1925. Namun para penggerak paling aktif dari klub ini ialah para mahasiswa Bandung, khususnya dua mahasiswa teknik dan arsitektur dari Techniches Hogere School (THS)-sekarang ITB, yakni Sukarno dan Anwari. Selain melibatkan para anggota PI dan mahasiswa radikal di Bandung, klub ini juga didukung oleh kehadiran mentor nasionalis dari kalangan tua, yaitu Tjipto Mangunkusumo. Dalam tahap-tahap pembentukanya Iskak memang diangkat menjadi ketua dari klub itu. Namun kelak Sukarno-lah yang menjadi tokoh dominan klub tersebut. Seperti halnya para aktivis mahasiswa di luar negeri yang terobsesi dengan ide tentang blok nasional, Sukarno dan para mahasiswa aktivis lainnya di Hindia juga menganut ideal yang sama. Pada 1926, Sukarno menulis sebuah esai dalam majalah milik ASC, Indonesia Moeda, dengan udul “Nasionalisme, Islamisme, dan Marxisme” yeng mengidealkan sentesis dari ideologi-ideologi besar tersebut demi terbangunnya blok Nasional. Tulisan tersebut mencerminkan pemikiran dari banyak anggota ASC.

Pada saat bersamaan, usaha untuk membuat sebuah blok nasional dilakukan oleh ISC ketika klub itu mengirimkan sekretarisnya, P.P. Singgih (mantan aktivis PI) untuk mempromosikan pendirian dan penyatuan studi club-studi club lewat perjalanan keliling Jawa yang dilakukannya sekitar pertengahan dekade 1920-an. Kampanye ini bergema di Bandung ketika beragam study club dan organisasi pemuda pelajar, serta organisasi social-politik (BU, SI, Muhammadiyah, Pasundan) membentuk “Komite Persatuan Indonesia” pada 1926.[11]

  1. 5.      Perhimpunan Indonesia

Organisasi ini berdiri di Belanda pada tahun 1908 dengan nama INDISCHE VEREENIGING tanpa tujuan politik dan legih banyak sebagai wadah berkumpulnya sesama pelajar Belanda asal Indonesia atau forum sosio-kultural “dimana sejumlah kecil mahasiswa Hindia bisa bersantai bersama sambil terus mengikuti kabar-kabar terbaru dari Tanah Air” (Ingleson, 1979:1). Saat itu jumlah pelajar Indonesia di Belanda masih sedikit, namun setelah berakhirnya Perang Dunia I jumlah mereka terus bertambah dengan pesatnya.

Meskipun pada awal berdirinya hanya sebatas tempat berkumpul untuk mempererat persatuan, namun perlahan organisasi ini merambah dunia politik seiring dengan bertambahnya pandangan mereka terhadap dunia politik. Atmosfer pergerakan mulai mewarnai Indische Vereeniging semenjak tibanya tiga tokoh Indische Partij (Suwardi Suryaningrat, Douwes Dekker, dan Tjipto Mangunkusumo) di Belanda pada 1913 sebagai eksterniran akibat kritik mereka lewat tulisan di koran De Expres. Aktivitas politik mereka semakin menjadi-jadi saat A. Soebardjo pada 1919 dan Mohammad Hatta pada 1921 datang ke Belanda sebagai Mahasiswa.[12]

Mereka juga menerbitkan majalah bulanan Hindia Putera (1916). Tahun berikutnya (November 1917) didirikan VERBOND VAN STUDEEREN (Ikatan Pelajar-pelajar), yang  merupakan gabungan antara Indische Vereeniging dan organisasi organisasi pelajar Cina dan Belanda. Namun sejalan dengan semakin meresapnya kesadaran politik, kesadaran nasional, gagasan non-kooperasi di kalangan mahasiswa Indonesia, secara berangsur mahasiswa Belanda keluar, maka hilanglah kerja sama antara perhimpunan tersebut. Sementara itu, nasionalisme telah berakar; perasaan sukuisme sudah melenyap. Pada tahun 1922 organisasi yang dikenal dengan nama INDISCHE VEREENIGING  ini diganti dengan INDONESISCHE VEREENIGING, dalam pengurusnya duduk Iwa Kusumasumantri, Sitanala, Moh. Hatta, Sastromulyonodan Darmawan Mangunkusumo. Organisasi ini merupakan organisasi nasionalis Asia yang paling awal menuntut kemerdekaan yang segera dan tanpa syarat. Sartono Kartodirdjo menganggap Manifesto Politik 1925 adalah tonggak sejarah yang lebih penting daripada Sumpah Pemuda. Manifesto itu dikemukakan Perhimpunan Indonesia di Belanda yang Intinya :

  1. Rakyat Indonesia sewajarnya diperintah oleh pemerintah yang dipilih mereka sendiri.
  2. Dalam memperjuangkan pemerintahan sendiri itu tidak diperlukan bantuan dari pihak mana pun.
  3. Tanpa persatuan kukuh dari pelbagai unsure rakyat, tujuan perjuangan itu sulit dicapai.

Dalam tahun 1925 banyak terjadi hal-hal bersangkut dengan Perhimpunan Indonesia. Orang tua anggota banyak yang diancam oleh pemerintah jajahan. Mereka yang menjadi pegawai negeri disuruh memilih antara anaknya tetap menjadi anggota Perhimpunan Indonesia atau mereka sendiri keluar dari jabatan Negara. Antara lain yang kena ancam ialah ayahnya Arnold Mononutu. Ayahnya menjadi komis pada Kantor Residen di Manado. Ia disuruh memilih, keluar dari Perhimpunan Indonesia atau apabila ia tetap menjadi anggota, mulai dari bulan berikut, tidak akan mendapat kiriman belanja lagi dari rumah. Belanjanya sebulan ialah f.200,-. Mononutu membalas surat ayahnya bahwa ia menjadi anggota Perhimpunan Indonesia atas keyakinannya dan ia tidak dapat lagi mengundurkan diri. Dan karena itu ia memaafkan ayahnya apabila ia memutuskan kiriman uang belanja kepadanya.

  1. C.    Organisasi Politik
  2. 1.      Budi Utomo.

Pada tahun 1906 Mas Ngabehi Wahidin Sudirohusodo, merintis mengadakan kampanye menghimpun dana pelajar (Studie Fund) di kalangan priyayi di Pulau Jawa. Upaya dr. Wahidin ini bertujuan untuk meningkatkan martabat rakyat dan membantu para pelajar yang kekurangan dana. Dari kampanye tersebut akhirnya pada tanggal 20 Mei 1908 berdiri organisasi Budi Utomo dengan ketuanya Dr. Sutomo. Organisasi Budi Utomo artinya usaha mulia. Pada mulanya Budi Utomo bukanlah sebuah partai politik. Tujuan utamanya adalah kemajuan bagi Hindia Belanda. Hal ini terlihat dari tujuan yang hendak dicapai yaitu perbaikan pelajaran di sekolah-sekolah, mendirikan badan wakaf  yang mengumpulkan tunjangan untuk kepentingan belanja anak-anak bersekolah, membuka sekolah pertanian, memajukan teknik dan industri, menghidupkan kembali seni dan kebudayaan bumi putera, dan menjunjung tinggi cita-cita kemanusiaan dalam rangka mencapai kehidupan rakyat yang layak.

Kongres Budi Utomo yang pertama berlangsung di Yogyakarta pada tanggal 3 Oktober-5 Oktober 1908. Kongres ini dihadiri beberapa cabang yaitu Bogor, Bandung, Yogya I, Yogya II, Magelang, Surabaya, dan Batavia. Dalam kongres yang pertama berhasil diputuskan beberapa hal berikut.

  1. Membatasi jangkauan geraknya kepada penduduk Jawa dan Madura.
  2. Tidak melibatkan diri dalam politik.
  3. Bidang kegiatan adalah bidang pendidikan dan budaya.
  4. Menyusun pengurus besar organisasi yang diketuai oleh R.T. Tirtokusumo.
  5. Merumuskan tujuan utama Budi Utomo yaitu kemajuan yang selaras untuk negara dan bangsa.

Terpilihnya R.T. Tirtokusumo yang seorang bupati sebagai ketua rupanya dimaksudkan agar lebih memberikan kekuatan pada Budi Utomo. Kedudukan bupati memberi dampak positif dalam rangka menggalang dana dan keanggotaan dari Budi Utomo. Untuk usaha memantapkan keberadaan Budi Utomo diusahakan untuk segera mendapatkan badan hukum dari pemerintah Belanda. Hal ini terealisasi pada tanggal 28 Desember 1909, anggaran dasar Budi Utomo disahkan. Dalam perkembangannya, di tubuh Budi Utomo muncul dua aliran berikut.

  1. Pihak kanan, berkehendak supaya keanggotaan dibatasi pada golongan terpelajar saja, tidak bergerak dalam lapangan politik dan hanya membatasi pada pelajaran sekolah saja.
  2. Pihak kiri, yang jumlahnya lebih kecil terdiri dari kaum muda berkeinginan ke arah gerakan kebangsaan yang demokratis, lebih memerhatikan nasib rakyat yang menderita.

Adanya dua aliran dalam tubuh Budi Utomo menyebabkan terjadinya perpecahan. Dr. Cipto Mangunkusumo yang mewakili kaum muda keluar dari keanggotaan. Akibatnya gerak Budi Utomo semakin lamban. Berikut ini ada beberapa faktor yang menyebabkan semakin lambannya Budi Utomo.

  1. Budi Utomo cenderung memajukan pendidikan untuk kalangan priyayi daripada penduduk umumnya.
  2. Lebih mementingkan pemerintah kolonial Belanda dari pada kepentingan rakyat Indonesia.
  3. Menonjolnya kaum priyayi yang lebih mengutamakan jabatan menyebabkan kaum terpelajar tersisih.

Ketika meletus Perang Dunia I tahun 1914, Budi Utomo mulai terjun dalam bidang politik. Berikut ini beberapa bentuk peran politik Budi Utomo.

  1. Melancarkan isu pentingnya pertahanan sendiri dari serangan bangsa lain..
  2. Menyokong gagasan wajib militer pribumi.
  3. Mengirimkan komite Indie Weerbaar ke Belanda untuk pertahanan Hindia.
  4.  Ikut duduk dalam Volksraad (Dewan Rakyat).
  5. Membentuk Komite Nasional untuk menghadapi pemilihan anggota volksraad.

Budi Utomo mampu menerbitkan majalah bulanan Goeroe Desa yang memiliki kiprah masih terbatas di kalangan penduduk pribumi. Sejalan dengan kemerosotan aktivitas dan dukungan pribumi pada Budi Utomo, maka pada tahun 1935 Budi Utomo mengadakan fusi ke dalam Partai Indonesia Raya (Parindra). Sejak itu BU terus mengalami kemerosotan dan mundur dari arena politik.

  1. 2.      Sarekat Islam

Pada mulanya Sarekat Islam adalah sebuah perkumpulan para pedagang yang bernama Sarekat Dagang Islam (SDI). Pada tahun 1911, SDI didirikan di kota Solo oleh H. Samanhudi sebagai suatu koperasi pedagang batik Jawa. Garis yang diambil oleh SDI adalah kooperasi, dengan tujuan memajukan perdagangan Indonesia di bawah panji-panji Islam. Keanggotaan SDI masih terbatas pada ruang lingkup pedagang, maka tidak memiliki anggota yang cukup banyak. Oleh karena itu agar memiliki anggota yang banyak dan luas ruang lingkupnya, maka pada tanggal 18 September 1912, SDI diubah menjadi SI (Sarekat Islam).

  1. Organisasi Sarekat Islam (SI) didirikan oleh beberapa tokoh SDI seperti H.O.S Cokroaminoto, Abdul Muis, dan H. Agus Salim. Sarekat Islam berkembang pesat karena bermotivasi agama Islam. Latar belakang ekonomi berdirinya Sarekat Islam adalah: perlawanan terhadap para pedagang perantara (penyalur) oleh orang Cina.
  2.  isyarat pada umat Islam bahwa telah tiba waktunya untuk menunjukkan kekuatannya, dan
  3. membuat front melawan semua penghinaan terhadap rakyat bumi putera.

Tujuan yang ingin dicapai sesuai dengan anggaran dasarnya adalah:

  1. mengembangkan jiwa berdagang,
  2. memberi bantuan kepada anggotanya yang mengalami kesukaran
  3.  memajukan pengajaran dan semua yang mempercepat naiknya derajat bumi putera,
  4. menentang pendapat-pendapat yang keliru tentang agama Islam,
  5. tidak bergerak dalam bidang politik, dan
  6.  menggalang persatuan umat Islam hingga saling tolong menolong.

Kecepatan tumbuhnya SI bagaikan meteor dan meluas secara horizontal. SI merupakan organisasi massa pertama di Indonesia. Antara tahun 1917 sampai dengan 1920 sangat terasa pengaruhnya di dalam politik Indonesia. Untuk menyebarkan propaganda perjuangannya, Sarekat Islam menerbitkan surat kabar yang bernama Utusan Hindia.

Pada tanggal 29 Maret 1913, para pemimpin SI mengadakan pertemuan dengan Gubernur Jenderal Idenburg untuk memperjuangkan SI berbadan hukum. Jawaban dari Idenburg pada tanggal 29 Maret 1913, yaitu SI di bawah pimpinan H.O.S Cokroaminoto tidak diberi badan hukum. Ironisnya yang mendapat pengakuan pemerintah kolonial Belanda (Gubernur Jenderal Idenburg) justru cabang-cabang SI yang ada di daerah. Ini suatu taktik pemerintah kolonial Belanda dalam memecah belah persatuan SI. Bayangan perpecahan muncul dari pandangan yang berbeda antara H.O.S Cokroaminoto dengan Semaun mengenai kapitalisme. Menurut Semaun yang memiliki pandangan sosialis, bergandeng dengan kapitalis adalah haram. Dalam kongres SI yang dilaksanakan tahun 1921, ditetapkan adanya disiplin partai rangkap anggota. Setiap anggota SI tidak boleh merangkap sebagai anggota organisasi lain terutama yang beraliran komunis. Akhirnya SI pecah menjadi dua yaitu SI Putih dan SI Merah.

  1. SI Putih, yang tetap berlandaskan nasionalisme dan Islam. Dipimpin oleh H.O.S. Cokroaminoto, H. Agus Salim, dan Suryopranoto yang berpusat di Yogyakarta.
  2. SI Merah, yang berhaluan sosialisme kiri (komunis). Dipimpin oleh Semaun, yang berpusat di Semarang.

Dalam kongresnya di Madiun, SI Putih berganti nama menjadi Partai Sarekat Islam (PSI). Kemudian pada tahun 1927 berubah lagi menjadi Partai Sarekat Islam Indonesia (PSII). Sementara itu, SI Sosialis/Komunis berganti nama menjadi Sarekat Rakyat (SR) yang merupakan pendukung kuat Partai Komunis Indonesia (PKI).

  1. 3.      Indische Partij.

IP didirikan pada tanggal 25 Desember 1912 di Bandung oleh tokoh Tiga Serangkai, yaitu E.F.E Douwes Dekker, Dr. Cipto Mangunkusumo, dan Suwardi Suryaningrat. Pendirian IP ini dimaksudkan untuk mengganti Indische Bond yang merupakan organisasi orang-orang Indo dan Eropa di Indonesia. Hal ini disebabkan adanya keganjilan-keganjilan yang terjadi (diskriminasi) khususnya antara keturunan Belanda totok dengan orang Belanda campuran (Indo). IP sebagai organisasi campuran menginginkan adanya kerja sama orang Indo dan bumi putera. Hal ini disadari benar karena jumlah orang Indo sangat sedikit, maka diperlukan kerja sama dengan orang bumi putera agar kedudukan organisasinya makin bertambah kuat.[13]

Di samping itu juga disadari betapa pun baiknya usaha yang dibangun oleh orang Indo, tidak akan mendapat tanggapan rakyat tanpa adanya bantuan orang-orang bumi putera. Perlu diketahui bahwa E.F.E Douwes Dekker dilahirkan dari keturunan campuran, ayah Belanda, ibu seorang Indo. Indische Partij merupakan satu-satunya organisasi pergerakan yang secara terang-terangan bergerak di bidang politik dan ingin mencapai Indonesia merdeka. Tujuan Indische Partij adalah untuk membangunkan patriotisme semua indiers terhadap tanah air. IP menggunakan media majalah Het Tijdschrifc dan surat kabar ‘De Expres’ pimpinan E.F.E Douwes Dekker sebagai sarana untuk membangkitkan rasa kebangsaan dan cinta tanah air Indonesia.

Tujuan dari partai ini benar-benar revolusioner karena mau mendobrak kenyataan politik rasial yang dilakukan pemerintah kolonial. Tindakan ini terlihat nyata pada tahun 1913. Saat itu pemerintah Belanda akan mengadakan peringatan 100 tahun bebasnya Belanda dari tangan Napoleon Bonaparte (Prancis). Perayaan ini direncanakan diperingati juga oleh pemerintah Hindia Belanda. Adalah suatu yang kurang pas di mana suatu negara penjajah melakukan upacara peringatan pembebasan dari penjajah pada suatu bangsa yang dia sebagai penjajahnya. Hal yang ironis ini mendatangkan cemoohan termasuk dari para pemimpin Indische Partij. R.M. Suwardi Suryaningrat menulis artikel bernada sarkastis yang berjudul ‘Als ik een Nederlander was’, Andaikan aku seorang Belanda. Akibat dari tulisan itu R.M. Suwardi Suryaningrat ditangkap. Menyusul sarkasme dari Dr. Cipto Mangunkusumo yang dimuat dalam De Express tanggal 26 Juli 1913 yang diberi judul Kracht of Vrees?, berisi tentang kekhawatiran, kekuatan, dan ketakutan. Dr. Tjipto pun ditangkap, yang membuat rekan dalam Tiga Serangkai, E.F.E. Douwes Dekker turut mengkritik dalam tulisannya di De Express tanggal 5 Agustus 1913 yang berjudul Onze Helden: Tjipto Mangoenkoesoem Soewardi Soerjaningrat, Pahlawan kita: Tjipto Mangoenkoesoemo dan Soewardi Soerjaningrat. Kecaman-kecaman yang menentang pemerintah Belanda menyebabkan ketiga tokoh dari Indische Partij ditangkap. Pada tahun 1913 mereka diasingkan ke Belanda. Namun pada tahun 1914 Cipto Mangunkusumo dikembalikan ke Indonesia karena sakit. Sedangkan Suwardi Suryaningrat dan E.F.E. Douwes Dekker baru kembali ke Indonesia pada tahun 1919. Suwardi Suryaningrat terjun dalam dunia pendidikan, dikenal sebagai Ki Hajar Dewantara, mendirikan perguruan Taman Siswa. E.F.E Douwes Dekker juga mengabdikan diri dalam dunia pendidikan dan mendirikan yayasan pendidikan Ksatrian Institute di Sukabumi pada tahun 1940. Dalam perkembangannya, E.F.E Douwes Dekker ditangkap lagi dan dibuang ke Suriname, Amerika Latin.

  1. 4.      Partai Komunis Indonesia (PKI)

Partai Komunis Indonesia (PKI) secara resmi berdiri pada tanggal 23 Mei 1920. Berdirinya PKI tidak terlepas dari ajaran Marxis yang dibawa oleh Sneevliet. Ia bersama teman-temannya seperti Brandsteder, H.W Dekker, dan P. Bergsma, mendirikan Indische Social Democratische Vereeniging (ISDV) di Semarang pada tanggal 4 Mei 1914. Tokoh-tokoh Indonesia yang bergabung dalam ISDV antara lain Darsono, Semaun, Alimin, dan lain-lain. PKI terus berupaya mendapatkan pengaruh dalam masyarakat. Salah satu upaya yang ditempuhnya adalah melakukan infiltrasi dalam tubuh Sarekat Islam. Infiltrasi dapat dengan mudah dilakukan karena ada beberapa faktor berikut.

  1. Adanya kemelut dalam tubuh SI, di mana pemerintah Belanda lebih memberi pengakuan kepada cabang Sarekat Islam lokal.
  2. Adanya disiplin partai dalam SI, di mana anggota SI yang merangkap anggota ISDV harus keluar dari SI. Akibatnya SI terpecah menjadi SI Merah dan SI Putih.

Setelah berhasil menyusup dalam tubuh SI, jumlah anggota PKI semakin besar. PKI berkembang pesat. Berikut ini ada beberapa faktor yang menyebabkan PKI berkembang pesat.

  1. Propagandanya yang sangat menarik.
  2. Memiliki pemimpin yang berjiwa kerakyatan.
  3. Pandai merebut massa rakyat yang tergabung dalam partai lain.
  4. Sikapnya yang tegas terhadap pemerintah kolonial dan kapitalis.
  5. Di kalangan rakyat terdapat harapan bahwa PKI bisa menggantikan Ratu Adil.

Organisasi PKI makin kuat ketika pada bulan Februari 1923 Darsono kembali dari Moskow. Ditambah dengan tokoh-tokoh Alimin dan Musso, maka peranan politik PKI semakin luas. Pada tanggal 13 November 1926, Partai Komunis Indonesia mengadakan pemberontakan di Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur. Pemberontakan ini sangat sia-sia karena massa sama sekali tidak siap di samping organisasinya masih kacau. PKI telah mengorbankan ribuan orang yang termakan hasutan untuk ikut serta dalam pemberontakan. Dampak buruk lainnya yang menimpa para pejuang pergerakan di tanah air adalah berupa pengekangan dan penindasan yang luar biasa dari pemerintah Belanda sehingga sama sekali tidak punya ruang gerak. Walaupun PKI dinyatakan sebagai partai terlarang tetapi secara ilegal mereka masih melakukan kegiatan politiknya. Semaun, Darsono, dan Alimin meneruskan propaganda untuk tetap memperjuangkan aksi revolusioner di Indonesia.

  1. 5.      Partai Nasional Indonesia (PNI)

Berdirinya partai-partai dalam pergerakan nasional banyak berawal dari studie club. Salah satunya adalah Partai Nasional Indonesia (PNI). Partai Nasional Indonesia (PNI) yang lahir di Bandung pada tanggal 4 Juli 1927 tidak terlepas dari keberadaan Algemeene Studie Club. Lahirnya PNI juga dilatarbelakangi oleh situasi sosio politik yang kompleks. Pemberontakan PKI pada tahun 1926 membangkitkan semangat untuk menyusun kekuatan baru dalam menghadapi pemerintah kolonial Belanda. Rapat pendirian partai ini dihadiri Ir. Soekarno, Dr. Cipto Mangunkusumo, Soedjadi, Mr. Iskaq Tjokrodisuryo, Mr. Budiarto, dan Mr. Soenarjo. Pada awal berdirinya, PNI berkembang sangat pesat karena didorong oleh faktor-faktor berikut.

  1. Pergerakan yang ada lemah sehingga kurang bisa menggerakkan massa.
  2. PKI sebagai partai massa telah dilarang.
  3. Propagandanya menarik dan mempunyai orator ulung yang bernama Ir. Soekarno (Bung Karno).

Untuk mengobarkan semangat perjuangan nasional, Bung Karno mengeluarkan Trilogi sebagai pegangan perjuangan PNI. Trilogi tersebut mencakup kesadaran nasional, kemauan nasional, dan perbuatan nasional. Tujuan PNI adalah mencapai Indonesia merdeka. Untuk mencapai tujuan tersebut, PNI menggunakan tiga asas yaitu self help (berjuang dengan usaha sendiri) dan nonmendiancy, sikapnya terhadap pemerintah juga antipati dan nonkooperasi.Dasar perjuangannya adalah marhaenisme. Kongres Partai Nasional Indonesia yang pertama diadakan di Surabaya, tanggal 27- 30 Mei 1928. Kongres ini menetapkan beberapa hal berikut

  1. Susunan program yang meliputi:
    1. bidang politik untuk mencapai Indonesia merdeka,
    2. bidang ekonomi dan sosial untuk memajukan pelajaran nasional.
    3. Menetapkan garis perjuangan yang dianut adalah nonkooperasi
    4. Menetapkan garis politik memperbaiki keadaan politik, ekonomi dan sosial dengan kekuatan sendiri, antara lain dengan mendirikan sekolah-sekolah, poliklinik-poliklinik, bank nasional, perkumpulan koperasi, dan sebagainya.

Peranan PNI dalam pergerakan nasional Indonesia sangat besar. Menyadari perlunya pernyataan segala potensi rakyat, PNI memelopori berdirinya Permufakatan Perhimpunan-Perhimpunan Politik Kebangsaan Indonesia (PPPKI). PPPKI diikuti oleh PSII (Partai Sarekat Islam Indonesia), Budi Utomo, Pasundan, Sumatranen Bond, Kaum Betawi, Indonesische Studi Club, dan Algemeene Studie Club. Berikut ini ada dua jenis tindakan yang dilaksanakan untuk memperkokoh diri dan berpengaruh di masyarakat.

  1. Ke dalam, mengadakan usaha-usaha dari dan untuk lingkungan sendiri seperti mengadakan kursus-kursus, mendirikan sekolah, bank dan sebagainya.
  2. Keluar, dengan memperkuat opini publik terhadap tujuan PNI antara lain melalui rapat-rapat umum dan penerbitan surat kabar Banteng Priangan di Bandung, dan Persatuan Indonesia di Jakarta.

Kegiatan PNI ini cepat menarik massa dan hal ini sangat mencemaskan pemerintah kolonial Belanda. Pengawasan terhadap kegiatan politik dilakukan semakin ketat bahkan dengan tindakan-tindakan penggeledahan dan penangkapan. Dengan berkembangnya desas desus bahwa PNI akan mengadakan pemberontakan, maka empat tokoh PNI yaitu Ir. Soekarno, R. Gatot Mangkuprojo, Markun Sumodiredjo, dan Supriadinata ditangkap dan dijatuhi hukuman oleh pengadilan Bandung. Dalam proses peradilan itu, Ir. Soekarno dengan kepiawaiannya melakukan pembelaan yang diberi judul “Indonesia Menggugat”. Penangkapan terhadap para tokoh pemimpin PNI merupakan  pukulan berat dan  menggoyahkan keberlangsungan partai. Dalam suatu kongres luar biasa yang diadakan di Jakarta pada tanggal 25 April 1931, diambil keputusan untuk membubarkan PNI. Pembubaran ini menimbulkan pro dan kontra. Mr. Sartono kemudian mendirikan Partindo. Mereka yang tidak setuju dengan  pembubaran  masuk dalam Pendidikan Nasional Indonesia (PNI Baru) yang didirikan oleh Drs. Mohammad Hatta dan Sutan Syahrir. Baik Partindo maupun PNI Baru, masih memakai asas PNI yang lama  yaitu  self help dan non kooperasi. Namun di antara keduanya  terdapat perbedaan dalam  hal strategi perjuangan. PNI Baru lebih mengutaman pendidikan politik dan sosial, sedangkan Partindo mengutamakan aksi massa sebagai senjata yang tepat untuk mencapai kemerdekaan.

 

 

 

 

BAB III

PENUTUP

  1. A.    Kesimpulan

Dari urayan di atas pemakalh dapat menyimpulkan, bahwa gerakakan yang dilakukan oleh organisasi-organisasi, baik organisasi sosial keagamaan, organisasi kedaerahan, organisasi kepemudaan dan organisasi pilitik. Ini semua sangat berpengaruh untuk menentukan keselamatan dan kemerdekaan rakyat Indonesia sekaligus mengusir penjajah dari tanah air kita.

Berangkat dari kesadaran dan kegigihan untuk mengusir penjajah maka munculah organisasi pergerakan, meskipun masing-masing organisasi memiliki asas yang berbeda tapi mereka tetap satu tujuan yaitu untuk kemerdekaan. Kebulatan tekad para pemuda untuk bersatu mencapai puncak kejayaan Indonesia dalam artian mencapai kemerdekaan.

Pranan akan timbulnya nasionalisme bangsa Indonesia tumbuh sejak lama buka datang dengan tiba-tiba, walaupun hanya bersipat kedaerahan belum bersipat nasional, karena nasionalisme yang bersifat menyeluruh baru muncul pada abad ke 19. Lahirnya nasionalisme bangsa Indonesia dan organisasi-organisasi didorong oleh dua paktor yaitu paktor eksteren dan paktor interen.

Paktor interen dikarenakan adanya tekanan rakyat dari para penjajah, pengaruh pendiadikan dari barat, pengaruh pendidikan Islam, pengaruh kebudayaan melayu dan adat-adat kedaerahan.

Paktor interen dikarenakan kemenangan Jepang atas Rusia adanya kongres India. Setidanya ada paktor inilah yang menyebabkan timbul dan lahirnya pergerakan serta Organisasi-organisasi Nasionalisme.

  1. B.     Saran

Kami sebagai penyusun makalah ini sangat disadari tentu banyak kesalahan dan kekurangannya, untuk itu kami sangat berharp atas keritik dan sarannya dari berbagai pihak, terutama dari dosen pembingbing mata kulian SPN ini, untuk memberikan koreksi, dorongan dan motipasi kedepannya.

DAFTAR PUSTAKA

 

Adam Asvi Warman, “Membongkar Manipulasi Sejarah, Kontroversi Pelaku dan Peristiwa, Kompas Media Nusantara, Jakarta, 2009

Gafar Abdul, “Ensiklopedi Umum”, Kanisius, Yogyakarta, 1973.

Hasibuan Muhammad Umara Syadat, “Revolusi Politik Kaum Muda”, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 2008.

Hatta Mohammad, “Untuk Negeriku”, Kompas, Jakarta, 2011.

Insianiwati Iin Nur, “Mohamad Roem: Karier Politik dan Perjuangannya (1924-1968” IndonesiaTera,  Magelang, 2002.

Latif Yudi, “Intelegensia Muslim dan Kuasa: Genealogi Intelegensia Muslim Indonesia Abab ke-20”, Mizan, Bandung, 2005.

Hatta Mohammad, “Untuk Negeriku”, Kompas, Jakarta, 2011.

Maarif Ahmad Syafii, “Islam Dalam Bingkai Ke-Indonesiaan dan Kemanusiaan: Sebuah Refleksi Sejarah”, Mizan, Bandung, 2009.

Noer,Deliar. Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942. Jakarta 1982.

http://id.wikipedia.org/wiki/Jong_Sumatranen_Bond

http://id.wikipedia.org/wiki/Bahder_Djohan

http://mustaqimzone.wordpress.com/2011/07/26/lahirnya-nasionalisme-di-indonesia/

http://slbpamardiputra.wordpress.com/category/serba-serbi/

http://muhtarom84.blogspot.com/2009/12/pembaharuan-di-indonesia-kaum-padri.html

http://blog.re.or.id/al-irsyad-al-islamiyyah.htm

http://suara-muhammadiyah.com/

persis.or.id

http://id.wikipedia.org/wiki/Nahdlatul_Ulama

http://dafiyoe.blogspot.com/2011/02/sejarah-al-wasliyah.html

 


[1] Noer,Deliar. Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900-1942. Jakarta 1982.

[4] Insianiwati Iin Nur, “Mohamad Roem: Karier Politik dan Perjuangannya (1924-1968” IndonesiaTera,  Magelang, 2002.

[5] Latif Yudi, “Intelegensia Muslim dan Kuasa: Genealogi Intelegensia Muslim Indonesia Abab ke-20”, Mizan, Bandung, 2005.

[6] Hasibuan Muhammad Umara Syadat, “Revolusi Politik Kaum Muda”, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 2008.

[7] Hatta Mohammad, “Untuk Negeriku”, Kompas, Jakarta, 2011.

[11] Latif Yudi, “Intelegensia Muslim dan Kuasa: Genealogi Intelegensia Muslim Indonesia Abab ke-20”, Mizan, Bandung, 2005.

[12] Hasibuan Muhammad Umara Syadat, “Revolusi Politik Kaum Muda”, Yayasan Obor Indonesia, Jakarta, 2008.

[13] Djoened Poesponegoro, Marwati dan Ngroho Notosusanto.1984.”Sejarah Nasional Indonesia V”. Jakarta: Balai Pustaka. Hal 93

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s